
Mendengar ada seseorang yang mencarinya di lobby, Bilqis yang berada di lantai empat pun langsung turun. Ia khawatir yang sedang berada di lobby itu adalah sang adik yang ingin meminta uang untuk membayar kuliah semesternya. Karena resepsionis di lobby itu hanya mengatakan bahwa ada seorang lelaki mencari.
“Mas Reno?” tanya Bilqis yang melihat Reno duduk di kursi tamu.
Ah, ia pikir adiknya. Kalau tahu yang ingin menemuinya adalah Reno, mungkin Bilqis akan beralasan agar tidak bertemu pria itu. jujur, ia bingung jika Reno menanyakan keberadaan Alana padanya.
“Bilqis, Alana di mana?” tanya Reno to the point.
Bilqis mengangkat bahunya. “Engga tahu, Mas. Sepertinya dinas luar sama bosnya.”
“Ke mana?” tanya Reno lagi dengan nada mencecar.
“Ngga tahu, Mas.”
“Bohong. Kamu pasti tau. Ayo lah, Qis! Tolongin Mas Reno.”
Bilqis menatap wajah lesu pria tampan itu. ia tahu, di sana ada gurat kecemasan, kesedihan, dan kegundahan.
“Hmm … yang aku tahu, Alana lagi dinas luar dengan Sir Alex ke Bali. Tapi di hotel apa dan kota apa? Aku ga tau,” jawab Bilqis jujur. Ia memang tidak detail menanyakan hal itu pada Alana.
“Kapan dia berangkat?” tanya Reno.
“Sekarang.” Bilqis melihat jam ditangannya. “Pas setengah jam lagi take off.”
Reno kembali lemas. Ia pun melihat jam ditangannya. Akan tidak mungkin jika ia menyusul Alana ke bandara sekarang, karena secepat apa pun ia mengemudi, tidak akan sampai ke tempat itu dalam waktu tiga puluh menit.
“Berapa hari mereka di sana?” tanya Reno lagi.
“Tiga hari. Ya, tiga hari.”
Reno mengangguk dan berdiri. Ia hendak menginggalkan Bilqis. Lalu, Reno menoleh ke arah Bilqis yang masih duduk di sofa tamu yang tersedia di lobby itu.
“Terima kasih, Qis.”
Bilqis mengangguk. Ia pun tidak tega dengan keadaan Reno. Walau semula ia sering mengompori Alana untuk bersikap apda pria bodoh dan naif itu. tapi melihat keadaannya yang miris, membuat Bilqis pun meringis.
Bilqis menatap punggung Reno yang melangkah gontai keluar dari gedung kantor itu. Reno tidak tahu harus ke mana? Ia seperti yang tidak punya arah. Ingin ke kantor lagi, tapi malas bertemu Dewi. Ingin ke rumah, tidak ada Alana. Yang ada hanya kenangan yang akan membuatnya semakin terluka. Ingin ke rumah orang tua, tapi ia tidak ingin Ibunya tahu dan menanyakan banyak pertanyaan.
Reno kembali menyandarakan kepalanya di kursi mobil saat sudah memasuki kendaraan itu. ia menarik nafasnya kasar sembari mengusap wajahnya. Beberapa hari ini ia sungguh lelah. Lelah yang dibuat karena ulahnya sendiri.
Reno merutuki kebodohannya yang membiarkan Alana pergi malam itu. bahkan ia tak menoleh ke arah Alana saat wanita itu menarik kopernya. Padahal kala itu ia menyadari bahwa Alana sedang menatapnya seolah ingin ditahan kepergian itu. Namun dengan keegoisan dan keangkuhannya, Reno tak menoleh dan sekarang ia malah yang kesusahan sendiri untuk mencari sang istri.
Reno menekan audio touchscreen setelah menghidupkan mesin mobil dan pendingin. Tiba-tiba lagu yang muncul di audio itu memutar lagu dari Prinsa Mandagie yang berjudul sahabat dulu. Lagu yang baru Reno dengar dan seolah menggambarkan apa yang dirasakannya saat ini.
Aku salah apa
Ku tak paham cinta
Bolehkah kau jelaskan dulu
Mengapa ku rasa
Kau jauh berbeda
Bukan seperti saat pertama
Bila salah beri maaf untukku
Jangan lantas pergi tinggalkan ku
Ku masih ingin cintamu
Ajari aku apapun kau mau
Asal jangan tentang bagaimana
Ku harus hidup tanpa kamu
Hingga kau melupa
Aku lah yang selalu setia
Bila salah beri maaf untukku
Jangan lantas pergi tinggalkan ku
Ku masih ingin cintamu
Ajari aku apapun kau mau
Asal jangan tentang bagaimana
Ku harus hidup tanpa kamu
Ku rindu seperti sedia kala kita berjalan penuh cinta
Kuingin cinta kita bahagia
Bila salah beri maaf untukku
Jangan lantas pergi tinggalkanku
Ku masih ingin cintamu
Ajari aku apa pun kau mau
Asal jangan tentang bagaimana
Ku harus hidup tanpa kamu
Tak akan ku sakiti kamu
“Maafkan Mas, Sayang. Tolong kembalilah!” gumam Reno dengan air mata yang sudah berderai.
****
Di tempat berbeda, Alana sudah duduk bersama Aurel dan Alex di dalam pesawat. Mereka duduk di kursi yang terjejer tiga. Aurel yang selalu memilih duduk di dekat jendela pun sudah mengambil posisi itu sejak awal masuk ke kabin. Sedangkan Alana duduk di tengah dan Alex di pinggir.
Sementara pengasuh Aurel duduk di sebelah Alex dengan jalan yang mengapit mereka. Pengasuh Aurel duduk dengan orang lain di kursi yang hanya untuk dua orang.
Alana langsung memasangkan Aurel sabuk pengaman setelah duduk sempurna. Namun justru ia sendiri yang merasa kesulitan saat memasang sabuk pengaman untuk dirinya sendiri.
“Bisa?” tanya Alex.
Alana mengangguk. Padahal hingga beberapa detik, Alana masih kesusahan.
Alex pun menggeleng dan langsung mengambil alih sabuk itu, lalu memasangkannya sempurna. “Lain kali, minta bantuan jika kesusahan,” ucapnya tersenyum dengan pandangan yang cukup dekat.
Alana hanya tersenyum malu.
Ketika pesawat mulai take of dan berada di atas awan. Suasana sangat tenang. Alana melihat Aurel tidur dengan bantal yang melingkar dilehernya. Begitu pun dengan Alex. Pria itu tampak kelelahan dan tertidur pulas. Sedangkan Alana menyandarkan kepalanya pada kursi dengan pikiran yang berkelana pada pria menyebalkan itu.
“Maafkan aku, Mas. Aku pergi ke Bali tanpa memberitahumu,” gumam Alana dalam hati sambil memejamkan mata dan dalam mata yang terpejam itu menampilkan sosok Reno yang tersenyum di sana.
Setelah mata itu terbuka, Alana mengusap air yang sudah ada di sudut matanya.