Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Menuntut janji



Sejak kemarin, Aurel selalu merengek pada Alex untuk bertemu Alana. Memang, Alana dan Aurel sudah tidak bertemu beberapa hari terakhir ini. Selain karena Alana yang izin untuk mengurus urusan pribadinya, pekerjaannya dikantor pun sedang tidak bisa ditinggalkan. Alhasil, tugas untuk mengantar dan menjemput anak itu kembali pada pengasuh dan sopirnya.


Tapi untuk hari ini, Alana menyanggupi karena ia pun rindu bertemu gadis lucu itu.


Lima belas menit Alana duduk di ruang tunggu IGD, tiba-tiba Alex pun datang. Pria itu datang bersama Bimo, asisten pribadinya.


"Al," panggil Bimo.


Alana langsung menoleh ke sumber suara itu. "Pak, Bimo." Ia bangkit dan menghampiri pria itu.


Sedangkan Alex sudah langsung memasuki ruangan tempat putrinya diberi tindakan.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Bimo yang terlihat emosi.


"Maaf, Pak. Saya tidak tahu kalau Aurel alergi makanan laut," jawab Alana menunduk.


"Ck, ceroboh sekali kamu, Al. Bisa dituntut kami kalau terjadi apa-apa pada Aurel."


Alana menunduk dan meneteskan airmata. Ya, ia memang ceroboh. Harusnya ia bertanya semua hal tentang Aurel pada pengasuhnya.


Bimo meninggalkan Alana dan masuk ke ruangan itu. Ia menghampiri bosnya. Langkah Bimo diikuti Alana. Wanita yang tengah merasa bersalah itu berjalan dibalik tubuh Bimo yang lumayan tinggi.


Alana takut untuk bertemu Alex.


"Bim, pindahkan putriku ke rumah sakit xxx," ucap Alex tanpa menoleh le arah Alana.


Kesal, iya. Alex kesal putri kesayangannya hampir celaka, bahkan hampir melayang jika saat itu Alana tidak cepat membawanya ke rumah sakit.


Bimo mengangguk. "Semua sudah saya atur, Sir. Non Aurel aan segera dipindahkan."


"Hm." Alex hanya menganggukkan kepala sembari menatap putrinya yang terbaring lemah di atas tempat tidur itu dengan selang oksigen dihidung dan infus di tangannya.


Rumah sakit ini memang bukan rumah sakit besar dan mewah, karena Alana hanya mencari ruman sakit terdekat agar Aurel dapat dehgan cepat mendapat pertolongan.


Alana menatap Alex yang tak menatapnya. "Sir, sorry," katanya lirih.


Alex diam. Ia pun masih tak menoleh ke arah Alana.


"Maaf, Sir. Saya ceroboh. Sungguh, saya minta maaf." Airmata Alana pun tak bisa dibendung dan Alex menderak isakan tangis itu.


Akhirnya, pria itu menoleh ke arah Alana. Ia melihat kesungguhan wanita itu. Alana memang tidak sengaja melakukan ini. Dan, ia tahu betul bahwa sekretarisnya tidak berniat membuat putrinya celaka. Alana sangat tulus menyayangi Aurel dan ia tahu itu. Oleh karena itu, ia mempercayakan putrinya pada Alana.


Namun, hatinya cukup dag dig ketika Alana memberikan kabar ini, karena harta yang ia miliki hanya Aurel. Aurel adalah sesuatu yang berharga dan tidak bisa digantikan oleh apa pun. Semua kenangan tentang mendiang istrinya ada di diri gadia kecil itu. Jika tadi terjadi sesuatu pada Aurel atau anak itu tidak tertolong, ia mungkin juga akan gila.


"Mimi," panggil Aurel saat Alex hendak mengeluarkan suara pada Alana.


"Sayang. Kamu sudah bangun?"


Alex langsung mengelus rambut putrinya dengan lembut. Alana juga langsung mendekati gadis kecil itu. Sementara, Bimo sudah berada di luar untuk mengurus pemindahan perawatan putri kesayangan bosnya.


"Daddy," panggil Aurel lemah.


