Author And The Baby

Author And The Baby
Suasana Baru



Pesta telah usai. Mereka kemudian bersiap pulang ke rumah. Sebelum pulang, mereka sempat berpamitan pada Mama dan Papa Abigail di pintu hotel.


"Malam Pa, Ma. Besok aku ke sana ya?" sahut Abigail memeluk keduanya.


"Iya, Mama tunggu makan siang ya?"


"Iya, Ma."


Marina juga memeluk orang tua suaminya.


"Akur-akur ya kamu, sama anak Mama."


Marina tersenyum lebar. "Iya, Ma."


"Ibu, besok mau main ke rumah Saya?" ajak Mama pada ibu Marina.


"Ah, maaf sekali. Besok jadwalnya Alan fisioterapi, jadi aku harus mendampinginya." Ibu menyatukan tangannya di depan.


"Oh, tidak apa-apa. Semoga cepat sembuh ya, Alan."


Pria itu yang ditanya, hanya mengangguk saja dari kursi rodanya.


"Yang semangat. Biar cepat sembuh," ujar Papa yang tiba-tiba bicara. "Mau kerja sama Papa?"


Semua orang menoleh pada Alan, tapi pria itu malah kebingungan. Ibu menyikut bahunya. "Eh, kalau ditanya, jawab," terang ibu.


"Eh, aku masih sakit, Pa. Belum bisa jalan," jawab Alan sedikit kaku.


"Tapi kalau sudah sembuh, bagaimana?"


"Oh, dia mau kuliah dulu, katanya, Pa." Abigail membantu menjawabnya.


"Oh, begitu. Ya sudah. Papa tunggu."


"Terima kasih, Pak," sahut ibu haru.


Mereka kemudian berpisah. Ibu dan Alan ikut rombongan Abigail dan Marina dengan mobil terpisah. Setelah sampai, mereka lalu saling mengucapkan selamat malam dan masuk kamar masing-masing.


Marina menggendong Farrel yang sudah tertidur ke kamarnya. Ia menidurkan bayi itu di tempat tidur besar dan menutup pagar tempat tidur bayi itu. Bersama Abigail mereka memperhatikan bayi itu tidur.


"Rasanya sayang sekali kehilangan masa berkembangnya walau cuma seminggu," gumam Marina.


"Mmh." Pria bule itu menoleh ke arah istrinya. "Tapi sayang juga hari-hariku kehilanganmu, walau cuma seminggu."


Marina melirik pria yang kini sudah naik jabatan menjadi suaminya. Ia tersenyum menahan tawa. "Kayaknya belakangan Kakak semakin pinter ngerayunya deh!"


"Kenapa?" Pria itu tersenyum lebar. "Bukankah wanita suka yang seperti itu?"


"Gombal ah!"


"Masa? Tapi suka 'kan? Jangan bohong ya?"


"Kata siapa?" Marina melengos pergi.


"Kata suaminya."


Tiba-tiba, "ah!"


Abigail menggendong Marina dengan kedua tangannya membuat wanita itu terkejut.


Terdengar rengekan Farrel membuat keduanya terdiam sesaat. Ternyata bayi itu tertidur lagi.


Marina menepuk dada bidang suaminya. "Kamu sih," bisiknya.


Pria itu hanya tersenyum lebar.


"Kak, aku berat, Kak. Turunkan."


"Tidak. Aku akan membawamu ke kamar dengan begini."


"Tapi ...."


"Tolong buka pintunya." Ternyata mereka sudah di depan pintu. Terpaksa wanita itu membukakan dan kemudian Abigail menutupnya.


Marina kemudian berpegang erat-erat pada leher sang suami agar tidak jatuh. Dilihatnya wajah pria itu yang berusaha keras menggendong tubuhnya yang berat itu ke kamar mereka. Terlihat sekali usahanya yang seperti mengangkat beban berat tapi ia tak mengeluh. Hingga tak terasa ia mengecup pelipis pria itu.


Pria itu meliriknya dengan senyum lebar. "Sebentar lagi, Marina. Belum sampai. Kamu kok gak sabaran sih?"


Pipi wanita itu merah merona hingga mencubit dada pria itu. Abigail jadi tak konsentrasi sehingga keduanya jatuh. Untung mereka sudah sampai di tepi ranjang hingga keduanya jatuh di atas ranjang.


Pria itu menindih istrinya. "Oh, Sayang. Maaf. Kamu kenapa nyubit sih, aku jadi gak konsentrasi ini." Ia kemudian berdiri.


"Habis, Kakak ngomongnya begitu." Mulut wanita itu mengerucut kesal.


"Ya Allah, Sayang. Aku 'kan cuma bercanda. Beneran juga gak apa-apa juga 'kan? Lagian, kita 'kan udah halal. Siapa duluan yang mulai gak masalah."


