
Alana meringis merasakan kakinya yang sakit dan membengkak akibat terkilir.
“Sebentar, Sayang. Sedikit lagi sampai rumah sakit. Kebetulan Om Ilyas dokter ortopedi dan bertugas di rumah sakit xxx,” ucap Reno sembari menoleh ke arah istrinya, lalu kembali fokus menyetir.
Alana pun menatap wajah sang suami saat bicara dan ia hanya mengangguk.
“Sabar ya!” Reno menggenggam tangan Alana.
Alana kembali melihat ke arah tangan Reno yang menggenggam tangannya, lalu melihat ke arah Reno yang sedang fokus menyetir. Reno pun sadar akan tatapan itu, membuat ia menoleh dan pandangan mereka bertemu.
Reno tersenyum. Dan, Alana melakukan yang sama.
Sesampainya di rumah sakit, Reno dengan sigap meminta bantuan petugas untuk membawakan kursi roda. Lalu, pria itu membopong Alana dari dalam mobil hingga didudukkan ke kursi roda. Ia juga yang mendorong kursi itu ke dalam ruangan dokter.
Jika melihat kepanikan dan apa yang dilakukan Reno saat ini, Alana sangat menyayangi pria itu, karena kasih sayang yang Reno berikan sampai ke hatinya.
“Gimana keadaan istri Reno, Om?” tanya Reno pada sepupu ayahnya.
“Ada peregangan antara otot dan bagian tendon. Bagian tendon itu jaringan ikat yang menghubung otot dengan tulang. Jadilah peradangan dan bengkak,” jawab Om Ilyas sembari memberikan isyarat pada suster pendampingnya untuk memberikan tindakan ke pasien.
“Aww ….” Alana sedikit terperanjat saat Ilyas meraba kaki itu.
Dan, Reno mengelus kepala Alana untuk menenangkan. Pria itu berdiri tepat di samping Alana yang sedang terbaring di tempat tidur pemeriksaan.
“Ini, Om resepkan obat untuk penghilang nyeri, serta ada obat luar yang dioleskan,” ucap Ilyas sambil melilitkan punggung kaki kanan Alana dengan perban elastis.
“Sementara tidak boleh aktifitas tiga sampai lima hari. Dan, biasanya bengkak pun akan hilang selama itu,” kata Ilyas lagi.
Lalu, Ilyas menoleh ke arah Alana. “Kamu sekarang kerja, Al?”
Alana mengangguk. “Iya, Om.”
“Kalau begitu, Om akan berikan surat dokter selama lima hari.”
Alaa kembali mengangguk. Begitu pun dengan Reno.
Setelah Alana mendapat penanganan dan berbincang sebentar oleh Ilyas, mereka pun pamit. Reno kembali menggendong Alana dari tempat tidur pemeriksaan itu ke kursi roda yang sudah disiapkan suster.
“Biar saya saja yang dorong, Sus.” Reno menggantikan suster muda yang hendak mendorong Alana keluar dari ruangan Ilyas menuju parkiran.
Melihat pemandangan itu, Ilyas pun tersenyum dan menepuk bahu Reno. “Kamu benar-benar suami siaga, Ren.”
Alana yang mendengar perkataan Ilyas, ikut tersenyum.
Lalu, Ilyas mengantar Reno dan Alana hingga sampai di depan pintu ruangannya. “Lekas sembuh, Al.”
“Terima kasih, Om.” Alana tersenyum dan mengangguk.
Lalu, Alana mengangkat kepalanya untuk melihat wajah sang suami. “Makasih, Mas.”
Reno menunduk dan membalas senyum itu. “Sama-sama.” Tangan kanan Reno mengelus pipi itu.
Alana yakin bahwa tidak ada nama Dewi dihati suaminya. Dewi hanya wanita yang menginginkan suaminya, tetapi suaminya tidak. Cinta Dewi bertepuk sebelah tangan sejak SMA, karena ia yakin bahwa ia adalah cinta pertama dan terakhir untuk Reno. Dan, itu memang benar.
Reno membawa Alana ke rumah minimalis mereka. Alana juga mengabarkan pada Alex tentang sakitnya dan mengirim surat izin itu melalui whatsapp.
“It’s oke, Al. istirahat ya. Get well soon.”
Alana tersenyum saat Alex langsung membalas pesannya. Ia pun mengetik pesan balasan pada Alex.
“Thank you, Sir.”
Alana menyertakan emot senyum di sana, membuat Alex pun ikut tersenyum saat membaca balasan itu.
Reno yang sedang menyetir pun menoleh aktifitas sang istri. Ia melihat Alana yang tengah tersenyum sembari memegang ponselnya.
