
Abigail memeriksa kereta bayi itu. "Marina."
"Ya?"
"Menurutmu, mana yang bagus? Ini atau itu?" Abigail menunjuk dengan dagunya kereta bayi satu lagi yang berada sedikit jauh dari mereka.
"Yang mana saja, terserah, Kakak," ucap wanita itu malu-malu.
"Eh, jangan begitu. Yang sering pakai nanti kamu. Coba, mana yang lebih nyaman dipakai sama kamu." Abigail berdiri. "Ini nanti di bawah, jadi tempat kamu taruh barang Farrel, semisal botol susu, baju ganti atau belanjaan jadi praktis tinggal dorong."
"Aku lebih suka yang warna biru tua."
"Kenapa?"
"Suka warnanya."
Abigail yang serius melihat, harus menahan tawa karena Marina memilih berdasarkan warna bukan bentuk atau fungsinya. "O-ok. Kamu yakin yang ini?"
"Mmh, terserah, Kakak aja." Marina malah tak yakin.
"Eh, bukan begitu. Aku tanya, apa kamu yakin? Bukan menyalahkan."
"Yang biru tua."
Kembali wanita itu memilih hal yang sama.
"Maksudku, yang biru tua itu agak besar. Apa kamu nyaman mendorongnya? Yang hitam ini agak kecil, cocok dengan ukuran tubuhmu yang tidak terlalu tinggi. Perkara warna, bisa dicari kok. Yang kecil ini, ada yang warnanya biru tua juga."
Wanita itu hanya mengangguk-angguk.
"Jadi?"
"Terserah Kakak saja."
Abigail menggaruk-garuk pucuk kepalanya yang tidak gatal. Akhirnya ia membeli yang ukuran keretanya lebih kecil dengan warna biru tua.
Farrel kemudian diletakkan di dalam kereta dengan kepala agak ditegakkan. Bayi itu masih terasa asing dengan kereta itu. Ia menjelajahi dengan netranya setiap inci kereta itu karena heran.
Abigail berjongkok di depannya. "Bagaimana, Sayang? Suka?"
Tangan bayi itu bergerak-gerak dengan mulut mengoceh tak jelas.
"Sepertinya kau suka ya?" Pria itu tersenyum simpul. Ia menatap Marina yang berdiri di belakang kereta bayi. "Farrel sudah mulai berat. Lama-lama, punggungmu bisa bungkuk."
"Kalau kain gendongan, yang terasa itu bahu," sahut Marina sambil melepas kain gendongan dan tas ransel untuk dimasukkan ke rak bawah kereta bayi.
"Oh, ya. Itu tas ranselmu ya? Farrel tidak punya tas ransel? Kalau begitu, sekalian saja beli di sini." Pria itu kemudian menghilang di antara rak-rak di toko itu. Tak lama ia kembali dengan sebuah tas cantik berwarna kuning dengan gambar kartun sebuah boneka. "Bagus 'kan?"
"Oh, iya. Lucu sekali."
"Kau ada mau beli yang lain untuk Farrel atau untukmu?"
Wajah wanita itu sumringah. "Boleh lihat-lihat dulu, Kak?"
"Oh ya, pergilah. Aku tunggu di sini."
Dan Marina belanja banyak pernak-pernik kecil untuk bayi. Satu set tempat makan bayi, celemek bayi, botol susu beberapa dengan ukuran yang lebih besar, pembersih botol susu bayi, mainan gigit bayi, dan lain-lain dengan motif gambar kartun yang menarik.
"Kamu beli ini semua?" tanya Abigail keheranan. "'Kan Farrel belum bisa makan?"
"Eh, tapi ini motifnya lucu-lucu."
Abigail masih terperangah.
"Eh, kalau begitu tidak usah saja." Marina jadi malu dan menyadari ia terlampau berlebihan. Ia ingin mengembalikan barang-barang yang diambilnya dari rak toko itu tapi kemudian pria itu menahan keranjang yang dipegang Marina.
"Eh, jangan. Kita beli saja, kita beli."
"Tapi 'kan ...."
"Tidak apa-apa. Yang mengurus Farrel yang mengerti. Aku tidak. Kita beli saja ya?" Pria itu berusaha membesarkan hati Marina. Ia tidak mau masa lalu terulang lagi seperti dengan istrinya dulu. Sekarang ia lebih takut kehilangan Marina, lebih dari apapun. Ia bersedia mengalah demi agar wanita itu tidak ngambek dan mengabaikan dirinya dan Farrel.
