Author And The Baby

Author And The Baby
Mencoba Peduli



"Anka?" Marina terkejut. "Apa yang kamu kerjakan? Kita bukan mahram lho walaupun aku merasa kamu sudah seperti adik sendiri," terangnya.


Anka mengerutkan dahi dan merengut kesal. Apa Kak Marina tidak mengerti juga perasaanku padanya? "Aku ...."


Bayi Farhan kembali rewel. Ia mulai menangis.


"Apa sebaiknya kita pulang saja?" tanya Marina.


"Ah, jangan!" Anka langsung meraih tangan wanita itu. "Kita sudah terlanjur ke sini, apa kita tidak coba jalan-jalan dulu?"


"Tapi ...."


"Yuk, jalan-jalan!" Pemuda itu menarik tangan wanita itu agar mengikutinya.


Marina terpaksa mengikuti pemuda itu.


------------+++------------


Abigail kuat bekerja hingga malam. Ia pun tak menyangka dengan hanya memikirkan wanita itu, ia seperti dipenuhi energi positif di dalam dirinya yang mampu membangkitkannya dari keterpurukan. Ini sungguh luar biasa. Bahkan ia bisa fokus berdiskusi hingga jam 7 malam di mana ia hampir saja lupa waktu bila tidak karena ... kelaparan. Ia kemudian menghentikan pertemuan itu dan berjanji melanjutkannya esok hari.


Pria itu kemudian memesan makanan lewat delivery dan lalu pulang ke apartemen. Di sana ia menunggu pesanan. Ini untuk pertama kalinya nafsu makannya kembali. Ia memesan piza ukuran besar dan memakannya seorang diri. Cukup memuaskan karena menyisakan satu potong yang kemudian ia simpan di lemari es.


Entah kenapa, hal-hal remeh seperti ini bisa membuatnya bahagia.


Ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan menyilangkan kaki dan melipat tangannya dibawah kepala. Serasa ia baru keluar dari kubangan masalah besar dan bertemu cahaya terang yang membawanya keluar dan cahaya itu adalah Marina.


Mungkin orang lain takkan percaya, tapi mulai hari ini ia akan memperjuangkan kebahagiaannya. Ia ingin tahu perasaannya pada wanita itu dan menemukan anaknya. Hanya memikirkan hal-hal yang bahagia saja yang akan terus bergerak di dalam kepala karena biar bagaimanapun, melelahkan memikirkan sesuatu yang buruk yang tak ada jalan keluarnya.


Ia harus belajar melepas masa lalu, Alena dan dan rasa bersalahnya. Tidak ada yang bisa ditanyakan lagi karena istrinya telah tiada. Sementara istrinya telah terbebas dari rasa itu, kenapa dirinya masih berkutat saja di sana tak ada habisnya? Ini tak adil bukan? Sekarang, ia ingin sedikit egois dengan memikirkan Marina dan bayinya, kebahagiaan yang kini bisa dipilihnya. Biarkan orang lain bilang apa ...


Pria itu tersenyum sendiri memikirkan bahwa kini pemikirannya telah mulai berubah.


-------------+++------------


Pagi itu pria itu berniat mendatangi apartemen Marina, tapi ia tidak tahu caranya. Persisnya, tidak tahu cara memulainya. Berulang kali ia ingin keluar dari pintu apartemen tapi kembali lagi ia ragu. Akhirnya ia hanya bisa mondar-mandir di depan pintu apartemennya sendiri.


Ia harus bilang apa? 'Halo? Kamu masih ingat aku?' Ah tidak, tidak. Ia mengusap belakang lehernya. Kenapa perkenalan pertama begitu sulit? Ah, aku sudah berkenalan dengannya 'kan, apa lagi?


Ah, kami kan tidak akrab. Iya, tidak akrab. Karena itu sulit. Ah ... bagaimana ini caranya .... Pria itu benar-benar bingung.


Apa nekat saja? Ajak dia ke kafe bawah dan minum kopi bersama? Pria itu kembali mengusap belakang lehernya. Kenapa pria berpendidikan tinggi seperti aku ini tak mampu mengajak seorang wanita keluar? Payah! Pantas saja orang tuaku menjodohkanku dengan Alena. Ah, sudah. Jangan dipikirkan lagi. Ia mendengus kesal.


Lama terdiam akhirnya ia menghela napas panjang. "Listen!(Dengar baik-baik), segala sesuatu ada teorinya ...," katanya pada diri sendiri. Kemudian ia terdiam.


