Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Surat gugatan



Aurel masih berada di rumah sakit. Ia ditempatkan di ruangan super VVIP dengan kamar yang luas dan sangat nyaman. Pengasuh anak kesayangan Alex itu pun sudah ada di ruangan ini sejak sore tadi untuk membawakan pakaian Aurel dari rumah. Wanita yang di panggil Bibi itu rencananya yang akan menemani Aurel di rumah sakit hingga gadis kecil itu dinyatakan sembuh dan dokter memperbolehkan pulang.


Alana duduk sendiri di ruang tunggu yang ada di luar rungan Aurel. Ia lebih sering duduk sendiri di sana setelah Alex ikut menagih janji yang ia setujui saat sedang panik karena melihat Aurel yang kesulitan bernafas seperti tengah sekarat.


Semula menurut Aurel janji itu bukanlah janji yang penting yang harus ditepai. Hanya janji pada anak kecil untuk menguatkan keadaannya yang sedang kritis. Tapi kini janji itu seolah menjadi bomerang dan sulit untuk ditotolak mengingat apa yang terjadi pada Aurel memang karena kesalahannya.


“Ini, minumlah!” seseorang menyodorkan satu cup kopi latte pada Alana.


Kopi kesukaan Alana ketika sedang berada di kafe.


Alana menengadahkan kepalanya dan melihat tangan orang yang sedang memberinya kopi itu. “Terima kasih.”


Alana menerima pemberian Alex. Lalu, Alex duduk di samping Alana. Sesaat mereka diam dan segan untuk mulai membuka suara. Mereka sama-sama menikmati kopi dari kafe yang ada di lantai dasar rumah sakit.


“Bagaimana hubunganmu dengan suamimu?” tanya Alex yang akhirnya mulai membuka suara terlebih dahulu.


“Hubungan kami sudah membaik,” jawab Alana dengan memandang cup kopi latte yang baru saja ia minum.


“Oh. Aku kalian akan berpisah. “Alex menatap kertas yang dipegang Alana.


Sore tadi, pengacara yang Alana tunjuk untuk mengurus gugatan cerainya dengan Reno datang dan memberikan surat itu. Setelah keluar dari rumah Reno waktu itu, Alana memang langsung menemui jasa lawyers yang mengurus perceraian. Saat itu, hatinya begitu sakit dan akhirnya ia mengambil keputusan itu. Di tambah sikap Reno yang kala itu tidak peduli saat ia pergi dan seolah menegaskan bahwa Reno sudah tak mencintainya lagi. Hal itu membuat Alana yakin untuk menggugat cerai terlebih dahulu. Kemudian, menerima ajakan Alex ke Bali dan semakin dekat dengan Aurel.


“Lalu surat itu?” tanya Alex dengan arah mata yang masih tertuju pada surat yang Alan pegang.


Arah mata Alana ikut menatap ke arah kertas itu. seketika ia pun terdiam.


“Kamu sudah pulang ke rumah?” tanya Alex lagi dan langsung di angguki Alana.


“Sudah.”


Alex ikut diam. Sebenarnya, ia tidak ingin egois dan memberi beban pada Alana. Tapi, Aurel adalah putri kesayangannya. Ia akan melakukan apa pun untuk Aurel.


“Jika hubungamu dan suamimu sudah membaik. Mengapa kamu memberi janji pada Aurel dengan mengiyakan menjadi Mommy-nya?”


Alex menoleh ke samping dan menatap wajah Alana. Alana pun melakukan hal yang sama.


“Saat itu, saya benar-benar panik, Sir. Saya tidak bisa berpikir kecuali mengiyakan apa pun yang Aurel inginkan. Maaf.”


Alana menatap wajah Alex agar pria itu mengerti kondisinya. Kemudian, Alex meluruskan pandangannya dan tetap duduk dengan tegap. Tapi, Alana tetap menatap Alex. Ia berharap Alex mengampuni kecerobohan yang membuat putri kesayangannya kini terbaring lemah. Ia juga berharap Alex tidak memperpanjang masalah janji itu. Ia akan suka rela menjadi Mommy untuk Aurel tapi tidak menjadi istri Alex dan tinggal di rumah mereka.


“Aku akan melakukan apa pun yang Aurel minta,” ucap Alex dengan pandangn yang masih lurus ke depan. Lalu, ia menoleh ke Alana untuk melanjutkan perkataannya lagi.


