Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Aku tidak mencintaimu



Keesokan harinya, Alana bersiap untuk berangkat ke Bali. Satu jam lagi, ia akan dijemput oleh sopir Alex yang membawa Aurel dan pengasuhnya. Sedangkan Alex menyusul langsung dari kantor. Ia masih mendelegasikan pekerjaannya pada Bimo yang memang tidak ikut dalam perjalanan ini.


“Halo.” Alana mengangkat telepon dari Bilqis menggunakan ponsel yang diberikan Alex. Sementara ponsel uamanya masih ia matikan.


“Hei, jangan lupa oleh-oleh ya!” sahut Bilqis.


Alana tertawa. “Iya, bawel.”


Bilqis ikut tertawa. “Tapi aku ga mau oleh-olehnya makanan.”


“Terus?”


“Bawain bule ya!” tawa Bilqis.


Alana ikut tertawa. “Kalau itu, aku juga mau.”


“Haish … nakal ya. Mas Reno-mu mau dikemanain?”


Alana kembali tertawa. “Masukin kardus, terus kirim ke kutub utara.”


“Sadis,” cibir Bilqis.


Mereka pun tertawa bersama. Alana bergurau. Padahal dihati dan pikirannya masih ada nama Reno. Hanya saja saat ini ia masih mengedepankan emosinya, sehingga rasanya ia membenci pria itu.


Setelah berbincang dengan Bilqis. Alana mengaktifkan ponsel utamanya. Ponsel dengan kartu di dalamnya yang menghubungkan lokasi Alana dengan Reno, karena Reno memang melakukan itu untuk mengetahui posisi istrinya setiap saat.


Alana mengaktifkan ponsel itu dan menghubungi Tuti. Sudah tiga hari ia tak mengunjungi sang nenek. Rasanya sangat rindu.


“Asslamualaikum.”


Alana tidak menyangka jika telepon rumah itu langsung diangkat oleh sang nenek sendiri.


“Nenek.”


“Alana?” tanya Aminah terkejut. “Kamu kemana saja? Kapan kamu dan Reno ke sini? Asih juga menanyakan kalian, katanya kalian tidak mengabarinya.”


Alana diberondong banyak pertanyaan oleh sang nenek. Ia hanya nyengir.


“Maaf, Nek. Alana dan Mas Reno lagi benar\=benar sibuk. Apalagi Mas Reno juga lagi mau menggarap porject baru dari pemerintah.”


“Hah, kalian itu. Pekerjaan terus. Kalau seperti ini bagaimana bisa hamil, Al.” keluh Aminah.


“Memang apa bedanya hamil dengan pekerjaan, Nek? Kalau memang rezeki, mau sesibuk apa pun pasti hamil, kalau belum ya belum.”


“Hah, kamu itu jawab erus kalau nenek bilangin.”


Alana tertawa. Lalu, ia berkata lagi. “Nek, Alana mau dinas luar. Jadi kemungkinan Alana ga ke rumah nenek minggu ini.”


“Ke mana?” tanya Aminah.


“Bali.”


“Terus Mas-mu?”


“Di rumah. Mas Reno udah ngizinin kok, Nek.”


“Al, jangan seperti itu!” Aminah benar-benar resah dengan aktfitas cucu dan menantunya itu.


Aminah yang sejak muda juga bekerja, cukup tahu bagaimana jika sepasang suami istri berkarir dan sibuk dengan aktifitasnya sendiri. Jika tidak benar-benar komitmen dengan baik dan komunikasi yang kuat, hubungan suami istri akan pecah karena itu.


“Tenang, Nek. Tidak usah khawatir, semua baik-baik saja,” sahut Alana bohong.


Belum saatnya Aminah tahu tentang kondii rumah tangganya. Ia akan memberitahu sang nenek perlahan agar tidak mengejutkan.


Aminah menarik nafasnya kasar. Ia tidak tahu lagi bagaimana memberi pengerti pada anak muda jaman sekarang. Namun, satu yang ia yakini bahwa Reno dan Alana memiliki cinta yang kuat. Dengan landasan itu mudah-mudahan semua akan tetap aman.


Setelah berbincang beberapa menit. Alana pun menyudahi komunikasinya dengan sang nenek. Di luar dari itu, Reno mengecek ponselnya. Ia melihat chat yang tercentang dua. Itu artinya ponsel Alana aktif. Lalu, Reno langsung melacak keberadaan sang istri.


“Oh jadi selama ini kamu menginap di hotel,” gumam Reno dan bergegas menemui Alana di sana.


Kamar hotel Alana berbunyi. Ia sudah siap check out dan berangkat ke Bali. Alana langsung membawa koper dan mengedarkan lagi pandangannya keseluruh penjuru untuk memastikan tidak ada yang tertinggal di sana. Kemudian, ia menuju ke arah pintu dan membuka pintu itu.


“Mimi.” Aurel langsung melompat dan memeluk Alana.


Alana yang tak siap pun harus siap menangkap tubuh mungil itu.


