Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Meminta penjelasan



Reno keluar dari taksi dengan semangat. Wajahnya sumringah. Ia tak sabar bertemu Alana di dalam. Kakinya melangkah cepat dan masuk ke dalam.


Reno membuka pintu rumah yang tidak di kunci. Alana memang tak sempat mengunci rumah itu saat ia melangkah pergi. Hatinya sangat sangat sehingga tak ada yang ia pikirkan selain meninggalkan tempat itu. Alana pikir memang pernikahannya sudah tidak bisa diselamatkan. Apa pun penjelasan Reno, rasanya semua sudah cukup.


“Sayang,” panggil Reno setelah membuka pintu.


Reno melihat suasana rumah yang rapi, bersih, dan wangi. Ia pastikan bahwa Alana yang telah membereskan kekacauan ini. Bibirnya terus mengembang senyum sembari melangkah kaki menuju kamar.


“Alana.”


Reno membuka pintu kamar dan tidak mendapatkan sosok sang istri. Senyum yang semula merekah, kini memudar. Wajah yang semula sumringah pun berubah menjadi panik saat Reno membuka setiap ruangan drumah itu dan tak menemukan Alana.


“Al …” teriak Reno hingga menggema di dalam rumah itu. “Kamu dimana?”


Tring


Ponselnya berdering memperlihatkan sebuah notifikasi pesan. Reno langsung mengambil ponsel itu dan tersenyum saat nama dinotofikasi tertera nama sang istri. Namun, senyum itu memudar seketika saat ia melihat pesan yang dikirm Alana berupa foto. Foto yang sama persis seperti yang telah Alana terima dari Dewi.


Rahang Reno mengeras. Ujian apa lagi ini? Ia merasa tidak pernah melakukan hal ini pada Dewi.


“Saat aku pergi dari rumah itu, aku berharap kamu menahanku. Tapi kamu tak menolehke arahku sama sekali. Dan sejak saat itu, aku memang sudah memutuskan untuk merelakanmu untuknya. Lebih baik kita berpisah, Mas. Aku tidak cocok untukmu. Aku kekanak-kanakan”


Alana menuliskan pesan setelah foto terkirim.


“Tidak. Tidak.” Reno menggeleng setelah membaca pesan itu. ia tidak ingin berpisah dari Alana.


Reno langsung mengambil kunci mobil mnuju rumah Aminah. Ia melihat lokasi Alana yang sudah ada di sana.


“Al, kamu kenapa?” tanya Aminah saat Alana datang dan langsung memeluknya.


Namun, Alana tak mengatakan apa pun. Ia hanya menangis di bahu sang nenek. Aminah pun tak bertanya lagi, ia memilih diam dan memasang bahunya untuk tempat bersandar cucunya.


“Nek, Mbak Al kenapa?” tanya Tuti pada Aminah tanpa suara. Ia berdiri di balik tubuh Alana yang masih memeluk sang nenek.


“Sssttt …” Aminah menutup bibirnya agar Tuti tak banyak bertanya.


Tuti pun mengunci mulutnya. Ia memilih pergi dan memberi ruang pada cucu dan nenek itu.


Setelah puas menangis di bahu Aminah, Alana melonggarkan pelukan itu dan mengusap air matanya. “Alana ke kamar dulu ya, Nek.”


Aminah mengangguk. ‘Istirahatlah dulu, nanti kalau sudah tenang baru kamu bicara.”


Alana mengangguk. Ya. Ia memang ingin menetralisir perasaannya dahulu.


Di perjalanan, Reno membelah jalan dengan perasaan kalut. Ia mengingat lagi, kapan Dewi mengambil foto itu? Ia tak menyangka Dewi sejahat ini padanya. Padahal ia selalu membeli wanita itu di depan Alana, juga menyanjungnya di depan teman-teman.


Hari semakin gelap. Alana pergi dari rumah Reno setengah jam sebelum adzan isya berkumandang.


“Al, Al …” teriak Reno saat sampai di rumah Aminah.


Pria itu langsung ke kamar Alana, sedangkan Aminah dan Tuti sedang berada di kamarnya untuk melaksanakan ibadah sendiri-sendiri.


“Al, buka pintunya.”


Reno berdiri di depan pintu kamar Alana dan mengetuk pintu itu. Alana tahu, Reno akan ke rumah ini, oleh karena itu ia mengunci kamarnya.


“Al, Buka. Mas mau ngomong.”


Di dalam kamar, Alana tak menyahut panggilan Reno. Ia baru saja selesai sholat. Air matanya pun sudah tak lagi mengalir. Ia mencoba ikhlas, jika harus berpisah dari suaminya.


