
Pagi ini, Reno malas sekali untuk berangkat kerja. Sudah pukul sembilan, tapi ia masih belum beranjak dari tempat tidur. Ia masih tengkurap di atas bantal. Padahal biasanya jam segini, Reno sudah rapi, bahkan sudah berangkat.
Ting … Tong
Seseorang menekan bel rumah itu dari luar. Reno tak bergeming. Ia mengabaikan bunyi itu.
Ting … Tong
Suara bel itu terus berbunyi. Belum lagi suara deringan teleponnya. Semua bunyi itu terdengar bertubi-tubi.
Akhirnya, Reno pun bangun. Sejak semalam ia tak bisa tidur. Kantung mata Reno terlihat jelas. Untuk menenangkan diri, ia gunakan sholat malam hingga berlanjut subuh. Dan, setelah subuh ia baru bisa memejamkan hati. Itu pun setelah hatinya tenang karena memasrahkan urusannya pada sang khalik.
Reno tidak melihat ponselnya. Ia berjalan ke arah pintu utama dengan menggunakankaos singlet berwarna putih dan celana training abu tua.
Reno membuka pintu itu. Di depannya tampak berdiri seorang wanita yang sedang Reno hindari.
“Ngapain kamu?” tanyanya sinis.
“Ren, aku tahu kamu belum sarapan. Aku bawa makanan untukmu.”
Reno menatap Dewi bergantian ke arah makanan yang wanita itu bawa. “Seandainya kamu menganggap hubungan kita adalah teman, mungkin aku akan menerima tawaran ini. Tapi karena kamu tidak menganggap seperti itu, jadi aku putuskan untuk tidak lagi menerima apa pun dari kamu.”
Setelah mengungkan perkataan itu, Reno pun hendak menutup kembali pintu itu. Namun dengan cepat Dewi menahan.
“Ren, dengarkan aku dulu.”
“Tidak ada yang harus aku dengar. Hubungan kita tidak akan sama seprti dulu. Kamu yang merusaknya dan kamu merusak pernikahanku,” ucap Reno.
“Alana tidak pantas untukmu,” sahut Dewi.
“Lalu siapa yang pantas? Kamu?” tanya Reno dengan menatap Dewi dari ujung kaki hingga kepala. “Orang baik tidak akan mengatakan dirinya baik. Aku menyesal pernah mengagumimu dulu, Wi.”
Brak
Dewi pun keluar dari gerbang yang lupa Reno gembok semalam. Untung saja komplek itu aman karena tamu yang masuk harus menyerahkan identitas dan akan dikembalikan saat pulang.
Di Bali, Alana dan Alex langsung mengerjakan pekerjaannya. Kemarin, mereka sampai setelah maghrib. Sesampainya di hotel, mereka pun langsung makan malam dan membersihkan diri. Aurel meminta tidur di kamar Alana, padahal Alex sudah memesan dua kamar. Satu untuknya, satu untuk Alana, dan satu lagi untuk Aurel bersama pengasuhnya. Tapi Aurel memilih tidur bersama Alana. Walau Alex mencoba menjelaskan untuk tidak melakukan hal itu, tetap saja keinginan Aurel tidak bisa dibantah dan Alana pun tidak bisa menolak.
“Al, Maaf ya Aurel merepotkanmu,” ucap Alex di sela sela kegiatan pekerjaan mereka.
Kini Alex dan Alana sedang berada di dalam gedung pertemuan. Di depan Alana terdapat laptop untuk menulis setiap informasi yang disampaikan pada pertemuan ini. Sedangkan Alex memegang tablet dengan merk apel separuh keluaran terbaru.
Alana yang semula terfokus pada laptopnya pun menoleh ke arah Alex dan menggeleng. “Tidak, Sir. Sama sekali tidak merepotkan. Aurel anak yang lucu. Saya terhibur kalau dekat dengan dia.”
Alex tersenyum. “Baguslah kalau begitu. Saya kira kehadiran Aurel membuatmu tidak bisa tidur.”
“Kami memang bercerita, tapi tiba-tiba dia tidak bersuara pas saya yang bercerita. Putri anda memang benar-benar lucu, Sir.” Alana tertawa sembari menceritakan kelakuan Aurel semalam.
Untungnya acara belum dimulai, sehingga Alex dan Alana masih bisa bercengkerama sejenak. Alex benar-benar profesional. Ia tidak melibatkan urusan pribadi ke dalam pekerjaan. Begitu pun dengan Alana, ia sangat profesional. Ia tidak melibatkan urusan pribadinya yang sedang berantakan ke dalam pekerjaannya. Dan, hal itu yang membuat Alex senang, padahal Alex tahu bahwa sang sekretaris sedang ada masalah dengan suaminya.
Di rumah, Reno baru selesai mandi pukul sepuluh. Ia membuka lemari dan mencari pakaian untuk ke kantor. Isi di dalam lemari itu tampak berantakan, karena sejak ditinggal Alana, pria itu mengambilnya asal dan saat Reno mengambil pada tumpukan baju ditengah, tumpukan yang atas pun terjatuh, lalu ia menaruhnya kembali dalam keadaan pakaian yang tidak lagi terlipat rapi.
Kamar itu pun berantakan. Rumah ini sudah berantakan sejak ruang tamu, kamar hingga dapur. pakaian kotor Reno pun tercecer dimana-mana. Tapi, Reno tetap cuek. Pria itu tidak berinisiatif untuk membereskan kekacauan rumah ini.
Saat lemari itu masih terbuka, mata reno tertuju pada pakaian kerja yang Alana berikan saat ia ulang tahun. Pakaian itu tergantung sempurna. Reno memang jarang memakainya karena menurutnya kemeja itu terlalu bagus. Alana memang selalu membelikan Reno barang-barang yang bagus dan mahal, toh uang itu pun dari Reno.
Lalu, Reno pun teringat dasi mahal yang Alana berikan saat aniversary ketiga tahun. Tepatnya delapan bulan sebelum prahara ini mencuat. Kala itu mereka melakukan second honeymoon di Korea, karena Alana ingin ke tempat wisata romantis yang lagi hits di sana, tepatnya di Namsan tower, lokasi gembok cinta populer di Korea.
Reno sengaja menyimpan dasi mahal itu pada tempatnya di dalam laci lemar. Ia ingat betul terakhir ia meletakkannya di sana. Kemudian, Reno membuka laci itu dan alangkah terkejutnya saat cincin beserta tiga ATM yang ia serahkan untuk sang istri tergelatak di sana.
Perasaan Reno saat ini sulit diartikan. Ia semakin kalut dan tidak mood untuk berangkat kerja.
“Maksud kamu apa, Al? Kamu benar-benar ingin meninggalkanku?” tanya Rno sambil memegang cincin itu.
Sepertinya, Reno akan mengambil cuti dan mencari keberadaan sang istri di Bali. Ia akan meluruskan semuanya, memperbaiki keadaan dan menjemput Alana.