Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Akan ada banyak orang yang terluka



Reno pulang ke rumahnya dengan keadaan galau. Namun, ia sedikit tenang saat berhenti di sebuah masjid dan bersimpuh di sana. Ia melaksanakan sholat isya dan maghrib yang terlewat karena kekautan akibat ulah Dewi.


Kini, Reno memasrahan urusannya pada sang pencipta, karena Dia lah yang mengatur kehidupan, pemilik hati dan mampu membolak-balikan hati manusia. Reno berharap hati Alana melembut dan mau memaafkannya.


Reno masuk ke rumah dengan langkah gontai hingga larut malam. Ia tak ingat untuk mengurus dirinya sendiri. Waktu makan pun banyak yang Reno tinggalkan. Rasanya ia tidak ingin makan. Tubuhnya sudah lemah. Bukan hanya lemah fisik tapi juga pikiran.


Langkah Reno terhenti di ruang tamu. Tepat setelah ia menyalakan semua lampu. Ia memandang foto pernikahan yang terpajang besar di dinding. Di sana Alana tampak sangat cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna peach. Reno pun tampak gagah dan tampan dengan jas berwarna yang sama. Ekspresi mereka pun terlihat tampak bahagia.


Reno masih berharap Alana tetap menjadi istrinya. ia akan berjuang sampai titik darah penghabisan. Strateginya, dimulai dari Dewi. Wanita itu harus mau mempertanggungjawabkan perbuatannya. Bagaimana pun caranya.


Di rumah Aminah. Alana pun belum bisa memejamkan mata.


Tok … Tok … Tok …


“Al, kamu sudah tidu?” tanya Aminah dari luar kamar Alana.


Alana tersentak mendengar suara sang nenek. Ia pun terbangun. “Belum, Nek.”


“Boleh nenek masuk?” tanya Aminah lagi.


“Iya, Nek.” Alana menghampiri pintu dan membuka kunci kamar itu.


Sejak bertengkar dengan Reno dan membanting pintu. Ia belum membuka lagi pintu itu dan belum keluar kamar. Bahkan Alana melewatkan makan malamnya.


Lalu, Aminah masuk ke dalam kamar diikuti oleh Alana yang kembali merebahkan diri. “Nenek mau tidur dengan Alana?”


“Ya, Nenek ingin tidur denganmu. Boleh kan?”


“Tentu saja.” Alana mengangguk.


Aminah pun merebahkan dirinya persis di samping sang cucu. Ia membelai rambut panjang Alana, seperti saat kecil dulu. Namun, setelah Alana menikah, wanita tua itu hampir tak pernah melakukannya lagi.


“Apa Asih dan Bagas tahu tentang ini?” tanya Aminah tentang kedua orang tua Reno.


Alana menggeleng. “Alana tidak tahu. Alana belum bertemu mereka sejak kami bertengkar.”


“Apa masalah kalian sudah berlangsung lama?”


Alana mengangguk. “Ya, dari sebelum Alana bekerja. Terparahnya saat Alana pergi ke Bali. Sebenarnya, Alana saat itu Alana memang sudah pergi dari rumah, Nek.”


Alana menceritakan kejadian saat dirinya yang memilih untuk pergi dengan dalih saling intropeksi diri.


“Apa sikap Alana salah, Nek?”


Aminah menghelakan nafasnya kasar. “Ya, di saat emosi mungkin wajar. Tapi coba kamu ingat lagi bagaimana Reno mencintaimu. Bagaimana dia memujamu, menginginkanmu. Nenek rasa, ini bukan maunya Reno. Dia hanya terjebak oleh keadaan.”


Alana mendengarkan semua perkataan sang nenek. Ya, memang jika kembali ke zaman itu, zaman dimana Reno menyukainya, menunggunya, hingga berani menyatakan cinta dan meminangnya. Proses itu cukup panjang. Reno bersedia menunggu Alana yang kala itu masih kecil, lalu remaja dan baru beranjak dewasa.


“Reno itu tampan, pintar, dan baik. Pasti banyak wanita yang menginginkannya. Beruntung, dia memilihmu dan menjadikanmu yang pertama juga wanita terakhir dalam hidupnya. Apa lagi yang diragukan?”


