Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Mundur teratur



Pagi ini Reno tampak tenang. Tubuhnya yang terdaya berbaring di atas tempat tidur pasien dengan selang infus di tangan kanannya.


Alana memandang sang suami. Entah kemana Reno yang ia kenal dulu. Benar kata Bilqis, tidak ada yang namanya cinta sejati. Tidak ada cinta yang tak lekang oleh waktu. Dan, ia merasakannya kini. Dulu, ia sangat mengagungkan cinta. Ia selalu menceritakan pada semua orang tentang kebucinan Reno dan cinta matinya Reno. Ia selalu bersyukur karena Tuhan menghadirkan Reno dan orang tuanya sebagai pengisi kasih sayang yang tidak ia dapatkan. Namun, sejak hari ini ia tidak boleh bergantung pada orang lain, termasuk Reno. Ia harus mulai terbiasa, hidup tanpa Reno.


Kemudian, Alana mengambil ponselnya. Ia mencari nomor Dewi dan meneleponnya.


Tut … Tut … Tut …


Panggilan itu tidak diangkat. Dan, Alana kembali mencobanya.


Tut … Tut … Tut …


“Halo.”


Alana mendengar suara Dewi.


“Hai, Mbak. Apa kabar?”


“Ngga usah basa-basi. Kamu mau apa lagi? Bukannya aku udah turutin apa yang kamu mau,” ucap Dewi ketus.


“Mbak dimana? Masih di Jogya?” tanya Alana baik-baik.


“Bukan urusan kamu,” jawab Dewi sinis.


Alana tersenyum. “Maaf, Mbak. Sejak awal aku ga pernah benci sama Mbak. Aku ga suka cari musuh. Kita bersaing dengan sportif kan?”


Alana masih ingin berbesar hati. Entah terbuat dari apa hatinya. Alana tampak tegar dan dewasa dalam menyikapi masalah ini. Ia tidak marah-marah, mencak-mencak, atau secara brutal memukul dan mencaci Dewi. Sikap ini yang tidak disadari Reno.


Di sana Dewi diam. Ia tak bicara.


“Mas Reno sakit. Dia dirawat di rumah sakit xxx. Mbak ngga kesini? Kemarin malam Mas Reno mengigau nama Mba loh.”


Dewi masih diam dan tak bicara. Walau sebenarnya ia terkejut dan khawatir dengan keadaan Reno.


“Di kamar apa?” tanya Dewi membuat Alana tersenyum.


“Ruang Angrek Nomor 101. Di tunggu, Mbak.”


Alana memutuskan sambungan telepon itu.


Tak lama kemudian, Reno terbangun. Ia melihat Alana yang baru saja mematikan sambungan teleponnya. Alana berdiri menghadap jendela kamar dan membelakanginya.


“Telepon siapa?” tanya Reno, membuat Alana langsung menoleh.


“Mbak Dewi.”


“Dewi?” tanya Reno bingung.


“Iya, siapa tahu dengan datangnya Mbak Dewi, Mas cepet sembuh,” ucap Alana sembari berjalan menghampiri suaminya dan duduk di tepi tempat tidur itu.


“Al, jangan berpikiran yang enggak-enggak. Kalau pun Mas ngigau nama dia, itu memang karena Mas lagi ruwet di kantor. Karena memang itu pekerjaan Dewi dan biasanya dia yang menghandle jadi kebawa sampe alam bawah sadar Mas.”


Alana tersenyum dan menganggukkan kepala sembari mengupas buah untuk suaminya. “Iya, aku ngerti kok.”


Alana menatap wajah sang suami. “Aku ga cemburu Mas. Santai aja.”


Alana kembali tersenyum. Namun entah mengapa, Reno tidak menyukai Alana yang seperti ini. Hatinya tiba-tiba ikut mencelos.


“Reno,” panggil Asih.


“Mami.” Reno menatap ke arah pintu. Di sana Asih, Bagas, dan Aminah sudah berdiri.


“Kamu kenapa, Nak?” tanya Asih cemas.


“Tidak apa, Mam. Kata dokter tyfhus.”


“Kamu itu terlalu lelah bekerja, nak,” ucap Aminah.


“Iya, Nek.” Reno mengangguk. Lalu, Reno menatap Alana yang tersenyum manis pada mertua dan neneknya.


Alana mengangguk. “Iya.”


Reno mengerucutkan bibir. “Sayang, kenapa diberitahu. Aku ga ingin merepotkan Mami, Papi, dan nenek.”


“Kami tidak merasa di repotkan kok,” sahut Aminah.


“Iya, justru Mami seneng karena Alana kasih kabar.” Asih memarahi putranya.


