
Reno yang tersulut emosi, mendorong kursi Dewi hingga wanita itu tersudutkan diantara lemari file dan tembok.
“Lakukan perintah gue! Temui Alana dan jelaskan semuanya!”
“Ngga.” Dewi tetap bersikeras pada keputusannya. “Kalau Aku tidak bisa mendapatkanmu. Maka Alana juga.”
“Gila! Lu bener bener wanita gila!”
Reno yang kesetanan, akhirnya mencekik leher Dewi.
“Reno … Stop! Apa yang lu lakukan, hah? Lepas!”
Aldo yang melihat itu pun berusaha untuk melerai. Ia menarik kedua lengan Reno yang sudah berada di leher Dewi. Namun, tenaga Reno lebih kuat.
Aldo lari keluar dan meminta pertolongan.
“Dasar perempuan tidak tahu malu. Ga punya harga diri. Sekalian gue bawa sepuluh preman buat p*erk*sa lu dan jadi jal*ng di jalanan,” kata Reno tepat di depan wajah Dewi.
Dewi malah tertawa. Padahal nafasnya sedang menipis. “Kamu ga akan bisa melakukan itu, ren. Kamu itu lemah terhadap wanita.”
“Reno …” teriak Jefri dan staf lain yang masuk ke ruangan itu.
Reno dikerubungi banyak orang. Jefri, Aldo, dan kedua teman kantornya yang lain memisahkan Reno dan Dewi. Pak Richard pun ada di dalam ruangan itu.
“Reno lepas! kamu gila. Dewi bisa mati,” kata Pa Richard.
Mata Dewi hampir saja memutih ia sudah kehabisan oksigen. Lalu, Reno pun melepas cekikan itu.
“Hah!” Dewi mengambil nafas dalam-dalam.
“Saya tidak menyangka kamu bisa sekasar ini pada wanita, Ren,” kata Pak Richard lagi. “Karena kamu sudah membuat kegaduhan dan membuat karyawan saya celaka, kamu kena SP satu.”
“Terserah,” jawab Reno teriak di depan wajah Richard. “Gue juga udah bosen jadi jong*s lu.”
Reno keluar membalikkan tubuh dan hendak keluar dari ruangan itu. ia bukan lagi seperti Reno yang dulu, yang tampil elegan, berwibawa dan disegani. Penampilannya tampak kacau dan lebih liar.
Lalu, Reno menoleh ke arah Dewi sebelum pergi. “Gua kasih waktu lu sampai tiga hari. Kalau ngga. Gue ga akan main-main sama ucapan gue, Wi.”
Dewi terdiam. Semua mata di ruangan itu tertuju pada Reno. Walau mereka tak tahu persis apa yang terjadi tapi mereka tidak pernah melihat Reno semarah ini. Ada apakah mereka? karena dahulu mereka adalah partner kerja yang solid, tapi tiba-tiba keadaan terbalik seratus delapan puluh derajat. Kini mereka bagai musuh yang ingin saling membunuh.
“Dewi kamu ga apa-apa?” tanya Aldo panik. Pria itu langsung mengambil ari minum untuk Dewi.
Semua orang di sana menenangkan Dewi. Kekacauan itu langsung menjadi trending topik seantero gedung.
Reno keluar dengan tangan terkepal.
****
Di rumah Aminah, Alana baru akan berangkat ke kantor. Hari ini ia meminta izin pada Alex untuk datang siang. Semula malah Alana ingin meminta Alex untuk libur satu hari, mengingat kemarin ia juga baru tiba di Jakarta. Namun, Alana kembli berpikir, diam di rumah justru akan membuntukan pikirannya. Ia ingin menyibukkan diri sambil menangkan hati dengan cara membahagiakan diri. Alana akan memberi waktu Reno untuk mencari kebernaran atas foto yang dikirimkan Dewi.
“Nek, Al berangkat ya.” Alana menghampiri sang nenek dan mencium punggung tangannya.
“Loh, katanya tadi mau izin ga ke kantor,” ucap Aminah.
“Ngga jadi deh, Nek. kerja aja.” Alana mencium pipi Aminah dan pergi sambil tersenyum.
