Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Menunggumu pulang



“Pak. Mampir ke toko kue itu dulu ya,” ucap Alana sebelum sampai rumah yang dibelikan Bagas sebagai kado pernikahannya dengan Reno.


Sopir taksi itu pun mengikuti arahan Alana. Mobil itu tepat berhenti di parkiran toko. Alana bergegas keluar dan memasuki toko itu. Kemudian, ia memilh kue almond kesukaan Reno. Kue yang hingga saat ini tidak bisa ia buat sendiri.


Setelah membayar di kasir, Alana langsung kembali ke dalam taksi. Semalam, Reno mengatakan akan langsung pulang setelah pertemuannya dengan pejabat departemen agama. Kemungkinan Reno akan sampai pukul dua.


Alana melihat jam di tangannya, baru menunjukkan pukul satu, masih ada satu jam lagi untuk membereskan rumah dan memberi suaminya kejutan.


Setelah sampai di rumah, ia tersenyum karena rumah ini tampak rapi. Reno memang banyak berubah. Prahara yang menimpa rumah tangga mereka akhir-akhir ini memang memberi mereka banyak pelajaran.


Alana memasukkan kue yang ia beli tadi ke dalam lemari es. Lagi-lagi ia melihat isi lemari es ini kosong. Alana hanya menggelengkan kepalanya. Lalu, Alana menutup kembali pintu lemari es itu. arah matanya menangkap secarik kertas yang ditempel di pintu lemari es.


“Mas menunggumu pulang.”


Alana menarik kertas itu dan tersenyum. “Sekarang aku sudah pulang, Mas. Giliranku yang menunggumu pulang,” gumamnya.


Alana sudah membersihkan rumah ini hingga tampak semakin rapi. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, tempat mereka memadu kasih.


Alana memeluk guling dan membayangkan tubuhnya akan remuk setelah ini, sama seperti saat terakhir mereka berdamai. Reno tidak puas dengan sekali bercinta. Alana memejamkan mata dan tersenyum, lalu kepalanya menoleh ke kiri. Ia melihat sebuah paper bag.


Benda itu langsung membuat Alana penasaran dan ingin segera meraihnya. Ia bangkit dan menuju ke arah benda itu. Alana membuka isi yang ada di dalam benda itu. Bibirnya kembali tersenyum saat mendapati sebuah gaun malam merah yang begitu sexy.


“Mas, kamu nakal,” kata Alana lagi pada dirinya sendiri.


Lalu, ia kembali memasukkan gaun itu dan menemukan secarik kertas dengan tulisan tangan Reno.


“Aku selalu membayangkanmu menggunakan ini. Pasti sangat cantik.”


Pipi Alana merona. Padahal ia hanya membaca bukan mendengar dari mulut Reno sendiri.


Satu jam, dua jam. Reno tak kunjung pulang. Alana meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Reno. Ternyata, ponsel Reno tidak aktif. Saat di dalam taksi menuju rumah ini, Alana juga menyempatkan diri untuk menghubungi suaminya, tapi tidak aktif. Alana pikir, Reno sedang sibuk dan tidak mengaktifkan ponselnya karena memang dia sedang bertemu tamu penting. Tapi sudah melewati jauh dari jadwal pertemuan dengan pejabat departemen itu, Reno tak kunjung bisa di hubungi. Malah seharusnya, pria itu sudah pulang.


Alana menunggu lagi hingga satu jam berlalu. Hari semakin sore. Padahal semalam, Reno mengatakan bahwa pertemuannya selesai pukul satu.


Alana langsung berinisiatif pergi menuju rumah orang tua Reno. Kegelisahannya semakin menjadi. Ada apa dengan Reno? Mengapa pria itu tidak ada kabar sama sekali. Biasanya chat dan panggilan Alana langsung dijawab.


Sesampainya di rumah Bagas dan Asih. Alana langsung meraih gagang pintu gerbang dan berusaha mendorong pintu itu. Namun, tidak bisa. Gerbang itu di kunci. Alana melihat gembok yang mengunci pintu gerbang itu.


“Mami Papi kemana?” tanyanya sendiri.


