
“Yes, Sir. Sorry. Hanya hari ini,” kata Alana di telepon.
Alana memberi kabar pada Alex untuk izin tidak ke kantor hari ini. Ia ingin mendatangi rumah sakit tempat Dewi diberi perawatan. Ia ingin melihat keadaan Dewi.
“Oke, Sir. Thank you,” kata Alana lagi dengan memegang ponsel dan menempelkannya di telinga sembari berdiri di depan jendela kamar.
Reno baru saja selesai membersihkan diri, sedangkan Alana sudah lebih dulu.
“Sudah izin ke Alex?” tanya Reno.
Alana mengangguk. “Sudah. Tapi besok harus masuk.”
“Oh.” Reno membulatkan bibir. Ia ingin sekali meminta Alana untuk tidak lagi bertemu dengan Alex dan putrinya. Namun, ia juga tidak ingin egois dan langsung melarang apa yang Alana sukai.
Alana mendekati suaminya. ia mengambil pakaian yang sudah disiapkan untuk Reno dan membantu memakaikan kemeja itu di tubuh suaminya. “Bagaimana dengan pekerjaan Mas?”
“Sudah berhenti,” jawab Reno santai.
Alana mengernyitkan dahi. “Berhenti?”
Reno mengangguk. “Ya, Mas keluar secara tidak hormat, makanya Mas tidak dapat apa-apa dari perusahaan.”
Reno menatap istrinya. “Kepergianmu mengajarkanku banyak hal, Al.”
Alana mendengarkan sambil kedua tangannya bergerak mengancingkan kemeja itu.
“Mas bertengkar hebat dengan Dewi di kantor. Sampai semua karyawan di sana tahu apa yang terjadi tentang kita. Lalu, Pak Richard memebriku SP 1, sekalian saja Mas mengundurkan diri.”
Alana merapikan kerah kemeja itu di leher Reno. “Terus Jefri dan Aldo, bagaimana?”
“Mereka terus meneleponku, tapi tidak pernah Mas angkat. Bahkan sebelum Mas ke Singapore untuk mencari bukti tentang Dewi, mereka datang dan membujuk Mas supaya tidak keluar dari perusahaan,” jawab Reno.
“Lalu?”
“Mas tetap berhenti, Al. Mas ingin membantu di perusahaan Papi. Lagi pula yang membantu Mas ketika susah pun hanya Papi.”
Alana tersenyum. “Kenapa ga dari dulu aja sih.”
“Iya, Sayang. Maaf.” Reno memeuk dan mencium bibir Alana sekilas. “Maaf, Mas tidak mendengarkanmu. Jika saja Mas mendengarkan perkataan istri Mas yang solehah ini, pasti kisah rumit kemarin tidak terjadi.”
Alana mengangguk setuju.
“Lalu, bagaimana dengan pekerjaanmu? Apa kamu masih akan tetap bekerja setelah ini?” tanya Reno hati-hati.
Alana terdiam dan menunduk. Wajahnya terlihat lesu. “Maaf, Mas aku sudah menandatangani kontrak selama dua tahun dan jika berhenti kurang dari masa kontrak itu, maka aku kena penalti.”
“Berapa penaltinya?” tanya Reno lagi.
“Satu milyar.” Reno terkejut dan melepas pelukan itu.
“Hah, itu gila!” marah Reno. “Pasti itu akal-akalan Alex untuk menahanmu.”
“Mas,” panggil Alana lirih. Ia tak ingin bertengkar lagi.
Kini, mereka tak lagi berdiri dengan jarak yang dekat.
“Maaf, Sayang. Tapi penalti sebegitu besar, tidak masuk akal. Kalau hanya tiga ratus juta atau lima ratus juta, itu masih oke. Ini 1M?”
“Ya, waktu itu alasan HRD, katanya karena mencari sekeretaris yang diinginkan CEO itu sulit. Jadi dibuat kontrak seperti itu. lagi pula aku menyukai Aurel, Mas.” Alana tersenyum membayangkan wajah Aurel yang lucu. “Aku berhutang banyak pada anak itu.”
Arah mata Reno masih memandang Alana intens. Wajah Alana langsung berseri saat menceritakan tentang putri Alex.
Reno kembali mendekat pada Alana. Tangannya terangkat untuk merapikan rambut depan Alana yang sedikit menutupi wajahnya. “Kita bisa membuat yang lebih lucu dari Aurel.”
“Aamiin.” Alana tersenyum dan menatap suaminya. “Kamu tidak marah kan?”
“Mau bagaimana lagi. Sekarang, Mas mencoba untuk tidak egois. Mas percaya kamu bisa menjaga hatimu untuk Mas.”
Alana mengembangkan senyum dan mengangguk. Reno pun ikut tersenyum. Kini, ia akan memulai hubungan ini dengan saling percaya. Lalu, Reno mengecup kening itu dan hendak mencium bibir Alana yang sudah menggodanya sejak tadi.