“Teruskan keputusanmu. Tinggalkan dia dan menikahlah denganku!”


Alana membulatkan kedua bola matanya.


“Dia sudah sangat menyakitimu bukan? Perasaanmu juga sudah tidak lagi seperti dulu kan?”


Alana bingung. Walau apa yang Alex ucapkan sempat benar. Sakit hati yang Reno torehkan kemarin memang mengikis perasaannya, walau cinta tetap ada. Namun, perjuangan Reno untuk memintanya kembali dan kisah akhir Dewi yang tragis, membuat hati Alana luluh serta memaafkan, memberi Reno kesempatan kedua. Sakit hati itu pun perlahan sirna karena sikap Reno yang mencoba mengembalikan keadaan.


Alana menggeleng. “Entahlah. Semua begitu cepat.”


“Alana …” panggil Reno yang berlari menghampiri istrinya.


Sontak, Alex dan Alana pun menoleh ke sumber suara itu. Langkah Reno terhenti saat melihat Alana duduk dekat dengan Alex.


Alex berdiri dan hendak meninggalkan pasangan yang masih sah sebagai suami istri ini. Sebelum Alex mengambil langkah, ia mengatakan sesuatu pada Alana.


“Pikirkanlah! Aku tidak akan mengecewakanmu seperti dia.”


Alana menatap wajah polos Reno yang tidak mendengar ucapan Alex. Kini, ia merasa tidak ada bedanya seperti suaminya kemarin. Walau Alex tidak terang-terangan menyukainya dan tergila-gila seperti Dewi. Namun justru kesalahan Alana sendiri yang membawanya menjadi seperti Reno kemarin. Terjebak dalam keadaan.


Alex pergi meninggalkan Alana dan Reno. Lalu, Reno mendekati istrinya dan duduk di samping Alana. Ia menangkup wajah cantik sang istri.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Reno panik.


Alana menggeleng dan tersenyum. “Tidak. Aku tidak apa-apa.”


“Syukurlah,” jawab Reno lega.


Lalu, Reno mengingat wajah tak bersahabat Alex tadi saat melihatnya. “Apa dia menuntutmu? Meminta sesuatu padamu?”


Pertanyaan Reno membuat Alana mengernyitkan dahi. Ternyata, Reno bisa menebak apa yang sedang terjadi, padahal Alana belum menceritakan apa pun tentang itu.


Alana diam beberapa menit, lalu menatap suaminya yang sedari menatap sang istri dan menunggu istrinya mengeluarkan suara.


“Mas,” panggil Alana lembut pada Reno. “Aku bingung.”


Reno menatap kedua bola Alana. Ia tahu bahwa Alana tidak sedang baik-baik saja. wanita itu seperti sedang memikirkan sesuatu.


“Kenapa? Apa yang kamu pikirkan?”


Reno duduk miring. Begitu pun Alana. Mereka saling berhadapan dekat, hingga Reno menyadari kertas yang Alana pegang.


“Apa ini?” tanya Reno yang langsung mengambil kertas dari tangan Alana.


Reno membuka kertas itu dan membacanya. Tiba-tiba dadanya begitu sesak. Dunianya pun runtuh saat mengetahui fakta bahwa Alana sudah menggugat cerai. Namun, surat itu belum sampai ke pengadilan karena harus ada tanda tangan dari Reno.


“Kamu menggugatku? Kenapa? Bukankah kita sudah baikan?” tanya Reno tidak mengerti, membuat Alana mematung dan bibirnya kelu.


Cinta mereka kembali diuji. Sebelumnya, Reno diuji oleh kehadiran seorang Dewi yang membuatnya nyaman. Lalu, berjuang saat Alana menyerah dan Reno membuktikan sebesar apa cintanya pada Alana.


Kini, Alana yang diuji oleh kehadiran Alex dan Aurel yang memberinya kenyamanan saat ia terpuruk, sakit hati, dan merasa tidak dihargai.


Akankah Reno juga menyerah? Sebesar apa cinta Alana pada Reno. Pria yang selalu mengejarnya dan hingga saat ini, pria itu yang sering mengatakan cinta pada Alana di setiap kesempatan atau di setiap malam sebelum mereka memejamkan mata.