Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Hanya ingin kamu



Alana menunggu di luar ruang perawatan itu. Ia tidak diizinkan untuk masuk. Menurut Bagas, Reno masih tak sadarkan diri. Tapi hati Alana mengatakan bahwa Reno sudah sadar.


Di dalam sana, Reno memang sudah sadar. Pria itu sadar setelah adzan subuh berkumandang. Ia juga baru sadar bahwa kedua kakinya tak bisa lagi digerakkan.


Ketika Asih menanyakan Alana, pria itu masih menutupi prahara yang terjadi dengan mengatakan bahwa Alana sedang dinas keluar kota. Reno melarang sang ibu untuk menghubungi Alana agar wanita itu tidak panik. Padahal ada maksud lain dari itu. Reno tidak ingin Alana melihat kondisinya yang seperti ini. Ia merasa dirinya cacat, tidak bisa lagi berjalan dan menggunakan kursi roda sebagai alat bantu. Sedangkan diluar sana ada Alex, pria tampan nan sempurna yang jauh dari dirinya.


“Ren, Alana menunggumu diluar sejak sore.” Asih melihat jam di dinding.


Malam ini, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan. Aminah sudah pulang bersama Bagas. Sedangkan Alana, masih duduk di ruang tunggu itu.


“Aku tidak bertemu Alana, Mi. Aku belum siap.”


“Tapi dia harus ingin melihatmu, Sayang. Dia pasti khawatir padamu. Mami bisa lihat dari raut wajahnya.”


Reno diam. Ia terbaring lemah di atas tempat tidur dengan kaki yang diselimuti selimut yang sediakan rumah sakit. Tidak ada luka serius di bagian lain. Hanya pada kedua kakinya yang saat itu terjepit. Dahi Reno juga terluka karena benturan stir. Namun, lukanya tidak seberapa. Setelah di scan kepala, tidak ada yang serius akibat benturan itu.


Pria itu kembali menggeleng. “Reno belum siap, Mi. Suruh dia pulang.”


Ucapan Reno terdengar lirih. Padahal ia sangat merindukan wanita itu. ingin sekali ia memeluknya. Namun, ia tidak ingin memberi harapan pada Alana. Wanita itu berhak untuk bahagia. Bukan dengannya, mungki dengan pria lain yang ingin menjadikannya seorang ibu sambung.


Asih tidak berani keluar. Ia tidak tega melihat Alana yang masih menunggu di sana. Wanita itu tampak tertidur duduk, menunggu Reno siuman dan dibolehkan untuk bertemu.


Asih kembali melihat Reno dengan tatapan mengarah pada jendela ruang perawatan yang terbuka.


“Ren,” panggil Asih dengan memegang pundak putranya.


Reno menangis. “Reno ingin pisah dari Alana, Mi.”


“Kenapa?”


“Alana cantik dan sempurna. Sedangkan keadaan Reno sekarang seperti ini. Reno tidak bisa lagi menjadi pedampingnya.”


“Sssttt … Sayang, jangan bilang seperti itu!” Asih menutup bibir Reno. “Kamu belum tahu bagaimana sikapnya. Karena kamu belum mengizinkannya masuk.”


“Dia pasti tidak menerimaku, Mi. Pasti tidak. Dan, Reno harus ikhlas.”


Asih menatap putranya sedih. Ia pun menangis.


Di luar sana, Alana duduk menunggu hingga adzan subuh terdengar jelas dari lantai lima itu. Alana beranjak dari kursi yang sejak semalam ia duduki. Pinggangnya terasa pegal. Asih tidak terlihat keluar dari ruangan itu hingga ia tertidur. Semua bungkam, termasuk Aminah. Ia dibiarkan menunggu sendiri tanpa kejelasan kabar bagaimana keadaan Reno di sana. Suster yang melintas pun tidak berkata apa-apa.


Alana hanya bisa berdoa dan menunggu.


Ceklek


Akhirnya pintu ruangan itu terbuka. Asih datang menghampiri Alana dan membawakan roti serta susu.


“Al, kenapa masih di sini? Pulanglah,” ucap Asih.


Alana menggeleng. “Al ga akan pulang sebelum bertemu Mas Reno. Mas Reno sudah siuman kan, Mi? tapi kenapa dia tidak ingin bertemu Alana?”


“Reno masih syok dengan kecelakaan ini, Al. Dia ingin sendiri dulu.”


“Tidak, Mami. Alana tidak akan tenang sebelum bertemu Mas Reno. Al ingin melihat keadaannya.”


Asih semakin tidak tega. Wanita paruh baya itu pun mengajak Alana masuk. Alana berdiri menatap Reno sejak pintu itu terbuka. Arah mata Reno masih berada di jendela besar itu. Jendela yang kini menampilkan awan putih cerah dengan pancaran matahari yang baru bersinar.


“Mas,” panggil Alana membuat kepala Reno bergerak dan menoleh ke sumber suara itu.


“Mami.” Reno hendak memarahi sang ibu yang mengajak istrinya masuk.


