
"Padahal aku ingin membawa kalian ke aquarium besar melihat macam-macam binatang laut di sana," ucap pria itu sedikit sendu. "Jadi hari ini kita ke rumah kakek saja, tinggal menunggu dia pulang. Berharap hujan cepat reda."
Marina mulai disibukkan dengan HP-nya menulis novel sedang Abigail dengan HP-nya juga memeriksa bisnis di Jakarta.
Farrel juga sibuk dengan babysitter-nya belajar jalan di atas ranjang. Ia beberapa kali jatuh terguling karena ranjang bergerak ketika diinjak. Namun ia gigih, mencoba lagi dan lagi untuk berdiri. Dibantu babysitter Isy, ia belajar dengan tertatih. "Mami ...."
"Apa, Sayang," ujar Marina tanpa menoleh. Ia masih sibuk menulis bab yang akan dikirimnya, sebab sudah beberapa hari ini ia hiatus sejak menikah, dan saat ada waktu luang ia coba teruskan.
"Mami ...."
"Iya sebentar, Sayang." Marina menyelesaikan tulisan dan menoleh pada bayi kecilnya. Dilihatnya bayi itu sudah bisa berdiri dibantu sang babysitter. "Mmh, kamu sudah bisa berdiri ya?" Ia memperhatikan bayi yang sedang mencari perhatiannya. "Coba, kamu sini." Ia mengulurkan kedua tangannya.
Babysitter itu menggendong bayi itu dan diberikan pada Marina. Bayi itu begitu senang digendong wanita itu. Marina juga gemas dengan wajah gembira Farrel. Bayi itu bahkan menepuk-nepuk lengan wanita itu karena senang.
"Kamu bosan ya di sini terus, mmh?" tanya wanita itu pada Farrel. Ia mengusap rambut bayi itu ke samping.
Kembali bayi itu menepuk-nepuk lengan Marina yang gempal.
Marina menoleh ke samping. Suaminya menguap karena ngantuk.
"Aku kalau bosan malah ngantuk," ucap Abigail.
"Ya udah, aku jalan-jalan di bawah aja, soalnya Farrel mulai bosan. Abang tidur aja, gak papa."
"Tapi jangan keluar hotel ya? Di dalam saja."
"Iya, iya." Marina mengajak Isy ikut dengannya.
Di lantai bawah ada beberapa butik dan restoran. Mereka melihat-lihat isi butik setelah itu masuk ke restoran.
"Ibu mau makan?" tanya Isy melihat kebiasaan majikannya.
"Oh, tidak. Aku mau makan es krim saja. Mudah-mudahan ada."
"Oiya." Sedikit membingungkan tapi kemudian babysitter itu tersenyum kecil.
"Kau mau apa, Isy?" tanya wanita itu pada babysitter Farrel, saat duduk. Ia memilih meja dekat pintu masuk. "Es krim atau jus mungkin?" Marina melihat-lihat menu makanan di sana.
"Memangnya ada, Bu, es krimnya?" Isy bertanya balik.
"Ada, di sini namanya banana split."
"Aku boleh coba, Bu?"
"Oh, ya sudah. Kita pesan dua ya?"
---------+++--------
Marina terkejut saat membuka pintu kamar, karena sang suami tengah menunggunya. "Oh, Abang gak jadi tidur?"
"Sebentar, tapi kemudian Grandma(nenek) telepon. Mereka sudah sampai. Bagaimana kalau kita berangkat sekarang?"
"Apa? Tapi apa kita gak kasihan? Mereka baru datang dari luar negeri. Pasti mereka kelelahan. Apa kita tidak mengganggunya? Mungkin beberapa jam lagi bagaimana?" tanya Marina karena terkejut suaminya langsung ingin bertemu kakek dan neneknya.
"Justru sopir kakek sudah datang menjemput kita. Lagipula rumah kakek ada di pinggir kota, jadi butuh waktu satu jam untuk ke sana. Kakek juga titip untuk membeli makan siang di restoran langganan."
"Kenapa tidak delivery?"
"Karena pengirimannya selalu penuh. Bisa-bisa 2 jam lagi baru diantar."
"Waduh, restorannya laris sepertinya."
"Mmh. Ayo!"
"Jeffrey?" Abigail terkejut, sopir yang sudah tua itu masih bekerja pada kakeknya.
"Sir." Pria paruh baya itu membungkukkan tubuhnya sedikit pada Abigail lalu membukakan pintu.
"Thanks, Jeffrey." Pria itu segera masuk.
Sopir itu membukakan pintu juga untuk Marina. Setelah semuanya masuk, pria itu kembali ke kursi pengemudi. Mobil segera keluar dari area perparkiran hotel.