Tidak mau berspekulasi lagi. Akhirnya, Alana pergi ke rumah nenek. Kebetulan memang rumah Aminah dan Bagas dekat dan mampu di tempuh dengan berjalan kaki.


“Mbak Tuti,” panggil Alana pada asisten rumah tangga yang menemani sang nenek di rumah ini.


“Mbak …”


Alana masuk ke dalam rumah itu dan langsung ke dapur. Namun, ia belum emndapati sosok yang di cari. Aminah pun tidak ada.


“Mbak Tuti,” panggil Alana lagi.


“Mbak, Al.” Tuti baru saja menuruni anak tangga sembari membawa wadah besar setelah menjemur pakaian di atas.


“Mbak, nenek mana?” tanya Alana.


“Lah, nenek kan ke rumah sakit, Mbak.”


“Rumah sakit?” tanya Alana tak mengerti.


“Kenapa? Ada apa dengan Mami?”


“Ndak tahu, Mbak Al. lah saya juga tanya ke nenek, nenek ga jawab.”


Alana langsung emraih ponselnya dan melihat notifikasi yang banyak tenggelam. Ia melihat ada nomor tak dikenal meneleponnya dini hari, tepat saat matanya baru terpejam setelah berkomunikasi dengan Reno.


Lalu, Alana mendial nomor itu.


“Halo rumah sakit xxx, bisa kami bantu?”


Tenggorokan Alana tercekat, ternyata benar bahwa nomor itu dlaah dari rumah sakit. Isi kepalanya langsung tertuju pada Reno.


“Semalam, nomor ini masuk ke nomor saya,” ucap Alana.


“Sebentar, saya cek dulu,” kata orang di seberang sana.


“Oh ya, Bu. Kami menelepon ibu untuk konfirmasi tentang kecelakaan tunggal yang menimpa bapak Reno Putra Wijaya.”


Deg


Alana langsung lemas.


Pihak rumah sakit menelepon panggilan terakhir yang ada di ponsel Reno. Saat nomor Alana tidak dijawab, mereka menelpon ke nomor Bagas yang kebetulan ada di panggilan sebelum Alana.


Alana menutup panggilan telepon itu sepihak setelah mendapatkan informasi tentang ruang perawatan suaminya. ia langsung berlari keluar dan mencari taksi menuju rumah sakit itu.


Sesampainya di rumah sakit, Alana berlari mencari ruang yang diinformasikan. Ia juga bertanya pada petugas yang ada si sana.


Dengan nafas terengah-engah, akhirnya ia menemukan Aminah yang duduk di ruang tunggu.


“Nenek,” panggil Alana sambil mendekati sang nenek.


Aminah menatap tajam sang cucu dan menampar pipinya.


Plak


“Apa seperti ini istri yang baik? Meninggalkan suaminya dinas keluar kota dan tidak tahu apa yang terjadi pada suaminya?”


Alana menangis. Dadanya sesak, lebih sesak dari saat Reno berkata ketus atau sedang memarahinya. Ia duduk lemas. Ternyata rasa gelisah yang ia rasakan sejak pagi adalah ini.


#Flashback on


Reno tersenyum saat sambungan telepon malam itu dengan sang istri. Ia tak menyangka bahwa Alana akan meneleponnya lebih dulu.


Karena terlalu senang, Reno tidak memperhatikan jalan di depan. Di dalam jalan bebas hambatan itu, ada sebuah truk yang berhenti tanpa palang segitiga. Truk yang baru mogok dan berada di sisi kiri jalan. Waktu dini hari, membuat jalan bebas hambatan itu sangat lengang. Hanya ada satu atau dua mobil saja yang melintas. Dan, Reno sengaja berada di sisi kiri jalan ketika menerima telepon Alana.


Namun, jalan yang tidak kencang untuk ukuran jalan bebas hambatan itu, tetap kencang. Reno yang tidak sempat mengurangi kecepatan pun menabrak truk yang tengah berhenti itu.


“Aaaa …” teriak Reno.


Bruk


Reno tak sadarkan diri setelah keningnya terbentur stir kemudi.


#Flashback off