
Hari mendekati kelahiran Alana pun tiba. Para orang tua sudah mewanti-wanti putri mereka jika perutya mulai sakit setiap lima menit sekali, itu artinya sudah terjadi kontraksi.
Reno selalu setia menemani istrinya di apartemen. Pria itu tak pernah meninggalkan Alana sendirian terlebih saat hari-hari menjelang perkiraan kelahiran sang buah hati tiba. Seperti hari ini, sebenarnya Reno ingin ikut dengan sang ayah untuk bertemu teman sang ayah yang merencanakan untuk membuka bisnis perjalanan di sini.
Bagas tampak sudah rapi. Asih dan Aminah pun terlihat sama. Kedua wanita itu hendak berbelanja ke supermarket. Mereka ikut bersama Bagas. Semabri menunggu Asih dan Aminah berbelanja, Bagas bertemu dengan temannya di coffe shop yag tak jauh dari supermarket itu.
“Mas, kamu tidak menemani Papi?” tanya Alana.
Reno menggeleng. “Tidak. Aku lebih baik menemanimu.”
“Kalau kamu menemani Papimu. Biar Nenek yang menemani Alana di sini,” ucap Aminah.
Bagas dan Asih hanya menatap putranya. Sebenarnya Bagas memang membutuhkan kehadiran sang putra, karena beberapa kali pertemuan, teman Bagas itu tertarik dengan penyampaian dan ide Reno.
“Kalau begitu, kamu pergi saja bersama Papimu. Mami akan menemani Bu Aminah dan Alana di sini.” Asih buka suara.
“Tidak usah, Asih. Persediaan makanan kita sudah habis. Biar kalian saja yang pergi,” jawab Aminah.
“Iya, begitu lebih baik,” sahut Alana.
“Tidak Nenek, Mami.” Reno menoleh ke arah Aminah dan Asih bergantian. “Reno tidak akan meninggalkan Alana. Lagi pula Om Jason juga mengerti ketidakhadiran Reno sekarang. Bukan begitu Pi?”
Kini, Reno menatap sang ayah. Bagas hanya tertawa. Kedua wanita paruh baya di sana memang repot. Kedua wanita itu selalu mengatur Alana dan Reno. Padahal ia tahu bahwa kedua orang yang akan menjadi orang tua itu sudah bisa mengatur hidupnya sendiri.
Bagas mengangguk. “Ya, tidak apa. Walau dengan kehadiranmu lebih baik.”
“Papi,” panggil Reno kesal karena sang ayah tidak mendukungnya.
“Ya sudah sana, Mas. Ikut Papi, gih.”
“Apa sih, Sayang. Ngga. Feeling aku mengatakan kamu akan melahirkan hari ini,” jawab Reno.
Alana tertawa. “Akhir-akhir ini kamu udah kaya paranormal tau. Apa-apa bilangnya feeling kamu terus.”
“Iya, emang,” jawab Reno pada istrinya.
“Kamu bilang feeling kamu, anak kita perempuan. Orang jelas-jelas di USG berkali-kali kalau anak kita itu laki-laki. Lagi pula kita sudah menyiapkan nama anak laki-laki.”
“Entahlah, itu kan feelingku aja, Sayang. Karena saat kamu hamil, kamu semakin cantk.”
“Uuuu …” Sorak Asih disertai Aminah dan Bagas hanya menyumbang senyum.
“Sudah, sudah. Kalau seperti ini kita tidak akan jadi berangkat. Ayo Mam!” ajak Bagas pada istrinya.
Asih pun bangkit dari sofa itu dan mengajak Aminah. “Ayo, Bu. Biarkan Reno di sini menemani istrinya."
Aminah mengangguk. "Baiklah.”
“Ren, kalau ada apa-apa segera hubungi Papi. Oke!” ucap Bagas yang langsung diangguki Reno. “Siap. Pi.”
Bagas keluar dari apartemen itu lebih dulu. Asih dan Aminah berpamitan pada pasangan suami istri itu.
“Sayang, Mami sama Nenek jalan dulu ya,” ucap Asih pada Alana sembari mengelus rambutnya.
“Iya, Mami. Makasih.” Alana mencium punggung tangan Asih, wanita paruh baya yang menyayanginya dengan tulus sejak ia kecil. Betapa beruntungnya Alana memiliki tetangga seperti Asih dan Bagas.
Reno bangkit dari sofa dan mengantarkan orang tua mereka keluar dari apartemen ini. Alana ikut bangkit dan mengikuti langkah Asih. Reno membuka pintu apartemen itu. Reno dan Alana melambaikan tangan pada mereka dan menutup kembali pintu itu.
“Sayang, tadi harusnya kamu duduk saja,” ucap Reno yang terlalu berlebihan memberi perhatian.