Pemandangan kota London begitu mencolok dengan hadirnya gedung-gedung tinggi tapi setengah jam kemudian, pemandangan di luar disuguhkan dengan pohon-pohon dan ranting tanpa daun di mana musim gugur telah tiba. Udara, begitu memasuki pinggir kota sedikit dingin. Untung saja Marina membekali diri dengan jaket hangat yang dibawa suaminya serta.
Mobil kemudian berhenti di sebuah family restaurant (restoran untuk keluarga) yang menyajikan menu serba ayam. Pengunjung restoran itu penuh. Padahal belum jam makan siang tapi kebetulan sekali saat itu hari Sabtu, hari di mana berkumpulnya keluarga untuk makan bersama.
Abigail turun dan masuk ke restoran. Lima menit kemudian ia telah membawa bungkusan besar yang diterima Jeffrey dan dimasukkan ke bagasi. Mobil lalu melanjutkan perjalanan.
Sepuluh menit kemudian, pemandangan berganti dengan disuguhi padang rumput yang luas dan istal kuda yang cukup besar. Terlihat rumah besar bergaya pedesaan dengan tempat parkir yang cukup luas di depannya. Nenek dan Kakek Abigail menunggu di beranda. Mereka menghampiri mobil ketika berhenti di depan rumah.
"Oh, Abi. My grandson,(cucuku)" seorang pria dengan rambut yang sudah memutih semua memeluk Abigail saat pria itu keluar dari mobil.
Nenek juga menyambut Marina yang keluar dari mobil. "Who is she? Such a lovely lady. Is she your wife?(Siapa ini? Wanita yang sangat manis. Apa ini istrimu?)" tanyanya pada Abigail.
"Oh, yeah, Grandma.(iya, Nenek)"
Mereka kemudian masuk ke dalam rumah. Setelah beramah tamah, dan sholat bersama, obrolan berlanjut di meja makan. Terlihat sekali hubungan Abigail dekat dengan keduanya. Pria itu bicara apa saja mengenai bisnis hingga saat mengenal istrinya.
Abigail kemudian membiarkan kedua kakek dan neneknya beristirahat sambil menjaga cicitnya. Ia mengajak istrinya keluar jalan-jalan.
"Kita mau ke mana?" tanya wanita itu kebingungan. Sejauh mata memandang hanyalah padang rumput dan pohon-pohon yang kehilangan daunnya.
"Kamu pernah naik kuda?" tanya Pria itu saat menatap sang istri.
"Belum."
"Kakekku. Ia beternak kuda-kuda yang selalu jadi juara di perlombaan pacuan kuda."
"Oya?"
"Iya. Kau mau coba naik kuda?"
Marina mengusap belakang kepalanya sedikit bingung. "Apa aku bisa?"
Abigail malah tertawa. "Masa gak bisa? Sini aku ajari." Pria itu menggandeng istrinya ke istal.
Tempat itu penuh dengan kuda-kuda yang beraneka warna. Ada yang coklat, hitam dan Abigail memilih yang berwarna putih. "Ini kuda kesayanganku. Namanya Whity Wind(Angin putih). Hallo, how are you, Whity?(Halo, apa kabarmu, Whity?)" Ia mengusap wajah kuda itu saat masuk ke kandang.
Pria itu meraih tangan istrinya agar menyentuh wajah kuda itu. Awalnya kuda itu sedikit terkejut tapi kemudian menerima kulitnya disentuh wanita itu karena ia bersama Abigail.
"Aku mau naik ya, sama istriku. Boleh ya?" Pria itu terus mengusap-usap wajah kuda itu bersama Marina. Kemudian ia memasang pelana kuda dan mengajak Marina segera naik.
Dengan bantuan sang suami, Marina naik kuda, dan kemudian Abigail. Dengan cepat pria itu menjalankan kudanya dan membawanya ke luar.
Marina sampai kaget dan berpegang pada lengan sang suami di mana pria itu telah lebih dulu melingkarkan tangan dipinggang istrinya.
"Owow, jangan kaget Marina. Aku pegang kamu kok."
Setelah terbiasa, wanita itu mulai menikmati naik kuda bersama suaminya. Mereka melewati lembah, padang rumput dan juga pohon-pohon yang mulai kering. Abigail kemudian turun saat mendatangi tempat latihan berkuda untuk yang ingin belajar naik kuda maupun yang sudah terbiasa.
Ia menuntun kuda yang dinaiki istrinya sambil melihat-lihat tempat itu. Bahkan mereka berfoto-foto berdua dengan sang istri dibantu pekerja di sana. Marina menikmati jalan-jalan yang tidak biasa ini bersama sang suami.
_________________________________________