
Sudah dua hari, Aurel di rawat di rumah sakit. Dan, selama itu pula Alana merawat anak itu dengan telaten. Di sana, Alana juga ditemani oleh pengasuh Aurel. Sedangkan Alex tetap bekerja dan datang di setiap sore, lalu pulang di tengah malam.
Alana bertangung jawab atas apa yang dialami Aurel. Ia tidak meninggalkan anak itu hingga benar-benar sembuh.
Jika Alex sedang bersama Aurel, Alana memilih pergi untuk memberi waktu pada ayah dan anak itu. Selain masalah pekerjaan, Alex dan Alana tidak sering membicarakan tentang masalah pribadi. Alex seperti memberi ruang Alana untuk berpikir.
Di tempat berbeda, Reno pun mulai dengan aktifitasnya di perusahaan sang ayah. Setelah ada Reno, Bagas tidak lagi sering berada di kantor. Pria paruh baya itu lega karena bisa menghabiskan waktu yang banyak di rumah bersama sang istri. Seperti Alana waktu itu, Reno pun tidak membertahu kedua orang tuanya bahwa saat ini pernikahan mereka tengah dilanda kemelut lagi.
Reno dan Alana tidak bertemu dua hari. Reno yakin istrinya di sana bisa menjaga diri. Ia tahu kapasitas Alana yang tak mudah memberikan hati pada orang lain. hanya saja, ia terjebak oleh keadaan, sama seperti dirinya dulu.
"Jangan lupa makan! Jaga kesehatan.”
Reno mengirimkan pesan itu pada Alana.
Di sana, Alana langsung membuka dan mebaca pesan itu. ia pun mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan Reno.
“Kamu juga, jangan lupa makan! Dan jaga kesehatan.”
Reno tersenyum saat membaca pesan itu. Mereka saling menjaga hati dan memberi waktu lagi pada diri. Ternyata kesempatan mereka bersama dan menikmati malam panjang waktu itu bukan akhir dari prahara yang terjadi. Ternyata masih ada hal lain yang menanti setelah kebersamaan itu.
Reno mengingat terakhir kebersamaan mereka. Ia tersenyum saat mengusap sisa bubur yang ada di bawah bibir Alana. Wanita itu tersenyum manis padanya. Mereka pun bercanda dan bercengkerama. Bahkan Reno sengaja mampir ke toko lingeri setelah mengantar Alana ke kantor dan sebelum ia sampai ke kantornya sendiri. Reno sengaja membelikan Alana lingeri paling sexy untuk dikenakan malamnya. Malam yang hingga kini belum terwujud.
Reno mengambil paper bag yang berisi lingeri sexy itu. ia kembali mengambil benda itu dan menciumnya. Reno memejamkan mata sambil membayangkan Alana mengenakan gaun itu dan mereka bercinta.
“Mas merindukanmu, Sayang” gumam Reno.
Reno menghabiskan waktu untuk bekerja. Ia ditemani oleh Dimas, asisten Bagas yang setia dan handal juga bisa diandalkan dalam hal apa pun. Reno senang memiliki asisten pribadi seperti Dimas, karena Dimas laki-laki. Ia trauma memiliki asisten yang berjenis kelamin perempuan. Cukup Dewi pengalaman berharga yang tidak akan terulang.
Reno mengalihkan sedih dan rindunya pada Alana dengan bekerja. Ia datang ke kantor pagi-pagi dan akan pulang larut malam. Waktu di rumah, hanya ia gunakan untuk tidur dan merehatkan sejenak pikiran yang tidak pernah berhenti berpikir.
“Mimi,” panggil Aurel pada Alana.
“Hm …” Alana menoleh.
“Aurel ingin tidur sama Mimi.”
Alana tersenyum. Ia melihat wajah Aurel yang tidak pucat lagi. kesehatan Aurel berangsur membaik. Kata dokter, jika hasil tes darah terakhir menyatakan Aurel baik-baik saja, maka besok anak itu diperbolehkan pulang.
Alana menuruti keinginan Aurel. Ia membaringkan tubuhnya tepat di samping anak itu dan memeluk tubuh mungil itu.
Alana sudah meminta Alex untuk tidak menginap di rumah sakit, selama ia mengurus putrinya. Ia tidak ingin bermalam dalam satu ruangan yang sama dengan Alex. Dan, Alex pun mengerti hal itu. ia pulang ketika malam larut dan Aurel sudah terlelap tidur.
Saat ini, Alex masih berada di ruangan itu. ia mendengar interaksi anatar putrinya dan Alana.
“Mimi kenapa? Kok sedih?” tanya Aurel yang jarang melihat Alana tertawa.
