
“Alana, apa kabar? Kapan kamu melahirkan? Aku kangen banget.”
Bilqis memberikan pesan lewat chat whatsapp. Sudah lama sekali ia tak bertemu sahabat dekatnya itu.
Tring
Ponsel Alana berdering tepat di pagi hari. Ia baru saja hendak beranjak dari tempat tidur. Perutnya semakin besar, gerakan Alana pun semakin lambat.
“Mau kemana sayang?” tanya Reno yang baru saja masuk ke kamar.
Pria itu memang selalu lebih pagi dari Alana, apalagi saat Alana sedang berbadan dua.
“Mas, aku mau ambil ponselku di meja rias. Tadi sepertinya berbunyi,” jawab Alana.
Reno pun mengambil benda itu dan memberikannya pada sang istri. “Kamu mau susu?”
Alana menerima benda itu dan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Reno pun tersenyum dan mengacak-acak rambut istrinya yang memang berantakan karena baru bangun tidur.
“Mas,” rengek Alana saat Reno mengacak-acak rambutnya. “Rambutku berantakan.”
“Memang sudah berantakan.” Reno tertawa.
Namun, Alana cemberut.
“Tapi kamu tetap cantik,” ucap Reno lagi sembari mengedipkan satu matanya.
“Ish, genit.” Alana tertawa.
Reno pun tertawa dan kembali keluar kamar untuk membuatkan sang istri susu hamil yang rajin Alana minum setiap pagi dan malam.
“Alana sudah bangun, Ren?” tanya Aminah yang berada di dapur dan tengah menyiapkan sarapan.
Alana benar-benar beruntung karena memiliki orang tua yang pengertian. Alana tidak diperkenankan untuk memasak selama Aminah dan Asih berada di sini, sehingga Alana praktis tidak mengerjakan pekerjaan rumah apa pun. Tetapi Alana juga bukan wanita yang suka berdiam diri. Walau seperti itu, tetap saja ada hal yang Alana kerjakan.
“Sudah, Nek.” Reno tersenyum pada Aminah.
Lalu, pria itu mengambil gelas dan susu di kaleng itu. ia menuangkan bubuk susu yang ada di kaleng itu ke dalam gelas dan menyeduhnya dengan air hangat. Aminah melihat semua itu. Ia memang tidak salah menjadikan Reno sebagai cucu menantunya. Sejak dulu perhatian Reno memang tidak berubah. Cinta yang Reno berikan pada cucunya sangat kentara. Prahara yang terjadi antara Reno dan Alana kemarin murni sebuah kesalahpahaman dan minim komunikasi. Hal itu adalah suatu kewajaran dalam rumah tangga. Ia sangat menyayangkan ketika saat itu Alana mengatakan ingin bercerai. Setiap di akhir sujudnya, wanita tua itu selalu mendoakan sang cucu dan suaminya untuk selalu bersama. Dan kini, doa itu pun terkabul.
“Nek, Reno ke kamar lagi ya,” ucap Reno pada Aminah ketika ia sudah selesai membuatkan susu.
Aminah mengangguk. “Ya. Nanti kita sarapan bersama ya.”
“Baik, Nek.” Reno melangkahkan kakinya kembali ke kamar dengan membawa segelas susu hamil.
Di dalam kamar, Alana tersenyum membaca pesan dari Bilqis. Ia membalas pesan itu dan langsung dibaca oleh sahabatnya.
“Aku baik. Calon keponakanmu juga sehat. Dia berjenis kelamin laki-laki. Aku juga sangat merindukanmu, Qis. By the way, bagaimana pekerjaanmu? Semua aman?”
Bilqis langsung membalas pesan Alana.
“Aman dari Hongkong. Sampai saat ini aku dan Sir Alex tidak pernah akur. Tapi herannya, dia tetap mempertahankanku sebagai sekretarisnya.”
Alana membaca pesan itu dan langsung mengetik balasan.
“Itu artinya dia menyukaimu.”
“Pret, menyukai apa? Orang aku diomel-omelin terus kok.”
“Benci itu awal mula cinta datang. Nanti lama-lama kamu mencintainya,” balas Alana.
“No way. Itu ga akan mungkin,” jawab Bilqis.
“Kita lihat saja.” Alana tertawa.
Lalu, Reno memasuki kamar itu dan ikut duduk di samping sang istri. “Chat sama siapa sih? Kelihatannya seru banget.”
Reno melihat sang istri yang senyum-senyum sendiri sambil memegang ponselnya.
Alana menoleh. “Ini loh, Mas. Bilqis. Dia wa in aku. Nanyain kabar kita.” Alana menunjukkan chatnya pada Reno.