“Mas, Jangan salahkan Mami. Aku yang memakasanya untuk masuk.”


Alana mengambil kursi dan duduk di samping Reno yang masih mengalihkan pandangannya. Asih pun sengaja keluar untuk memberi ruang pada pasangan suami istri itu. saat di luar ruangan ia bertemu dengan suaminya dan sengaja mengajak Bagas untuk tidak masuk ke ruangan itu.


Alana dan Reno belum bersuara. Mereka terdiam sejenak hingga wajah Reno mengarah pada Alana. Kedua mata mereka pun bertemu dan saling bertatapan. Dalam hati, Reno ingin sekali memeluk Alana. Dalam hati Alana pun demikian.


“Mana kertas yang kemarin.” Reno langsung memotong kata yang ingin Alana ucapkan.


“Kertas apa?”


“Gugatan cerai itu. Aku akan menandataganinya,” jawab Reno.


Alana mengernyitkan dahi. “Bukankah prahara kita sudah selesai? Kita akan memulainya lagi dari awal.”


Reno tersenyum datar. “Sekarang kondisinya berbeda, Al. Aku bukan lagi pria sempurna. Dan, aku tidak bisa menjadi suami sempurnamu.”


Alana menangis dan menggeleng.


“Aku lumpuh, Al. Dan, aku tidak tahu kapan aku akan sembuh. Mungkin butuh waktu yang panjang. Dan, aku tidak ingin kamu lelah mengurusku.”


Alana terus menangis.


“Alex pria sempurna yang pantas mendampingimu. Aku mengikhlaskanmu dengannya.”


“Mas,” penggil Alana lirih dengan deraian airmata.


“Pulanglah, Al. Aku tidak ingin dikasihani,” ucap Reno terus menerus.


Alana mengusap air matanya. Ia tak menyangka cara berpikir Reno sedangkal itu. Apa pria itu baru mengenalnya? Apa Alana tega meninggalkan pria yang dicintainya terlebih dengan kondisi yang seperti ini?


“Kamu masih belum bisa mengenalku. Apa menurutmu aku akan meninggalkanmu disaat seperti ini?” Alana menatap tajam suaminya. “Seperti apa pun kamu, aku tetap mencintaimu Mas. Aku memilihmu walau dalam keadaan apa pun.”


Seketika bulir air di mata Reno pun mengalir.


“Kata cinta itu memang selalu terdengar dari mulutmu. Tapi bukan berarti aku tidak memiliki perasaan yang sama.” Alana mengusap cairan yang hendak mengalir dari hidungnya karena tangisan itu. “Kamu pria yang aku pilih sejak pertama, Mas. Dan akan tetap menjadi yang terakhir.”


“Al,” panggil Reno lirih dan membentangkan kedua tangannya.


Alana pun langsung menubruk dada itu dan memeluknya erat.


“Aku cinta kamu, Mas. Aku cinta kamu. Aku ingin selalu sama sama kamu.”


“Mas juga, Al. Mas yang lebih mencintaimu, hingga terkadang Mas tidak tahu bagaimana cara mencintai. Mas hanya ingin kamu, butuh kamu.”


Keduanya menangis. Alana terisak, begitu pun Reno. Alana menyatukan keningnya pada kening Reno. Ia menunduk hingga airmata mereka menetes menajdi satu.


“Jangan pernah bilang ingin menandatangani surat itu!” ucap Alana sedih.


“Memang siapa yang menghadirkan surat itu?” tanya Reno meledek.


“Tapi aku sudah merobeknya.”


“Jadi, Mas tidak bisa menandatanganinya dong?” tanya Reno lagi.


“Ish.” Alana menjauhi wajahnya dan memukul dada Reno.


Reno tertawa, lalu menarik tubuh istrinya lagi untuk dipeluk. Alana menatap wajah suaminya dan tertawa.


“Kamu mau menerima Mas yang seperti ini?” tanya Reno.


Alana mengangguk. “Kamu pasti sembuh, Mas. Aku akan menemanimu berobat kemana pun.”


Bibir Reno tersenyum lebar. Lalu, ia kembali memeluk erat tubuh itu. Ternyata, sebesar itu cinta Alana untuknya. Sama seperti dirinya yang begitu besar mencintai Alana. Wanita yang ia nikahi empat tahun silam dengan satu tahun terakhir penuh gejolak dan pengalaman berharga.


Reno membayangkan saat pertama kali mengikrarkan nama Alana di hadapan penghulu dan para saksi. Ia juga dengan lantang menegaskan bahwa akan menggauli dan memperlakukan istrinya dengan baik. Tidak menyakiti dan tidak menelantarkan.


Tubuh Alana ikut masuk ke dalam ranjang pasien tempat suaminya terbaring. Ia memeluk Reno erat. Kedua tangan Reno pun menangkup tubuh itu dan mencium lembut keningnya.


Benar, ketika pasrah semua jadi mudah. Dan, ketika ikhlas, tidak ada yang bias. Semua indah pada waktunya.