Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Menunggu Reno



Tepat satu bulan, Alana bekerja di perusahaan Alex. Alana duduk sendiri di atap rooftop kantor. Ini memang bukan waktu jam makan siang, oleh karena itu rooftop tampak lebih lengang. Alana baru sempat memakan bekal yang ia bawa. Kebetulan, siang ini si bos sedang keluar dengan asistennya. Sebelum itu, Alana berkutat untuk menyiapkan presentasi yang akan Alex bawakan menuju tempat klien bersama asistennya itu. Setelah itu, ia baru bisa mengisi perutnya. Ia sengaja menaiki lantai paling atas gedung ini sembari menikmati udara dan indahnya kota dari atas.


Alana duduk dengan tenang di tempat itu. Ia mulai membuka bekal yang dibawa, setelah memasukkan meletakkan kembali ponselnya yang baru saja berdering dan berbincang sebentar oleh sang suami.


Arah mata Alana tertuju pada seorang gadis kecil yang menutup mulutnya karena tidak mau disuapi oleh seorang wanita yang menggunakan seragam babysitter.


“Tidak mau,” bentak gadis kecil itu yang terdengar jelas oleh Alana.


Alana tersenyum. Ia ingat betul gadis kecil itu.


Lalu, gadis kecil itu memutar bola matanya malas. Ia sedang tak berselera makan. Namun, sang pengasuh tetap memaksanya, membuat ia semakin tak ingin makan. Padahal si pengasuh khawatir jika harus terkena omelan si ayah gadis kecil ini jika anak yang diasuhnya tidak makan.


“Ayo, Non! Nanti Daddy marah. Ayo!“


"Bialin. Nanti Bibi yang dimalahin.”


“Jangan dong, Non. Nanti gaji Bibi dipotong sama Daddy.”


“Bialin,” sahut gadis kecil yang masih susah menyebut hurup ‘r’.


Diseberang sana, Alana menyuapkan makanan sembari tetap menatap ke arah gadis kecil yang sombong itu.


Tiba-tiba, gadis kecil itu pun menoleh ke arah Alana dan Alana langsung tersenyum. Ia sengaja memperlihatkan makanannya dan menyuapkannya ke mulut, seolah-olah mengajak si gadis kecil itu untuk makan bersama.


Lalu, Alana pun melambaikan tangannya ke arah ana dengan tersenyum. Aurel, gadis kecil yang merupakan putri satu-satunya Alexander, pemilik perusahaan tempat Alana bekerja pun ikut melambaikan tangan dan tersenyum.


Kemudian, Alana berdiri. Ia menghampiri Aurel. “Hai, kita bertemu lagi.”


“Hai.” Dengan ceria, Aurel tersenyum.


“Ada yang ga mau makan, ya?” tanya Alana. “Boleh Tante ikut duduk di sini? Kita makan bersama.”


Aurel mengangguk. “Boleh.”


Alana pun memakan makanan buatannya. Dan, Aurel hanya melihat Alana dengan leher yang naik turun.


“Kamu mau makanan buatan Tante?” tanya Alana.


Aurel mengangguk. “Mau.”


Alana tertawa. “Baiklah, kita bagi dua makanannya ya.”


Alana menuangkan sebagian makanan yang ia bawa ke wadah yang diberikan pengasuh Aurel. Lalu, Alana menyuapi Aurel hingga makanan yang Alana bawa pun habis. Padahal, Alana sendiri baru menyuapkan tiga sendok makanannya ke mulut, tetapi melihat Aurel yang lahap membuat Alana tak tega memakan makanannya.


Pengasuh Aurel pun ikut tersenyum. Akhirnya, anak majikannya mau makan juga. Dan, lagi-lagi Alex melihat kedekatan sang anak putri dengan sekretarisnya.


Kegiatan Alana dan Aurel di rooftop tanpa disadari cukup lama. Alana sangat teribur oleh ucapan lucu Aurel yang spontan keluar begitu saja. Aurel pun ikut tertawa saat Alana menanggapi segala ceritanya.


“Hihihi … iya Tante, teman Aulel itu memang lucu. Hihihi …” Aurel tertawa sembari menutup mulutnya.


Hal itu membuat Alana ikut tertawa. Bukan arena cerita Aurel yang sedang menceritakan teman sekolahnya yang lucu, tetapi cara penyampaian Aurel yang membuat Alana tertawa lebar. Ia tak sadar bahwa kegiatannya disaksikan oleh ayah dari gadis kecil itu. Ayah sekaligus bosnya yang kesana kemari mencari sekretarisnya yang ternyata berada di atas tertawa, lalu melupakan pekerjaan.


Alana tertawa sembari mengarahkan pandangan ke kaca luar rooftop. Di sana ia melihat Alex sedang berdiri. “Ya ampun.”


Ia melihat jam dipergelangan tangan kirinya. Tak terasa, ia sudah menghabiskan waktunya di tempat ini hampir dua jam.


Alex perlahan berjalan mendekati Alana dan Aurel. Namun, Aurel belum menyadari bahwa sang ayah mendekat karena posisinya yang membelakangi.


Alana langsung berdiri. “Maaf, Sir. Maaf saya terlalu lama berada di sini.”


Alex tak menjawab. Ia tetap berjalan santai tanpa ekspresi. Lalu, Aurel langsung menoleh ke belakang.


