Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Kehilangan jejak



Setelah seminar selesai, acara disambung dengan ramah tamah. Semua yang hadir tampak para pembesar dari berbagai macam perusahaan. Sebagian di antara mereka juga pemilik dengan membawa karyawan inti.


Alana setia menemani sang bos dan selalu berada di samping Alex. Begitu pun dengan Reno, pria itu pun setia berada di samping Ricard dan berbincang-bincang dengan kolega Ricard di sana. Jefry juga menemani. Namun, Reno tampak tidak fokus. Ia gelisah sambil arah matanya tertuju pada Alana dan Alex. Senyum manis yang biasa hanya tertuju untuknya. Kini, senyum itu terus tertuju pada Alex, membuat Reno panas.


Senyum Alana yang manis mampu memikat para lawan jenis di sana. Itu terbukti karena sejak acara selesai, Alana tidak pernah sendirian. Selain karena ada Alex yang tidak pernah meninggalkannya, juga ada saja para pengusaha itu mendekati mereka.


“Kamu haus?” tanya Alex pada Alana. “Aku ambilkan minum.”


“No, Sir. Biar saya saja yang mengambilkan.”


Alex tersenyum. “It’s oke. Gantian. Tadi kamu yang mengambilkan makanan kan!”


Alex mengerutkan dahi dan Alana hanya membalas dengan senyum. Lalu, Alex pun meninggalkan Alana untuk mengambil minum di tempat yang tersedia.


Arah mata Reno terus mengintai wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu. ia melihat Alana yang sedang berdiri sendirian di pojok ruangan. ini adalah kesempatan Reno untuk mendekati sang istri, tapi sayangnya saat ini ia tengah berbincang dengan Mr. Juan, salah satu panitia penyelenggara yang menagdakan acara ini.


“Ya, benar. Project itu kami yang pegang kemarin. Dan, Reno yang menjadi pimpinan project itu. Dia andalan kami,” ucap Ricard saat Mr. Juan menanyakan beberapa project yang sukses dipegang oleh perusahaan Reno.


“Wah, selamat kalau begitu. Senang saya bertemu dengan anda,” sahut Mr Juan.


“Oh, ya.” Arah mata Reno beralih pada Mr. Juan. Padahal sedari tadi ia tidak menyimak pembicaran bos dan panitia penyelenggara itu.


Mr. Juan mengajak Reno untuk bersalaman dan Reno pun menerima uluran tangan itu. “Ya, saya juga senang sekali bisa bertemu dengan Mister. Semoga saya bisa seperti anda.”


Mr. Juan tertawa. Mereka pun bercengkerama. Lalu, Reno kembali melihat ke arah Alana yang masih sendiri. Ia hndak pamit untuk keluar dari perbincangan ini dan menghampiri Alana. Tapi baru saja Reno ingin pamit, ternyata di sana Alex telah kembali.


“Terima kasih,” ucap Alana tersenyum dan menerima gelas berisi jus mangga dari tangan Alex.


“Sama sama.” Alex pun ikut tersenyum.


Reno melihat mereka sangat dekat. Alana dan Alex meminum minumannya dan kembali berbincang. Kemudian, ia juga melihat Alex yang mendekatkan bibirnya pada telinga Alana. Keduanya terlihat seperti orang yang ingin berciuman.


Di dalam ruangan yang besar itu, semua sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Acara ramah tamah itu pun semakin meriah karena diiringi oleh alunan musik ringan.


Sampai acara selesai, Reno tak bisa menemui Alana, karena mereka sibuk dengan bosnya masing-masing.


“Ren, ayo pulang!” ajak Jefri dan Ricard yang menunggu di pintu utama.


“Kamu duluan aja. Aku nunggu Alana.”


Jefri mengangguk. “Oke. Kalau begitu gue sama bos pulang duluan ya.”


“Oke.” Reno ikut mengangguk.


“Hai, Pak Reno. Belum pulang?” tanya Mr. Juan yang menegur Reno.


“Saya menunggu Sir Alex dari perusahaan Axel,” jawab Reno.


“Oh, tapi saya lihat Sir Alex sudah pulang dari pintu samping. Baru saja.”


Pernyataan Mr. Juan membuat Reno terkejut. “Oh, ya? Dengan sekretarisnya?”


“Ya, dengan Sekretarisnya.” Mr. Juan mengangguk.


Sontak, Reno berlari ke dalam untuk menuju ke pintu yang diucapkan Mr. Juan. Kepanikan Reno membuatnya tak sempat pamit lagi pada ketua penyelenggara acara itu.


Reno berlari ke arah pintu samping. Ya, ia melihat Alana yang tengah memasuki mobil sedan keluaran Eropa berwarna hitam.


“Alana …” teriak Reno.


Namun, Alana sudah berada di dalam mobil. Alex pun sudah menjalankan mobilnya perlahan.


“Al.” Reno mengejar mobil itu dari belakang.


Dan, Alex pun melihat dari akca spion dalam. “Al, ada pria yang memanggilmu.”


Alana sengaja tidak menoleh, karena ia tahu siapa yang sedang meneriaki namanya.


“Apa aku harus berhenti?” tanya Alex yang tidak tega dengan Reno.


“Tidak perlu, Sir. Jalan saja,” jawab Alana dengan wajah yang dingin.


Alex bingung. Ia menuruti perkataan Alana dan menatap wanita itu dari samping. Wajah Alana tetap memandang ke arah jalan dengan wajah datar.


“Alana … Al,” teriakan Reno semakin memelan. Ia tak lagi bisa menjangkau mobil yang sudah melesat jauh.


“Ada apa denganmu, Al? mengapa kamu menjauhiku?” tanya Reno dalam hati.


Ia pun berpikir keras. Terakhir, mereka sepakat untuk saling intropeksi diri dan memberi ruang masing-masing agar saling mengerti letak kesalahan masing-masing. Lalu, setelah kepala mereka dingin, maka Reno akan menjemput Alana dan hubungan mereka kembali baik.


Tapi semua diluar ekspektasi. Ternyata, Alana tidak pulang ke rumah Aminah. Komunikasi mereka pun terputus. Ia tidak menyangka alana tiba-tiba menghilang dan memutuskan komunikasi.


Reno pun bingung. Ia tak mengerti dengan semua yang terjadi sekarang. Reno kembali kehilangan jejak Alana.


“Arrrggg ….” teriak Reno sembari menendang kakinya ke udara untuk meluapkan semua kekesalan.