Alana terdiam. Lalu, menjawab “Ya, itu benar. Alana tidak memungkiri itu, Nek. tapi yang membuat Alana sakit hati adalah saat dia memuji wanita itu di depan kedua temannya. Dan saat dia membiarkan Alana pergi, seolah Alana tidak berarti untuknya. Juga banyak kata-kata lain yang membuat Al sakit hati. Dia selalu ingin menang sendiri, Nek. Alana selalu disalahkan dan dibilang kekanak-kanakan. Kalau Al kekanak-kanakan, Al sudah minta cerai dari dulu. tidak perlu repot-repot mempertahankan dan membuat hati tambah terluka.”


Kemudian, Alana mengeratkan pelukan pada sang nenek. “Maafkan Alana, Nek.”


Aminah mengelus kepala sang cucu. “Pikirkan lagi keputusanmu, Al. ingat kebaikan Asih dan Bagas pada kita. Ingat juga kebaikan suamimu.”


Alana kembali diam. Memang, jika ia dan Reno berpisah pasti akan banyak orang yang terluka seperti Asih dan Bagas, atau mungkin Aminah juga.


****


Pagi harinya, Reno bangun tepat pukul delapan. Ia masih dalam keadaan cuti. Sebelumnya, ia minta cuti dadakan selama satu minggu untuk ke Bali, tapi nyatanya di sana, ia malah tidak lebih dari sehari.


Di kantor tempat Reno bekerja, Dewi sudah memberikan surat pengunduran diri dua hari lalu, tepatnya saat Reno mengajukan cuti. Pengunduran diri Dewi ditolak karena posisi itu semakin tak terisi mengingat Reno sering mangkir akhir-akhir ini. Namun, Dewi tidak peduli. Rencananya ia tetap akan meninggalkan perusahaan itu sepihak. Toh tidak ada ikatan kontrak atau denda jika ia melakukan itu. Hanya mungkin hak dan keuntungan lainnya tidak bisa ia ambil ketika selesai, mengingat ia sudah menjadi karyawan tetap sejak lama.


Hari ini Dewi ke kantor untuk mendelegasikan tugas-tugasnya pada Aldo. Ia memanfaatkan kesukaan Aldo padanya dengan meminta bantuan pada pria itu.


Dewi pikir hari ini Reno masih cuti dan tidak akan datang ke kantor. Tapi, wanita itu salah. Reno datang untuk meminta pertanggungjawaban Dewi.


Sesampainya di kantor, Reno melangkan kakinya cepat menuju ruangan Dewi.


Brak


Dewi dan Aldo terkejut saat melihat suara pintu terbuka paksa. Lalu, Reno langsung menggebrak meja kerja Dewi.


“Kamu harus bertanggung jawab atas kekacauan ini.”


Dewi diam dan tetap berbincang dengan Aldo seolah ia tak melihat keberadaan Reno.


“Hei, wanita gila. Aku bicara denganmu,” teriak Reno.


“Reno, lu tuh kenapa sih?” tanya Aldo sengit. “Dateng -dateng marah-marah ga jelas.”


“Gue ralat omongan gue tentang Dewi waktu itu. dia itu wanita gila, psyco. Dia menghalalkan segala macam cara untuk misahin gue dan Alana,” jawab Reno dengan bahasa kasar, padahal sebelumnya Reno tidak pernah menggunakan bahasa lu-gue.


Aldo melirik ke arah Dewi. Namun, wanita itu menunduk.


“Lu mau liat apa yang dia kirim ke Alana?” tanya Reno yang langsung membuka ponselnya dan mengirim foto yang diberikan Alana pada Aldo.


“Itu semua karena kamu. Karena kamu membuatku mencintaimu dan kamu tidak bertanggung jawab atas itu.” Dewi bersuara dan membentak Reno.


Reno tersenyum sinis. “Terus gue harus apa? Gue harus pura-pura cinta sama lu, gitu?”


Reno memajukan tubuhnya tepat di depan Dewi yang sedang duduk di kursi kerjanya. “Sekarang gue ga mau tahu. Lu harus ketemu Alana dan katakan bahwa foto itu adalah rekayasa.”


“Ngga.” Dewi menjawab dengan tegas.


“Jangan sampai kesabaran gue habis, Wi!” ucap Reno kesal.


Aldo hanya memandang ke kedua orang yang sedang bertikai itu. Ia melihat kedua mata Reno yang memerah dan memandang Dewi seolah ingin menelannya hidup-hidup.