
Reno meninggalkan kontrakan Dewi setelah wanita itu siuman dan memastikan seseorang telah menemaninya. Ia melirik jam di tangan kanannya, waktu menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh menit.
Reno menarik nafasnya kasar ketika melihat ponselnya yang kehabisan daya. Seharusnya ia bisa mengabarkan Alana. Istrinya di sana pasti sedang menunggu kabar. Untuk menelepon dokter saat Dewi pingsan pun, Reno menggunakan ponsel tetangga Dewi yang ikut membopong Dewi ketika pingsan di jalan.
Sesampainya di rumah, Reno segera memarkirkan mobil. Arah matanya tertuju pada bagian dalam rumah yang gelap. Biasanya Alana selalu menyalakan ruang tengah untuk menunggu kepulangannya. Namun, hal itu tidak dilakukan. Reno resah. Ia khwatir sang istri akan marah. Apalagi jika ia mengatakan jujur.
Ceklek
Reno membuka pintu rumahnya perlahan. Ia menyalakan lampu. Rumah itu tampak sunyi, sepi, dan tak berpenghuni.
“Al,” panggil Reno sembari berjalan ke dalam.
“Al.” Reno terus memanggil istrinya yang tak tampak di kamar, ruang tengah, dan dapur.
Dengan cepat, Reno mengambil alat pengisi daya. Lalu, mengaktifkan benda itu, setelah daya terisi beberapa persen. Di sana terlihat panggilan Alana puluhan kali sejak pukul tujuh. Alana kembali meneleponnya di pukul sepuluh.
Reno langsung panik. Ia pun segera menelepon Alana.
Tut … Tut … Tut …
Alana tak menjawab telepon itu. Di rumah sakit, Alana tampak kelelahan. Ia tak memegang ponsel lagi setelah tidak bisa menelepon Reno berkali-kali. Dan, saat ini ia tengah ketiduran di ruang perawatan sang nenek. Sementara, Tuti kembali pulang untuk memgambil beberapa pakaian majikannya yang akan dibawa ke rumah sakit lagi.
Aminah terkena demam berdarah. Wanita tua itu harus mendapatkan perawatan langsung dari rumah sakit dan saat ini ia tengah tertidur pulas di atas ranjang pasien.
Setelah berkali-kali tak mendapat jawaban dari Alana. Reno pun berinisiatis untuk menelepon rumah Aminah.
Tut … Tut … Tut ….
Reno masih gelisah menanti kabar keberadaan sang istri.
“Halo.” Tuti mengangkat panggilan telepon rumah itu.
“Bi, Tuti. Alana di sana?” tanya Reno tanpa basa basi.
“Ya ampun, Mas Reno. Dari tadi Mbak Alana telepon ga bisa-bisa.”
“Iya, Bi. Maaf hape saya lowbat. Alana dimana?”
“Rumah sakit mana?”
Tuti langsung memberi alamat dan ruang perawatan Aminah. Reno pun langsung menutup sambungan telepon itu dan kembali mengambil kunci mobil, lalu segera menuju ke alamat yang diberi Tuti.
Reno berkali-kali memukul setir kemudi. Ia kesal karena semua kejadian bersamaan. Jika Dewi tidak pingsan tepat di depan matanya, mungkin saat ini ia tengah menemani sang istri di rumah sakit.
Setelah melewati perjalana, Reno sampai di rumah sakit yang diinfokan Tuti. Ia memarkir asal mobilnya dan langsung menuju ruang perawatan Aminah.
“Iya, Pak. Ini ruang Anggrek,” sahut suster penjaga yang Reno tanyakan. “Kamar 110 ada di sebelah kanan.”
Reno mengangguk dan segera melangahkan kaki menuju arahan suster tadi. Ia membuka pintu itu perlahan hingga tak terdengar suara. Reno dapat bernafas lega ketika melihat sang istri terbaring meringkuk di sofa. Lalu, perlahan ia mendekati Alana.
Reno juga menengok ke arah Aminah yang sedang tertidur pulas. Sebelum mendekati Alana, ia sempatkan untuk memegang tangan Aminah. Tangan itu sudah tak lagi panas. Demm Aminah mereda saat diberi penanganan dari rumah sakit.
Kemudian, Reno berjongkok dan mengusap rambut Alana. Sungguh, ia merasa bersalah. Sebarushnya ia sudah disini sejak tadi.
Tidur Alana pun terusik. Ia meraskaan sentuhan tangan itu. “Mas.”
“Maafkan Mas, Al. Maaf ponsel Mas kehabisan daya dan Mas lupa membawa charger.”
Alana mengangguk. “Mas lembur?”
Reno terdiam sejenak. Ia tak mungkin mengatakan bahwa ia tertahan di kontrakan Dewi karena menolong wanita itu. Ia tak ingin Alana bertambah cemburu dan semakin posesif, sehingga ia harus berbohong.
Reno menganguk. “Iya.”
“Pas kamu telepon, Mas lagi ada di ruangan Pak Richar dan ponsel Mas tinggalkan di dalam laci. Mas ga ngeh kalau ponsel itu mati, sampai pekerjaan selesai dan pulang Mas baru liat ternyata hape Mas mati.” Awalnya Reno memberi penjelasan yang benar, tapi tidak diakhir ceritanya.
Alana kembali menganggukkan kepala. Semula ia kesal. Namun, setelah mendapat penjelasan dari Reno, ia pun mengerti. Ia tahu kesibukan sang suami, karena sekarang ia merasakannya. Terkadang memang pekerjaan datang mendadak. Di saat ingin segera pulang, ada saja pekerjaan yang masih tertinggal dan harus diselesaikan. Ia pernah merasakan itu, sehingga saat ini ia mengerti akan penjelasan sang suami tanpa curiga bahwa penjelasan itu ada sisi ketidakbenarannya.
“Tidak apa, Mas. Yang penting nenek sudah tertangani sekarang,” ucap Alana.
Reno langsung memeluk sang istri. Dalam hati, ia tak henti berkata maaf. Ini adalah permintaan maaf untuk kesekian kalinya dari Reno. Kesalahan demi kesalahan yang Reno lakukan tanpa ia sadari. Ya, memang Reno tidak selingkuh. Ia merasa tidak melakukan kesalahan besar, tetapi kesalahan kecil itu semakin lama semakin menumpuk dan besar. Entah apa yang Alana lakukan jika nanti kesalahan kecil itu terungkap.