
Bagas, Asih, dan Aminah berkumpul di ruang perawatan Reno. Alana pun ada di sana, duduk di samping sang suami.
“Papi sudah melihat track record dokter yang direkomendasi bosmu, Al. dia memang dokter syaraf terbaik. Tidak masalah jika Reno dibawa ke sana.”
Asih dan Aminah mengangguk.
“Tapi Pi, biaya di sana pasti mahal. Belum lagi biaya hidupnya. Reno tidak ingin merepotkan Papi. Biar saja Reno menjalani treatment di sini.”
Bagas menggeleng. “Dasar keras kepala! Siapa tahu dengan treatment di sana, kamu lebih cepat sembuh.”
“Iya, Reno. Lagi pula ada Alana yang akan menemanimu di sana. bukan begitu, Al?”
Alana mengangguk menatap wajah Asih. Ia siap ikut kemana pun suaminya berada. “Mas, benar kata Papi. Kita ke sana supaya kamu cepat sembuh.”
Tangan Reno menggenggam tangan Alana yang berada di dadanya. Ia pun mengecup tangan itu. “Perjalanan ke sana tuh jauh, Al. Aku takut kamu kelelahan dan malah sakit.”
“Ngga, Mas.” Alana menangkup wajah suaminya. “Hei, Aku sehat dan akan tetap sehat untuk merawatmu.”
Beberapa kali terakhir ini, Reno sering melihat wajah Alana yang pucat. Wanita itu pun terkadang muntah di pagi hari. Namun, Alana berdalih bahwa itu hal biasa yang sering ia alami ketika asam lambung mulai naik. Dan, memang hal itu bukan kali pertama Reno melihat Alana muntah di pagi hari. Benar, terkadang saat asam lambung Alana kumat, ia sering mengalami itu seolah sedang morning sickness.
“Ya. Mas?” tanya Alana lagi dengan meyakinkan suaminya. “Kita akan melakukan treathment di sana.”
Reno menatap wajah istrinya dan bergantian pada wajah orang tua yang ada di sana. Lalu, ia mengangguk.
“Fix,” ucap Bagas. “Nanti Dimas akan mengatur jadwal kalian di sana dan keberangkatan kalian. Tapi sepertinya Papi tidak bisa mengantarkan.”
“Kalau Papi ga bisa antar, Mami juga ga ikut. Nanti pulangnya sama siapa kalau Papi ga ikut?” tanya Asih bingung.
“Ya sudah, Papi serahkan padamu Al. yang penting akomodasi selama di sana sudah Papi siapkan.”
Alana mengangguk.
Pasalnya pekerjaan di perusahaan Bagas cukup padat. Kebetulan saat ini sedang musim semi. Banyak apra pelancong yang ingin berlibur entah itu dari eropa ke asia atau sebaliknya. Belum lagi persiapan untuk kegiatan tahunan bersama departemen agama.
Akhrinya, Reno dan Alana mengambil pengobatan di USA, sesuai rekomendasi yang diberikan Alex. Bahkan Alex membantu Alana dengan memberikan rumah singgah berbentuk apartemen yang Alex mliki di sana. Kebetulan, apartemen itu cukup dekat dari rumah sakit tempat dokter itu bertugas.
“Sayang,” panggil Reno sembari mengelayutkan wajahnya pada bahu Alana.
Reno duduk di atas ranjang pasien, sedangkan Alana duduk di sampingnya dengan membelakngi Reno sembari mengupas apel di meja kecil yang tersedia persis di samping ranjang pasien ini.
“Hm …” jawab Alana.
“Alex baik banget. Dia memberikan apartemennya untuk kita tempati tanpa di sewa.”
Alana membalikkan tubuhnya ke arah Reno. “Dia sudah menganggapku seperti adiknya, Mas. Mungkin karena putrinya menyukaiku.”
Reno terdiam. Jujur dari lubuk hatinya pasti ada kecemburuan.
“Mas cemburu?” tanya Alana.
“Hm …” Reno menampilkan ekspresi yang sulit diartikan. Ia antara ingin menjawab iya dan tidak.
Alana tertawa. “Tampang kamu lucu banget sih.”
“Kok malah ketawa?”
