Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Harus egois



Setelah mengetikkan pesan pada Dewi, Alana mengajak suaminya untuk makan malam. Ia masih belum membahas tentang pesan itu.


Setelah makan malam, mereka menonton sebentar lalu beranjak ke kamar untuk tidur.


Reno sudah berada di atas tempat tidur sambil meluruskan kakinya dan duduk menyandar di dinding ranjang.


Saat Alana sudah di sebelah Reno dan menarik selimut, Reno pun meletakkan ponselnya di meja kecil yang berada tepat di sampingnya.


"Tadi aku lihat sekilas, Mas dapat pesan dari Dewi," ucap Alana setelah posisi mereka sama-sama duduk di atas ranjang itu.


"Iya, dia tadi tanya kapan aku masuk kerja."


"Terus?" tanya Alana memancing.


"Ya gitu, dia suka iseng, pake bilang kangen segala," jawab Reno yang tidak mau berbohong, karena ia sudah berjanji pada Alana untuk menceritakan apa pun.


"Terus, Mas jawab apa?"


"Ngga ada." Reno kembali mengambil ponselnya dan ia tunjukkan chat itu. "Nih, Mas ga jawab. Biarin aja lah."


Alana tersenyum tipis. Ia semakin yakin bahwa cinta Dewi bertepuk sebelah tangan.


Mereka pun sama-sama berbaring dan seperti biasa, tangan Reno langsung melingkar di pinggang Alana. Ia memeluk erat Alana dari belakang.


****


Hari ini kebetulan Reno berangkat pagi-pagi. Alana pun demikian, karena di hari Senin adalah jadwalnya untuk mengantar Aurel ke sekolah. Mereka pun berangkat dengan mobil masing-masing. Reno mengikuti mobil Alana hingga sampai dipersimpangan dan mereka berbelok arah yang berbeda. Sebelum sampai dipersimpangan, Mereka melewati halte yang biasa menjadi tempat Dewi menunggu Reno jika berangkat bersama. Dan, pagi ini Alana tak melihat Dewi di sana.


“Kaki Mimi sudah sembuh?” tanya Aurel saat melihat Alana sudah berada di hadapannya.


“Sudah,” jawab Alana tersenyum. Ia menghampiri Aurel yang duduk di meja makan. “Aurel makan apa?”


“kokokl*nch. Mimi mau?”


Alana menggeleng. “Tidak. Untuk Aurel saja.” Alana mengusap lembut kepala gadis kecil yang imut itu. “Makan yang banyak ya.”


Aurel pun mengangguk.


Tak lama kemudian Alex turun dari tangga sembari merapikan dasinya. Ia melihat Alana dari belakang sedang menemani buah hatinya sarapan.


“Pagi, Al.”


Alana menoleh ke suara bariton itu. “Pagi, Sir.”


Alex langsung menggeser kursi tepat di depan Aurel. Arah matanya pun menatap wajah sang putri yang sedang lahap memakan makanan itu. “Makan yang banyak, Sayang.”


“Iya, Daddy,” jawab Aurel.


Kemudian, Alex menatap ke arah Alana sembari mengambil dua helai roti. “Kamu sudah sarapan, Al?”


Alana menggeleng. “Belum.”


“Kalau begitu, ayo makan sama-sama!”


Alana tersenyum dan sedikit membungkukkan tubuhnya. “Terima kasih, Sir.”


“Ayolah, Al. kita sudah seperti keluarga bukan? Ayo makan!” Alex kembali menyuruh Alana untuk makan bersama.


Sebelum berangkat, Alana dan Reno memang tidak sempat sarapan. Mereka hanya menyempatkan minum susu hangat untuk membasahi lambungnya yang kosong.


Semula, Alana berpikir bahwa Alex adalah pria yang galak, sombong, dan suka marah-marah. Nyatanya, setelah hampir dua bulan menjadi sekretaris dan bekerja pada pria itu, Alex tidak seperti yang dikatakan banyak orang. Pria itu humble, baik, dan pengertian. Selama Alana bekerja dengannya, ia tak pernah dimarahi oleh bosnya itu. justru saat Alana melakukan kesalahan, Alex menegurnya dengan baik-baik dan mengajarkan.


“Ayo Mimi, kita makan!” Aurel ikut mengajak Alana untuk makan bersama.


Alana tersenyum pada Aurel yang juga tengah tersenyum manis. “Baiklah.”


Alana tidak pernah bisa menolak keinginan Aurel. Gadis kecil itu seolah menghipnotisnya sehingga ia mau melakukan apa yang Aurel minta. Tapi apa jika Aurel meminta Alana untuk menjadi ibunya, ia akan bersedia? Entahlah.


Alex tersenyum melihat kebersamaan putrinya dengan sang sekretaris. Jika saja, Alana belum menikah atau berstatus janda, mungkin Alex akan langsung meminangnya dan meminta Alana menjadi ibu sambung untuk Aurel, mengingat sang buah hati sangat sulit dekat dengan orang lain selain dirinya. Oleh karena itu, ia betah menduda, walau sudah ditinggal lebih dari tiga tahun. Alex tidak ingin mencari istri tapi mencari ibu untuk Aurel.


“Dah, Daddy. Aulel belangkat.”


Gadis kecil itu mencium pipi kanan dan kiri ayahnya. Alex juga sudah siap berangkat ke kantor karena setengah jam setelah itu, ia ada agenda keluar bersama asisten pribadinya.


“Oh, ya Al. sesampainya dikantor, jangan lupa kerjakan berkas yang saya kirim semalam.”


