Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Merasa diabaikan



Dua malam Alana menginap di hotel. Ponsel utamanya pun tak kunjung diaktifkan. Ia masih ingin sendiri sambil menikmati pekerjaan dan kesendirian. Walau sebenarnya sendiri itu tidak enak, tapi ia harus bisa melewati masa sulit ini. Rencananya setelah suasana hatinya membaik, ia akan memberitahu nenek dan Mami.


“Al, jangan lupa nanti sore kamu temani saya seminar J-Pro di hotel xxx!” kata Alex pada Alana.


Saat ini, Alana tengah berdiri di depan meja Alex usai meminta tanda tangan dari beberapa berkas yang Alana berikan tadi. Alex baru saja menyerahkan berkas yang sudah ditandatanganinya.


“Oke, Sir.” Alana mengangguk dan tersenyum sambil kembali memegang berkas-berkas itu. “Oh ya, apa Pak Bimo juga ikut?”


Alex menggeleng. “Justru karena Bimo tidak bisa, jadi saya mengajakmu.”


“Oh. Oke!” Alana kembali tersenyum dan hendak keluar dari ruangan itu.


“Al.” Alex memanggil kembali Alana.


“Ya.”


“Untuk besok, kamu bisa kan? Saya sudah membelikanmu tiket.”


Alana mengangguk lagi. “Bisa, karena saya juga ingin hadir saat Aurel ulang tahun.”


Bibir Alex langsung tersenyum lebar. Ia sangat senang.


****


Di kantor, Reno berusaha untuk konsentrasi pada pekerjaan, walau sebenarnya ia sulit untuk melakukan hal itu sekarang. Kepala Reno benar-benar dipenuhi oleh Alana, hingga rasanya sulit untuk berpikir yang lain.


“Ren, bagaimana laporan project kemarin?” tanya Pak Ricard yang tiba-tiba datang.


“Hmm …” Reno tidak bisa menjawab karena memang pekerjaan itu belum ia selesaikan.


“Sebentar lagi, kami kirimkan laporannya via email, Pak,” sahut Dewi yang juga datang tiba-tiba.


Raut wajah Reno tak lagi tegang karena Dewi menyelamatkannya.


“Oh, Oke. Saya tunggu sampai nanti malam,” ucap Pak Ricard.


Dewi dan Reno pun mengangguk patuh.


“Oh ya, Ren.” Pak Ricard kembali membalikkan tubuhnya.


“Ya,” jawab Reno.


“Lima belas menit lagi kita berangkat.”


Reno masih diam.


Lalu, Ricard menatap matanya ke arah Reno. “Kamu tidak lupa kan kalau Kita harus menghadiri seminar J-Pro di hotel xxx.”


Reno mengangguk. “Saya ingat, Pak.”


“Bagus.” Pak Ricard tersenyum dan keluar dari ruangan itu.


Seminar J-Pro adalah seminar yang akan menjelaskan tentang project besar dari pemerintah. Mereka sengaja mengundang para pengusaha handal di bidang itu untuk membantunya. Dan, ini adalah kesempatan besar agi bpara pengusaha itu untuk berekspansi, karena jika tender pertama berhasil, tidak menutup kemungkinan negara akan membooking mereka dalam waktu yang cukup lama, sehingga itu bisa menjadi pendapatan tetap bagi perusahaan tersebut.


Reno dan Dewi melihat Ricard keluar dari ruangan.


“Wi, sorry ya aku negerepotin kamu lagi,” ujar Reno.


“It’s oke, Ren. Kita partner, jadi memang seharusnya saling membantu kan? Tenang saja, nanti laporan itu akan aku selesaikan. Kamu dan Pak Ricard ke seminar aja. Sepertinya Pak Ricard juga mengajak Jefri.”


Reno mengangguk. “Kamu jadi lembur lagi.”


Reno ikut tersenyum sambil menutup laptopnya dan mengambil jas yang ia letakkan di punggung kursi kerjanya. “Terima kasih, Wi. Sorry, akhir-akhir ini aku lagi ga fokus.”


“Karena Alana?”


Reno mengangguk dengan wajah lesu. “Sampai sekarang aku ga tahu dimana dia, Wi.”


Dewi diam. Ia bingung dengan sikap Reno.


