Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Sebuah foto



“Mimi yang tadi siapa?” tanya Aurel ketika mereka berjalan menuju ruang tunggu maskapai yang digunakan untuk perjalanan.


“Itu suami Mimi,” jawab Alana.


“Oh, seperti Uncle Damian dan Aunty Jasmine, Uncle Gusti dan Aunty Irene?”


Alana tertawa karena Aurel menyebut semua pasangan dari keluarga ayahnya yang hadir di pesta ulang tahunnya kemarin.


Alana mengangguk. “Ya, seperti Daddy dan Mommy. Terus ada Aurel.”


“Seperti Aunty Irene dan Uncle Gusti, terus ada Bastian dan Bianca?” tanya Aurel dengan menyebut keluarga dari adik sang ayah. “Berarti kalau Mimi punya anak akan menjadi saudaraku seperti Bastian dan Bianca?”


Alana kembali mengangguk. “Benar. Aurel pintar.”


Alana gemas dan mencubit ujung hidung gadis kecil yang tengah ia gandeng dan berjalan beriringan. Aurel pun tertawa lucu. Sedangkan Alex hanya melirik ke arah Alana dan Aurel sambil tersenyum dan mendorong troli.


Tring


Ponsel utama Alana berdering. Tangan kanannya merogoh ponsel yang sengaja ia simpan di kantong celana panjang bahan berwarna coklat yang ia kenakan.


Alana melihat si Mr. Cuek mengirim pesan. Sejak meninggalkan Reno, pikiran Alana masih pada pria itu. Ia merasa bersalah karena telah meninggalkan Reno dan pulang bersama Alex. Tapi, semalam ia sudah berjanji pada Aurel untuk menemaninya hingga sampai di rumah.


Sejak awal, Alana memang sudah kepincut oleh wajah imut dan menggemaskan itu. Ia tidak bisa menolak keinginan Aurel. Gadis kecil itu seolah mood boaster untuknya. Alana sama sekali tidak melihat sosok Alex, ayah Aurel yang merupakan CEO. Jika Aurel anak yatim piatu, mungkin Alana akan langsung mengadopsinya.


Alana membuka pesan yang Reno kirim saat mereka sudah sampai di ruang tunggu dan duduk di sana.


“Al, tidak adakah kesempatan untuk aku memperbaiki semua?”


Untuk kali pertama sejak malam itu, Alana pun membalas pesan Reno.


“Baiklah, aku tunggu di rumah.”


Alana tersenyum saat menekan tombol kirim. Ia menghargai usaha Reno yang sudah terbang ke Bali untuk menjemputnya. Ia juga menghargai usaha Reno yang masih mengirimkan pesan dan ingin berubah.


Reno yang masih berada di bandara dan hanya duduk termenung di area luar, tiba-tiba tersenyum saat mendapat pesan balasan dari Alana.


“Tunggu aku.”


Reno langsung membeli tiket di dalam. Ia mencari penerbangan yang langsung terbang dalam jarak yang dekat dengan jadwal Alana, berapa pun harganya dan apa pun maskapainya.


Reno pun mendapatkan tiket pulang dua jam setelah Alana take off.


****


Sesampainya di bandara, Alex mengantarnya lebih dulu ke rumah itu, kemudian ia dan sang putri juga pengasuhnya baru pulang menuju kediamannya sendiri.


Alana pamit pada Aurel, Alex, dan pengasuh Aurel saat mobil itu tepat berada di depan gerbang rumah Reno.


“Saya senang, kamu akhirnya memilih keputusan yang tepat,” ucap Alex melihat Alana kembali ke rumah, walau sebenarnya hingga saat ini ia tidak tahu apa penyebab masalah antara Alana dan suaminya, karena Alana memang tidak pernah menceritakan masalah itu padanya.


Alana mengangguk. “Thank you, Sir. Sekali lagi, terima kasih.”


Alex ikut mengangguk dan tersenyum. “Saya juga berterima kasih, karena kamu sudah membuat anak saya senang. Lihat, dia sampai ketiduran.”


Alex tertawa sembari mengarahkan matanya pada Aurel yang tertidur di pangkuan pengasuhnya.


“Ya. Kalau begitu saya pulang.”


