
“Mas, maaf aku ga sempet bikin sarapan,” kata Alana saat Reno baru saja menghampirinya di dapur.
Reno sudah terlihat tampan dengan balutan kemeja panjang putih dan celana bahan berwarna berwarna biru tua.
Reno terenyum dan memeluk istrinya dari belakang. “Ya, tidak apa. Yang penting tidur kamu cukup.”
Alana yang sedang membuatkan kopi susu untuk sang suami dan susu cokelat untuk dirinya sendiri pun menoleh ke wajah pria yang sekarang benar-benar pengertian. Ia menangkup wajah Reno dan mencium rahang tegas itu. “Makasih.”
“Eum … walau pun akhirnya, semalam Mas belum mendapat amunisi.”
Alana tertawa. “Maaf. Habis semalam kita pulang terlalu larut.”
Kemarin, mereka memang cukup lama berada di rumah Bagas dan Asih. Alana juga cukup lama menunggu Reno yang sedang berbincang dengan Papinya mengenai perusahaan milik ayah mertuanya itu. Sepertinya, Reno memang akan bergabung di sana.
Dan, rencana Reno yang ingin bercinta setiap malam sebagai upaya untuk cepat mendapat momongan pun pupus, karena sepulang dari rumah Bagas, Alana malah langsung tertidur.
Reno menelusuri bahu dan leher Alana. “Tapi mulai nanti malam, tidak ada kata absen ya.”
Alana kembali tertawa sembari membalikkan tubuhnya dan memukul lembut wajah Reno. “Dasar Pemaksa.”
Alana menjauh dari Reno dengan membawa kedua cangkir yang ia buat tadi ke meja makan. Reno tersenyum dan mengikuti langkah sang istri.
“Hari ini, kamu mulai kerja di perusahaan Papi?” tanya Alana saat ia menggeser kursi.
Reno mengangguk. “Ya. Gimana? Mas udah keren belum?”
Reno berdiri tepat di hadapan Alana sembari menunjukkan gayanya. Alana tersenyum dengan menutup bibirnya.
“Eum … ga usah keren-keren, nanti di sana ada yang naksir lagi.”
Reno tertawa dan mendekati sang istri. “Kalau begitu, kamu jadi sekretaris Mas.”
“Terus Sir Alex? Penaltinya?” tanya Alana.
“Mas bayar. Bilang sama dia kalau kamu mengundurkan diri.”
Alana terdiam. Sejujurnya, ia masih ingin bertemu Aurel. Ia tidak ingin melupakan jasa gadis kecil itu yang telah membuat hari-harinya ceria disaat terpuruk.
“Tapi, lumayan loh Mas,” sahut Alana.
Reno menggeser kursi tepat di depan Alana. “Ya, mau bagaimana lagi? Mas ingin kita selalu bersama, dirumah atau pun di kantor.”
Alana menatap Reno sambil menopang dagunya. Ia berpikir. ‘Ya udah, nanti aku coba bicarakan dengan Sir Alex. Semoga beliau mengerti dan nominal penaltiku bisa dinegosiasi.”
Reno tersenyum menatap istrinya, setelah menyeruput kopi buatan Alana itu.
Tak lama kemudian, mereka pun berangkat bersama. Reno sengaja mengantarkan Alana ke kantornya terlebih dahulu.
“Loh, Mas kok lewat sini sih?” tanya Alana karena Reno melewati jalan yang tak seperti biasa.
“Kita sarapan bubur ayam di sini dulu yuk! Kata orang enak, apalagi kalau makannya sama mantan pacar.”
Wajah Alana merona. Sekarang, Reno memang sering menggombal dan membuat wajahnya memerah seperti kepiting rebus. “Ck. Gombal terus kamu Mas sekarang. Belajar dari siapa sih?”
“Papi.” Reno tertawa, Alana pun demikian.
Mereka pun mampir untuk sarapan pagi di tukang bubur ayam pinggir jalan. Alana dan Reno duduk di bawah tenda seadanya yang disediakan penjual bubur ayam itu.
“Sayang, kamu ga buru-buru kan?” tanya Reno saat membersihkan meja yang akan di duduki Alana.
“Terima kasih.” Alana tersenyum melihat aksi Reno dan menjawab pertanyaan suaminya tadi. “Ngga. Kebetulan lagi ga ada jadwal pertemuan pagi kok.”
Reno mengangguk. “Good. Kita bisa sarapan di sini dulu.”
Mereka menikmati makan di pinggir jalan, persis saat mereka pacaran dulu. Bercengkrama, canda dan tawa menghiasi aktifitas itu. Sikap Reno pun kembali seperti yang Alana kenal, begitu sayang dan penuh perhatian.