“Oh. Dia masih jadi sekretaris Alex?” tanya Reno.
Reno tersenyum. “Bilqisnya kali yang baper. Karena dia menyukai Alex.”
“Eh kok kamu tahu sih, Mas. Iya, aku rasa begitu. Bilqis memang menyukai Sir Alex. Semoga saja Sir Alex bisa merubah pandangan Bilqis tentang pernikahan. Semoga dia mau menikah.”
Reno mengangguk.
Reno memang tahu tentang Bilqis dan traumanya tentang pernikahan karena ulah sang ayah yang tidak setia pada ibunya. Bilqis menyamaratakan semua pria seperti ayahnya. Ia menolak dekat dengan lawan jenis. Bilqis pun menyangkal perasaannya pada Alex. Ia tetap dengan prinsipnya yang tidak mau menikah.
“Oh ya, ini susunya. Ayo di minum!” Reno memberikan gelas yang berisi susu putih pada Alana.
Alana pun menerima gelas itu dan meminumnya.
“Habiskan,” kata Reno sembari menemani sang istri dan duduk di sampingnya.
“Kenyang, Mas. Mas membuatnya kebanyakan, selalu satu gelas penuh,” protes Alana.
“Supaya anak kita tidak kekurangan nutrisi, Sayang,” jawab Reno sembari mengelus kepala Alana. “Ayo minum lagi. tinggal sedikit lagi tuh.”
Alana mengerucutkan bibirnya dan menuruti permintaan sang suami. Reno tersenyum melihat istrinya menurut. Alana pun menenggak habis minuman itu hingga tetesan terakhir.
“Habis,” ucap Alana sambil menyerahkan gelas kosong itu.
“Pinter.” Reno kembali mengacak-acak rambut istrinya sambil tertawa.
“Memangnya kau anak kecil,” cibir Alana yang merasa diperlakukan seperti anak kecil oleh Reno.
“Anak kecil yang udah bisa bikin anak kecil,” ledek Reno.
“Mas,” panggil Alana manja pada suaminya.
Reno pun tertawa. Lalu, kembali berkata, “sekarang mau langsung keluar kamar atau mandi dulu?”
“Hm… mandi dulu aja.” Alana berusaha bangkit dari duduknya.
Dengan sigap Reno pun membantu sang istri untuk berdiri.
“Mas, aku gendut banget ya,” ucap Alana yang melihat dirinya di cermin saat berjalan menuju kamar mandi.
Reno yang berdiri tak jauh dari Alana pun menggeleng. “Biarin. Yang penting tetap cantik.”
“Mas bohong.”
“Lah kok bohong sih? Itu udah jujur sayang.” Reno mendekati istrinya dan melingkarkan tangannya pada perut yang semakin besar itu. “Kamu tuh terlihat makin sexy, Sayang. Mas suka. Kalau Papi, Mami, dan Nenek tidak ada di sini. Mungkin Mas akan menerkammu setiap hari.”
“Memang sekarang tidak setiap hari?” tanya Alana menoleh ke arah suaminya.
Reno nyengir. “baru beberapa hari ini aja. Minggu kemarin Cuma dua hari sekali.”
“Dasar ga mau rugi bangt sih,” jawab Alana meledek semabri tertawa.
Reno pun ikut tertawa.
****
Esok hari adalah hari terakhir di tahun ini. Semua orang berbondong-bondong membeli perlengkapan untuk merayakan tahun baru. Perayaan tahun baru di negara ini lebih terasa dibanding negara Reno. Reno dan keluaga pun ikut membeli daging dan bumbu barberque untuk acara pangang-panggang nanti.
Ini adalah kali pertama mereka berkumpul setelah beberapa tahun tidak berkumpul. Biasanya ada saja yang tidak bisa, entah itu Reno atau pun Bagas. Tapi, calon cucu Bagas dan Asih, serta calon cicit Aminah menjalin lagi kebersamaan itu. walau anak itu masih berada dalam kandungan, tetapi kehadirannya sudah sangat terasa.
“Sudah siapkan nama untuk putramu, Ren?” tanya Bagas ketika dua pria ini menemani Asih berbelanja. Sementara Alana dan Aminah berada di apartemen.
“Kamu harus sudah menyiakan nama, Ren. Alana akan melahirkan minggu depan loh,” sahut Asih.
“Iya, Ma. Sudah.”
“Siapa namanya?” tanya Bagas antusias.
“Abiyan Alfarezel Wijaya.”
“Bagus,” sahut Bagas yang diangguki Asih.