“Oke.” Alana kembali mengangguk dan masih berdiri di depan gerbang rumah Reno hingga mobil itu pergi.


Perlahan Alana memasuki rumah. Ia masih membawa kunci rumah ini kemana pun.


“Ya ampun.” Mata Alana terbelalak ketika melihat isi rumah yang sangat berantakan.


Lalu, Alana kembali memoto isi rumah itu dan mengirimkannya pada Reno dengan tulisan.


"Rapi sekali rumahnya ya.”


Sejak tiba di Soekarno Hatta dan mengaktifkan ponsel utama, benda itu menampilkan banyak pesan yang dikirim Reno. Hampir setiap setengah jam, pria itu mengirimkan pesan lengkap dengan foto keberadaannya yang sedang berangkat menyusul Alana ke rumah. Reno tampak senang. Hal itu terlihat dari beberapa emot yang ia kirimkan saat mengirimkan pesan. Emot hati, senyum atau pelukan kerap menghiasi akhir dari tulisan yang ia kirim.


Namun saat ini ponsel Reno tidak aktif. Pesan Alana tadi masih centang satu, karena saat ini Reno memang sedang dalam pesawat, atau satu jam lagi akan landing.


Alana meninggalkan kopernya. Lalu, membuka cardigan yang ia gunakan untuk menutupi tubuhnya yang menggunakan singlet tanpa lengan. Ia memungut pakaian kotor Reno yang berserakan. Satu persatu, Alana mulai merapikan rumah yang berantakan itu, hingga satu jam berlalu rumah itu pun terlihat jauh lebih enak dipandang dari sebelumnya.


Tring


Ponsel Alana berdering.


“Ya, itu karena pemiliknya bodoh telah membiarkan penghuni rumah itu pergi. Jadi berantakan.”


Reno menjawab pesan Alana satu jam yang lalu, saat wanita itu baru membuka pintu rumah ini.


Reno mengibaratkan rumah itu dengan hatinya, karena penghuni hatinya hanya Alana.


“Gombal. Ngga mempan,” jawab Alana setelah membaca pesan itu.


Reno pun membalasnya dengan emot tertawa dan cium.


Kemudian, Alana membuka lemari es. Isi di dalam benda itu masih sama seperti sebelum Alana tinggalkan. Banyak buah dan sayuran yang busuk karena Reno tak menyentuhnya. Alana pun membersihkan isi lemari es itu dan membuang semua yang tak layak makan. Ia hanya menggelengkan kepala karena Reno memang benar-benar pria cuek.


Reno sudah berada di perjalanan menuju rumah. Hatinya senang bukan kepalang karena hubungannya dengan Alana membaik. Sungguh, mulai saat ini ia tidak akan menyia-nyiakan lagi wanita itu, wanita yang telah memporakporandakan hatinya saat menghilang.


Di rumah Reno, Alana pun menanti kedatangan sang suami. Ia memutuskan untuk menutup rasa sakit hati itu dan memberi kesempatan kedua untuk Reno memperbaiki semuanya.


Tring


Ponsel Alana kembali berdering. Dengan tersenyum ia berjalan menuju benda pintar yang tergeletak di atas meja makan. Alana mengambil benda itu dan hendak membaca pesan yang pasti datangnya dari Reno.


Namun, ternyata pesan itu bukan datang dari Reno.


“Hah!” Alana terkejut saat membuka pesan itu dan langsung menutup mulutnya.


Alana kembali menangis. Lalu, ia segera mengambil cardigan dan memakainya. Ia juga menarik koper yang sejak sampai rumah jni masih tergeletak di ruang tamu. Kemudian ia keluar dari rumah itu.


Alana mendapat pesan dari Dewi. Pesan itu mengirimkan sebuah foto yang membuat dada Alana naikturun.


Di sana, Dewi memperlihatkan foto dirinya yang hanya ditutup oleh selimut tebal berwarna putih. Selimut tebal yang menutupi bagian dadanya yang terbuka. Lalu disampingnya terlihat Reno sedang tidur tengkurap dengan hanya memakai boxer dan dada bidang yang terbuka. Foto itu seperti menjelaskan keadaan pasangan yang selesai bercinta.


Di dalam taksi, Alana terus menangis. Kini, Alana sudah berada di luar perumahan itu. sedangkan taksi Reno baru saja masuk.