Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Bonus Chapter 5



Alana baru saja membersihkan diri setelah melakukan ritual penyatuan dengan suaminya sesaat setelah para tetua pergi dari apartemen ini. Mereka pun melanjutkan aktifitas itu di kamar mandi. Reno terlihat sangat puas. Hal itu dapat terlihat dari wajahnya yang begitu ceria. Pria itu pun dengan telaten membersihkan tubuh sang istri setelah memanjakan dirinya. Reno pun memuaskan sang istri. Alana tampak menikmati setiap sentuhannya. Bahkan suara wanita itu terus melenguh akibat permainan Reno.


Alana berdiri di depan cermin. Ia melihat tubuhnya yang semakin montok dan membulat di depan juga di bagian belakangnya. Alana belum mengenakan pakaiannya. Ia baru hanya mengenakan pakaian d*l*m saja. Namun bukan memakai pakaian, ia malah terdiam sembari memperhatikan lekuk tubuhnya. Bagaimana Reno tidak terpancing gairahnya ketika melihat tubuh itu. Alana benar-benar berbeda sejak hamil. Dan hal itu sangat disukai Reno.


“Hei, kau belum memakai baju? Mau mas makan lagi?” tanya Reno yang tiba-tiba melingkarkan kedua tangannya dari belakang.


Reno baru saja selesai mandi dan keluar dari kamar mandi.


Alana menoleh dan tersenyum. “Memang dua ronde tidak cukup, Mas?”


Reno menggeleng. “Ngga tahu, sejak kamu hamil. Bawaannya, Mas kok ter*ngs*ng terus ya liat kamu.”


“Ish dasar!” Alana memukul pelan wajah suaminya, membuat Reno tertawa.


“Beneran, Sayang. Mas makin gemas dengan tubuh montok kamu.”


Alana membalikkan tubuhnya. “Mas, apa sih?”


Alana tertawa. Reno pun memeluk tubuh itu dengan senyum yang lebar disertai jejeran giginya yang terlihat rapi.


“Udah kamu pakai baju sana!” ucap Alana sembari menunjuk pada pakaian yag sudah ia siapkan untuk sang suami. “Nanti keburu Nenek, Mami, dan Papi datang.”


“Mereka pasti masih lama,” jawab Reno dengan meninggalkan sang istri dan menghampiri pakaiannya di sana.


“Kalau Mami, Papi, dan Nenek tidak di sini. Mas udah suruh kamu ga usah pakai baju. Seperti itu saja,” ucap Reno melihat sang istri yang masih hanya berbalut pakaian d*l*m.


“Ngga. Nanti aku masuk angin,” ujar Alana mencibir.


Reno pun tertawa. Lalu, Alana memakai dres selutut yang cukup longgar tanpa lengan.


“Mas, aku gangatkan makan siang yang dimasak nenek tadi ya,” ucap Alana sembari melewati suaminya yang masih memakai pakaian.


Reno mengangguk sembari meraih lengan istrinya dan mencium punggung tangan itu. “Iya, Sayang.”


Alana berjalan menuju dapur. Ia menghangatkan beberapa menu makanan yang sudah di masak Aminah dan Asih.


“Ah.”


Alana merasakan sesuatu yang aneh di perutnya. Ia menahan dengan berpegangan pada marmer dapur.


“Ssss ….”


Namun beberapa saat kemudian, rasa nyeri di perut itu pun hilang. Kemudian, Alana kembali melakukan aktifitasnya.


Beberapa menit lagi, nyeri itu kembali datang. “Oh, Sayang. Apa kamu sudah mau melihat dunia?” tanya Alana pada dirinya sendiri sembari mengelus perut itu.


Reno pun keluar dari kamar. Ia melihat istrinya sedang berpegangan pada marmer dapur.


“Sayang, kamu kenapa?” tanyanya panik sembari memegang tubuh Alana.


“Tidak apa. Hanya nyeri sedikit.”


“Apa dia akan lahir?” tanya Reno panik sembari mengelus perut besar istrinya.


“Entahlah. Tapi sakitnya hilang timbul,” jawab Alana.


“Coba di cek, apa sudah ada bercak di sini!” Reno sangat faham tentang prosesi melahirkan. Ia banyak membaca dan banyak mencari tahu dari Asih dan Aminah tentang itu.


Dengan cepat, Reno membuka kain yang membungkus bagian sensitif itu. “Iya, Sayang. Sudah ada bercak di sini. Ayo kita ke rumah sakit!”


“Belum, Mas. Sakitnya belum terasa banget kok.”


“Sudah, Sayang. Ini sudah saatnya. Sudah ada bercaknya di sana!”


Reno bergegas ke kamar dan mengambil tas yang sudah berisi pakaian bersalin untuk istrinya. Ia memang sudah menyiapkan semua ini beberapa hari lalu.


“Ayo, Sayang! Kita ke rumah sakit.”


“Belum, Mas.” Alana masih ngeyel. Ia masih merasa sakit diperutnya belum seperti orang yang akan melahirkan.


