Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Masih butuh waktu



Alana membuka mata saat pintu kamarnya diketuk. Semalam, ia dan Alex pulang pukul sebelas malam.


Alana mengingat lagi saat berada di dalam mobil semalam. Saat itu mobil mereka tengah melaju ke hotel tempat mereka menginap selama tiga hari empat malam. Beberapa kali, Alex memanggil nama Alana, tapi setelah Alana menoleh, pria itu tidak melanjutkan bicara. Seolah ada hal yang ingin ia tanyakan tapi tidak berani. Hingga sampai di hotel dan hendak masuk ke kamar masin-masing pun, gelagat Alex masih sama, tapi pria itu malah menggelengkan kepala ketika Alana bertanya dan tidak ada perbincangan pribadi setelahnya karena mereka pun masuk ke kamar masing-masing.


Ceklek


Alana membuka pintu kamar.


“Mimi.” Seperti biasa, Aurel langsung meloncat ke pangkuan Alana saat melihatnya.


“Ayo kita belenang, Mi! ajak Aurel. “Daddy sudah siap. Kita akanke pantai.”


Alana mengernyitkan dahi, pasalnya ia memang tidak membawa pakaian renang. Walau pun ia membawa, ia tidak akan memakainya di ruang terbuka seperti itu. Ia hanya berani berpakaian sexy di depan Reno.


“Mimi tidak membawa baju renang, sayang,” ucap Alana, membuat Aurel sedih.


Aurel menekukkan wajahnya. “Yah. Jadi Mimi tidak ikut belenang?” tanya sambil menggelengkan kepala.


“Tapi Mimi akan menemani Aurel berenang.”


“Janji!” Aurel mengangkat jari kelingklingnya dan Alana menempelkan jari kelingking juga. “Janji.”


“Hole …” Aurel berjingkrakan dan langsung turun dari pangkuan Alana, lalu menuju ke sang ayah untuk segera berangkat.


Mereka pun pergi ke pantai. Waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Rencananya mereka akan kembali pulang pukul dua belas tiga puluh siang, setelah check out.


“Errrrr …” Alana Alana mengajarkan Aurel untuk bisa mengucapkan huruf itu, mengingat saat ini gadis itu sudah genap lima tahun, tapi lidahnya masih sulit mengucap huruf itu.


Alana duduk di samping Alex yang sedang mengemudi. Alex sengaja mengemudi sendiri kendaraan itu. Ia menoleh ke arah Alana yangs edang asyik bersama putrinya yang duduk di pangkuan itu. sedangkan pengasul Aurel duduk di kursi penumpang belakang.


“El … lllll …” Aurel mengikuti Alana.


“Melingkar.”


“Melingkal.”


“Ular.”


“Ular.”


“Yeeeay …” Alana bersorak karena akhinya Aurel mampu mengucapkan kata itu dengan benar.


“Yeay …” Alex pun bersorak.


Aurel pun ikut bersorak dan bertepuk tangan karena melihat sang ayah, Alana, dan penmgasuhnya melakukan itu. Ia piun tertawa lebar sambil menutup mulutnya.


“Anak Daddy pintar,” kata Alex lagi sambil melirik dan tetap fokus menyetir kembali.


“Pintar.” Alana mengulang kata itu.


“Pintar.” Aurel pun ikut mengulang kata itu dan diucapkan dengan benar.


“Yeeaaay.” Alana, Alex, dan pengasuh Aurel itu kembali bersorak. Aurel pun ikut bersorak. “Yeay, aulel pintar,” katanya sambil tertawa dengan gaya khas yg menutup mulutnya jika tertawa.


“Aurel,” sahut Alana.


“Aulel.”


“Aurel,” sahut pengasuh itu.


“Aurel.” Gadis lucu itu mengulang lagi namanya dan berhasil.


Ketiga orang dewasa itu pun kembali bersorak. “Hore …”


“Hore …” Aurel mengulang.


Suasana keseriuan itu terus berlangsung hingga sampai di pantai. Sungguh, Alana benar-benar lupa akan masalahnya saat ini. Mereka berempat tampak seru. Lalu, Alex memilih menepi dan memesan minuman untuk putri serta dua wanita dewasa yang mengajak putrinya bermain di sana.


