Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Kepasrahan adalah jawaban



Tut … Tut … Tut …


Alana menelepon Reno yang sedang berkendara. Tepat pukul satu malam, Reno baru pulang dari kantor. Kini, ia tengah berada di jalan bebas hambatan menuju rumah minimalis yang sepi karena tidak ada Alana.


Reno mendengar ponselnya yang berdering dan menyala. Lalu, ia meraba tangannya ke bagian kursi samping untuk mengambil benda itu. Bibirnya menyungging senyum saat mendapati nama sang istri yang tertera di layar itu. Reno langsung menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan itu.


“Halo.”


“Mas.”


Bibir Reno terus menyungging senang saat suara itu terdengar.


“Mas di mana?” tanya Alana.


“Di mobil, Mas lagi nyetir.”


“Baru pulang? Selarut ini?” tanya Alana lagi.


“Hm … Mas bosan di rumah, sepi karena ga ada kamu.”


Alana terdiam sejenak, lalu bersuara.


“Besok Aurel sudah diperbolehkan pulang. Aku juga akan pulang, Mas.”


“Alex?” tanya Reno.


“Aku akan bicarakan padanya baik-baik tentang hal itu. Aku bisa menjadi Mommy Aurel, tapi aku tidak bisa menjadi istri Sir Alex.”


Seketika bibir Reno tersenyum lebar.


“Aku akan menjemputmu besok,” ucap Reno.


“Tidak perlu, Mas. Besok aku langsung pulang ke rumah aja.”


Reno kembali mengingat, kebetulan besok ia dan Dimas ingin bertemu pejabat departemen agama penyelenggara haji sebagai mitra kerjasama panitia akomodasi untuk kegiatan tahunan itu.


“Baiklah, Mas tunggu di rumah.”


Alana tersenyum. “Iya.” Lalu, Alana kembali bersuara.


“Mas.”


“Hm …”


“Hati-hati di jalan!”


“Ya,” jawab Reno.


“I love you, Mas.”


Senyum Reno semakin mengembang. “I love you too, Alana.”


Kedua tersenyum sambil memegang benda pintar di telinga mereka masing-masing. Mereka seperti pasangan yang baru jadian dan baru mengutarakan hati masing-masing.


“Kalau begitu lanjutkan perjalananmu, Mas. Lain kali jangan pulang selarut ini!” ucap Alana.


“Lain kali Jangan jadikan Mas yang kedua,” ledek Reno, karena sebelumnya Alana lebih mementingkan Aurel dibanding dirinya.


Walau ia tahu bahwa Alana melakukan itu sebagai bentuk tanggung jawab karena dia yang mencelakakan anak itu.


“Maaf, Mas. Kemarin aku tidak punya pilihan. Aku memang harus merawatnya sampai sembuh.”


“Ya, Mas mengerti.” Reno menerima telepon itu sambil menyetir.


“Terima kasih.”


“Sama-sama.”


Ponsel itu masih berada di telinga Reno dan Alana karena keduanya belum memutuskan sambungan telepon itu, padahal percakapan mereka sudah selesai.


“Mas, udahan. Matikan teleponnya karena Mas lagi nyetir,” kata Alana.


“Kamu yang lebih dulu matikan teleponnya.”


“Mas dulu.”


“Kamu dulu, Al.”


Alana pun tertawa dan Reno terdengar sama.


“Baiklah, aku tutup teleponnya. Hati-hati ya, Mas. Sampai rumah langsung istirahat.”


“Iya, Sayang.”


Sambungan telepon itu pun terputus. Alana tersenyum sambil meletakkan benda pintar itu di dadanya. Ia berdiri sembari menghadap jendela di dalam kamar perawatan Aurel dan memandang taburan bintang di langit yang gelap hingga cahayanya terlihat indah.


Akhirnya, Alana mengambil keputusan. Lalu, ia merobek kertas gugatan yang belum di tandatangani Reno. Itu artinya pengadilan agama tidak memproses karena berkas Alana tidak lengkap.


Alana memilih Reno karena reno adalah tempatnya pulang. Reno adalah pria yang selalu bersamanya dari kecil. Banyak kenangan indah yang sudah mereka rajut bersama. Kesakitan dan kepedihan kemarin, tidak sebanding dengan apa yang sudah mereka lalui bersama. Dan, mulai besok ia akan memulai kembali kenangan indah itu.


Bruk


****


Keesokan harinya, Alana membantu Anni pengasuh Aurel yang sedang merapikan baju-baju majikannya. Dokter menyatakan bahwa siang ini Aurel sudah diperbolehkan pulang. Alex pun ada di sana.


Sejak bangun tidur, entah mengapa hati Alana gundah dan was-was. Padahal semalam ia sudah menelepon Reno dan terdengar baik-baik saja. Paginya pun Alana sudah menelepon Aminah dan menurut Tuti, di sana juga keadaannya baik-baik saja.


“Mimi masih sedih?” tanya Aurel yang melihat raut wajah Alana masih seperti kemarin.


Alex duduk di atas tempat tidur itu sambil menemani putrinya juga tengah melihat ke arah Alana.


Lalu, Alana menghmapiri Aurel. “Tadi katanya, Aurel mau dibuatkan susu cokelat. Jadi?”


Aurel mengangguk.


“Mimi sedih karena rindu pulang.” Tiba-tiba Alex bersuara.


Alana langsung menoleh ke arah bosnya itu.


“Bukan begitu?” tanya Alex yang juga menatap Alana.