“Daddy …”


Ekspresi wajah Alex, tiba-tiba berubah. Wajah itu tersenyum lebar hingga terlihat jejeran giginya yang rapi. “Hai, Sayang.”


Aurel berlari ke arah sang ayah dan Alex dengan sigap menggendong putri kecilnya.


Alana mematung di tempatnya sembari menatap keakraban ayah dan anak itu. Sesekali Alex pun melirik ke arah Alana sambil tesenyum dan diikuti Aurel. Entah apa yang dibicarakan gadis kecil itu pada ayahnya.


****


Alana mondar mandir. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, tapi Reno belum juga pulang. Biasanya, Reno akan memberi kabar jika dia terlambat pulang. Reno juga akan memberi alasan atas keterlambatannya. Namun, hingga saat ini Alana tak menerima kabar apa pun.


Dret … Dret … Dret …


Ponsel Alana berbunyi. Ia langsung meraih benda itu karena mengira datang dari sang suami. Alana khawatir jika terjadi apa-apa pada suaminya saat dijalan. Begitulah kecemasan sang istri bila suami belum pulang tanpa kabar.


“MBak Al,” suara Tuti.


“Eh, iya Bi Tuti,” jawab Alana yang ia kira suaminya karena saat mengangkat telepon Alana tak melihat lagi nama yang tertera di sana.


“MBak Al, Nenek, Mbak.”


“Kenapa nenek, Bi?” tanya Alana panik yang mendengar kepanikan Bi Tuti.


“Nenek panas tinggi, Mbak. Bagaimana ini?”


“Kenapa baru bilang sekrang Bi? Kok dari siang tidak kasih kabar aku kalau nenek deman?” tanya Alana.


“Ngga boleh sama nenek, Mbak. Katanya jangan ngerepotin Mbak Al terus.”


Alana langsung mematikan ponselnya. Ia langsung menelepon reno yang tak kunjung dijawab. Alana menyesali ketidaksiapannya membawa mobil opersional kantor yang disiapkan Alex untuknya. Padahal Alana sudah bisa menyetir, hanya saja ia masih belum berani untuk membawa mobil yang diberi Alex. Jika saja, mobil itu ada saat ini ia tak perlu menunggu Reno.


Alana langsung memesan taksi. Di dalam taksi ia terus mendial nomor suaminya. “Haduh, Mas. Kamu di mana sih?” gumamnya.


Sesampainya di rumah nenek. Alana langsung mengambil alih Bi Tuti. Ia berusaha untuk menurunkan panas Aminah yang cukup tinggi.


Satu jam, dua jam, demam Aminah tak kunjung turun. Alana yang sempat tertidur pun kembali terjaga dan menempelkan punggung tangannya ke dahi wanita tua itu.


“Mbak, kita ke rumah sakit aja yuk!” ucap Tuti.


“Saya nunggu Mas Reno, Bi.”


“Minta tolong Ibu Asih sama Pak Bagas aja, Mbak,” saran Tuti.


Alana menggeleng. “Aku sudah sering merepotkan mereka, Bi. Sebentar!”


Alana bangkit dan mengambil ponselnya. Ia kembali menekan nomor Rena. Namun, panggilan itu menjadi tidak ada nada sambung, hanya ada suara operator yang menyatakan bahwa panggilan tidak berada dalam jangkauan. Ponsel Reno tidak aktif.


Alana berjalan momdar mandir. Ia masih bingung untuk mengambil keputusan, karena biasanya Reno yang selalu ada ketika dalam keadaan genting seperti ini.


“Mbak Al, ayo kita ke rumah sakit! Nanti nenek langsug dibawa ke UGD,” ucap Tuti.


“Tunggu Mas Reno, Bi.”


“Sampai kapan? Mas Reno aja ga jawab-jawab telepon Mbak Al.”


Alana terdiam. Akhirnya, ia memilih memesan taksi lagi. Alana dan Tuti langsung membawa Aminah ke rumah sakit.


Di kantor, Reno masih berkutat dengan aktifitasnya. Ia lupa membawa ponsel saat berada di ruangan Pak Richard. Dan ketika ia sudah selesai dengan aktifitasnya, ternyata ponsel itu sudah idak ada daya, tepatnya setelah Alana menelepon dari dalam taksi. Reno mecari alat pengisi daya di dalam tasnya, tapi nihil. Ia lupa membawa alat itu dari rumah saat berangkat.


Saat di depan lobby, ternyata Dewi masih berdiri menunggu antara memesan taksi atau menaiki angkutan umum.


Reno pun menawarkan tumpangan. Ia tak tega melihat Dewi pulang malam sendirian. Terlebih Dewi itu wanita. Dengan senang hati, Dewi menerima tawaran itu. Kebetulan sejak kemarin tubuhnya sedang tak baik-baik saja. sebenarrnya, Dewi ingin tidak masuk kerja hari ini tetapi ia tak tega dengan Reno karena hari ini banyak bahan yang harus Reno presentasikan.


“Makasih, Ren. Aku ga tahu nasibku kalau ga ada kamu,” ujar Dewi menatap Reno memuja.


Pria yang sedang dinanti sang istri, justru sedang berada di kontrakan Dewi. Ia menolong asistennya yang pingsan saat keluar dari mobil ketika Reno mengantarkan tepat di depan rumah itu. Reno dan para tetangga yang melihat Dewi tergeletak di jalan pun langsung menolong.


Reno langsung menelepon dokter dan menunggu Dewi hingga siuman.