
Reno dan Alana menempuh perjalanan cukup panjang. Semua perlengkapan sudah disediakan untuk membantu Reno selama berada di dalam pesawat. Mereka menempuh perjalanan satu hari lebih menuju Pittsburg. Menurut Alex, neurologi terbaik ada di rumah sakit yang berada di kota itu.
“Pinggangmu sakit?” tanya Reno saat melihat Alana yang tak bisa diam.
“He um.” Alana mengangguk sambil meringis. Rasanya pinggangnya seperti mau terlepas dari posisi karena terlalu lama duduk.
Reno mengusap-ngusap punggung itu.
“Pegel banget, Mas.”
“Ya, memang jauh. Ini yang Mas khawatirkan. Mas takut kamu kelelahan, Sayang.”
Reno menunduk untuk meraih kaki Alana. “Luruskan kakimu.”
Bagas sengaja membeli tiket class business dengan maskapai paling bagus untuk kenyamanan putra dan menantu kesayangannya. Fasilitas kursi yang empuk dan nyaman lengkap dengan bantal selimut beserta tempat kaki untuk beristirahat, juga tersedia tivi kecil untuk menghilangkan kejenuhan.
“Sepertinya aku tidur saja,” ucap Alana sambil memposisikan tubuhnya untuk sedikit tiduran miring.
“Tidurlah, Sayang. Besok pagi kita sampai.” Reno mengusap dari atas punggung hingga ke bagian pinggang Alana.
“Usap terus ya, Mas. Sepertinya enakan.”
Reno tersenyum dan mengangguk. “Iya, Sayang”
Tangan Reno terus mengelus punggung hingga ke pinggang Alana. Malah ia tambahkan dari kepala hingga ke b*k*ng bulat itu.
“Ish, Mas.” Alana mengambil tangan Reno yang ada di bongkahan bulat itu.
“Ups, maaf. Kebablasan ya.”
Alana pun menoleh ke belakang. “Bukan kebablasan, tapi modus.”
Reno pun nyengir.
Setelah satu hari lebih, akhirnya mereka sampai di Pittsburg, Amerika Serikat. Di sana, mereka sudah di sambut oleh orang suruhan Bagas yang menjemputnya hingga sampai ke apartemen milik Alex. Ternyata, dahulu Alex juga pernah ke rumah sakit ini. Saat itu, ia mengantar dan menemani istrinya berjuang untuk melawan kanker otak yang berimbas kepada kerusakan jaringan saraf-saraf yang lain di bagian tertentu.
“Sayang, istirahatlah dulu.” Ucap Reno ketika mereka baru masuk ke dalam apartemen ini.
Apartemen ini terlihat rapi dan bersih. Pengelola gedung selalu membersihkan tempat ini, walau si pemiliknya belum tentu datang satu tahun sekali. Untungnya, apartemen ini tidak besar, sehingga Alana yang penakut pun tidak merasa takut.
“Ngga ah, Mas. Aku udah capek tiduran terus. Abis istirahat sebentar. Ke mini market yuk! Untuk mengisi makanan di sini!” Alana menunjuk ke arah lemari es.
Reno mengangguk. “Terserah kamu. Mas ikut aja.”
Satu hari, dua hari, Alana mulai terbiasa tinggal di sana. Hampir setiap pagi, ia mengajak Reno keluar untuk menghirup udara segar. Rasanya udara di sini memang sangat segar karena kendaraan yang hilir mudik pun tidak banyak.
“Mas mau es krim?” tanya Alana ketika mereka jalan-jalan sore tepat di hari weekend.
Ternyata saat menjelang hari libur, di sini pun terlihat ramai. Apalagi saat ini adalah musim semi. Cuaca cerah dan udarah yang tidak terlalu dingin, membuat warga senang beraktifitas di luar rumah.
Reno duduk di kursi rodanya, sedangkan Alana di kursi taman.
Reno menggeleng. “Ngga ah, kamu aja.”
“Beneran?” tanya Alana lagi.
Sedari tadi air liur Alana hampir jatuh saat melihat anak-anak kecil di sana membeli es krim itu.
“Kalau begitu aku beli ya, mas.” Alana beranjak dari tempat duduknya menuju ke penjual es krim yang menggunakan mobil truk.
Reno tersenyum menatap istrinya yang berada di sana. senyumnya semakin lebar ketika Alana berjalan ke arahnya dengan wajah senang sambil membawa es krim itu.
Lalu, Alana kembali duduk di kursi taman tadi. “Mas beneran ga mau, ini es krim yogurt anti gendut.”
“Emang ada es krim anti gendut? Semua es krim bikin gendut,” sahut Reno.
“Yang ini ngga, Mas. Karena dari togurt. Cobain deh.” Alana menyuapkan es krim itu pada Reno.
Padahal walau pun Alana gendut, itu bukan masalah untuk Reno. Hanya saja wanita itu memang akhir-akhir ini sering mengeluh akan hal itu. Alana juga sering mengeluh lapar di malam hari.
“Hmm … iya enak,” ucap Reno.
“Tuh enak kan? Lagian tadi ditawarin ga mau sih.”
“Ya udah, ini buat Mas. Kamu beli lagi.” Reno merampas cup es kri m itu.
“Ih, enak aja. Ga mau. Beli sendiri,” sahut Alana.
