
Mereka juga ikut menonton para joki cilik menaiki kuda dan melewati rintangan saat latihan. Para keluarga joki itu rata-rata dari keluarga kaya dan mengikutkan anak mereka pada lomba seperti ini agar bisa menaikkan prestise keluarga mereka di mata khalayak umum.
Marina menikmati melihat anak-anak yang masih sangat muda itu sudah bisa menunggang kuda dan berprestasi. "Apa Farrel bisa seperti itu juga ya?"
Abigail tersenyum lebar. "Anak sebaiknya jangan dipaksa, kecuali ia punya pilihan yang buruk." Ya, menilik dari pengalaman pribadinya menikah bukan dengan orang yang dicintai, mengajarkan pria itu satu hal. Segala sesuatu harus dijalani dengan hati dan sepenuh hati agar ia bisa setidaknya membahagiakan diri sendiri saat menjalani.
Langit mulai mendung kembali, memaksa kedua sejoli itu segera pulang sebelum didahului hujan. Pria itu memacu kudanya kembali ke rumah kakek.
Di sana ternyata Farrel sedang menangis. Dikelilingi orang-orang yang tidak dikenalnya membuat bayi itu takut dan mencari Marina. Tepat saat itu Marina datang.
"Mami ...." Farrel menangis.
"Eh, Sayang. Ada apa?" Marina menghampiri.
Bayi itu segera mengangkat tangannya ingin digendong. Wanita itu kemudian menggendongnya.
Abigail yang datang kemudian, diberi tahu nenek apa yang terjadi. Pria itu tersenyum lebar. Tak lama bayi itu dibuatkan susu botol dan bersandar dipelukan Marina. Setelah mengobrol panjang, mereka kemudian pamit. Farrel sudah tidur saat dibawa masuk ke dalam mobil.
Kedua kakek dan nenek Abigail memeluk cucunya dan Marina saat pulang. Mereka sepertinya akan merindukan keduanya kembali. Saat mobil pergi, mereka melambaikan tangan ke arah mobil.
"Haaah ... aku akan sangat merindukan mereka," sahut Abigail pelan.
"Tapi mereka mau mengunjunginya kita 'kan di Jakarta?" terang Marina dari kursi belakang.
"Iya, sih."
Setelah perjalanan panjang, mereka akhirnya sampai kembali ke hotel, tempat mereka menginap. Esok mereka mesti kembali ke Jakarta.
--------+++----------
"Haahh ...." Pria itu merebahkan dirinya di ranjang. Perjalanan pesawat itu melelahkan, padahal besok dia mesti kembali bekerja.
Marina ikut-ikutan berbaring di atas ranjang. Dia berbaring di samping sang suami dan menghadapkan wajah ke arahnya.
"Kenapa, Sayang?" Pria itu meliriknya.
"Aku bosan jadi penulis, begini-begini saja."
"Lalu?" Pria itu memutar tubuhnya ke arah wanita itu.
"Aku mau ikut lomba ah!"
"Lomba?"
"Iya, biar lebih banyak yang baca."
"Ya sudah, ikut saja." Pria itu meraih kedua tangan Marina dan mengecupnya. "Memang seberapa bagus tulisanmu? Aku boleh lihat?"
"Jangan, malu." Marina menarik tangannya dan memunggungi sang suami.
Pria itu mendekati dan mendekap sang istri dari belakang. "Padahal kalau berduaan denganku kamu gak pernah malu," candanya.
"Ih, Abang. Apa hubungannya?" Namun tak ayal wajah wanita itu tersipu-sipu.
Abigail tertawa lepas. Ia memeluk pinggang istrinya, erat. "Ya sudah, kita tidur-tiduran saja dulu. Kalo ada keinginan berbelok ke yang lainnya, ya, lakukan saja. Gimana?"
Marina melirik suaminya dengan senyum simpul. Ia mengangguk.
-------+++--------
Marina belakangan makin cantik saja, dan itu membuat pria itu makin lama makin pangling dengan istrinya sendiri. Ia mulai menyadari saat wanita itu berfoto dengan baju berenang, di depan cermin kolam renang komplek.
"Bang, aku beli baju renang baru, Bang. Yang lama sudah melar." Wanita itu mengambil foto dirinya dengan HP di cermin besar.