Alana menganggukkkan kepalanya pelan.


“Mimi tidak jadi menjadi Mommy-ku? Tidak jadi tinggal bersama kita?” tanya Aurel pada Alex.


“Mimi bisa menjadi Mommy-mu, tapi tidak bisa tinggal di rumah kita karena Mimi punya rumah sendiri. Mimi juga punya keluarga.”


Alana tersenyum mendengar penjelasan Alex pada putrinya. Ia lega, karena pria itu sendiri yang berubah pikiran tanpa ia memohon.


“Aww …” jerit Alana pelan saat jarinya tersiram air panas.


Pengasuh Aurel langsung mengahmpiri Alana dan Alex serta Aurel melihat ke arah itu.


“Pelan-pelan Mimi,” ucap Aurel.


“Sini, Mbak biar saya saja yang buatkan susu,” kata pengasuh Aurel.


“Tuh Mimi sampai ga konsentrasi karena rindu dengan rumahnya,” ucap Alex pada putrinya.


Aurel menatap Alana bergantian dengan sang ayah yang sedang merangkulnya. “Jadi, Mimi tidak bisa tinggal sama kita?”


Anak kecil itu bertanya pada ayahnya dengan raut wajah sedih.


“Kalau Mimi tinggal bersama kita, wajah Mimi akan seperti itu setip hari. Aurel mau melihat wajah jelek Mimi yang seperti itu.”


Alana monyongkan bibirnya. Walau Alex benar, saat ini ia memang sedang tidak pernah tersenyum apalagi tertawa.


Aurel menggeleng. “Ngga mau. Aurel ingin melihat Mimi senyum dan ketawa seperti biasa.”


“Kalau begitu, biarkan Mimi pulang. Oke!”


Aurel menatap sang ayah dan mengubah ekspresinya menjadi tersenyum. “Oke.”


Alana yang berdiri tidak dekat dengan Aurel dan Alex pun melebarkan senyum. Ia mendekati Aurel dan memeluknya. “Terima kasih, Sayang. Aurel memang anak yang pinter. Mimi senang bisa berteman denganmu.”


“Aurel juga senang,” jawab gadis kecil itu dengan senyum yang lebar.


Ia melihat ke arah Alex yang juga dengan ekspresi sama. Alex tersenyum. Akhirnya, ia bisa melihat senyum Alana. Sepanjang malam kemarin, Alex terus berpikir. Sungguh egois jika memaksa Alana untuk menjadi ibu sambung putrinya, sementara ia tahu bahwa cinta Alana hanya untuk pria yang datang beberapa hari lalu untuk menjemput, tapi Alana tetap di sini untuk bertanggung jawab dan mengurus Aurel.


“Sir,” panggil Alana pada Alex yang baru akan keluar dari ruangan itu untuk menyelesaikan administrasi.


“Ya.” Alex menoleh.


“Janji itu sudah tidak berlaku kan?” tanya Alana.


Alex tersenyum. “Memang kalau saya masih menginginkan janji itu, kamu bisa menepati?”


Alana menggeleng.


“Kalau begitu, jangan tanyakan lagi!”


Alana tersenyum.


“Kamu sudah merawat putriku dengan baik. Kamu sudah bertanggung jawab. Jadi, saya tidak akan mempersulit hidupmu.”


Alana terus menyungging senyum. Sungguh, ia senang dengan pernyataan bosnya itu.


“Saya bukan orang jahat yang suka memaksakan kehendak. Kemarin, saya hanya ingin melihat sejauh mana kamu bertanggung jawab atas putri kesayanganku.”


Alana kembali tersenyum. “Terima kasih, Sir. Terima kasih.”


Lalu, Alex membalikkan tubuhnya. Namun, ia kembali menoleh ke belakang, ke arah Alana yang masih mematung di depan pintu.


“Oh, ya. Saya melihat surat pengunduran dirimu di meja kerjamu. Apa kamu berniat untuk resign?”


Alana mengangguk. “Rencananya seperti itu. Saya akan membantu perusahaan Mas Reno.”


Alex tahu siapa Reno dan ia juga tahu pemilik travel terbesar itu.


“Kalau begitu, saya izinkan. Tapi, kamu harus bereskan semua file dalam dua minggu ini.”


Alana sangat senang. Namun, senyumnya memudar saat mengingat penalti yang cukup besar jika ia keluar.


“Kenapa?” tanya Alex.


“Hm … soal penalti itu?”


Alex tertawa. “Suamimu tidak akan miskin jika membayarnya.”


Alana langsung merengutkan bibir. Ya, walaupun Reno sanggup untuk membayarnya, tapi ia merasa sayang. Jika Alex bisa dinego, mengapa harus bayar?


Alex yang sudah berjalan beberapa langkah meninggalkan Alana yang masih mematung ditempatnya pun kembali menoleh.


“Karena saya suka dengan kinerjamu selama ini dan putriku juga menyukaimu. Maka, penalti itu saya hapuskan khusus untukmu.”


Alana langsung tersenyum.


Alex ikut tersenyum dan kembali membalikkan tubuhnya menuju ruang administrasi dan berjalan sembari memasukkan satu tangannya ke dalam saku.


Alana tidak menyangka, hari ini diberi banyak kemudahan. Ia sangat bersyukur, padahal semalam ia sudah pasrah jika Alex memperkarakan masalah ini dan tidak terima jika ia melanggar janji pada Aurel, lalu resign menjadi sekeretarisnya. Tapi, ternyata kepasrahan itu adalah jawaban.