
“Sorry, Sir. Saya datang terlambat,” kata Alana tepat di hadapan Alex.
Alex yang sedang duduk di kursinya dan memainkan laptop itu pun langsung bersandar pada dinding kursi dan menatap Alana. Wanita itu tampak berkeringat. Terlihat jelas bahwa Alana berlari atau berjalan cepat untuk sampai ke tempat ini.
“Kamu naik angkutan umum?” tanya Alex dengan memainkan pulpen.
Alana mengangguk.
Jarak yang sangat berbeda antara kantor Reno dan kantornya membuat Alana tak ingin merepotkan sang suami dengan mengantarnya terlebih dulu. Lagi pula Reno sudah menjemputnya hampir setiap ia pulang kerja. Alana berinisiatif untuk meminta Reno mengantarnya hingga di halte tempat biasa Dewi menunggu suaminya saat meminta untuk berangkat bersama. Sekali tiga uang, Alana melakukan hal itu agar Dewi sadar dan tak lagi meminta suaminya untuk berangkat bersama. Alhasil, apa yang Alana lakukan pun berhasil. Dewi kepergok melakukan itu satu kali lagi oleh Alana dan sejak saat itu, Dewi tak lagi meminta Reno untuk berangkat bersama dan menunggu di halte itu.
“Kalau begitu, besok saya akan siapkan kendaraan untukmu, agar tidak terjadi lagi hal seperti ini,” sahut Alex memuat Alana menganga.
“Saya tidak bisa mengendarai kendaraan, Sir,” jawab Alana pelan.
“Oh ya? Kalau begitu saya akan daftarkan kamu untuk les menyetir.”
Ingin rasanya Alana protes. Namun, wajah datar itu, membuat Alana tidak punya daya upaya untuk protes. Ia pun terpaksa menerima tawaran sang bos untuk berlatih setir dan mengemudikan kendaraan roda empat itu. Sepertinya, ia akan meminta bantuan Bilqis lagi.
****
Satu minggu berlalu, aktifitas Reno dan Alana masih sama setiap minggunya. Alana bertambah sibuk, karena setiap pulang kerja ia harus latihan setir dan pulang agak malam. Reno yang sedang mengejar target perusahaan pun tidak pernah pulang tepat waktu. Keduanya sama-sama pulang dalam keadaan langit yang sangat gelap. Dan, seampainya dirumah hanya tinggal rasa lelah.
Dret … Dret … Dret …
Telepon Alana terus berdering. Ia sempat mengabaikan telepon itu karena sedang berada di ruang meeting untuk menemani bosnya yang mengadakan koordinasi oleh beberapa staf.
Alana mengambil ponsel yang sengaja ia masukkan dilaci saat berada di ruang meeting. Ia melihat nama Bi Tuti, asisten rumah tangga yang merawat sang nenek di sana.
“Assalamualaikum, Bi.”
“Waalaikumsalam. Mbak Al, susah banget sih diteleponnya,” ujar Tuti.”
“Maaf, Bi. Tadi Al lagi rapat. Kenapa, Bi?” tanya Alana.
“Nenek ga mau makan, Non. Semua makanan dimuntahin. Non nangti pulang kerja ke sini ya! Kasihan nenek belum masuk makanan. Kalau di suapi Mbak Al, mungkin mau.”
Alana mengangguk. “Ya, nanti Alana kesana pulang kerja. Makasih ya, Bi.”
Tuti mengangguk. “iya, Mbak. Kalau gitu, Tuti tutup teleponnya.”
“Iya.” Alana pun mengangguk.
Kebetulan, hari ini hari Jumat. Ia akan menginap di rumah sang nenek karena besok adalah ahri libur. Alana pun dengan segera memberi kabar sang suami melalui pesan whatsapp.
Di sana, pesan itu hanya ceklis dua dan belum berubah warna. Alana memahami kesibukan sang suami. ia pun kembali meletakkan ponsel itu tanpa meneleponnya.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, ponsel Alana bergetar. Di sana terlihat notif dari Reno. Ia pun segera membuka pesan itu.
“Iya, Sayang. Tidak apa. Nanti malam Mas nyusul ke rumah nenek. Oh ya, Mas minta maaf. Sepertinya malam ini Mas tidak menjemput karena Pak Richard mengajak Mas makan malam dengan klien.”
Lagi-lagi, Reno masih ceklis dua dan tak langsung membaca balasan pesan itu.
Waktu menunjukkan pukul lima sore. Alana mulai merapikan tumpukan yang berserakan di meja kerjanya. Ia ingin pulang cepat untuk menemu sang nenek. Kebetulan, hari ini pekerjaannya tidak sepadat kemarin.
Alana berjalan menuju ruangan Alex. Ia ingin berpamitan. Walau biasanya, setiap ia hendak pulang, Alex sudah lebih dulu pulang.
Ceklek
Alana membuka ruangan Alex tanpa mengetuk. “Oh, saya kira Sir sudah pulang.”
Alex yang langsung menatap Alana saat pintu terbuka pun menggeleng. “Saya menunggu seseorang. Sudah lama saya janji untuk mengajaknya jalan-jalan.”
Alana tersenyum. Ia pikir, Alex akan bertemu dengan kekasihnya, atau wanita yang sedang dekat dengan duda ini. Tapi nyatanya, Alex sedang menunggu putrinya datang dan jalan-jalan di malam menjelang weekend.
“Pekerjaan hari ini sudah selesai. Boleh saya pamit lebih dulu?” tanya Alan yang langsung diangguki Alex.
“Silahkan.”
Alana kembali tersenyum dan membalikkan tubuhnya untuk keluar dari ruangan itu. Namun, Alex kembali memanggil Alana.
“Alana.”
Alana pun langsung menoleh. “Ya.”
“Bagaimana belajar setirmu? Sudah bisa? Kalau sudah, kamu bisa bawa mobil operasional kantor.”
Alana menggeleng. “Belum, Sir. Beri saya waktu satu minggu lagi.”
Alex mengangguk. “Baiklah.”
****
Hubungan Reno dan Dewi pun masih sama. Menurut Dewi terkadang Reno perhatian dan terkadang pria itu sangat kaku. Hal itu, membuat Dewi tetap pada posisinya. Hingga saat ini, wanita itu belum berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan. Reno pria yang sulit ditaklukan.
Dewi selalu salah mengartikan perhatian Reno, seperti saat siang tadi.
“Dew, aku bawakan makan siang. Katanya kamu tidak bawa bekal kan?” ucap Reno.
Mata Dewi langsung berbinar. “Wah Ren. Kamu perhatian banget.”
“Iya, dong. Kamu kan stafku. Kalau kamu sakit dan tidak masuk kerja, nanti aku juga yang repot ngurus kerjaan sendirian.”
“Dasar kamu, Ren. Azas pemanfaatan.”
Reno tertawa. Namun, dalam hari Dewi senang dimanfaatkan seperti ini oleh Reno. Ia merasa menjadi orang yang dibutuhkan oleh pria yang ia sukai ini.