Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Berbincang empat mata



Mobil mewah Alex memasuki kediamannya yang tiga kali lebih besar dari rumah Reno dan Alana tempati.


Reno tidak ikut masuk ke dalam rumah itu. Ia hanya memarkirkan mobilnya di depan gerbang. Reno cukup takjub dengan rumah mewah Alex yang di design elegan. Rumah itu bernuansa putih. Cat putih, bahkan jika masuk ke dalamnya, semua perabot di sana dominan menggunakan warna yang sama karena Alex memang menyukai warna putih. Bunga-bunga segar bermekaran di pekarangan itu. Reno dapat melihatnya dari lampu taman yang menyorot cukup terang. Di sana juga ada bunga mawar putih, bunga kesukaan Alana.


Alana memang menyukai warna putih, sama seperti Alex. Tapi berbeda dengan Reno yang menyukai Warna abu-abu. Bahkan saat mengecat rumah saja, mereka harus berdebat hingga akhirnya Reno mengalah. Walau tadinya Reno enggan untuk mengalah dan efeknya mendiamkan Alana selama satu hari.


Reno menegok ke arah mobil yang baru terparkir di pekarangan luas itu. untung saja pagar rumah Alex tidak dilapisi fiber, sehingga Reno dapat melihat jelas di dalam sana walau ia hanya menunggu di luar.


Alex berlari memutari kap mobil untuk membuka pintu Alana. Perlakuan Alex terlalu berlebihan menurut Reno. Namun, menurut pria itu tidak karena kondisinya memang Alana sedang menggendong putri kesayangannya.


Alex menemani Alana hingga masuk ke dalam rumah. Pintu rumah itu pun sengaja ia bukakan untuk memudahkan Alana masuk. Sedangkan barang belanjaan yang ada di mobil, dengans segera dibawakan oleh pelayan yang bekerja di rumah ini termasuk baby sitter Aurel yang tadi tidak ikut makan malam.


Kaki Alana langsung menuju ke kamar Aurel dan meletakkan gadis kecil itu dengan hati-hati di sana. Alex melihat perhatian dan kelembutan itu. sungguh ia ingin menjadikan Alana sebagai ibu sambung Aurel, karena sepertinya sekretarisnya itu memang wanita paling tepat untuk putrinya.


“Thank you, Al,” kata Alex setelah Alana membaringkan tubuh mungil Aurel dengan hati-hati.


Tubuh mungil yang menggemaskan itu pun tak bergerak hingga berada dalam tempatnya.


“You’re welcome, Sir.” Arah mata Alana menoleh ke arah Alex dan berganti ke arah Aurel.


Sebelum meninggalkan kamar itu, Alana kembali memajukan tubuhnya ke arah Aurel dan mengecup kening gadis mungil itu. “Mimpi indah, Sayang. Besok kita bertemu lagi.”


Alex tersenyum dan mengantarkan Alana hingga depan pintu utama. Sedangkan Reno menunggu di dalam mobil dengan gelisah. Ia menggerakkan kakinya sembari menghentakkan jarinya di kemudi setir untuk menghilangkan kegelisahan itu.


Lima menit kemudian, aktifitas Reno pun terhenti. Ia menegakkan tubuhnya di kursi itu saat melihat Alana keluar dari rumah Alex. Hati Reno kembali tersayat saat melihat interaksi keduanya. Senyum Alana yang biasanya hanya untuknya, kini terbagi oleh orang lain. Dan itu terjadi karena celah yang diberikan oleh Reno sendiri.


Jujur, dalam hati kecil Reno, ia merasa rendah diri saat melihat rumah mewah itu. Jika dibandingkan dengan dirinya, Alex jauh berada di atas. Tampan, sukses, dan memiliki kharismatik, itu semua ada di diri Alex. Jika tidak dengan perjuangan keras, Alana bisa saja jatuh hati pada bosnya itu, pikir Reno. Alex memiliki banyak kelebihan yang diinginkan setiap kaum hawa. Dan, Reno tak ingin mengalah, ia tidak ingin merelakan Alana untuk Alex.


Bibir Reno langsung tersenyum saat Alana menghampirinya. Wajah Alana terlihat datar. Wanita itu tidak membalas senyum Reno. Dia tidak menampilkan senyum manisnya pada Reno seperti yang semula dia lakukan pada Alex.


