Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Congratulation



Reno dan Alana berjalan menuju sebuah runangan. Kali ini, seorang terapis neurologi itu akan mengajak Reno untuk melatih berjalan, menstimulus otot-ototo dan saraf itu agar kembali sesuai dengan fungsinya.


Reno menatap istrinya dan Alana pun menyemangati sang suami.


“Kamu bisa, Mas. Ayo di coba!”


Reno tersenyum dan mengangguk.


Paa petugas rumah sakit itu membantu Reno berada di atas latihan berjalan itu. Reno mencoba berdiri dengan memegang dua penyangga yang ada di samping kiri dan kanannya. Ia coba melangkah. Namun, kaki itu terasa lemah. Reno pun terjatuh. Lalu, ia kembali bangkit dan mencoba lagi. Ternyata, jatuh lagi.


Alana tak kuasa melihat Reno yang semula amat gagah, kini tak berdaya. Ingin rasanya, Alana menangis, tapi ia tahan demi menyemangati sang belahan jiwa.


Reno menatap ke arahnya seraya berkata, “Ngga bisa, Sayang.”


Alana tak kuasa, ia ingin menumpahkan airmata itu.


“Bisa Sayang,” katanya sambil mengusap air yang akhirnya mengalir di pipinya itu.


Di sana, Reno tetap berusaha. Walau rasanya lelah, tapi ia tetap semangat demi Alana. Berkali-kali Reno menatap wajah istrinya. ia tahu di sana, Alana tengah menangis. Dan, ia tidak ingin hal itu. ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi membuat Alana menangis, apa pun alasannya.


“Bisa, Reno. Kamu bisa!” ucapnya dalam hati sambil tetap kembali berusaha.


Namun, usaha Reno belum membuahkan hasil yang signifkan.


“It’s oke. Slowly but sure,” kata terapis itu memberi semangat poada Reno juga.


Reno dipastikan akan sembuh, karena dengan serangkaian pemeriksaan dari alat-alat canggih di sini, kondisi saraf dan ototnya dinyatakan tidak lagi bermasalah. Hanya saja efek dari sebab itu, tidak bisa membuat disfungsi yang dialami kembali normal dengan cepat. Reno harus sabar untuk meraih kegagahannya kembali.


Ia bersyukur memiliki Alana. Wanita yang dengan sabar mengurusnya, dengan lembut merawatnya, dan dengan cinta selalu berada di sisinya. Jika mengingat kebodohannya waktu itu, sungguh ia amat sangat menyesal. Ia pastikan kebodohan itu adalah kebodohan yang pertama dan terakhir.


Cukup lama Reno melakukan sesi percobaan berjalan dengan alat itu. Kaki Alana pun terasa lemas karena harus berdiri agak lama. Matanya pun sedikit kunang-kunang.


Petugas medis itu kembali membawa Reno duduk ke kursi rodanya. Reno tersenyum ke arah sang istri dan Alana pun membalas senyum itu sambil berjalan menuju ke arahnya. Mata Alana semakin kabur. Kepalanya pun terasa berat. Padahal pagi tadi ia merasa sudah mengisi lambungnya dengan setangkap roti berisi selai kacang.


Alana menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan penglihatan yang mulai kabur. Namun, ternyata tidak berubah malah semakin parah, hingga akhirnya ia pun ambruk.


“Sayang,” teriak Reno saat melihat Alana terjatuh ke lantai.


Sontak, Reno hendak bangkit dari kursi roda itu dan terjatuh tepat di samping kepala Alana. Demi menghadang tubuh Alana yang hendak ambruk ke lantai, Reno merasa seolah tidak ada masalah dengan kakinya. Alhasil, ia pun ikut terjatuh.


“Al, Sayang. Kamu kenapa?” tanya Reno panik.


Alana langsung di bawa oleh petugas medis itu. Reno pun dibangunkan dan didudukkan kembali.


Para petugas di sana bergerak cepat. Reno pun mengejar Alana yang langsung dibawa ke ruang instalasi.


Reno menggerakkan kursinya dan mengikuti langkah petugas medis yang membawa sang istri. Petugas rumah sakit itu pun menghentikan Reno tepat di depan pintu ruang instalasi itu.


Reno duduk di kursi rodanya dan menunggu dengan gelisah di depan pintu itu. Ia mengusap wajahnya kasar.


“Sayang, kamu kenapa? Kenapa tiba-tiba pingsan?”


Reno menundukkan wajahnya. Ia mengingat lagi kondisi Alana beberapa hari terakhir. Sungguh, ia sangat khawatir hingga meneteskan air mata.


“Jangan tinggalin Mas, Al. Mas tidak bisa hidup tanpamu. Jika boleh meminta, Mas yang lebih dulu pulang.” Isi kepala Reno sudah memikirkan yang macam-macam.


Tiga puluh menit, Reno menunggu hingga pintu ruangan itu pun terbuka.


Ceklek


Di sana berdiri wanita dengan jas putih dan rambut pirang sebahu. Wanita itu mempersilahkan Reno masuk.


Reno masuk ke ruangan itu dan melihat Alana sudah siuman. Wanita yang membuatnya panik setengah mati malah tersenyum.


“Your wife is pregnant,” ucap dokter berambut pirang itu.


Reno menoleh ke arah dokter dan bergantian ke arah Alana yang langsung mengangguk. Mata Reno kembali berkaca-kaca sambil mengarahkan kursinya untuk mendekati Alana.


“Benarkah, Al?” tanyanya lagi.


“Iya, Mas. Sudah lima minggu," ucap Alana semangat. "Aku sampai ga ngeh kalau sudah telat satu minggu."


“Alhamdulillah.” Reno langsung memeluk istrinya.


Alana pun menerima pelukan itu sambil tersenyum merekah. Reno tak henti menangis dan menciumi wajah Alana.


Dokter itu pun tersenyum haru melihat pasangan ini. Entah apa yang sudah dilewati oleh pasangan itu. Yang jelas kabar gembira ini seolah menggambarkan aura bahagia yang kuat.


"Congratulation, Sir.” Dokter itu memberi ucapan pada Reno dan pada Alana. “Congratulation, Ms.”


Ucapan selamat itu juga diucapkan oleh petugas medis yang mendampingi dokter itu.


Reno dan Alana melepaskan pelukan. Mereka menusap air mata yang membasahi pipi mereka.


“Thank you,” sahut Reno dan Alana bergantian.