“Lagian kamu lucu. Masa masih aja cemburu? Udah jelas-jelas aku milih kamu dan cinta mati sama kamu.”
“Oh ya?” tanya Reno senang.
“Iya lah, masih nanya lagi?"
Reno memeluk tubuh itu erat, hingga tubuh keduanya bergoyang.
“Ah, Mas rindu banget sama ini.” Reno menyentuh bagian dada dan bawah Alana.
“Kan yang sakit kakinya, tapi ini nya ngga.” Reno menunjuk pada jerry-nya yang sudah lama tidak dihangatkan.
“Emang masih bisa bereaksi?” tanya Alana polos.
Reno pun tertawa. “Bisa dong. Dari kemarin juga bereaksi. Cuma bagaimana? Tempatnya tidak memungkinkan.”
Alana tertawa. “Ih, mesum kamu ga ilang.”
“Biarin. Itu juga salah satu treatment supaya cepet sembuh kan?”
“Modus,” kata Alana sambil memukul lembut pipi Reno.
Reno kembali tertawa dan mengambil tangan itu. lalu mengecupnya. “Jadi ga sabar pengen ke US. Pengen cepat sembuh dan sekalian second honeymoon di sana.”
****
Hari keberangkatan Reno dan Alana ke USA pun tiba. Mereka di antar oleh Bagas, Asih, Aminah, dan Tuti.
“Al, hati-hati di sana. beri kabar jika sudah sampai,” ucap Aminah saat memeluk cucunya.
“Ya, Nek. nenek juga jaga kesehatan. Alana tidak bisa memantau kesehatan nenek, jadi nenek harus bisa memantau kesehatan nenek sendiri.”
Aminah mengagguk. Lalu, arah mata Alana beralih pada Tuti. “Mbak, saya titip nenek sama mbak ya. Jagain nenek baik-baik.”
“Tenang, mbak Al. nenek udah saya anggap sebagai ibu saya sendiri.”
Alana tersenyum dan mengangguk.
“Tenang, Al. Mami juga pasti sering ke rumah Ibu,” sahut Asih.
“Pokoknya kalian tidak usah memikirkan kami. Kalian pikirkan diri kalian sendiri. Di sana kalian harus fokus berobat,” sambung Bagas.
Bagas beralih pada putranya. “Cepat sembuh ya, Nak. Maaf Papi tidak bisa mengantarmu langsung ke sana.”
“Tidak apa, Pi. Maaf juga, karena Reno selalu merepotkan. Dan, Papi jadi harus kembali mengrusu perusahaan,” sahut Reno dengan memegang tangan sang ayah yang berada di pundaknya.
“Itulah orang tua, selalu ada di saat anaknya membutuhkan.”
“Reno juga akan selalu ada, di saat Papi dan Mami membutuhkan.”
Ayah dan anak itu saling tersenyum. mereka pun berpelukan sebelum Alana dan Reno benar-benar pergi meninggalkan para tetua itu.
Asih memeluk menantunya. “Jagain Reno ya, Al!”
Alana mengangguk. “Tentu, Mami.”
“Kalau Reno marah, jangan diambil hati!”
Alana tersenyum dan memandang suaminya. “Sekarang Mas Reno udah ga pernah marah-marah lagi kok, Mam.”
“Ya, karena Reno takut Alana kabur lagi.”
Sontak, semua pun tertawa mendengar jawaban dari Reno, pria yang terkenal cuek tapi saat ini tidak lagi.
Asih, Bagas, Aminah, dan Tuti hanya bisa melambaikan tangan saat mereka tidak bisa lagi mengantar ke dalam bandara.
Alana dan Reno menoleh ke arah orang-orang yang mereka sayangi itu dan membalas lambaian tangan mereka.
“Are you ready, Mas?” tanya Alana berbisik di telinga Reno sambil mendorong kursi roda itu.
“Tentu, asal ada kamu di sisiku. Mas selalu siap kemana pun.”
Alana memberhentikan kursi roda itu dan memeluk Reno. Reno pun menegcup tangan Alana yang melingkar di lehernya. Walau secara fisik, Reno tidak sedang bahagia akibat kecelakaan itu, tapi batin dan hatinya begitu bahagia. Alana pun merasakan yang sama.