Sewaktu Dewi tinggalkan, Reno terlihat tidak bisa ditinggalkan hingga pria itu sakit dan masuk rumah sakit. Dan sekarang saat ditinggal Alana, pria itu pun terlihat begitu kehilangan hingga tidak fokus bekerja. Sebenarnya siapa yang paling Reno butuhkan? Dewi atau Alana?


****


Tim Reno datang ke acara itu sebelum acara di mulai. Ia bersama Jefri dan bosnya menyapa para kolega saat tiba di lobby. Reno terlihat berbincang dengan salah satu rekanan mereka yang juga ikut acara ini.


“Ya, ya. Kita bersaing dengan sportif,” ucap Pak Ricard pada rekan-rekan rivalnya.


Reno dan jefri yang berstatus karyawan hanya mengobrol tingan pada orang-orang yang sejawat. Mereka pun berjalan bersama menuju ruang seminar yang sangat luas itu. di depannya terdapat layar proyektor yang sangat lebar.


Reno, Pak Ricard, dan Jefri duduk di tengah. Mereka sudah memposisikan untuk bisa melihat proyektor itu dalam jarak yang tidak dekat dan tidak jauh juga.


Tak lama kemudian, Acara di mulai. Pembawa acara di acara itu mulai berbicara. Di pintu kedatangan, masih ada saja yang datang, termasuk Alex dan Alana.


Alex mengajak Alana untuk mencari tempat duduk yang nyaman. Di sana Alex juga terlihat tersenyum dan bersalaman dengan beberapa koleganya sambil memperkenalkan Alana kepada mereka yang belum mengenal sekretaris Alex.


“Ren, Ren. Itu bukannya Alana?” tanya Jefri yang melihat kehadiran istri Reno.


Reno langsung melihat ke arah itu. Matanya terbelalak saat melihat sosok yang tengah ia cari setengah mati. Ingin rasanya ia menghampiri Alana dan memeluk tubuh itu. Namun, rasanya tidak mungkin karena acara baru saja dimulai. Sangat tidak profesional, jika ia melakukan hal itu. Bisa-bisa, ia dan Alana malah menjadi objek tontonan nantinya.


Namun, kehadiran Alana di sana semakin membuatnya tidak fokus pada isi dari seminar itu.


Alana yang tak melihat kehadiran Reno pun, hanya tertuju pada layar proyektor dan Alex saja. Reno melihat keakraban Alana dan Alex. Sesekali Alana tersenyum pada bosnya itu dan mendekatkan bibirnya pada telinga Alex saat ia bicara. Keduanya tampak sangat dekat dan hal itu membuat jantung Reno tak karuan.


Reno terus menatap ke arah Alana dan Jefri pun menyadari.


“Udah sih, diliatin mulu.” Jefri melihat tatapan Reno yang tidak suka pada pria yang bersama Alana. “Itu bosnya Alana?” tanyanya berbisik.


Reno mengangguk.


“Sepertinya, dia suka sama bini lu,” ujar Jefri mengompori.


Reno pun semakin geram.


“Tapi sepertinya, Alana ga lihat lu deh,” kata Jefri lagi.


Kedua pria itu pun tengah mengarahkan matanya ke arah Alana dan Alex. Sedangkan Alex dan Alana fokus pada pembawa acara dan layar proyektor yang baru saja terlihat beberapa slide gambar dan tulisan.


Dua detik kemudian, Alana pun mengedarkan pandangan ke para peserta di sana dan Hap … Alana menangkap dua pria yang sedang menatapnya.


Jantung Alana ikut berhenti sejenak ketika melihat Reno ada di sana. Ia tak mengira akan bertemu pria yang tidak ingin ia lihat dulu untuk saat ini.


Reno tersenyum saat matanya bertemu dengan mata Alana, walau dari kejauhan. Namun, Alana tidak menampilkan ekspresi yang sama. Wanita itu melengos tanpa senyum dan malah tersenyum pada Alex saat bosnya menatap ke arah Alana setelah tadi fokus pada layar di depan.


“Ren, kok Alana kaya ga kenal lu sih?” tanya Jefri memperkeruh keadaan.


Perasaan Reno campur aduk. Hatinya berantakan. Kesal, cemburu, nyeri, dan merasa diabaikan pun bercampur di dada Reno.


Setelah acara ini selesai, ia akan menemui Alana dan mengajaknya pulang bersama.