Marina melotot setengah tersipu. "Memangnya aku wanita seperti itu."


"Seperti apa?" Abigail mendekatkan wajahnya.


Wajah wanita itu makin memerah. "Mmh ... seperti ...."


"Sepertinya kamu cantik. Hai cantik. Boleh aku mencium bibirmu?" goda pria itu.


Wanita itu memandangnya dengan setengah hati dan ... harap-harap cemas tentunya. Saat wajah itu makin dekat Marina memejamkan mata.


"I love you, Marina." Pria itu mengecup bibir wanitanya pelan. Lalu dilanjutkan dengan ciuman lembut sepenuh hati. Mereka mulai terlena hingga mulai dirasuki nafsu dan saling menginginkan. Lalu semua bergerak dengan lembut hingga malam terlewati dengan indahnya. Hingga saat pagi ... ada yang kehilangan.


Abigail terbangun sendirian. Ia bingung. Padahal ia yakin kemarin ia telah menikah dengan Marina dan tidur dengannya. Hingga kini ia masih bisa merasakan lembutnya kulit wanita itu dan sensasi yang dirasakannya semalam, ia tidak lupa. Namun, itu semua bukan mimpi 'kan? Pria itu mengucek-ngucek matanya.


Terdengar suara pintu dibuka. "Kak, sudah bangun?" Marina masuk dengan menggendong Farrel yang sedang mengedot botol susunya.


"Marina, jadi aku gak mimpi ya?" Pria itu tersenyum lebar.


Wanita itu duduk di tepi ranjang dan merengut. "Kakak ...."


Pria itu menghampiri dan mengecup bibir istrinya mesra. "Masa sekarang kamu panggil aku kakak?"


"Maunya apa? Abang?"


"Boleh." Ia mengecup kembali bibir ranum istrinya.


"Ya, udah. Sekarang Abang mandi gih, gantian. Aku tadi mau mandi tapi dengar Farrel bangun jadi ngurusin susunya dulu."


"Ya udah. Mau aku mandiin sekalian?"


"Ih, Abang genit nih. Udah dikasih juga semalam." Wanita itu melengos ke samping. Walaupun begitu wajahnya tersipu-sipu dan tersenyum senang.


"Ya udah, Abang mandi ya? Nanti sholat bareng."


"Iya."


-----------+++---------


Sarapan pagi itu terasa ramai. Ada ibu dan Alan ikut sarapan. Ada juga si kecil Farrel yang mulai duduk sambil berpegangan pada pinggiran kereta bayinya.


"Ibu mau berangkat jam berapa, Bu." tanya Marina yang sedang mengoles roti.


"Ini habis sarapan, ibu langsung mandi."


"Oh, ya sudah. Nanti Marina pinjamkan baju ganti. Langsung ke rumah sakit 'kan?"


"Iya."


Wanita itu kemudian menoleh pada Alan yang nasi gorengnya mau habis. "Alan, kamu mau tambah lagi?"


"Iya, Kak."


Marina baru akan memanggil pembantu ketika ibu menyentuh tangannya. "Mmh?"


"Marina ... yang diurus suami ya, bukan kami. Kami bisa urus diri kami sendiri." Ibu menasehati.


Marina menoleh pada suaminya yang hanya tersenyum.


"Tidak apa-apa, Bu. Ibu 'kan tamu di sini jadi sudah selayaknya dilayani," sahut Abigail.


Alan pun menyenggol tangan ibu. "Iya, soalnya aku laper nih."


Abigail dan Marina tertawa.


"Iya, sebentar ya?"


----------+++----------


Tak lama, Alan dan ibu sudah siap-siap berangkat. Mereka akan diantar oleh sopir Abigail ke rumah sakit.


"Kalian baik-baik berdua ya?" nasehat ibu.


"Jangan lupa tengok aku ya, Kak?" pinta Alan.


Ibu tersenyum lebar. "Pasti ada maunya, ya 'kan?"


Marina tertawa. "Iya, nanti Kakak bawain piza."


"Asyik ...."


"Alan!" Ibu mencubit pipi anak laki-lakinya itu.


"Aduh, ibu ...."


Marina dan Abigail tertawa.


-----------+++----------


"Pagi begini, kamu mau ke mana, Sayang. Sebelum ke tempat Mama," pria bule itu sibuk memperhatikan HP-nya sambil mengoyang-goyangkan kakinya yang bertumpu di satu sisi.


"Berenang, yuk?"


Abigail menoleh. Ia tidak menyangka Marina minta berenang sepagi itu. "Kamu yakin?"


"'Kan kita bisa ajak Farrel berenang. Biar cepat kurus juga." Wanita itu menyentuh pinggangnya.


"Biar pulangnya bisa makan bakso." Pria itu tertawa.


_________________________________________


Yuk, lihat novel keren berikut ini.