Alana yang kelelahan pun ikut menepi dan membiarkan Aurel bersama pengasuhnya. Alana menggunakan legging hitam dan kaos hitam lengan pendek. Ia berjalan menghampiri Alex sambil menunduk atau mengedarkan pandangan ke kanan dan kiri untuk melihat situasi pantai ini dan di saat itu, Alex menatap Alana tak berkedip. Alana tampak cantik. Ia tersenyum sendiri sambil meminum orange jus yang ada di tangannya.


“Haus?” tanya Alex saat Alana sudah mendekat.


“Ya,” jawab Alana tersenyum. Ia pun duduk di samping Alex dan Alex menyodorkan minuman itu.


“Thank you,” ucapnya.


“You’re welcome,” jawab Alex.


Keduanya menatap ke arah pantai dan ke arah Aurel yang sedang bermain dengan pengasuhnya. Mereka belum memulai pembicaraan. Keduanya hanya tertawa melihat Aurel di sana. Dan, Alex melihat ke arah Alana yang sedang tertawa.


Alana yang merasa bahwa dirinya sedang diperhatikan pun menoleh ke arah Alex. “Putrimu lucu.”


Alex kembali menatap putrinya dari kejauhan. Lalu, ia kembali berkata, “bagaimana hubunganmu dengan suamimu?”


“Belum tahu,” jawab Alana lesu.


“Kalian akan berpisah?” pertanyaan itu akhirnya terucap dari bibir Alex.


“Entahlah? Saat kakiku keluar dari rumah itu, aku yakin mengambil keputusan ini. Tapi … entahlah?” Alana mengangkat bahunya sambil menunduk dan memainkan bibir gelas.


“Pasti dia merasa kehilangan,” sahut Alex dengan dia yang dimaksud adalah Reno.


“Semua pria seperti itu. Saat istrinya masih ada di sisinya, sikap kami biasa saja, seolah kehadirannya antara penting dan tidak penting. Tapi saat istrinya pergi, dunianya berantakan. Kami baru menyadari bahwa kehadirannya sangatlah berarti, lebih dari kata penting. Itu yang aku rasakan pada mendiang istriku dulu.”


Alana menatap wajah Alex serius. Ia melihat kesedihan dan penyesalan di wajah itu. Entah apa yang terjadi antara Alex dan istrinya dulu, tapi yang jelas kata-kata Alex sedikit membuka Alana tentang dunia kaum adam.


****


Reno bergegas meninggalkan rumah. Ia sudah memesan taksi online untuk mengantarnya ke bandara. Di kantor, sebenarnya Reno belum mendapat izin cuti, karena ia terlalu mendadak mengajukan permintaan itu, seharusnya cuti diajukan satu atau dua minggu sebelumnya. Namun, Reno tidak peduli. Ia juga tidak peduli dengan nasib karirnya di perusahaan itu, yang ia pedulikn saat ini adalah nasib rumah tangganya.


Dret … Dret … Dret …


Di dalam taksi online, Jefry terus menelpon. Kemudian, Pak Ricard pun menelepon. Reno enggan untuk mengangkat. Ia mengabaikan panggilan telepon itu dan mensilent.


Satu jam kemudian, Reno tiba di bandara Soekarno Hatta. Pesawatnya berangkat tepat pukul sepuluh lewat sepuluh menit. Perjalanannya pun sesuai prediksi. Ia tiba di Ngurah Rai satu jam lewat lima puluh menit setelah berangkat. lalu, ia langsung menuju hotel sesuai titik ponsel Alana.


Taksi Reno dan Taksi Alana berselisih jalan. Taksi Reno masuk hotel, sementara taksi Alana dan keluarga Alex keluar hotel. Mereka pun bertemu di jalan, tapi masing-masing diantara mereka tidak tahu karena mobil mereka sama-sama berkaca gelap.


Reno memasuki hotel dan bertemu resepsionis.


“Maaf, Pak. Orang yang anda cari baru saja check out,” ucap resepsionis itu.


“Ah si*l,” umpat Reno yang lagi-lagi terlambat. Malah sekarang hanya terlambat lima menit.