Alana mengangguk. “Baik, Sir.”


“Iya, Sir.” Alana kembali menganggukkan kepalanya dan pamit.


Aurel melambaikan melalui jendela mobil Alana. “Dah, Daddy.”


Alana mengikuti Aurel. Tanpa sadar ia pun melambaikan tangan dan mengucapkan yang sama. “Hati-hati Daddy.”


Alex membalas lambaian tangan itu. Bibirnya terus mengembang. Mereka seperti keluarga utuh. Dan, Alex merindukan keluarga yang seperti ini. Namun, ia sadar bahwa Alana sudah ada yang punya. Dan, ia pun tidak berani untuk berspekulasi tinggi, walau jika dengan cara licik ia mampu merebut Alana dari suaminya, tapi Alex bukan pria seperti itu. Ia tak suka mengambil apa yang bukan miliknya, kecuali jika Alana berpisah karena masalahnya sendiri. Itu lain cerita.


Sedangkan di tempat berbeda, Reno langsung berjibaku dengan pekerjaannya. Ia tak sempat sarapan, baginya mendapatkan Alana dan bercinta sepanjang malam sudah banyak memberi amunisi baru. Reno tampak ceria saat datang ke kantor dan hal itu sedikit membuat Dewi cemburu.


****


“Hei, Al. makan siang yuk!” Bilqis mendatangi ruangan Alana dan bergelayut di pundaknya.


“Tunggu bentar, Qis. Dikit lagi selesai nih.” Arah mata Alana masih berpusat pada layar laptopnya.


“Ya udah aku tungguin.” Bilqis beralih pada kursi yang ada di depan Alana. Ia pun duduk di sana.


“Al, denger-denger kamu suka anter anak bos ke sekolah?” tanya Bilqis dengan menatap Alana. Namun, Alana masih fokus pada pekerjaannya yang hampir selesai.


“Iya. Tapi cuma hari Senin dan Kamis aja.”


“Wah ada kemajuan nih.”


“Kemajuan apa?” tanya Alana yang kini menatap wajah Bilqis.


“Kemajuan deketnya. Hati-hati, si bos duda. Nanti kamu suka.,” ledek Bilqis.


Alana tertawa. “Memang diluaran itu selalu ada pria ganteng dan baik melebihi Mas Reno, tapi karena yang aku pilih adalah Mas Reno jadi yang ganteng dan baik itu tetap dia.”


“Prikitiw …” ledek bilqis lagi membuat kedua wanita itu tertawa.


Lalu, Alana menutup laptop dan merapikan berkas-berkas yang semula berantakan. “Udah yuk! Aku juga lapar.”


Alana bangkit dan mengajak Bilqis untuk makan siang.


Hari ini, mereka tidak makan siang di kantin yang tersedia di gedung ini. Mereka memilih menyeberang gedung dan makan di restoran sap saji ala Jepang.


“Al, aku punya satu fakta yang mungkin akan membuatmu terkejut,” ucap Bilqis saat keduanya duduk dengan membawa nampan masing-masing.


“Apa? Kamu udah punya pacar?” tanya Alana meledek.


“Bukan tentang aku, tapi kamu.”


Alana mengernyitkan dahi.


“Udah minta si Dewi buat ketemu belum?” tanya Bilqis lagi.


“Udah, rencananya lusa setelah pulang kerja.”


Perbincangan ini semakin serius.


“Sorry ya Al, dari kemarin aku iseng buka-buka IG. Aku juga search nama dia.” Bilqis sedikit tertawa. “Ngga tahu, aku tuh keypoh banget sama cewek yang suka sama pria beristri.”


Sambil mendengar Bilqis bicara, Alana mulai mengaduk makanannya.


“Aku menemukan foto ini di instastory yang dia simpan di sorotan.” Bilqis menyodorkan ponselnya ke Alana dan menampilkan foto-foto Dewi yang sedang dipakaikan anting oleh Reno.


“See! Anting kalian sama,” ucap Bilqis.


Sontak Alana menghentikan kegiatan makannya. Ia mengambil ponsel Bilqis dan melihat semua foto yang dibagikan Dewi di sana. Tanggalnya pun tepat di tanggal Reno pulang dan memberikan anting itu padanya. Alana melirik ke arah Bilqis dan Bilqis mengangkat bahunya.


Dulu, Alana memang sempat menjadi stalker Dewi, tapi sejak pertengkaran hebat dengan Reno saat hendak dinas luar ke Singapore itu, Alana menghentikan aktifitas itu. Selain lelah menjadi stalker, ia pun berjanji pada Reno untuk tidak lagi terlalu cemburuan dan posesif. Di tambah saat ini Alana sudah bekerja dan memiliki aktifitas padat. Ia semakin tidak pernah melihat sosial media Dewi lagi.


“Menurutmu, bagaimana?” tanya Bilqis.


Alana terdiam dan memyerahkan ponsel itu kembali pada sahabatnya. “Menurutmu, bagaimana?”


“Dih, ditanya malah tanya balik.”


“Jujur, aku ga tau, Qis. Padahal baru kemarin aku dan Mas Reno baikan. Kami juga sudah saling minta maaf dan memulai kembali seperti dulu,” jawab Alana lesu.


“Mau tidak mau, kamu harus beri peringatan pada wanita itu. terkadang kita harus egois untuk mempertahankan apa yang kita miliki, Al.”


Alana menatap mata Bilqis. Ia setuju dengan pernyataan itu. Dan, menganggukkan kepala.