Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Perjuangan pertama



"Al, mau berangkat?”


Baru saja Alana hendak membuka pagar dan mengeluarkan mobil, tiba-tiba mobil Bagas berhenti di depan itu.


“Papi?” tanya Alana terkejut saat mendapati sang ayah mertua yang sudah seperti ayah sendiri baginya.


“Mau berangkat dengan Papi?” tanya Bagas menawarkan diri.


Alana tersenyum. Ia yakin bahwa sang ayah mertua sudah mengetahui kondisi rumah tangganya dengan putra kesayangan Bagas. Mengingat Reno memang sangat dekat dengan sang ayah.


Alana mengangguk. Ia memang ingin berbicara dengan ayah mertuanya. Semula, ia ingin berbagi masalahnya pada Asih. Namun, Asih memiliki riwayat tensi tinggi. Alana khawatir kabar tidak menyenangkan ini akan membawa dampak buruk pada kesehatannya nanti.


Alana yang sudah pamit pada sang nenek sebelum keluar rumah pun akhirnya ikut masuk ke dalam mobil Bagas dan meninggalkan mobilnya.


Di dalam mobil Alana tampak diam. Bagas pun belum ingin memulai pembicaraan sebelum menantunya bicara.


“Pi,” panggil Alana hati-hati.


“Ya.” Bagas menjawab sembari menyetir.


Alana pun sedikit menggeser tubuhnya ke arah Bagas. “Papi tahu tentang kami?”


Bagas mengangguk. “Tentu saja. Anak bodoh itu hanya pura-pura pintar. Ingin mengeksplore diri, berdiri sendiri, tidak mau bergantung di ketiak orang tua, tapi ujung-ujungnya kalau ada masalah pasti ke Papi.”


Alana tersenyum tipis dan kembali meluruskan duduknya. Ia khawatir, Bagas akan membela Reno karena memang pria itu adalah putranya, sedangkan ia hanya menantu.


“Walau Reno putra Papi, tapi Papi tidak membelanya.”


Seolah mengerti pikiran Alana, Bagas pun meralat apa yang ada di dalam otak itu.


Alana kembali mengulum senyum tipis. “Maaf, Pi. Maafkan Alana. Maaf juga karena Alana jarang ke rumah Papi. Jarang bertemu Mami.”


“Walau kamu kesal dengan putra Papi, tapi jangan pernah menjauh dari kami!”


Perkataan Bagas, sontak membuat Alana sedih. Rasanya ia ingin menangis. Ia menatap wajah ayah mertuanya dengan berkaca-kaca.


“Terima kasih Papi. Terima kasih karena sudah mau menyayangi Alana seperti anak Papi sendiri.”


Bagas memeluk bahu Alana. “Kami sudah menganggapmu seperti putri kandung kami sendiri. Jadi jika ada sesuatu, jangan segan untuk bercerita pada kami. Oke!”


Alana mengangguk. “Iya, Pi.”


Keduanya kembali diam dan sama-sama menatap jalan.


“Sekarang Mas Reno di mana, Pi?” tanya Alana.


“Papi menunggu pertanyaan ini.” Bagas menoleh ke arah Alana. “Dia ke Singapore sore kemarin bersama Dimas, asisten Papi.”


Alana pun menoleh ke arah ayah mertuanya. Ia cukup mengenal asisten Bagas, karena memang pria itu sudah lama mengabdikan diri pada Bagas.


“Dia sedang berjuang untuk meraih kepercayaanmu kembali, Al.” Bagas menoleh ke arah Alana bergantin ke jalan untuk tetap fokus menyetir.


“Karena foto itu terjadi saat mereka di sana, bukan?”


Alana terdiam. Ya, sebelumnya Reno memang sudah menjelaskan kejadian yang membuat ia terjebak berfoto bersama Dewi di sana.


“Reno sedang mencari bukti, agar nama baiknya kembali, terutama di depanmu.”


Alana menunduk. “Maaf, Pi. Maaf kalau Alana keras kepala.”


Bagas tertawa. “Ya, kalian berdua memang keras kepala.”


Alana tersenyum malu.


Bagas mengantarkan Alana hingga depan kantor. Hari ini, ia menepati janjinya untuk melihat keadaan Alana dan menjaganya untuk sang putra.


Di Singapore, Reno mengumpulkan bukti-bukti kebej*tan Dewi. Pertama, ia mulai mencari bukti di rumah sakit tempat Dewi menggugurkan kandungannya.


“Gimana, Dim? Dapet surat keterangan itu?” tanya Reno pada asisten sang ayah yang sengaja ia bawa untuk membantunya.


Dimas tersenyum sembari mengibaskan selembar kertas. “Dapet dong. Dimas gitu loh.”


“Ah, luar biasa kamu.” Reno menepuk bahu Dimas keras.


Pasalnya sejak kemarin ia tidak bisa membujuk pertugas rumah sakit itu untuk mengeluarkan surat keterangan tindakan Dewi itu. entah bagaimana cara Dimas hingga bisa mendapatkan surat itu? Reno tidak peduli, yang penting surat itu sudah ada di tangannya.


Sore harinya, Reno mengunjungi rumah keluarga broken home yang rumah tangganya telah Dewi hancurkan.


“Hai, Miss.” Reno menyapa mantan istri dari pria yang dulu pernah menjadi pacar gelap Dewi.


Reno berbincang dengan Miss Olivia. Sementara, Dimas menunggunya di dalam mobil. Jika terlalu banyak orang di sana, ia khawatir Olivia tidak inign menceritakan kasus rumah tangganya dulu.


“Ya, benar. Ini jal*ng yang merebut suamiku,” ujar Olivia dengan menggunakan bahasa Inggris ketika Reno memperlihatkan foto Dewi.


Di rumah itu, Reno juga melihat tiga anak Olivia yang berada di sana. Dua yang masih kecil, sementara satu yang mulai beranjak dewasa.


“Lalu, di mana mantan suamimu sekarang?” tanya Reno.


“Dia masuk rumah sakit jiwa. Setelah ditinggal wanita itu, dia meminta untuk kembali padaku. Aku tidak mau. aku sudah terlanjur sakit hati. Tapi dia terus berusaha untuk kembali sampai dia juga berusaha untuk mengambil putra putriku. Psikologinya mulai terganggu ketika dia tak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan, karena anak-anak juga tidak mau dekat dengan ayahnya.”


“Tragis sekali,” jawab Reno.


Ia menggelengkan kepala. Reno tidak ingin apa yang dalami oleh mantan suami Olivia, menimpa pada dirinya. Cinta sesaat yang menggiurkan, tapi dengan seketika mampu melenyapkan semua yang dibangun puluhan tahun.


Reno dan Olivia saling bertukar informasi. Olivia juga memperlihatkan foto-foto kebersaman suaminya dengan Dewi.


“Sebenarnya saya tidak ingin membuka luka ini lagi. tapi, saya ingin memberitahu anda, agar tidak menjadi seperti mantan suami saya dulu. Jagalah keluarga anda, Sir.”


Reno mengangguk. “Ya, saat ini saya sedang melakukannya.”