“Masa? Memang Mimi terlihat sedih?” Alana balik bertanya.
Wajahnya memang tidak bisa berbohong. Alana termasuk orang yang ekspresif. Ketika ada masalah, raut wajahnya tidak bisa sseperti biasa. Ia akan terlihat sedih dan galau.
Aurel mengangguk. “Iya. Dari kemarin Mimi ga pernah tertawa.”
Lalu, Alana tersenyum. “Masa? Sepertinya Mimi sering tertawa.”
Tubuh Alana memang di sini, tapi pikirannya berada di tempat lain, yaitu Reno. Walau bagaiana pun, Reno adalah rumahnya. Pria yang sudah ia kenal sejak kecil. Pria yang selalu ada untuknya dan begitu mencintainya. Pria yang dengan bodoh memberi luka pada Alana. Namun langsung berjuang untuk mendapatkannya kembali.
Alex menatap Alana dan Aurel yang berada di tempat tidur pasien. Ia menyadari bahwa hanya ada tubuh Alana yang di sini, tapi jiwa dan pikirannya ada di tempat lain.
Alana menyanyikan lagu twinkle twinkle untuk meninabobokan Aurel. Gadis kecil itu pun terlelap beberapa menit setelah itu dan Alex berdiri meghampiri putrinya. Ia mengecup kening putrinya dan menatap Alana yang juga sudah memejamkan mata. Lalu, Alex pulang.
***
“Al, pegang tangan kakak, Al. pegang!” teriak Reno.
Alana hanyut di sungai saat sedang ikut kegiatan perkemahan pramuka dari sekolah. Saat itu, Reno sengaja menjadi anggota pembina di sekolah Alana yang ketika itu masih SMP. Ia sengaja melakukan hal itu hanya karena ingin menjaga wanitanya. Wanita yang sudah ia incar sejak kecil. Sejak Alana tidak tahu apa itu kata ganteng dan cantik.
“Ngga bisa, Kak.”
“Bisa, Al. Ayo pegang tangan kakak!”
“Ngga bisa kak.” Tangan Alana tidak kuat lagi berpegang pada ranting di sekeliling sungai yang arusnya sedang pasang dan mengalir cukup kencang.
“Aaa …” teriak Alana saat tubuhnya mulai sedikit terbwa arus.
Reno yang sudah berada di dalam sungai itu pun kembali mendekat ke arah Alana dan hendak meraih tubuhnya untuk di bawa ke tepian. Setelah bersusah payah, Akhirnya Reno berhasil meraih tubuh Alana dan membawanya ke tepian dengan terseok-seok.
Alana menyaksikan perjuangan pria itu untuk menolongnya. Ia juga berjanji pada dirinya sendiri untuk menerima cinta Reno jika pria itu mengatakan cintanya sekali lagi.
“Ayo, Al. bertahanlah. Kita berhasil sampai ke tepian,” ucap Reno menyemangati Alana.
Alana mengangguk. ia pun berusaha membawa tubuhnya ke sana. hingga akhirnya sampai di tepian.
Reno mendahulukan Alana untuk segera naik ke atas hingga derasan itu semakin kuat dan justru membawa tubuh Reno.
“Kakak,” teriak Alana. “Kak Reno.”
Blup … Blup …
Kepala Reno timbul tenggelam di sana. Tubuhnya pun semakin jauh ke tepian.
“Kak Reno.” Alana menangis histeris sembari berteriak. “Kak Reno.”
Kepala Alana bergerak ke kanan dan kiri saat tidur. Ia bermimpi. Mimpi yang memang pernah ia dan Reno alami saat itu. namun, kejadian sebenarnya Reno tidak terbawa arus dan mereka sama-sama sampai ketepian.
Bulir-bulir keringat besar bercucuran di dahi Alana. Wanita terus berteriak dengan mata yang masih terpejam.
“Mbak … Mbak … Mbak Alana.” Pengasuh Aurel yang melihat Alana tengah tertidur seperti itu pun membangunkan.
Dan Akhirnya, Alana terbangun. “Astaghfirulloh.” Ia langsung memegang dadanya yang naikturun dan nafas tersengal.
“Mbak Alana mimpi buruk?” tanya pengasuh Aurel.
Alana kembali mengingat jelas sesuatu yang ada dalam mimpinya itu. ia pun mengangguk dan mengusap peluh di dahinya.
Pengasuh Aurel memberinya minum.
“Terima kasih, Bi.”
Bibi mengangguk. Sedangkan pikiran Alana masih tertuju pada Reno. Sedang apa dan bagaimana keadaannya? Ia pun mengambil ponsel untuk menelepon Reno.