Reno pun langsung keluar hotel dan mencari taksi. Ia kembali menuju bandara. Perjuangan Reno memang patut diacungi jempol, tapi apa ini setimpal dengan sakit hati Alana sebelumnya? Mungkin belum.


Empat puluh menit kemudian, Alana, Alex, Aurel, dan pengasuhnya tiba di bandar udara internasional Ngurah Rai. Mereka ada di pintu keberangkatan. Orang suruhan Alex menata barang-barangnya ke troli. Lalu, Alex dan pengasuhnya mendorong troli itu masing-masing, sedangkan Alana menuntun Aurel.


Sepuluh menit kemudian, Reno pun tiba di tempat yang sama. Ia berlari ke dalam dan mencari keberadaan Alana. Ia yakin Alana ada di pesawat bisnis. Lalu, Reno berlari ke aah itu dan melihat sosok yang ia cari tengah tertawa bersama Alex dan putrinya sambil berjalan masuk menuju pemeriksaan barang.


“Alana …” teriak Reno sekencang-kencangnya, hingga menggema suasana lengang di dalam sana.


Sontak Alana pun menoleh, mendengar namanya di sebut. Jarak di antara mereka cukup jauh. Alana mengerjapkan matanya perlahan. Ia tak menyangka ada Reno di sana. Reno pun berlari ke arah Alana.


“Selesaikan urusanmu dulu, kami menunggu di sana!” kata Alex dengan mengajak Aurel terus berjalan. Walau kaki Aurel enggan meninggalkan Alana.


“Al, akhirnya kita bertemu,” ucap Reno yang langsung memeluk tubuh itu. Sungguh ia sangat merindukan sang istri.


Alana mematung. Ia masih belum menerima pelukan itu.


Setelah puas memeluk Alana, Reno melonggarkan pelukan dan berkata, “Pulanglah bersamaku.”


Alana menatap wajah Reno. Ya, pria itu tampak berantakan. Janggutnya dipenuhi oleh bulu-bulu yang kian tumbuh menebal, padahal biasanya Reno adalah pria yang rajin mencukur jenggot.


Otak Alana kembali berputar pada sakit hati yang ia alami. Kata-kata Reno saat berbincang dengan Jefry dan Aldo dan tengah mengaguni Dewi. Lalu bentakan Reno yang merasa tak terima saat Alana mengingatkan kedekatan iti, dan yang terakhir saat Alana memutuskan pergi, Reno cuek dan tak menolehnya sama sekali.


“Mimi …” Panggil Aurel dari pintu masuk boarding. Mereka berdiri di sana menunggu Alana.


Alana menoleh. Reno pun sama.


Alana tersenyum ke arah itu dan mengisyaratkan untuk menunggunya. Lalu, Reno menatap wajah sang istri yang mengisyaratkan demikian.


“Al, aku minta maaf. Aku salah dan kamu benar. Feelingmu semua benar. Maaf aku meragukan itu. Dan, mulai sekarang aku tidak akan melakukannya lagi. Alana, pulanglah bersamaku,” kata Reno dengan suara lirih. Nadanya begitu memelas dan memohon.


Alana menatap reno bergantian ke arah Aurel. Tangan Alana pun kini sedang berada dalam genggaman Reno.


Lalu, Alana melepas genggaman itu. “Maaf, Mas. Aku pulang besama mereka.”


“Al, apa tidak ada kesempatan untukku?” tanya Reno sedih.


“Aku masih butuh waktu, Mas. Seperti yang kamu bilang malam itu. kita memang butuh waktu untuk sendiri dulu,” jawab Alana tegas.


“Tapi bukan berarti kamu menjauhiku dan dekat dengan orang lain.”


Reno mengisyaratkan bahwa ia tidak terima dengan kedekatan Alana dan Alex, apalagi dengan putri Alex yang seolah mempengaruhi Alana.


“Sir Alex hanya atasanku. Hubungan kami hanya bos dan sekretaris. Tidak lebih. Mas Reno tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga diri.”


Sontak perkataan itu seolah menamparnya, karena Reno pun pernah berdialog seperti ini saat Alana mencurigainya.


Alana pun meninggalkan Reno dan menghampiri Alex, Aurel, serta pengasuhnya yang sudah menunggu di dalam.