Author And The Baby

Author And The Baby
Nafsu Makan



"Masa kau tidak mengerti juga? Dia tuh TEMAN!" Abigail berucap dengan menahan gerahamnya setengah berbisik.


"Apa?"


"Teman!" ucap pria bule itu penuh penekanan. Ia juga memberi isyarat mata.


"Ooh." Haris mulai mengerti. "Kira-kira nona itu butuh kandidat lain tidak ya?" ledeknya.


"Kamu ini ...." Dengan mata melotot dan kaki diangkat hendak menendang, tidak menyurutkan Haris untuk tetap tertawa.


"Tenang, tenang. Aku cuma bercanda kok." Haris mengangkat kedua tangannya. "Tapi kalau ditolak, beri tahu aku ya?"


Abigail memberi tatap menghujam.


Haris kembali tertawa. Tak lama tawanya terhenti. "Hei, babysitter-mu ke mana?"


Abigail celingukan. Ternyata Marina sudah mendorong kereta bayi ke area tempat makanan.


"Oh, dia sudah ke sana. Aku ke sana dulu ya?" Abigail bergegas meninggalkan Haris.


Haris hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Marina."


Wanita itu menoleh. Ia tengah mengambil makanan prasmanan.


"Jangan ambil banyak-banyak, Marina," bisik pria itu saat mendekat. Ia melihat piring Marina yang terlanjur mengambil banyak nasi. "Nanti kalau Farrel rewel, kamu akan sulit meninggalkan piringmu. Soalnya belum tentu kita dapat tempat duduk."


"Oh, gitu, tapi ini sudah diambil bagaimana?"


Yang mengantri di belakang mereka menunggu. Abigail terpaksa mengambil piring lagi. "Maaf." Kemudian kembali pada Marina. "Sini, bagi dua denganku saja."


Kemudian mereka mengambil makanan bersama-sama seraya menarik kereta bayi. Beberapa orang tertarik melihat kereta bayi itu dan melihat bayi di dalamnya.


"Kamu mau ini?" tanya Abigail.


"Mmh, boleh juga."


Pria itu mengambilkan untuk wanita itu.


"Makasih." Setelah itu mereka mencari meja untuk duduk makan.


Tempat itu memang menyediakan beberapa meja untuk tamu undangan makan walau tidak banyak dan Abigail dan Marina berhasil mendapatkannya karena ada teman bisnis Abigail yang duduk di sana.


"Oh, Pak Ranieri," panggil Abigail mendekati pria paruh baya itu.


"Pak Abigail. Apa kabar? Silahkan duduk di sini." Pria itu memberi tempat duduk yang kosong di sampingnya.


"Oh, ini. Aku membawa anakku yang masih bayi dan babysitter-nya."


Pria itu menatap Marina karena tidak memakai seragam babysitter tapi sebuah gaun pesta yang indah.


"Kebetulan dia temanku," terang Abigail pada pria itu.


"Oh, begitu." Pria itu dengan seulas senyum. "Silahkan duduk." Ia mempersilahkan Marina untuk ikut duduk.


"Terima kasih, Pak." Marina menarik kereta bayi Farrel mendekat dan melihat bayi itu masih tidur. Ia kemudian mulai makan.


"Aku dengar kau baru mau buat pabrik baru lagi ya? Selamat. Berarti bisnismu lancar," ujar pria itu pada Abigail.


"Terima kasih, tapi aku hanya pebisnis kecil, Pak. Ini saja aku baru mulai melebarkan sayap sejak produk yang aku jual di pasar luar negeri diminati dan permintaan makin banyak sehingga aku memberanikan diri untuk membeli tanah dan membangun pabrik baru yang lebih besar agar bisa memenuhi target pasar dalam dan luar negeri."


Pria itu bertepuk tangan. "Hebat, hebat, hebat! Anakku saja bulan kemarin mencoba untuk ekpor seperti kamu itu, gagal karena produknya tidak sesuai standar di sana."


"Ah, Bapak terlalu memuji. Bapak sendiri 'kan produk ekspornya juga banyak, kenapa tak mengajarkan pada anak sendiri?" tanya Abigail dan menyuap makanannya.


Abigail melihat saja wanita itu pergi karena ia tengah sibuk bicara dengan teman bisnis di sampingnya sampai Marina datang kembali dengan membawa 2 gelas minuman. Satu di letakkan di dekat piring Abigail.


"Oh, terima kasih."