Arah mata Aurel tertuju pada Alex dan bergantian ke Alana.


"Daddy, Mimi akan menjadi Mommy-ku."


Duar


Alana terkejut. Begitu pun dengan Alex.


"Hm.. maksudnya?" Alex langsung bersuara.


"Tadi, mommy sudah berjanji akan menjadi Mommy-ku dan tinggal bersama kita," kata Aurel lagi dengan suara lemah, tapi mampu di dengar dan dipahami.


Alex memandang Alana untuk meminta penjelasan.


"Iya kan Mommy?" Kini panggilan Aurel pada Alana pun berubah.


"Yang ownting sekarang, Aurel sembuh dulu. Oke. Mimi akan ada di sini untuk Aurel sampai Aurel sembuh."


Gadis kecil itu pun tersenyum. Matanya masih terlihat sayu, wajahnya pun pucat. Tubuh yang semula sehat dan lincah itu pun seketika tumbang. Dan, hal itu membuat Alana semakin merasa bersalah.


Selama kejadian itu berlangsung, Alana tidak melihat-lihat ponsel utama miliknya yang berada di dalam tas. Ia hanya memegang ponsel yang diberikan Alex saja untuk berkomunikasi mengenai keadaan Aurel.


Di ponsel itu, Reno mengirim banyak pesan. Pria itu juga berkali-kali menelepon. Namun, panggilan dan pesannya tidak dijawab Alana sama sekali. Lokasi Alana di ponsel itu pun tidak diaktifkan sejak masih berada di rumah.


Alana belum sempat memegang ponselnya. Ia tidak pernah jauh dari anak kecil itu, hingga ikut ke rumah sakit tempat Aurel dipindahkan.


Hari semakin sore. Bahkan matahari mulai meredup seakan pergantian itu akan tiba.


Alex dan Alana duduk di kedua sisi Aurel. Mereka menemani gadis kecil itu hingga terlelap. Lalu, Alana bangkit dari kursi itu menuju sofa. Ia


baru mengingat Reno dan ingin memberi kabar.


"Jangan memberi janji pada putriku, sesuatu yang tidak akan kamu tepati."


Tiba-tiba Alex bersuara. Alana pun langsung menoleh ke pemilik suara itu.


Alex juga bangkit dari kursinya dan mendekati Alana yang duduk di sofa.


"Aku tidak akan menuntutmu untuk kejadian ini. Tapi aku menuntut janjimu pada putriku."


Alana terdiam. Ia bingung dan tidak bisa menjawab perkataan itu.


Ruangan itu pun sunyi sejenak, hingga terdengar deringan telepon dari tangan Alana yang tengah menggenggam benda yang baru saja ia keluarkan dari tasnya.


"Halo, Mas."


Alana mengangkat panggilan itu sembari melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.


"Ah, Al. Akhirnya Mas mendengar suaramu," ucap Reno lega, saat ia mendengar suara istrinya di sana.


Reno begitu khawatir pada sang istri yang tidak ada kabar selama setengah hari ini.


"Kamu dimana? Mengapa Mas telepon tidak diangkat? Pesan Mas juga tidak dibalas. Kamu baik-baik saja kan?" Reno mencecar banyak pertanyaan sebagai bentuk kekhawatirannya.


"Maaf, Mas. Aku baik-baik saja. Tapi tadi memang ada insiden. Sekarang aku ada di rumah sakit."


"Kenapa, Al?" tanya Reno yang semakin panik.


Kemudian, Alana menceritakan kejadian yang ia alami bersama Aurel dari A sampai Z.


"Apa Alex marah? Dia menuntutmu?" tanya Reno. Yang dikhawatirkannya hanya Alana, karena walau bagaimana pun kejadian ini memang karena Alana.


"Untungnya tidak." Alana menggeleng lemah. Ia tak sanggup untuk mengatakan hal lain pada Reno.


"Kamu ada di rumah sakit mana? Mas langsung ke sana."


"Aku ada di rumah sakit xxx."


"Mas segera ke sana, Sayang. Tunggulah!"


"Iya."


Alana menutup panggilan telepon itu dengan perasaan bingung.