“Chat sama siapa?” tanya Reno.
“Jadi yang menggendongmu itu, bos kamu?”
Alana mengangguk. “Iya.”
“Dia sudah berkeluarga kan?”
Alana kembali mengangguk. “Sudah.”
“Tapi mengapa dia menggendongmu?” tanya Reno kesal.
“Karena dia menolong stafnya. Sama seperti Mas Reno yang memapah Dewi saat kakinya keserimpat pas lagi mau keluar restoran.”
Reno mengernyitkan dahi sembari menatap mata Alana lalu bepindah ke jalan.
Reno terdiam. Ia mencoba mengingat kejadian dan Restoran yang Alana katakan tadi. Lalu, ia kembali menoleh ke Alana. “Kapan? Di reastoran mana?”
“Ck, ga penting Mas. Lupain aja. Aku juga udah lupa kok,” jawab Alana bohong.
Reno kembali menoleh ke arah istrinya yang tak lagi menatapnya. Alana beralih dengan melihat ke depan atau jendela. Ia benar-benar tidak ingat kejadian itu, karena baginya kedekatannya dengan Dewi memang tidak spesial, jadi ia tidak ingat kapan dan dimana peristiwa yang Alana sebutkan.
****
Sejak pulang dari rumah sakit, Alana tak beranjak dari tempat tidurnya. Ia hanya berada di dalam kamar. Untuk makam malam saja, Reno yang menyiapkan. Bahkan Reno membawa makan malam itu ke dalam kamar dan meletakkannya di atas tempat tidur.
“Ayo, Al. kita makan dulu! Setelah itu kamu minum obat pereda nyeri.”
Alana mengangguk. “Iya.”
Reno memang tidak memasak yang spesial. Ia hanya membuat mie rebus olahan sendiri, karena ia tidak menyukai makanan mengandung msg dan terlalu gurih.
"Mie tek tek buatanmu memang paling enak, Mas,” ucap Alana jujur.
Sejak dulu, Reno memang sering membuatkan makanan ini untuk Alana dan kebetulan Alana memang sangat menyukainya.
Reno tersenyum. “Iya dong. Kan dibikinnya spesial pakai cinta.”
Alana mencibir. Reno seolah ingin mengembalikan keadaan yang sempat dingin. Walau akhirnya, keadaan kembali canggung dan mereka sama-sama diam. Hanya terdengar bunyi pantulan sendok dan suara kunyahan mereka yang terdengar halus.
“Hmm … Kamu dan bosmu juga sering makan siang diluar?” tanya Reno.
Alana menggeleng. “Ngga. Baru hari ini. Itu pun karena asisten pribadi Sir Alex sedang sakit.”
“Oh.” Reno dapat bernafas lega.
Seperti buah simalakama. Sebenarnya, Reno ingin sekali marah dan cemburu, tapi karena ia melarang istrinya melakukan itu padanya, sehingga ia pun berusaha untuk meredam rasa itu.
Reno melirik ke arah Alana yang dengan lahap memakan mie buatannya. Jarak antara mereka sangat dekat. Reno duduk di tepi tempat tidur tepat di depan Alana yang sedang duduk bersandar di dinding ranjang.
Tanpa Alana sadari kuah mie itu menjulur dari sudut bibir bawahnya dan menets hingga dagu. Lalu, dengan cepat Reno memajukan wajahnya dan menjilat sudut bibir itu hingga ke dagunya, membuat Alana mematung.
“Kebiasaan. Pasti kalau makan makanan yang berkuah seperti ini,” kata Reno tersenyum sembari mengusap sisa salivanya di dagu itu.
Reno memang kerap melakukan hal ini. Dan, Alana pun tersenyum lebar sembari melirik ke arah pria yang masih mengusap lembut dagunya.
“Jangan modus!”
Reno tertawa. “Sudah lama, Mas ga modusin kamu.”
“Tapi aku lagi sakit.”
“Kakinya kan yang sakit. Bagian yang lain ngga.”
Alana kembali mengerucutkan bibir dan Reno pun tertawa. Reno juga tidak membahas lagi tentang Alex. Baginya hubungan Alex dan sang istri memang hanya rekan kerja seperti hubungannya dengan Dewi. Reno sangat percaya pada istrinya.
Reno memang selalu bisa mengembalikan keadaan bila dirinya kesal. Sebenarnya, ia masih kesal dengan perkataan Reno yang memuji Dewi. Ia juga masih kesal atas kebohongan itu, tapi sikap Reno hari ini kembali meluluhkan kekesalan itu.