
Beberapa hari Reno dirawat intensif di rumah sakit. Ia juga mengikuti terapi bahkan akupunktur untuk menguatkan kembali syaraf dan otot-otot kaki yang lemah akibat benturan kecelekaan itu.
Di sela Alana mengurus sang suami. ia juga harus menyelesaikan tugas terakhirnya di perusanaan Alex. Dengan izin dari Reno, Alana hendak pergi ke kantor dan meninggalkan pria itu bersama ibunya.
“Mas, aku akan pulang siang seperti kemarin,” ucap Alana sebelum meninggalkan Reno yang sedang duduk di kursi roda.
Reno mengangguk. ia mengerti dengan tanggung jawab istrinya.
Alana dan Reno berada di taman rumah sakit. Alana duduk di pinggiran pohon dan Reno di kursi rodanya. Jadwal Reno untuk akupunktur masih satu jam lagi. Mereka pun masih ada waktu untuk berbincang sejenak.
“Mas, ini hari terakhirku di kantor.”
“Hm .. bukannya masih ada satu minggu?”
Alana menggeleng. “Karena aku bisa menyelesaikan pekerjaan dan sudah ada orang yang menggantikanku, jadi hari ini terakhir.”
Reno tersenyum. “Syukurlah kalau begitu. Jadi kamu bisa menemani Mas sepanjang hari.”
“Tentu.” Alana ikut tersenyum.
“Siapa penggantimu?” tanya Reno.
“Bilqis,” jawab Alana. “Karena itu juga, aku jadi cepat menyelesaikan tugas.”
Reno kembali tersenyum. Rasanya permasalahan yang datang kini terasa lebih mudah.
“Oh ya, Mas. Sir Alex memberikan referensi dokter yang bagus untukmu,” ucap Alana antusias dengan merogoh tas dan mengambil secarik kartu nama.
Reno mengambil kertas itu dari tangan Alana dan membacanya. “Di US?”
“Hm .. jauh ya.”
“Hm …” Reno mengangguk. “Tapi tidak ada salahnya mencoba.”
Alana meraih kepala Reno dan memeluknya. “Jangan patah semangat ya, Sayang. Kamu pasti sembuh.”
“Apa?” tanya Reno sembari menengadahkan kepalanya ke arah Alana.
“Jangan patah semangat! Karena kamu pasti sembuh,” ucap Alana lagi.
“Bukan itu.” Reno menggeleng. “Kata-kata yang tadi.”
“Yang mana?”
“Yang setelah kata semangat,” jawab Reno.
Alana tersenyum. “Sayang.”
Reno mengangguk. “He em.”
“Jadi kamu mau aku panggil sayang?” tanya Alana tertawa.
Reno mengangguk seperti anak kecil.
“Baiklah, Sayang.” Alana kembali memeluk suaminya.
“Terima kasih, Sayang,” kata reno setelah mereka puas berpelukan. “Terima kasih sudah mau menerimaku apa adanya.”
“Kamu juga menerimaku apa adanya. Bahkan hampir lima belas tahun, kamu menerimaku apa adanya. Menerima sikapku yang sering kekanak-kanakan. Selalu mendampingiku di saat sedih. Membantuku saat aku susah. Menjadi tempat bersandarku di saat aku rindu Mama dan Papa. Terus, mau menungguku sampai aku dewasa.”
Reno tersenyum dan mengecup pucuk kepala Alana yang bersandar di bahunya. Lalu, keduanya saling berpandangan. Alana tersenyum manis kala Reno menatapnya, membuat pria itu ikut tersenyum. hatinya bahagia walau kondisi fisiknya tidak dalam sempurna. Namun, hatinya begitu sempurna karena kebahagiaan itu kembali padanya.
“Mas rindu senyum ini,” ucapnya sembari mengelus wajah Alana dengan ibu jari yang mengelus bibir ranum itu.
Alana masih memasang senyum manis di depan Reno.
“Kamu tahu, senyum ini yang akan membuatku sembuh lebih cepat.”
“iya.” Reno mengangguk.
“Eum … Oke. Kalau begitu aku akan tersenyum terus.”
“Jangan, nanti kamu disangka penghuni rumah sakit jiwa,” ledek Reno.
“Mas …” rengek Alana sembari memukul bahu itu.
Reo pun tertawa.
****
“Qis, aku serahin semua ke kamu. Udah ga ada file lagi yang aku pegang. Soft copynya juga udah aku kasih ya,” kata Alana di ruangannya bersama Bilqis.
“Ya, oke,” jawab Bilqis malas.
“Kok ga semangat gitu sih?” tanya Alana melihat temannya yang tidak antusias dengan pekerjaan. Padahl biasanya Bilqis itu selalu semangat melewati hari kerjanya.
“Ck. Kamu sih kenapa resign? Jadi kan aku yang harus gantiin, karena katanya kamu referensi aku.”
Alana tertawa. “Ya udah sih ga apa-apa. Lagian Sir Alex baik kok.”
“Baik apaan? Marah-marah mulu gitu.”
“Sama aku ga pernah marah-marah,” sahut Alana.
“Ya, karena dia suka sama kamu. Kalau sama aku kan engga.”
“Dih, apaan sih. Ngga ada. Dia tuh bukan suka sama aku tapi menghargai aku karena Aurel dekat denganku.”
“Ya sama aja,” jawab Bilqis.
“Beda, Qis.”
Tok .. Tok … Tok …
Tiba-tiba ruangan itu diketuk dan muncul Pak Bimo.
“Qis, dipanggil Bos!” Pria itu langsung pergi setelah menmgeluarkan satu kalimat itu.
“Tuh kan aku dipanggil lagi. Tau ngga? Pagi ini aku udah dipanggil tiga kali.” Bilqis menunjukkan tiga jarinya.
“Fokus dong, Qis. Kamu kan seniorku di sini. Masa salah mulu.”
“Udah fokus, Al. tapi wajahnya dia tuh yang bikin aku ga fokus,” sahut Bilqis.
“Kenapa? Karena ganteng.”
“Mending. Karena horor. Bawaannya kaya mau makan orang.”
Alana langsung tertawa. Di kantor Alex memang terkenal dengan sikapnya yang seperti itu. Suka marah, banyak perintah, dan perfeksionis, membuat beberapa orang yang menjadi sekretarisnya hanya mampu bertahan dalam hitungan bulan, kecuali Alana.
Bilqis bangkit dan hendak meninggalkan Alana menuju ruangan Alex.
“Qis,” panggil Alana dan Bilqis pun langsung menoleh. “Yang penting kalau dia nyuruh apa aja, kamu iya in aja. Jangan bantah! Jangan nolak.”
“Termasuk kalau dia minta aku jadi temen tidurnya gitu?” tanya Bilqis dengan keluar dari tema percakapan.
“Ck. Itu sih kamu yang mesum.” Alana tertawa sembari melempar gumpalan tisu ke arah Bilqis.
Bilqis pun tertawa. Entah mengapa memang akhir-akhir ini pikirannya mesum. Saat menatap Alex pun demikian, sehingga ia menjadi tidak fokus dan terkadang lupa dengan apa yang diperintah Alex, membuat dirinya terkesan bodoh dan tidak becus bekerja. Padahal Bilqis salah satu karyawan handal di sana.
“Ayo, Qis! Fokus.” Bilqis memukul kepalanya sendiri saat berjalan menuju ruangan Alex.
“Fokus … Fokus … Fokus …lu ga bloon kok,” katanya pada dirinya sendiri. Lalu, berhenti tepat di depan pintu Alex. Ia menarik nafasnya panjang agar bisa berhadapan dengan pria itu.