
Reno kembali mengecek ponselnya. Pesan yang ia kirim untuk Alana masih belum ada balasan. Tandanya pun tetap sama, hanya centang dua dan tidak berwarna. Ia seperti tengah menunggu balsan pesar dari pacar.
Kemudian, Reno berinisiatif untuk menelepon, sekalian memberi kabar bahwa dirinya akan menjemput Alana sepulang kerja.
“The number you are callang is switch off. Please try again!” Hanya suara operator yang terdengar di sana.
Reno mengernyitkan dahi. Tidak biasanya ponsel Alana mati.
Di tempat berbeda. Alaan tersenyum melihat Auretl dengan kepintarannya memainkan jari di atas tuts piano.
“Yeay …” Alana bertepuk tangan sendiri setelah Aurel selesai memainkan alat musik itu.
Sontak, Aurel pun menoleh ke suara tepukan itu. pasalnya hanya Alana yang bertepuk tangan.
“Mimi …” panggil Aurel senang.
“Hai.” Alana melambaik tangannya.
Aurel yang kegirangan pun, langsung berlari ke arah Alana dan Alana dengan sigap menangkapnya.
“Mimi menjemputku? Daddy mana?” tanya gadis kecil itu.
“Daddy ada urusan mendadak di Singapore. Jadi, hari ini Mimi yang menjemput.”
“Yeay.” Aurel tersenyum lebar sembari berjingkrakan.
Waktu jam pulang kerja pun tiba. Reno kembali menatap layar ponselnya. Semua masih sama. Seseorang yang ia harapkan untuk membalas dan menelepon pun tidak ada. Padahal biasanya, dalam sehari Alana bisa meneleponnya berkali-kali, hingga terkadang Reno kesal karena keposesifan itu.
“Kenapa, Ren. Ada masalah?” tanya Dewi yang datang ke ruangan Reno dan melihat wajah pria itu tertekuk.
“Tidak apa.” Reno menggeleng. “Oh, ya. Aku pulang duluan ya.”
“Loh, kita ga jadi sekalian beli kado buat istrinya Pak Richard?” tanya Dewi yang semula akan jalan sore ini bersama Reno untuk membeli kado pada istri bosnya yang baru saja melahirkan.
“Nanti saja,” jawab Reno cepat dan segera berlalu dari hadapan Dewi.
“Loh, Ren. Buru-buru banget sih,” ucap Dewi yang baru saja dilintasi Reno.
“Mau jemput Alana. Bye …” Reno langsung melambaikan tangannya.
Ia memang mengganggap Dewi sebagai sahabat. Tidak lebih. Rasa Reno pada Dewi hanya sekedar mengagumi tapi tak mencintai. Hanya saja, Reno tidak menyadari bahwa rasa Dewi padanya berbeda.
Reno bergegas menuju kantor Alana. Ia sengaja pulang lebih cepat agar tidak terhambat oleh traffic jam. Sesampainya di sana, ia menunggu di lobby. Ia melihat ke arah lift yang sedari tadi terbuka memebawa beberapa karyawan yang berada di lantai atas. Namun dari sekian banyak orang yang keluar lift, tidak tampak istrinya di sana.
“Bilqis.” Reno memanggil nama sahabat Alana saat pria itu menemukan wajah yang ia kenal.
Bilqis yang mendengar namanya dipanggil pun menoleh. “Eh, Mas Reno.”
“Alana belum keluar?”
“Wah, aku malah belum ketemu Alana dari pagi, Mas.”
“Oh,” jawab Reno lesu. “Bisa tolong antarkan aku ke ruangan Alana?”
“Ada yang ketinggalan, Mbak?” tanya Resepsionis itu pada Bilqis yang ingin kembali ke atas.
“Ngga,” jawab Bilqis. “Mau ke ruangan Alana. Ini suaminya nyariin.”
“Setahu saya, Mba Alana sudah pulang dari jam tiga.”
Bilqis menatap Reno dan Reno pun menatap Bilqis, lalu berpindah pada resepsionis yang memberikan informasi itu.
“Oh, istri saya sudah pulang, Mbak?” tanya Reno lagi memastikan.
“Iya, Pak. Sudah dari tadi.”
Reno mengangguk dan langsung berpamitan pada Bilqis. “Makasih, Qis. Maaf ganggu waktu kamu.” Dengan tergesa-gesa Reno berjalan menuju parkiran dan segera pulang.
Bilqis pun kembali melanjutkan langkahnya.
Jalan yang Reno lalui, terjebak macet. Ia tidak sampai rumah dengan cepat. Bahkan, Reno harus singgah ke sebuah masjid saat adzan maghrib berkumandang. Setelah itu, ia kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah. Di sela-sela itu, ia sempatkan menelepon Alana. Namun, ponsel Alana masih tidak aktif.
“Wah … Mimi masak apa?”
“Krim sup jagung dengan roti pastry.” Alana menyiapkan zuppa sup untuk Aurel di kediaman Alex.
“Asyik.”
Gadis kecil yang ceria itu menambah mood Alana. Ia pun ikut melebarkan senyum karena tingkah Aurel yang menggemaskan.
“Ini baru makanan pembuka. Habs maghrib, kita makan malam,” ucap Alana yang sedikit lupa oleh Reno.
“Oke. Pelutku siap menampung makanan buatan Mimi.”
“Perut,” ledek Alana pada Aurel yang belum bisa mengucap huruf “r”.
“Pelut,” sambung Aurel.
“Perut, Aurel. R … r … r …”
“Pelut, Mimi. L … l … llll …”
Alana tertawa. Ia tidak sadar bahwa di luar sana, ada seseorang yang mencarinya.
Sesampainya di rumah, Reno menatap rumahnya dari luar. Di dalam sana tampak gelap. Sepertinya, Alana belum ada di sana. Benar saja, pintu rumah masih terkunci. Walau masing-masing membawa kunci rumah, tapi seharusnya ketika Alana sudah berada di dalam, pintu ini tak lagi terkunci.
Reno langsung menelepon Tuti. Sambungan telepon itu tidak sampai dua menit, karena ternyata yang ia cari juga tak ada di rumah itu.
Reno bingung. Ia tak tahu apa yang terjadi pada Alana. Tiba-tiba istrinya hilang bagai ditelan bumi. Ia kembali mengingat kejadian sebelum ia berangkat kerja. Semuanya baik-baik saja. Bahkan, pagi tadi mereka lebih hangat. Alana juga memasangkan dasinya.
Reno lemas dan menjatuhkan tubuhnya di sofa. Ia mengusap wajahnya kasar. “Kamu dimana, Al?”
Alana melakukan apa yang Reno lakukan. Tanpa niat untuk membalas, Reno merasakan apa yang Alana rasakan saat Alana menanti kabar Reno ketika Aminah demam tinggi.