“Ups.” Alana menahan bibir Reno yang sudah berada di depan bibirnya. “Kalau begini terus, kapan kita berangkat ke rumah sakit?”
“Huh, pelit. Cuma satu kali aja!” pinta Reno dengan mengangkat jari telunjuknya ke atas.
“Bohong. Yang ada nanti bibirku dibuat bengkak. Ini aja, masih bengkak.”
Reno tertawa dan gemas akan kelakuan sang istri. Alana pun mengalihkannya dengan melepaskan pelukan dan menarik tangan Reno untuk keluar.
Reno mengendarai mobilnya bersama Alana menuju rumah sakit yang diinfokan televisi tadi.
Sesampainya di rumah sakit, Reno bertemu dengan Jefri, dan Pak Richard. Sedangkan Aldo, ada di dalam ruang perawatan Dewi bersama dua kakak Dewi.
“Ren,” panggil Jefri.
“Bagaimana keadaan Dewi?” tanya Reno.
Jefri melihat ke arah Alana.
“Alana dan aku sudah kembali, Jef. Urusanku dengan Dewi juga sudah selesai,” ucap Reno pada Jefri dengan tidak menceritakan detail bagaimana urusan itu bisa selesai.
“Pelakunya sudah tertangkap, Kak?” tanya Alana pada Jefri.
“Sudah. Begitu Dewi ditemukan salah seorang pedagang di sana, ia langsung melapor polisi. Tidak butuh waktu lama, malam itu juga polisi langsung meringkus pelaku, karena mereka bukan orang jauh. Mereka preman yang sering meresahkan di daerah itu. barang-barang bukti juga masih berada di tangan mereka. Motif mereka sebenarnya pencurian, tapi karena sedang mabuk jadi mereka juga melakukan kekerasan *****al pada Dewi,” kata Jefri menjelaskan secara gamblang seperti apa yang dikatakan polisi padanya saat datang.
Reno dan Alana mendengarkan perkataan Jefri dengan serius.
“Mereka mengambil ponsel, uang, dan ATM Dewi. Kejam sekali,” kata Jefri lagi. Arah matanya tertuju pada Richard yang masih berbincang dengan dua polisi yang berdiri cukup jauh dari Jefri, Reno, dan Alana.
Jefri kembali bicara, “Gue dan Ado tahu, Dewi memang ingin pergi jauh. Dia juga sudah mengajukan surat resign. Mungkin dia ingin menjauh dari lu, Ren.”
Reno mengangguk. Saat itu, Dewi memang ingin kabur darinya. Hal itu membuat Reno lega karena Dewi memang pergi atas dasar kemauannya sendiri dan bukan karena diculik atau disekap.
Untungnya, kejadian di apartemen, tidak meninggalkan jejak sama sekali. Reno memang sengaja memilih apartemen itu karena belum ramai ditempati. Apartemen itu pun belum dilengkapi oleh cctv yang terpasang di seluruh sudut gedung, hanya ada cctv di beberapa titik saja dan kebetulan titik yang Reno lalui tidak terpasang alat itu.
Aldo keluar dari ruang perawatan Dewi dan bertemu Reno. Ia melihat Reno menggenggam tangan Alana. Itu berarti urusannya dengan Dewi sudah selesai.
“Urusan kalian sudah selesai?” tanya Aldo pada Reno dan sedikit melirik Alana.
Reno mengangguk. “Ya, walau aku kesal dengan perilaku Dewi yang sempat membuat rumah tanggaku dan Alana hancur. Tapi Alana tetap ingin ke sini dan melihat keadaannya.”
“Al, saya atas nama Dewi meminta maaf dengan segala perilaku buruknya padamu,” ucap Aldo.
“Tidak, Kak. Tidak perlu. Aku sudah memaafkannya. Sungguh. Karena apa yang terjadi kemarin itu tdak seratus persen salah Mbak Dewi. Ada andil aku dan Mas Reno yang membuat masalah kami semakin keruh.”
Aldo tersenyum. “Reno beruntung memilikimu, Al.”
“Ya, aku memang beruntung,” sahut Reno sembari menggenggam erat tangan itu dan tersenyum menatap Alana.
Jefri ikut tersenyum. ia yang sebentar lagi akan menikah pun terharu. Hal ini cukup menjadikannya pelajaran agar ketika ia menikah dengan kekasihnya nanti, ia bisa lebih antisipasi.
Reno sama sekali tidak dicurigai, karena ia memang tidak melakukan apa pun pada Dewi. Ia hanya mengancam Dewi dan melepaskan wanita itu dalam keadaan baik. Apalagi, kelima pelaku itu sudah dibekukan dan masuk bui. Bukti-bukti yang mengarah pada pencurian pun ada. Sehingga kelima pria itu dijatuhkan hukuman berat dengan pasal pencurian dan pemerk*s**n.