Reno langsung menekan sentral lock agar pintu itu dapat dibuka Alana. Beberapa detik kemudian, Alana pun membuka pintu itu dan duduk di samping Reno. Ia juga langsung menarik sabuk pengaman. Dan, dengan cepat Reno membantu Alana memasangkan sabuk itu.


“Ngga usah, Mas. Aku bisa kok. Aku bukan anak kecil,” kata Alana menahan tangan reno yang ingin membantunya.


Kini, Alana terlihat ketus dan kata-katanya sering bernada sindiran. Di depan Reno, wanita itu tidak pernah lagi menampilkan senyum manisnya. Padahal Reno sangat merindukan itu, sangat.


Pria itu belum mulai mengerakkan kendaraannya. Walau Alana tidak menoleh ke arah Reno, tapi ia tahu saat ini Reno tengah menatapnya.


“Oh, ya.” Reno pun tersentak dan mulai mengendarai mobilnya.


Di dalam mobil, mereka hanya diam. Reno pun bingung untuk memulai pembicaraan. Ia masih teramat rindu dengan wanita yang duduk di sebelahnya. Wanita yang hingga saat ini masih sah sebagai istrinya tapi serasa orang lain. ingin sekali Reno memeluk tubuh itu, mencium tubuh itu, mencium seluruh wajahnya dan ******* bibirnya dengan durasi yang lama. Namun, sepertinya itu tidak mungkin karena wajah Alana saja sudah tidak bersahabat.


Alana lebih sering menoleh ke arah jendela. Padahal seharusnya ini waktu yang tepat untuk mereka berbincang empat mata dan dari hati ke hati.


“Al,” panggil Reno.


“Hmm …” Alana menjawab, tapi dengan wajah yang masih mengarah ke jendela dan membelakangi Reno.


“Mas sudah menemukan banyak bukti tentang Dewi. Mas juga sudah meminta cctv hotel tempat kami menginap saat itu. semua sudah Mas kirimkan ke emailmu. Percayalah, Al. Mas tidak pernah melakukan seperti apa yang kamu pikirkan. Mas hanya cinta kamu.”


Alana diam. Ia tidak menjawab satu pun perkataan Reno.


“Kita kembali ke rumah ya,” ucap Reno lagi, membuat Alana langsung menoleh ke wajah yang masih membuatnya kesal dan sakit hati, karena runtunan sakit hati itu bukan hanya soal foto, melainkan hal-hal lain yang tidak di sadari Reno sebelumnya.


“Tidak. Aku masih belum biaa kembali. Antar aku ke rumah nenek saja atau kalau Mas tidak mau, turunkan aku di sini.”


“Al,” panggil Reno lirih. “Kamu belum memaafkan Mas?”


Alana menggeleng. Entahlah, rasanya perasaannya sulit untuk diungkapkan.


“Hatiku diibaratkan seperti sebuah kayu atau dinding yang sudah ditancapkan paku olehmu. Ketika paku itu kamu cabut kembali, maka bekasnya akan tetap ada. Seperti itu lah hatiku sekarang. Rasanya masih membekas, walau tetap memaafkan,” sahut Alana dengan nada sedih dan tatapan yang masih tetap lurus ke jalan.


Reno terdiam. Ia pun memandang lurus ke jalan setelah semula menoleh ke Alana dan melihat ekpresi wanita itu saat mengucapkan kalimat panjang tadi. Setir kemudi yang sedang Reno jalankan semakin memelan. Seketika, ia mengusap pipinya yang basah. Entah dari mana air itu datang, padahal Reno tak menginginkan.


Sungguh, kata-kata Alana tadi sangat menusuk hati Reno. Sebesar itu kah perilaku buruknya terhadap sang istri beberapa bulan terakhir ini?


Otak Reno pun memutar memori kebelakang, tepatnya saat ia mulai menjabat sebagai manajer dengan kesibukan yang meningkat. Ia sering menyalahkan Alana dan menyebutnya kekanak-kanakan tiap kali Alana tidak mengerti dirinya, padahal sebisa mungkin Alana menekan egonya sendiri dan selalu berusaha untuk mengerti Reno. Alana juga selalu memaafkan setiap kali Reno meminta maaf atas kata-kata atau perilakunya yang menyakitkan, hingga akhirnya konflik besar itu pun meledak dan jadilah seperti saat ini.


Reno pun menyadari itu, menyadari akan perilakunya yang buruk beberapa bulan terakhir, atau lebih dari setengah tahun terakhir.