“Tapi kalau kita sudah sampai rumah sakit, penanganannya akan lebih cepat. Mas ga mau diam di sini. Ayo!”


Reno menuntun Alana yang bergerak lambat hingga sampai di basement. Dengan telaten, ia juga membuka pintu mobil dan memasukkan Alana ke dalam dengan hati-hati.


“Hati-hati, Sayang!” ucap Reno sembari meletakkan tangannya di atas kepala Alana agar kepala wanita itu tidak terbentur ujung atas pintu mobil.


“Terima kasih, Mas.” Alana tersenyum mendapat perlakuan istimewa itu.


“Sama-sama.” Reno pun tersenyum dan mengacak-ngacak rambut istrinya, membuat Alana kembali tersenyum manis.


Lalu, Reno memberi pesan pada sang ayah. “Papi, aku dan Alana ke rumah sakit xxx. Alana akan melahirkan.”


“Aku belum melahirkan, Mas. Nanti mereka cemas,” ucap Alana yang melihat Reno mengirim pesan dan membaca pesan itu sebelum terkirim.


“Biar saja, biar mereka lansung ke rumah sakit,” jawab Reno, lalu menyalakan mesin mobil dan menjalankannya.


Di dalam mobil, Alana kembali meringis. Reno pun langsung menoleh dan menggenggam tangan itu.


“Tuh kan bener, perut kamu mulai sakit lagi.”


Alana mengangguk. “Iya, Mas. Kok sakit lagi ya.”


“Ngeyel sih,” ucap Reno kesal.


Reno langsung menancapkan gas dan melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit terdekat, tempat mereka biasa melakukan pemeriksaan.


Benar saja, setibanya di rumah sakit, sakit perut Alana semakin menjadi. Wanita itu pun tampak kesakitan dan raut wajahnya berubah.


“Sayang, kamu bisa.” Reno terus menyemangati istrinya. tangan Reno terus menggenggam tangan Alana yang kini sedang berbaring di ranjang pasien.


Setibanya di rumah sakit, Alana langsung mendapat perawatan khusus. Menurut dokter, Alana masih berada di pembukaan empat. Jika sudah memasuki pembukaan sepuluh, maka ia akan dipindahkan ke ruang persalinan.


“Mas, sakit!” ucap Alana lirih saat perutnya terasa diremas-remas.


“Sebentar, aku panggilkan suster.” Reno menekan bel yang berada di samping Alana.


Petugas datang dan memeriksa Alana. Namun, Alana masih dengan pembukaan yang sama. Mereka pun kembali diminta untuk menunggu.


“Sabar ya, Sayang. Kita harus menunggu pembukaan sepuluh,” ucap Reno yang diangguki Alana. “Taid kamu belum sempat makan. Sambil menunggu, Mas belikan makanan supaya kamu kuat saat melahirkan nanti. Oke!”


Alana belum menjawab, Reno langsung melesat pergi untuk membeli makanan di lobby. Reno langsung membeli makanan yang biasa di sukai istrinya. namun, saat ia berdiri di kasir namanya pun dipanggil melalui pengeras suara.


“Kepada Tuan Reno, diharapkan ke ruang bersalin karena istrinya akan segera melahirkan.”


“Alana …” Reno terkejut dan langsung berlari menuju ruang bersalin.


Setibanya di ruang bersalin, justru ia sudah melihat seorang dokter mengangkat bayi mungil yang ternyata adalah seorang perempuan.


“Sayang, Maaf.” Reno menghanmpiri istrinya dengan menjatuhkan makanan ang ia pegang.


Reno menciumi seluruh wajah sang istri. Sedangkan Alana hanya tersenyum.


“Kamu beli makanannya kelamaan, Mas,”: ucap Alana lirih.


“Maaf, Sayang. Maaf.” Reno kembali menghujani wajah Alana dengan ciuman. Wanita itu hanya tersenyum.


“Pak, ini putri bapak,” ujar seorang wanita yang menggendong bayi cantik yang masih berlumur darah itu.


“Sayang, bayi kita perempuan?” tanya Reno senang dengan mata berbinar.


Alana mengangguk. “Ya, ternyata feeling kamu benar, Mas.”


“MasyaaAllah …” Reno menangis dengan tangan gemetar menerima bayi mungil dari tangan dokter itu untuk ia adzankan.


“Oeek … Oeekk … Oeekk …” Bayi itu pun menangis setelah merasakan hempasan udara dari udara berbeda sebelum ia dilahirkan.


Di laur sana, para tetua heboh mencari letak ruang bersalin. Aminah, Asih, dan Bagas sama-sama mencari ruangan itu hingga berlarian ke sana ke mari.


“Bu Aminah, salah! Belok sini!” ucap Asih pada wanita tua yang sepuh itu.


“Oh, salah ya! Lali aku,”kata Aminah yang kemudian mengikuti jejak kaki Asih dan Asih mengikuti jejak kaki suaminya.