“Lagian kenapa sih kamu bela-belain perusahaan orang sampe sakit begini?” tanya Bagas yang tak rela putranya sakit untuk memajukan perusahaan orang lain.


“Tidak apa-apa Papa, Mami, Nenek. Besok juga Reno sembuh dan boleh pulang,” jawab Reno yang tetap tidak ingin membuat orang tua dan nenek Alana khawatir.


Reno tampak berbincang dengan orang tuanya. Alana pun mengikuti perbincangan ringan itu. Alana melihat sang nenek yang begitu menyayangi suaminya. Aminah menyuapkan apel yang baru saja wanita tua itu kupas, lalu menyuapkannya ke mulut Reno.


Pemandangan yang begitu indah. Namun, sayangnya Alan tidak tahu sampai kapan pemandangan indah ini kan tetap ada. Mungkin malam ini terakhir, atau masih ada kah moment malam-malam indah seperti ini lagi? Entahlah.


****


“Reno,” panggil Dewi dan langsung menghampiri pria yang sedang merebahkan tubuhnya sembari menonton televisi itu.


Pukul sembilan pagi, Dewi sudah berada di rumah sakit ini, tepatnya di ruang perawatan Reno. Sedangkan Alana sedang tidak berada di ruangan ini. Ia meninggalkan Reno sebentar untuk mencari sarapan di kantin.


“Ren, kamu kenapa?”


“Masih tanya? Ini karena kamu, ninggalin banyak kerjaan jadi ke aku semua deh itu kerjaannya.”


Dewi tertawa. “Sorry.”


“Ngga mau tahu, pokoknya kamu harus balik lagi,” ucap Reno.


Dewi kembali tertawa. “Iya. Iya.”


Alana baru saja akan kembali ke ruang perawatan itu. ia melihat dari kaca pintu kebersamaan suaminya dengan Dewi. Alana yang sudah hendak memegang handle pintu itu pun mengurungkan niat untuk membukanya.


Reno dan Dewi memang tampak mirip. Keduanya memiliki karakter dan sifat yang sama. Keduanya juga sama-sama penggila kerja. Dewi yang introvert hanya memiliki Reno sebagai temannya sejak SMA.


“Kalian memang sama,” gumam Alana sembari tersenyum tipis dan meninggalkan ruangan itu.


Tepat di saat Alana membalikkan tubuh dan hendak melangkah meninggalkan pintu itu. Dewi melihatnya. Wanita itu segera keluar.


"Sebentar, Ren." Dewi pamit sebentar pada Reno dan bergegas keluar dari ruang perawatan Reno. Ia mengejar Alana.


"Tunggu, wanita sombong!"


Alana menoleh ke sumber suara itu. ia hafal betul pemilik suara itu. Tak ada tatapan benci Alana untuk Dewi. Namun, wanita itu menatap Alana seperti musuh.


Lalu, Dewi menghampiri Alana. Keduanya berada di lorong ruang pedawatan vvip yang sudah tidak dekat dari ruang perawatan Reno.


"See! Kata-kataku benar kan? Reno akan kembali dengab kemauannya. Dia pasti akan kehilanganku jika aku pergi."


Ini adalah titik puncak dari kesabaran Alana. Ia ikhlas untuk merelakan Reno jika memang pria itu sudah tak memilihnya.


Alana bertepuk tangan. "Selamat kalau begitu. Tapi sayangnya, hingga saat ini Mas Reno selalu menyangkal kedekatan kalian. Dia tetap bilang 'aku selalu mencintaimu, Al'."


Rahang Dewi mengeras. Ia pikir, Alana adalah seorang wanita yang lembek dan gampang ditindas. Nyatanya tidak. Justru Dewi selalu dibuat mati kutu oleh perkataan Alana yang menikam.


"Dia selalu berdalih kalau kalian hanya rekan kerja. Dia juga tidak pernah bilang padaku kalau dia mencintaimu," ucap Alana membuat hati Dewi panas.


Memang Reno tidak pernah mengatakan cinta pada Dewi apalagi Alana. Seharusnya Dewi sadar itu.


"Tenang saja, aku bukan wanita serakah. Aku juga tidak akan menghalangi kebahagiaan orang. Setelah Mas Reno sembuh, aku akan serahkan dia untukmu. Itu janjiku," kata Alana lagi dengan nada tegas.


Anggap saja ini adalah kali terakhir, Alana mengabdikan diri pada Reno, membalas kebaikan yang sering pria itu lakukan sejak dulu, karena Reno yang selalu mengurusnya saat sakit. Alana akan mundur teratur.


Kemudian Alana berlalu dari hadapan Dewi dengab elegan, membuat wanita yang berdiri di depannya itu diam mematung. Dewi tak mampu menjawab perkataan itu.