“Ngga apa-apa, Mas. Aku tuh udah keseringan duduk terus. Lagi pula kata dokter harus banyak bergerak supaya persalinannya lancar.”
Reno menuntun istrinya untuk kembali duduk di sofa. “Ya, tapi aku tidak tega melihat kamu banyak gerak gitu.”
Reno tersenyum. “Kalau itu beda, Sayang.”
“Ish, dasar!” Alana ikut tersenyum dan memukul lengan suaminya.
Reno pun tertawa.
Alana duduk di sofa dan melanjutkan merajut kaos kaki dan sarung tangan bayi yang sering ia lakukan sejak kehamilannya yang menginjak tujuh bulan. Alana sudah menghasilkan empat pasang sarung tangan dan kaos kaki bayi untuk putranya nanti agar tidak kedinginan.
Lalu, Reno ikut merebahkan kepalanya di paha sang istri dan mengelus perut besar itu. “Dek, nanti lahirnya jangan bikin Mama sakit ya. Kalau mau kelaur, keluar aja. Jangan pake drama.”
Reno berbicara sendiri pada bayi yang ada masih berada di dalam perut itu. Alana pun tersenyum. Reno memang sering melakukan itu. Saat Alana dilanda morning sickness, Reno sering berbincang pada bayi di dalam perut itu agar tidak membuat ibunya mual dan bisa memasukkan makanan ke perutnya. Dan itu berhasil, beberapa jam kemudian, Alana tidak lagi mual walau di pagi berikutnya akan tetap terjadi seperti itu. Tapi paling tidak, Alana tetap masuk makanan setiap harinya.
“Sayang,” panggil Reno pada istrinya.
“Hmm.” Alana menjawab dengan masih pada aktifitasnya.
“Mumpung lagi sepi nih. Sekali aja yuk!” Reno mengajak istrinya untuk bercinta.
“Ya ampun, Mas. Siang-siang begini loh.” Alana heran dan meletakkan rajutan itu pada meja kecil di ssampingnya.
“Memang kenapa kalau siang? Semakin hot kan?”
“Mas.” Alana geli melihat wajah mesum suaminya dan memukul lengan yang kian kekar lagi itu.
“Sekalian membuka jalan si dedek supaya lahirnya cepet,” sahut Reno.
“Alasan. Emang dasar kamunya aja yang mau.”
Reno tertawa. “Tapi kamu juga mau kan? Siapa yang selalu minta di atas.”
“Kamu,” jawab Alana.
“Dih, kok Mas sih. Ih, ga ngaku,” ledek Reno pada istrinya, membuat Alana malu.
Memang Alana megakui, sejak trimester ketiga ia justru yang lebih sering meminta untuk bercinta. Ia juga sangat menikmati aktifitas itu. walau mungkin orang yang akan melihat adegan itu akan kasihan dengannya karena wanita dengan perut besar tengah memimpin permainan, tapi bagi Alana itu tidak menyiksa dan membuatnya ketagihan.
“Mas,” rengek Alana membuat reno tertawa.
Reno mulai bangkit dari paha Alana dan menempel di samping tubuh ibu hamil itu. tangan Reno mulai memijat dua ada Alana yang sedang mengkal dan membulat.
“ASI nya sudah mulai keluar, Sayang?” tanya Reno.
Alana menggeleng. “Sepertinya belum.”
“Padahal Mas sering memberi treatment loh. Apa mau di treatment lagi?”
Alana memukul pelan wajah suaminya sembari tertawa. “Mau kamu.”
Reno ikut tertawa. “ih, aku kok salah terus sih, Yank. Ka emang semunya baik.”
“Ya, ya. Baik untukku, untuk calon bayi kita, terutama untuk ayahnya.”
Reno pun kembali tertawa.
Alana semakin bisa menimpali setiap perkataannya, membuat hubungan mereka tidak kaku dan seperti layaknya teman, teman yang saling membutuhkan, teman yang tidak pernah bisa jauh, dan teman yang selalu menemani dalam hidup, dalam suka dan duka.
Reno mulai melakukan aksinya. Dengan senang hati, Alana menerima sentuhan itu. memang ia akui bahwa sentuhan Reno membuatnya terlena. Walau semula ia tidak menginginkan, tapi jika sudah disentuh, maka ia akan lebih liar dibanding Reno. Dan reno menyukai itu. Reno semakin menyukai sang istri terlebih dengan kebin*lan Alana sekarang.
“Kamu tahu, kamu tambah cantik saat bergairah, Sayang.”
Reno tersenyum melihat mata Alana yang sayu akibat jari nakalnya pada daerah sensitif itu. Hal itu sungguh membuatnya sangat bergairah. Itu sebabnya ia semakin mesum pada sang istri.