Reno memang sudah tidak lagi bergerak dengan bantuan orang lain, karena kursi itu dibeli khusus dan bisa dijalankan sendiri oleh penggunanya.
“Kalau begitu Ms minta dari mulut kamu.” Reno langsung memakan bibir Alana.
“Mas.” Mata Alana membulat. “Malu ih.”
Wanita itu menengok ke kanan dan kiri.
“Di sini itu bebas. Mau ciuman, mau ngapain juga biasa aja. Kalau di tempat kita tuh, pasti diviralin.”
“Ish, dasar mesum!” Alana mendorong wajah Reno, membuat pria itu tertawa.
“Ngga, nanti di cium lagi.” Alana menggeleng sambil mendekap cup es krim itu seperti anak kecil yang tidak ingin memberikan makanannya pada orang lain.
Reno tertawa dan menjalankan kursi itu untuk mendekati sang istri. “Mas mau.” Reno kembali mendekati wajah Alana seolah mereka memerebutkan es krim itu.
“Ngga.” Alana mempertahankan miliknya.
“Mas ga mau es krimnya. Tapi Mas mau bibir kamu.” Reno tetap memajukan wajahnya dan memeluk Alana yang sedang tertawa.
Reno pun ikut tertawa hingga akhirnya ia bisa mengambil es krim itu lagi dari mulut Alana.
“Mmpphh …” Alana memukul dada Reno.
Orang sekitar yang melihat pun hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya.
“Mas, malu-maluin tau,” kesal Alana sambil memukul bahu suaminya yang malah tertawa bahagia.
****
Sudah sepuluh hari, Alana dan Reno berada di kota itu. Dan, setiap hari Reno dijadwalkan untuk terapi serta treatment khusus. Mereka pun mengikuti semua arahan yang dokter berikan. Mereka menikmati kebersamaan ini tanpa memikirkan biaya karena Bagas sudah menyiapkan hampir satu milyar untuk pengobatan sang putra. Nominal yang seharusnya Reno siapkan untuk penalti Alana, malah tetap keluar untuk biaya pengobatannya. Sesuatu hal yang tak terduga bukan?
Pagi ini, Reno masih bergelayut manja di bahu Alana. Mereka masih berada di atas tempat tidur sambil menikmati cokelat panas dan roti sandwich dan di temani suara televisi yang sedang menyuguhkan talk show dengan bintang tamu Adele, penyanyi kesukaan Alana.
Reno memeluk istrinya dari belakang sambil mengendus leher dan punggungnya. “Serius banget sih!”
“Aku suka sama dia, Mas. Suaranya bagus,” jawab Alana hanya tertawa kegelian saat Reno menciumi leher dan bahunya.
“Kalau sama Mas suka?”
Alana menggeleng. “Ngga lah ngapain.”
“Oh, gitu?”
Alana tersenyum. “Kalau sama Mas udah bukan suka lagi, tapi cinta.”
“Eum … bisa ngegombal ya sekarang.” Reno mengelitiki Alana.
“Mas, jangan! Geli!” Alana tertawa dan menghindar.
“Biarin.” Reno terus emnggelitiki hingga keduanya terbaring.
Kedua wajah mereka sangat dekat dan tak berjarak. Reno bisa mendengar suara Alana yang terengah-engah selepas tertawa. Lalu, tangan reno terangkat untuk mengusap lembut rambut itu, merapikan anak rambut yang menutupi sedikit wajah Alana. Tangan itu terus menelusuri wajah Alana yang lembut hingga sampai di bibirnya.
“Kamu tahu persamaan bibirmu dengan madu?”
Alana menggeleng. Ia malas untuk berpikir.
“Sama-sama manis.”
“Eum … gombal.” Alana memukul dada Reno dan Reno pun tertawa.
“Beneran, bagian ini yang dari dulu Mas sukai sebelum bagian yang lain.”
Alana tertawa. “Karena waktu pacaran bagian yang lain ga boleh, jadi sasarannya bagian yang ini.” Ia menunjuk bibirnya.
Reno ikut tertawa. “Tahu aja.”
“Masih inget ga, pas mau cium kamu terus Nenek dateng. Nenek langsung tolak pinggang seperti yang mau nelen Mas.”
Alana tertawa. “Ya, terus aku langsung kabur ke kamar.”
“Iya. Curang,” sahut Reno.
“Tapi sekarang, nenek lebih sayang sama kamu.”
“Masa?” tanya Reno.
“Iya.” Alana mengangguk. “Aku ditampar sama nenek pas sampai rumah sakit karena aku baru tahu keadaanmu waktu itu.”
“Oh. Ya ampun. Sakit?” tanya reno sambil mengelus pipi Alana.
“Udah lama, Mas. Ya sekarang udah ilang sakitnya.”
“Oh, kirain masih sakit.”
“Ish lebay.” Alana kembali mendorong dada Reno.
Reno tertawa dan kembali menarik tubuh istrinya untuk masuk ke dalam pelukan. “Mas mau bibir kamu ya.”
“Bibir yang mana?” tanya Alana menantang.
Reno menyeringai sambil menatap bibir ranum itu dan bagian bawah tubuh Alana.
“Bibir atas dan bawah juga boleh.”
“Dasar mesum!” Alana tersenyum.