Wanita itu tersenyum dan melanjutkan makannya. Selagi pria itu sibuk dengan teman bisnisnya, lain cerita, Marina sibuk mencoba makanan. Setelah selesai dengan makanan prasmanan, ia kembali berdiri dan mencari makanan menarik lainnya lalu kembali. Wanita itu berulang kali melakukan itu.


Namun anehnya, tanpa Abigail ketahui, Ranieri memperhatikan gaya makan Marina yang sibuk hunting(mencari) makanan baru. Pria itu tersenyum. "Kamu mengingatkanku pada seseorang."


"Eh?" Abigail melihat pandangan lurus pria itu pada Marina.


Marina pun terkejut ketika mengetahui menjadi pusat perhatian kedua pria itu. "Eh, ada apa?"


"Kau. Kau mirip istriku. Dia suka sekali makan. Ah, sayang dia tidak di sini. Dia sedang pergi ke luar negeri bersama anakku yang pertama. Kalau dia ada di sini, pasti kalian bisa cepat akrab."


"Oh ...." Pipi Marina memerah karena yang dibicarakan adalah kebiasaannya yang suka makan banyak dan itu memalukan.


"Kapan-kapan main ke rumahku ya, kalau istriku pulang."


Abigail tersenyum lebar. Lucu rasanya keakraban di mulai dari kebiasaan makan yang banyak.


Tamu satu-persatu pulang. Abigail dan Marina masih sempat mendatangi pengantin dan bertemu beberapa tamu lainnya sebelum pulang.


Wanita itu menyandarkan punggungnya ke belakang ketika sampai di mobil. Ia kekenyangan. Dilihatnya Farrel yang masih tidur nyenyak di pelukan, padahal sudah pergi ke tempat keramaian dan kembali lagi ke dalam mobil. "Hah, untung masih tidur."


Abigail menggeleng-gelengkan kepalanya. "Marina, besok pasti berat badanmu bertambah."


"Lihat besok saja, aku mulai mengantuk." Wanita itu menguap.


"Katanya mau kurus? Besok berenang lagi ya?"


Wanita itu mengangguk pelan. Pria itu menjalankan mobilnya.


-----------+++----------


"Huaaaaa!"


Tangisan pagi itu mengagetkan Abigail hingga bangun dari tidurnya. Pria itu mengerjap-ngerjapkan matanya dan merasa aneh dengan pendengarannya. Sepertinya ia mendengar suara tangis tapi rasanya bukan tangis bayi. Namun kemudian ia mendengar tangis bayi.


Eh, itu suara Farrel menangis 'kan? Ada apa dengan pendengaranku? Pria itu hendak beranjak berdiri tapi ingat, Farrel sedang di kamar Marina hingga ia mengurungkan niatnya. Namun kemudian terdengar lagi suara menangis tapi bukan bayi. Siapa yang menangis? Marina?


Pria itu segera berdiri dan mendatangi kamar Marina, ia mengetuk pintu. "Marina! Ada apa, Marina!"


Tak lama pintu dibuka. Terlihat Marina yang wajahnya basah dengan air mata.


"Ada apa denganmu?" Abigail segera masuk. Ia memeriksa Farrel. Bayi itu juga tengah menangis. "Apa ada sesuatu dengan Farrel?" tanyanya pada wanita itu.


"Bukan, itu aku. Farrel menangis karena aku," tangis Marina lagi.


"Apa maksudnya?" Abigail tak mengerti. Ia mengambil Farrel dan menggendongnya.


"Aku tadi lagi mau mandi dan mengecek bajuku tapi tak satupun baju yang muat denganku kecuali baju tidur. Huuu," tangis Marina.


"Astaga, Marina. Aku pikir apa." Abigail menahan tawa. Inilah yang membuat pria itu suka pada wanita ini, Marina apa adanya. "Kan aku sudah bilang kemarin, kamu harus berenang kembali karena kemarin makanmu banyak. Ha ... Marina. Apa kamu tidak bisa menjaga nafsu makanmu untuk tidak makan banyak?"


"Habis kemarin kuenya enak-enak dan tampilannya sangat cantik. Kue-kue itu seakan memanggil-manggil aku untuk mencicipinya," kilah Marina.


Abigail tertawa. "Itu kamunya yang gak tahan godaan. Mmh!" Abigail gemas dan mencubit pipi wanita itu.


"Ah, aduh! Sakit ...." Wanita itu mengusap-usap pipinya yang merah dicubit pria itu.


"Syukurin! Mau kucium?"


"Eh?"