“Al, kapan pertemuan saya dengan perusahaan RJ?” tanya Alex dengan mata yang tertuju pada berkas yang Alana berikan untuk di tandatangani.
“Pukul satu, Sir. Setelah makan siang.”
Reno mengangguk. Lalu, menatap Alana usai membubuhkan tandatangannya di kertas itu. “Sepertinya saya tidak akan keburu menjemput Aurel les piano. Bisa saya minta tolong padamu?”
“Tentu, Sir.” Alana mengangguk. “Saya akan menjemput Aurel jam dua nanti.”
“Terima kasih, Al. kamu memang selalu bisa diandalkan.” Alex tersenyum dan mengembalikan kertas-kertas itu pada Alana kembali.
Alana ikut tersenyum dan mengangguk. Ia ingin bicara tentang pengunduran diri dan penalti itu pada Alex. Namun, bibirnya terasa berat.
“Sir,” panggil Alana saat ia sudah pamit dan hendak keluar dari ruangan itu.
“Ya.” Alex kembali menatap wajah Alana setelah sebelumnya sudah fokus di laptopnya.
“Eum … tidak jadi deh, Sir. Nanti saja.” kepala Alana menggeleng.
Alex tersenyum sembari mengernyitkan dahi. Ia menunggu Alana untuk bicara tapi wanita itu tidak bicara apa pu. Sejujurnya Alex juga ingin tahu perkembangan hubungan Alana dan suaminya. Namun, ia segan untuk menanyakan lebih dulu.
Alana kembali ke ruangannya. Saat berjalan di lorong, ia tengah berpikir untuk menyusun kata-kata saat bicara tentang pengunduran diri dan penalti itu pada Alex.
“Hei.” Tiba-tiba pundak Alana ditepuk dari belakang, membuatnya terkejut.
“Ya ampun, Qis. Bikin orang jantungan aja sih.”
Bilqis tertawa. “Lagian jalan nunduk terus, ampe ga liat ada aku di sini.”
“Sorry.”
“Mikirin apa? Mas Reno lagi?” tanya Bilqis yang mengikuti langkah Alana dari samping. Mereka jalan beriringan. Bilqis memang sengaja ingin menemui sahabatnya dan bertanya tentang Dewi, sososk yang ia lihat di layar televisi.
Alana menggeleng. “Ngga. Masalah aku sama Mas Reno sudah selesai. Alhamdulillah.”
“Eh, iya. By the way, aku ke sini juga pengen tanya tentang itu. aku lihat kabar asistennya Mas Reno di televisi. Itu bener dia, Al?”
Alana mengangguk. “Iya, Qis. Itu Mbak Dewi.”
“Astaghfirullohal’adzim. Tragis banget. Al. aku jadi merinding loh. Sumpah,” kata Bilqis sambil memeluk tubuhnya.
"Ya, aku juga nangis melihat kondisinya pas jenguk di rumah sakit. Tatapannya korong. Dia juga ga ngenalin siapa pun termasuk kakak-kakaknya."
Kedua wanita itu sampai di ruangan Alana. Bilqis duduk di depan meja kerja Alana. Sedangkan Alana menutup kembali pintu yang terbuka saat mereka masuk.
“Ya ampun, Al. serem banget sih. Aku bener-bener merinding loh. Ternyata, pembalasan itu dekat.”
Alana mengangguk. “Ya. Makanya kamu juga jangan menghujat ayahmu terus. Kita ga tahu, bagaimana keadaan dia di sana. mungkin beliau juga tidak baik-baik saja seperti yang kamu duga.”
“Ah, bodo amat. Dia yang meninggalkan kami. Kalau di sana dia sengsara, sukurin,” jawab Bilqis kesal.
“Qis, ga boleh gitu. Biar bagaimana pun beliau itu ayahmu dan yang akan jadi walimu nanti.”
“Wali? Emangnya aku mau nikah,” kata Bilqis tertawa.
“Ya, siapa tahu.”
“Ck. Dibilang, aku tuh ga mau nikah. Ga mau seperti ibuku. Ga mau juga galau seperti kamu kemarin.”
Alana terawa. “Nasib orang beda-beda, Qis. Siapa tahu kamu dapet pria yang akhlaknya baik, ga macem-macem. Terus bucin setengah.”
Bilqis tertawa. “Itu cuma ada di novel.”
Alana ikut tertawa. Sahabatnya itu benar-benar trauma akan pernikahan. Antipati pada kaum Adam dan menyamaratakan mereka.