Tuti mengangguk. “Iya, Mbak Al.” lalu, Tuti kembali berkata, “Mbak Al udah baik-baik aja.”
“Harus baik dong, Mbak,” jawab Alana tersenyum. Ia tak ingin terpuruk. Sudah banyak airmata yang mengalir dan saatnya ia menghadapi masalah ini.
Alana masuk ke dalam mobil dan mengendarainya. Ia keluar dari rumah Aminah tepat di saat Asih datang.
“Tuti, tadi itu Alana?” tanya Asih dari dalam mobil dengan membuka kaca jendelanya.
“Eh, Bu Asih,” jawab Tuti nyengir. “Iya, Bu tadi itu Mbak Alana.”
Asih mengernyitkan dahi. Ia heran karena Alana ada di sini, padahal tadi pagi ia menelepon Reno dan mengatakan bahwa Alana masih tidur.
Tuti sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah dan memberi kabar kedatangan Asih pada Aminah. Aminah pun langsung keluar untuk menemui Asih.
“Asih,” panggil Aminah saat Asih baru saja keluar dari mobil, setelah memarkirkan kendaraan itu pada tempatnya.
“Bu Aminah.”
Keduanya saling berpelukan.
“Saya melihat Alana keluar tadi. Memang Alana menginap di sini?” tanya Asih. “Kok tadi pagi saya telepon Reno katanya Alana lagi tidur.”
Aminah dan Tuti pun saling berpandangan. Mereka bingung ingin mengatakan apa. Aminah tidak inign menceritakan apa yang ia tahu tentang Alana dan Reno pada Asih. Ia ingin Asih tahu dari putranya sendiri.
Reno kembali ke rumahnya. Ia melempar semua barangnya sembarangan. Ia kembali mengingat tentang Dewi. Sungguh, ia baru melihat sisi buruk pada wanita itu. ia tidak menyangka Dewi segila ini. Atau meman inilah sifat asli wanita itu.
Reno pun mengambil laptop dan mencari tahu tentang Dewi. Ia mengotak-atik dan mencoba masuk ke dalam akun Dewi untuk mencari informasi. Ia juga mencari informasi tentang kakak-kakak Dewi yang dikenal cukup kaya.
Walau Dewi merupakan anak yatim piatu, tapi Dewi terlahir dari keluarga kaya. Reno pun baru mengetahui. Ia pikir kekayaan itu datang karena sang kakak yang menikahi pengusaha bule.
Siang hari, Reno mengirim pesan seperti ini.
"Sudah makan belum? Anak cantik ga boleh telat makan nanti sakit."
Pesan itu yang sering Reno kirim saat Alana masih sekolah.
Ketika sore, Reno pun mengirim pesan pada Alana.
"Pulangnya jangan kemaleman ya! Mas selalu mencintaimu."
Pesan-pesan itu tak mendapat balasan satu pun. Namun, Reno tak bergeming. Ia akan tetap melakukan itu, walau saat ini Alana masih marah dan tidak percaya padanya.
Hampir seharian Reno berkutat dengan laptopnya. Ia menjadi informan. Namun disela kegiatan itu, Reno tak lupa mengirim pesan pada sang istri.
Sejak kecil, Dewi memang tidak pernah kekurangan. Karena kasih sayang yang kurang dari orang tua, kakak kakak Dewi memberikannya begitu banyak materi. Wanita itu selalu mendapatkan apa yang diinginkan. Ketika hidup di Singapore pun, ia selalu mendapatkan pria yang diinginkan, lalu dicampakkan setelah pria itu tergila-gila padanya. Dan di sana, Dewi juga pernah merusak rumah tangga seseorang hingga mereka bercerai.
“Aborsi? Dewi pernah aborsi?”
Reno tercengang lagi dengan fakta ini. Sungguh, ia benar benar terjebak dengan wanita gila. Lalu, Reno pun mengumpulkan falta mencengangkan itu. Fakta yang pastinya tidak diketahui oleh semua orang, bahkan kakak kakak Dewi. Kelakuan Dewi berbanding terbalik dengan perangainya yang lembut dan dewasa.
Ternyata, Reno salah memilih teman.