Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Merasa kehilangan



“Mimi kenapa pakai kacamata?” tanya Aurel pada Alana saat ia menjemputnya.


Mata Alex pun ikut mendelik dan memperhatikan apa yang sedang disembunyikan di sana.


“Ngga apa-apa, Mata agak sedikit gatal semalam. Jadi sedikit bengkak,” jawab Alana bohong.


Sebenarnya mata itu bengkak karena ia terus menangis semalaman. Tangisan Alana pun sampai ke hati Reno, karena pria itu juga tidak bisa tidur semalaman. Ia gelisah dengan hati tak karuan.


Alana baru saja tiba di rumah besar itu. ia baru saja memarkirkan mobilnya dan hendak masuk ke dalam. Namun bersamaan dengan langakah itu, Alex dan Aurel pun keluar.


“Saya kira, kamu tidak datang mejemput hari ini,” ucap Alex.


“Saya pasti datang, Sir. Kalau pun ada halangan pasti saya akan mengabarkan dari semalam,” jawab Alana.


Kemudian, Alex mengangguk. Ini juga salah satu yang Alex sukai dari Alana. Wanita itu memiliki komitmen yang kuat. Dia tidak pernah melanggar janjinya.


Lalu, Alana beralih ke Aurel. “Are you ready?”


“Of couse,” jawab Aurel dengan bahasa yang tidak sempurna karena gadis luc itu masih belum bisa mengucapkan huruf ‘r’.


Aurel tampak semangat dan riang saat Alana mengulurkan tangan. Ekspresi Aurel seolah meberi mood pada Alana yang sedang sedih. Ia pun tersenyum menggandeng gadis lucu itu dan membawanya masuk ke dalam mobil. Setelah menutup pintu mobil, Alana kembali menghampiri Alex untuk pamit.


Alex berdiri memperhatikan putrinya yang akan berangkat dengan sang sekretaris. Pria itu pun sudah rapi dengan setelan jas berwarna biru. Ia berdiri sembari memasukkan tangan kanannya ke saku.


“Sir, saya pamit,” ucap Alana pada Alex.


Alex mengangguk dan Alana tersenyum, lalu membalikkan tubuhnya.


“Al,” panggil Alex, membuat Alana langsung menoleh.


“Ya.”


“Are you oke?” tanya Alex.


Alana gugup dengan pertanyaan itu. ia kira Alex tidak akan peduli dengan keadaannya, mengingat menurut rumor beredar, Alex memang tidak pernah mau tahu dengan urusan orang lain.


Alana menjawab dengan tersenyum dan mengangguk. “Oke.”


Alex tak lagi bertanya. Ia hanya membalasnya dengan tersenyum dan mengangguk pula. Ia cukup tahu diri. Hubungannya dengan Alana hanya sebatas bos dan sekretaris. Bukan kakak adik atau teman dan sahabat. Akan sangat anehmemang jika tiba-tiba Alana menjawab tidak baik-baik saja lalu menceritakan masalahnya pada Alex, karena mereka memang tidak sedekat itu.


“Daah, Daddy.” Aurel melambaikan tangannya dari jendela mobil yang terbuka.


Alana pun ikut melirik ke arah bosnya dan tersenyum.


“Daah.” Alex membalas lambaian tangan itu untuk putrinya dan senyum untuk Alana.


Tidak ada yang spesial antara mereka. Aex masih mencintai mendiang istrinya. Alana pun masih mencintai Reno, suaminya. walau saat ini hubungan Alana dan Reno diambang perpisahan, tapi di hati Alana masih ada nama pria itu.


Alana wanita yang sulit jatuh cinta. Apalagi, Reno adalah cinta pertamanya. Pria pertama yang memberinya cinta dan kasih sayang penuh ia merasa tidak perlu ada lagi kasih sayang dari pria lain. Kenyamanan Alana adalah Reno. Namun, apa yang Reno lakukan saat ini mengikis kenyamanan itu. Akankah cinta itu pun akan terkikis selanjutnya? Entahlah, itu hanya Alana yang tahu. Yang pasti, untuk saat ini ia hanya ingin menata hati agar tak lagi tersakiti.


****


“Sayang, pakaikan dasi dong!” teriak Reno sembari berjalan ke dapur.


Seketika langkahnya pun terhenti. Ia kembali lupa kalau saat ini sang istri tidak ada. Reno menarik nafasnya kasar. Ia bersandar pada dinding kitchen set sembari menatap tungku. Biasanya, Alana berdiri di depan sana dan ia memeluknya dari belakang.


Baru sehari, Reno sudah merasa kehilangan sosok itu.


Ting … Tong …


Seseorang di luar sana menekan bel rumah Reno. Reno langsung sumringah. Ia mengira bahwa yang datang adalah Alana. Ia mengira bahwa Alana juga tidak bisa jauh darinya.


“Kamu pasti pulang, Sayang,” gumam Reno sambil tersenyum lebar dan berlari menuju pintu.


Reno membuka pintu dengan semangat. “Sa …” perkataannya tak dilanjutkan karena ternyata yang ada di depannya bukanlah Alana.


“Dewi?” tanya Reno bingung, karena ini adalah kali pertama Dewi bertandang ke rumahnya pagi-pagi.


“Hai, Ren. Aku bawakan kamu sarapan,” ucap Dewi.


Reno mengernyitkan dahi.


“Alana mana?” tanya Dewi pura-pura, padahal ia tahu betul bahwa Alana sudah tak ada di rumah ini.


Reno mempersilahkan Dewi masuk. Wanita itu pun langsung masuk dan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru. Ia menatap Reno yang berwajah lesu.


“Kamu kenapa? Berantem sama Alana?” tanya Dewi peduli.


Reno mengangguk. “Semalam kami bertengkae hebat.”


“Jangan bilang kalau pertengakaran kalian itu karena aku! Karena yang aku katakan kemarin?”


Reno mengangguk.


Dewi langsung melangkah menuju dapur. ia mengambil piring untuk menuangkan makanan yang ia beli tadi di luar.


“Alana berubah, Dew. Dia tidak lagi seperti dulu,” ucap Reno yang mengikuti langkah temannya itu.


Mereka pun berdiri di meja makan.


“Aku dan Alana saling memberi ruang untuk intropeksi diri. Semalam dia pergi ke rumah nenek,” kata Reno lagi.


Dewi tersenyum licik. Namun, saat Reno menatap wajah Dewi, wanita itu merubah ekpresinya seolah sangat prihatin dengan nasib teman dekatnya itu.


"Ya sudah, kalau begitu kita sarapan dulu,” sahut Dewi.


Reno mengikuti dewi dan duduk di depannya. Lalu, ia menatap Dewi. Ia lupa menanyakan sikap Dewi yang tiba-tiba datang dan membawakan sarapan. Mengapa wanita itu bisa tahu kalau pagi ini ia membutuhkan itu?


“Oh ya, kok kamu tahu kalau sekarang aku di rumah sendirian?” tanya Reno menyelidik, membuat Dewi terdiam sejenak.


Kepala Dewi berputar untuk merangkai kata dan mencari alasan yang tepat agar Reno menerima.