Tak lama mereka keluar dari toko itu dengan mendorong kereta bayi. Wanita itu terlihat senang. Abigail lega. Setidaknya pengalaman yang lalu memberinya pelajaran untuk lebih mengalah meski dulu ia juga sudah sering mengalah, tapi memang baik Marina ataupun Alena, mereka adalah orang yang berbeda.
Walaupun sisi kewanitaannya rumit tapi tetap terlihat praktis. Mungkin karena Marina mantan pekerja kantoran dan istrinya orang rumahan sehingga pola berpikirnya berbeda, tapi entahlah. Seperti itulah yang dirasakan Abigail pada Marina. Wanita itu terlihat lebih santai menghadapi banyak hal seperti dirinya.
"Kenapa, Kak?" Marina merasa dirinya diperhatikan Abigail sehingga pipinya memerah.
"Ah, tidak, tapi aku kok selalu merasa wanita itu suka meledak-ledak."
"Mmh?" Marina melebarkan senyum melirik pria disampingnya. "Memangnya balon?"
Abigail tertawa.
"Wanita itu seperti pria juga kok Kak, bermacam-macam sifatnya. Jadi tidak bisa disamaratakan semua. Ada yang seperti itu yang berarti tipe emosional, tapi ada juga yang emosional karena keadaan."
"Karena keadaan?"
"Ya, karena dia dalam lingkungan yang membuat dia stres. Itu bukan sifat aslinya tapi terdorong karena lingkungan."
"Wah, bicara dengan penulis beda ya?"
Marina tertawa lepas. Pipinya memerah dipuji seperti itu. "Ya, tidak, Kak. Aku masih belajar. Malah jadi penulis itu, karena dituntut sensitif terhadap lingkungan, jadi tahu perasaan orang lain, posisi orang lain dan banyak rahasia kehidupan yang kalau kita gali kita jadi tahu, hidup orang itu tidak selalu seperti yang kita lihat. Jadi jangan menilai orang itu buruk atau baik berdasarkan penampilan. Penampilan bisa menipu."
"Wah, keren. Sepertinya aku yang harus belajar banyak darimu."
"Ah, Kak Abigail bisa aja." Pipi wanita itu kembali merona merah mendengar pria itu memujinya lagi.
"Serius. Aku belum pernah bicara dengan penulis. Ternyata pemikirannya seluas ini."
"Ya, tidak, Kak. Aku masih belajar dan aku rasa menjadi penulis itu mereka harus belajar dan belajar terus karena ada saja pengetahuan baru yang harus dipelajari seorang penulis, tergantung dari apa yang ingin ditulisnya."
"Wah, benar aku salut sama kamu. Memang sebelumnya kamu kerja di kantor, di bagian apa?"
"Accounting."
Abigail mengerut kening. "Accouting? Sama sekali beda ya?"
"Ya, begitulah. Apalagi kalau jadi penulis novel online, tidak ada persyaratan khusus. Dia bisa datang dari ibu rumah tangga, pekerja kantoran, pengangguran, anak kuliah bahkan anak SMA sekali pun. Yang penting mereka bisa menulis sebuah novel."
"Anak SMA?"
"Mereka 'kan di sekolah diajarkan mengarang."
"Iya, benar."
"Aku ikut grup kepenulisan malah pernah menemukan penulis yang tuna rungu."
"Ah, yang benar saja ...." Abigail hampir tak percaya.
"Iya, dan mereka dihargai karena tidak lagi melihat fisik. Aku rasa dikemudian hari, pekerjaan penulis ini akan banyak diminati banyak orang karena hasilnya lumayan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan tidak ada batasan karena siapapun bisa jadi penulis, bahkan pedagang dipinggir jalan sekali pun."
Obrolan terus berlanjut hingga makan malam, dan Abigail perlahan mulai dekat dengan Marina. Wanita itu, tidak seperti kelihatannya, adalah wanita cerdas yang tahu apa yang dilakukannya. Abigail semakin kagum pada Marina.
---------+++--------
Abigail sedang memperhatikan daging sapi di rak supermarket. "Marina, kamu bisa masak?"
"Bisa. Kenapa?"
"Ah, tidak. Hanya bertanya saja."
Marina melirik pria itu, bingung. "Kenapa? Kakak mau aku masakin?"
"Ah, tidak." Wajah pria itu terlihat malu.
"Serius. Kak Abigail mau dimasakin?"
"Tidak." Pria itu tetap menggeleng.
Marina melihat daging sapi yang telah diiris di dalam rak dan ia tahu, daging sapi itulah yang dilihat Abigail tadi. "Daging sapi lada hitam?"
Pria itu terkejut. "Bagaimana kau tahu?"