“Kita berangkat?” tanya Alana sembari menggoda gadis kecil yang selalu membuatnya tersenyum itu dengan menggesek ujung hidungnya pada ujung hidung Aurel.


“Let’s go!”


“Oke.”


Alana keluar dari kamar itu dan menutup pintu dengan sempurna. Sementara, pengasuh Aurel yang bernama Ifa mengambil alih koper Alana dan membawanya.


Di tempat berbeda, Reno baru mematikan laptop dan sedikit merapikan kertas-kertas yang semula terserak di meja itu.


“Ren, kamu mau kemana?” tanya Dewi yang tiba-tiba masuk dan melihat Reno akan keluar.


Pasalnya, belum ada satu jam Reno sampai di kantor, tapi sekarang ia sudah ingin keluar lagi. Beberapa hari terakhir ini, Reno memang kerap datang siang. Itu karena setiap malam, ia tak bisa memejamkan matanya. Pikirannya selalu tertuju pada Alana.


“Aku mau keluar sebentar, Wi. Tolong handle semua ya.” Lagi-lagi Dewi hanya dijadikan tameng untuk menyelesaikan semua tugas kantor.


“Kamu itu kenapa sih, Ren? Dari kemarin datang siang, terus ga fokus. Pekerjaan juga ga ada yang selesai. Aku yang menyelesaikan semuanya,” kata Dewi kesal.


“Sorry, Wi. Akhir-akhir ini aku memang sedang kalut. Aku belum bertemu Alana,” jawab Reno yang memang terlihat sangat kusut.


Bahkan hari ini, ia tak mengenakan dasi. Kemejanya pun tak dikancingi, hanya ia gulung hingga siku.


“Alana tidak akan kembali. Dia sudah menitipkanmu padaku.”


Reno mengernyitkan dahinya. Ia berjalan menghampiri Dewi. “Apa? Maksud kamu apa?”


“Alana itu tidak pantas untukmu. Dia tidak dewasa, dia juga tidak pengertian. Hanya aku yang kamu butuhkan, Ren. Buktinya kemarin kamu tidak bisa aku tinggalkan hingga sakit dan masuk rumah sakit.”


Reno semakin menyipitkan matanya. Ia terus mencari tahu apa maksud dari ucapan Dewi.


“Kita itu saling mencintai. Dan, Alana sudah menyerahkanmu padaku.”


“Apa aku barang yang dititipkan kesana kemari?” tanya Reno dengan menatap tajam. “Jadi kamu mengira perhatianku selama ini karena cinta?”


Dewi mengangguk. “Ya, itu juga yang kita rasakan saat SMA. Aku tahu kamu juga menyuaiku sejak kita mendapat tugas dari Pak ginting dan ekrja kelompok bersama.”


Reno menggelengkan kepalanya. Ternyata apa yang Alana khawatikan terbukti. Feeling istrinya itu memang tepat. Bodohnya, Reno baru menyadari feeling itu sekarang.


“Apa yang kalian bicarakan di café itu?” tanya Reno menyelidik.


“Semua tentang kita. Kedekatan kita saat SMA dan kedatangan Alana kembali yang membuat kita akhirnya terpisah.”


“Gila! Kamu gila, wi. Kamu merusak semuanya.”


Dewi tertawa sinis. Ia tak terima dengan pernyataan Reno. “Munafik. Kamu juga menyukaiku kan?”


Reno tertawa. “Ternyata selama ini aku salah memperlakukanmu. Aku pikir kita bisa berteman layaknya seorang teman. Aku membutuhkanmu karena kita memang partner kerja. Aku peduli dan perhatian padamu karena kita memang teman dan partner kerja. Hanya itu.”


Dewi mendekatkan dirinya apda Reno. “Bohong. Katakan kamu juga mencintaiku, Ren.”


Perdebatan itu untungnya berada di dalam ruangan Reno yang kedap suara. Pintu ruangan itu pun tertutup sempurna hingga diluar sana tak terdengar jelas apa yang sedang mereka ributkan.


“Tidak. Aku tidak mencintaimu. Aku akui, aku pernah mengagumimu saat itu. tapi aku tidak mencintaimu.” Reno mengulang lagi perkataannya. “Aku hanya mencintai Alana. Tidak ada wanita lain disini,” ucapnya tegas sembari menunjuk dadanya.


Lalu, Reno meninggalkan Dewi yang masih mematung. Dadanya semakin bergemuruh. Kini, ia tahu mengapa Alana semarah ini. Kini, ia tahu mengapa Alana menghilang dan menjauh darinya. Sungguh, ia sangat naif dan bodoh.


Walau Reno dekat dengan Dewi, tapi pria itu selalu bisa menjaga diri. Ia tidak pernah kontak fisik dengan Dewi. Wanita itu memang sering berusaha menempelkan tubuhnya pada Reno. Namun, setiap kali itu terjadi, Reno berpikir bahwa itu tidak disengaja, padahal Dewi sengaja ingin menyentuh dan disentuh Reno.


Di dalam ruangan Reno, Dewi pun menangis dan terduduk lemas.