"Datang dan hadapi!" Ia kemudian buru-buru keluar.


Saat ia berbelok di koridor, ia mendapati apartemen Marina didatangi Anka, pemuda tetangga wanita itu sehingga akhirnya pria itu meneruskan langkahnya ke lift karena sudah tak mungkin mendatangi apartemen wanita itu lagi.


Sebaiknya aku pergi ke kantor polisi dulu pagi ini setelah itu aku akan mencoba peruntunganku kembali dengan datang kembali ke sini. Pria itu menoleh ke belakang ke arah pintu unit apartemen milik Marina. Pemuda itu sudah tak kelihatan lagi karena pastinya ia sudah masuk ke dalam apartemen itu.


Sampai nanti!


Di kantor polisi, ternyata Abigail dicecar banyak pertanyaan dan kelihatan sekali kalau polisi mencurigainya karena ada pertanyaan ulangan seperti 'di mana Bapak saat kejadian' atau pertanyaan jebakan seperti 'kapan pertemuan terakhir kalian'.


Pertanyaan demi pertanyaan dilewati Abigail dan berusaha bertahan, fokus dan jujur. Ia berusaha konsisten dengan jawabannya. Setelah sekian lama akhirnya pria itu dilepaskan.


Setelah selesai, Abigail mulai merasa kesal. Ia tidak mood pulang ke apartemen dan kemudian melajukan kendaraannya ke kantor.


Ia lalu menyadari hari itu ia bisa bekerja dengan baik walaupun dengan mood yang berantakan. Ternyata butuh waktu untuknya melewati hari-hari suramnya sepeninggal istrinya itu. Ia kemudian meneruskan pekerjaannya.


----------+++-----------


"Farhan ... uma uma uma, Farhan ... uma uma uma." Marina sedang bermain dengan bayi itu, yang sedang menatapnya. "Mmh, ba ... miu miu miu. Mmh, ba ... miu miu miu." Ia bermain ciluk ba dengan bayi itu tapi bayi itu masih belum mengerti dan hanya menatap mimik aneh yang diperlihatkan Marina pada bayi itu dengan wajah serius.


Karena bayi Farhan tak kunjung tertawa, wanita itu melepas lelah dengan meletakkan bayi itu di atas tempat tidur dan merebahkan dirinya di samping bayi itu seraya merengut, membuat bayi itu tiba-tiba tertawa melihat wajah merengut Marina.


"Farhaaan ... kamu senang ya lihat Mami merengut gini? Mmh?" Wanita itu gemas dengan bayi itu hingga mencubit lembut dagu bayi mungil itu. Bayi Farhan kembali tertawa. Marina mengecup pipinya.


Marina menghela napas sambil menatap langit-langit kamarnya. "Sampai kapan kita begini ya, Farhan?"


Tangan bayi itu bergerak-gerak dan meraih rambut Marina yang panjang. Ia menariknya.


"Mmh, anak Mami mulai deh, segala ditarik-tarik. Nanti ujung-ujungnya masuk mulut."


Benar saja. Bayi yang sudah mendapatkan rambut Marina di tangannya, sudah membuka mulut hendak memasukkan rambut itu ke dalam mulutnya tapi dengan sigap wanita itu menariknya.


"Gak boleh, kotor!" hardik wanita itu dengan lembut.


Bayi itu menangis.


"Ck, susah ya kamu dibilangin." Marina menggendongnya. Ia membawa berjalan bayi itu keluar kamar seraya menggoyang-goyangkan tubuh bayi itu agar berhenti menangis.


Kemudian terlintas ide menonton TV. "Ah, bagaimana kalau kita nonton film kartun, mau?"


Marina menghidupkan TV tapi bayi itu masih saja menangis. "Aduh, Mami harus bagaimana lagi ini?"


Bertepatan dengan itu, bel berbunyi. Marina dengan sigap memakai jilbab instannya dengan satu tangan dan membuka pintu.


"Kenapa Kak, Farhan nangis?" tanya Anka yang kembali membawa makan siang.


"Habis dimarahi Mami, langsung nangisnya gak berhenti-berhenti."


Anka yang masuk ke dalam apartemen menoleh. "Mungkin lapar juga kali, Kak."


"Oh, gitu ya? Aku kok gak kepikiran sampai ke situ ya?"


Anka tertawa. Ia meletakkan bawaannya di atas meja. "Sini, Anka gendong, Kak biar Kakak bisa bikin susunya."


Marina menyerahkan bayi Farhan pada Anka dan kemudian pergi ke dapur.