Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Alana, kamu di mana?



Suasana pertunjukan para pianis cilik itu begitu khidmat. Alana sangat menikmati pertunjukkan itu. Saat kecil ia pun sempat memiliki cita-cita yang sama seperti anak-anak kecil yang ada di depan sana. Namun hal itu hanya menjadi angan-angan saja karena kemampuan finasial orang tuanya yang membuat Alana tidak berani untuk mewujudkan keinginan itu.


Lalu, ia dipertemukan oleh Reno, pria yang mahir bermain keyboard sejak remaja. keduanya mulai dekat karena Reno menawarkan diri untuk mengajarkan Alana bermain keyboard. Pikir Alana, tidak bisa piano, keyboard pun tidak apa.


Otak Alana kembali mengenang kebersaman itu, kebersamaan bersama Reno saat pria itu dengan sabar mengajarkannya. Bahkan sering diringi canda tawa. Alunan musik piano yang dibawakan anak usia dua belas tahun itu membuat Alana semakin terbawa dalam kenangan. Tanpa sadar, ia pun meneteskan airmata. Padahal pagi tadi ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis lagi.


Alex yang duduk di samping Alana pun menoleh ke arah itu. sejak awal ia menyadari bahwa sekeretarisnya tidak sedang baik-baik saja. ia penasaran apa yang sedang terjadi pada Alana tapi ia tak berani bertanya.


Kemudian, Alex menyentuh lengan Alana tidak dengan tangannya, tetapi melalui benda yang bisa menghapus air mata itu.


Alana menoleh dan melihat tisu sudah ada di depannya. Lalu ia melihat orang yang menyerahkan benda itu. Ia pun tersenyum. “Terima kasih.”


Alex ikut tersenyum. “Kamu terlalu terbawa suasana.”


Alana mengangguk. Mungkin jika belum ada Reno dalam hati Alana, ia akan terpesona oleh senyum itu. Sayangnya, nama pria itu masih bertahta dalam hatinya.


****


Di kamar kontrakan yang tidak besar itu, Dewi merebahkan tubuhnya. Walau Alana sudah terang-terangan menyerah, bahkan memberikan Reno padanya, tap ia masih belum bisa menang karena Alana masih ada dipikiran Reno. Seperti hari ini, Dewi mengingat lagi saat di kantor bersama Reno. Reno tidak fokus bekerja. Hampir setiap lima menit sekali, pria itu melihat ponselnya. Dewi menyadari bahwa Reno tengah berharap mendapat telepon dari istrinya.


Selama ini, Dewi mengira bahwa Reno ketergantungan padanya. Ia merasa Alana bukanlah wanita yang tepat untuk mendampingi Reno. Alana tidak cukup dewasa dan tidak cukup pintar seperti dirinya. Oleh karena itu ia bersikeras untuk merebut Reno dari Alana karena Dewi menganggap bahwa hanya dirinya yang pantas untuk Reno. Walau sering kali Dewi menyadari bahwa ia wanita paling jahat sedunia karena telah merebut suami orang. Namun, cinta Dewi pada Reno membutakan segalanya. Ia tidak ingin mengalah lagi kali ini.


“Seharusnya, aku mempertahankanmu sejak dulu, Ren,” gumam Dewi. “Dan, itu yang aku lakukan sekarang.”


Setelah lama lost contack dengan Reno, Dewi berjanji pada dirinya sendiri kala itu. Jika takdir mempertemukannya lagi dengan cinta pertamanya itu, maka sekuat tenaga Dewi akan mengambilnya. Dan ternyata, takdir membawa mereka bertemu kembali. Malah, takdir pun mendekatkan mereka dengan menjadikan mereka tim kerja yang sangat dekat. Hal itu membuat Dewi yakin bahwa jodohnya adalah Reno. Ia tak menyadari bahwa keegoisannya justru menyakiti orang yang ia cintai. Atau bahkan bisa menjauhkannya dari Reno nanti.


****


Setelah mengetahui bahwa Alana tidak ada di kantornya, Reno pun segera melajukan mobil menuju rumah Aminah. Sesampainya di depan rumah Aminah, ia tak melihat mobil h*nd* J*zz merah yang biasa Alana gunakan. Jika Alana ada di sini seharusnya kemdaraan itu terparkir di dalam sana.


Reno masih berada di dalam mobil. Ia belum keluar dan belum masuk ke dalam rumah itu. Reno hanya menepikan mobilnya tepat di pagr tembok rumah Aminah saja. Lalu, Reno merogoh ponselnya dan menelepon Tuti, asisten rumah tangga Aminah.


Tut … Tut … Tut …


Reno menelepon, tapi Tuti belum menjawab telepon itu. Reno menelepon dengan sambungan telepon rumah.


“Assalamualaikum,” ucap orang di seberang sana yang Reno yakini adalah suara Aminah.


“Waalaikumsalam, Nek.”


Aminah langsung mengenali suara itu.


“Reno.”


Reno tertawa tipis agar terdengar riang oleh Aminah, seolah tidak ada yang terjadi antara dirinya dan cucu Aminah.


“Kalian ingin ke sini ya?” tanya Aminah yang langsung meminta sang cucu dan menantu untuk mengunjunginya. “Ayo ke sini, Nak! Kebetulan nenek membuat pepes ayam kesukaan Alana.”


Reno menunduk. Ia semakin yakin bahwa sang istri tidak berada di rumah itu.


“Ren,” panggil Aminah karena sedari tadi Reno tak bersuara.


“Oh, iya Nek.”


“Kamu lagi jemput Alana kan? Bilang sama cucu nenek yang keras kepala itu untuk mampir ke sini.”


Reno tertawa tipis lagi. “Tapi sepertinya kami tidak bisa ke sana, Nek.”


“Loh, kenapa? Jangan bilang kalian sibuk!”


“Iya. Alana dan Reno masih sibuk dengan pekerjaan kami,” jawab Reno.


“Hah, pasti begitu. Ya sudah kalau begitu. Jaga kesehatan kalian!” ucap Aminah.


“Ya, nenek juga jaga kesehatan ya!”


“Iya,” jawab Aminah dengan senyum.


Tak lama kemudian, Reno pamit dan memberi salam sebelum menutup sambungan telepon itu. Aminah pun menjawab salam Reno dan menutup teleponnya.


Reno kembali menarik nafasnya kasar sambil menatap layar ponsel setelah berbincang sebentar oleh Aminah dengan benda itu.


“Alana, kamu di mana?” tanya Reno frustrasi sambil meremas rambutnya dan memukul setir itu.