“Al, kalau kamu ga buka. Mas dobrak pintunya!” teriak Reno dari luar kamar.


“Yang ada di foto itu tidak benar, Al. Aku dan Dewi tidak pernah melakukan itu,” jawab Reno lirih.


Aminah dan Tuti mendengar teriakan Reno beberapa kali. Selesai sholat mereka pun langsung keluar kamar menuju ke sumber suara teriakan itu.


“Terus kamu masih mau bilang aku berlebihan? Kekanak-kanakan? Iya!”


Mata Alana memerah. Baru kali ini ia berkata di depan Reno dengan nada tinggi.


Reno menggeleng. “Al, dengar penjelasan Mas. Dewi pasti memfitnah Mas.”


“Maksud Mas, ini foto editan?” tanya Alana menantang. “Aku rasa ngga. Lagian aku tahu betul boxer itu milikmu. Aku kan yang membelinya.”


Nada suara Alana terdengar sinis dan tidak bersahabat.


“Di Singapore, Dewi memang pernah masuk ke kamarku. Itu pun karena aku sangat ngantuk dan tidak bisa dia bangunkan. Akhirnya, dia minta kunci cadangan dari resepsionis. Mungkin pada saat itu, dia mengambil foto ini. Mas benar-benar ga tahu, Al. waktu itu, Mas ingat dia tiba-tiba da di samping Mas dan membangunkan Mas.”


“Membangunkan dengan cara apa? Mengelus kepalamu? Atau dengan cara mencium pipimu?” tanya Alana jengkel.


Reno terdiam. Ya, memang saat itu Dewi membangunkannya dengan mengelus rambutnya. Saat Reno terbangun tiba-tiba wajah Dewi sudah ada di depan wajahnya. Ia pun terkejut dan menjauhkan diri. Lalu, Dewi ikut menauhkan diri. Dan, Reno bergegas ke kamar mandi.


“Al, ada apa ini? Malam malam bertengkar. Malu di dengar tetangga.” Aminah menengahkan, sedangkan Tuti hanya jadi penonton.


“Nek, Mas Reno mengkhianatiku. Dia tidur dengan teman kantornya,” jawab Alana dengan memberikan Aminah ponselnya dan memperlihatkan foto Reno da Dewi.


Aminah mengambi ponsel itu. ia terkejut dan diam. Aminah tidak ingin memperkeruh keadaan dengan memarahi Reno.


“Apa ini benar kamu, Ren?” tanyanya.


Reno mengangguk pelan. “Tapi Reno tidak melakukan itu, Nek. Reno tidak berzinah. Tidak. Wanita itu mengambil foto ini saat Reno masih tidur.”


“Bohong. Mereka memang sudah dekat dari SMA, Nek. cinta mereka bersemi kembali saat takdir mempertemukan mereka di kantor sebagai asisten dan manager.”


“Al,” panggil Reno lirih sambil menggelengkan kepalanya dan menatap ke arah sang istri.


“Alana sudah memperingatkannya beberapa kali, tapi Mas Reno malah marah dan bilang Alana kekanak-kanakan. Bahkan saat Alana menyuruh wanita itu untuk pergi dan tidak mengganggu kami. Mas Reno membelanya dan malah membiarkan Alana pergi dari rumah.”


“Al," panggil Reno memelas dan berusaha meraih lengan Alana.


Namun, Alana menepisnya. “Cukup, Mas. Aku capek. Aku benar-benar capek.”


“Al, please. Mas mohon percayalah!”


“Saat aku minta Mas percaya, apa Mas percaya? Dan sekarang, boleh aku bersikap seperti Mas dulu?”


Brak


Alana menutup pintu kamarnya lagi dan Reno masih mematung di luar sana.


“Alana,” panggil Reno lirih dengan mengetuk pelan pintu itu.


Airmata Reno sudah menggenang di pelupuk matanya.


Aminah menyaksikan kejadian itu dalam diam. Ia bingung ingin membela yang mana? Dan tuti pun hanya berdiri mematung.


Alana tidak percaya pada Reno. Kepercayaan dan cinta itu sedang lari entah kemana. Dua pondasi yang ia miliki saat memilih pria ini untuk menjadi suaminya pun tiba-tiba sedang diterpa angin. Akan kah, pondasi itu akan kembali?


Reno melangkah gontai. Aminah menyuruhnya untuk pulang dan memberi waktu pada masing-masing. Aminah juga meminta Reno untuk mencari bukti jika foto itu adalah bohong.


Reno masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobil itu. kali ini, ia akan ke kontrakan Dewi dan meminta penjelasan. Kalau perlu, ia akan menyeret Dewi agar berkata yang sebenanrya pada Alana.