"Mmh?" Di hadapan pria itu berdiri wanita yang bertubuh ramping dengan wajah istrinya. "Marina?"
"Abang gak pernah mau sih diajak berenang, belakangan ini. Sibuk terus, sampai Sabtu-Minggu masuk kerja juga. Pulang juga larut malam dan langsung tidur. Memangnya membangun pabrik harus sampai kelelahan begitu ya, Bang? Ingat kesehatan, 'kan Abang sendiri yang ngajari. Eh, sekarang Abang gak berhenti-berhentinya kerja. Kalau gak dipaksa ke sini, pasti mau balik lagi ke pabrik. Iya 'kan?" Wanita itu bertelak pinggang.
Abigail tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Istrinya kini telah ramping. Memang belakangan Marina sering memakai baju longgar tapi ia tidak begitu memperhatikannya. Karena lelah bekerja, setiap sampai rumah ia langsung tertidur dan pagi, jarang bertemu pula dengan istrinya, karena Marina sibuk mengurus Farrel. Bayi itu mulai bisa jalan dan sangat manja pada Marina. Ia ingin disuapi wanita itu saat sarapan.
Praktis, keduanya jadi jarang bertemu padahal mereka tidur satu ranjang. Abigail terpukau melihat penampilan baru sang istri yang ramping, cantik dan mempesona. Sejak kapan ini terjadi? Kenapa ia yang tidur bersamanya, tak pernah tahu? "Marina ...." Pria itu meraih pinggang ramping sang istri dalam pelukan sehingga wanita itu kesal dan menepuk lengan pria itu.
"Abang! Ih, malu. Depan umum. Ck!"
"Sejak kapan kau jadi cantik begini?" Pria itu tak bisa memandang ke tempat lain. Ia tak percaya dengan penglihatannya.
Marina masih melihat sekitar karena orang-orang melihat dirinya jadi perhatian umum sebab Abigail memeluknya. "Abang," bisiknya sedikit malu dan bersembunyi di dada bidang sang suami.
"Mmh?" Pria itu masih terhipnotis dengan pandangannya. Apalagi pelukan dipinggang ramping itu juga berbeda rasanya.
"Sejak 3 bulan Abang tidak menyentuhku," bisik wanita itu di telinga suaminya.
Keterusterangan Marina praktis membuat pria itu terkejut. Ia baru menyadari bahwa kesibukan pada pekerjaan membuat ia mengabaikan sang istri lagi, istri keduanya. Padahal ia berjanji pada diri sendiri bahwa ia tak akan mengulanginya, tapi ternyata ia sudah melakukannya lagi.
Namun yang membingungkan, kenapa Marina tak pernah mengeluh soal ini selama 3 bulan? "Eh bagaimana kalau kita berolahraga di kamar saja?"
"Eh?" Wajah wanita itu kembali tersipu-sipu. "Sekarang?"
"Iya, sekarang saja." Dan tiba-tiba pria itu berjongkok dan langsung memanggul wanita itu di pundaknya.
"Eh, Abang! Kita mau ke mana?" Marina kaget dan berpegangan pada baju kaos suaminya di belakang karena takut jatuh.
"'Kan tadi sudah kubilang, kita ke kamar."
Pemandangan ini menjadi sorotan orang-orang di kolam renang itu. Mereka terlihat sangat romantis, padahal Marina terlihat malu dan Abigail tak peduli.
Pria itu membawa istrinya ke dalam mobil.
"Bang, kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran sih?" Namun tak ayal wajah wanita itu memerah.
Pria itu hanya mengecup kening Marina dan menjalankan mobil. Sesampainya di rumah pun, keduanya jadi sorotan pembantu dan babysitter Farrel yang baru menidurkan bayi itu. Marina dan Abigail baru pergi sepuluh menit yang lalu tapi kini sudah kembali.
"Jangan ganggu kami selama 2 jam ya?" Beri tahu pria itu pada babysitter Isy.
Babysitter itu melirik pada Marina.
"Eh?" Marina melongo.
----------+++---------
Abigail bersyukur mempunyai istri Marina. Karena kesibukannya, ia tak tahu apa yang terjadi dengan wanita itu. Namun Marina tidak sakit hati. Mungkin karena kesibukannya juga, wanita itu tidak menjadikan masalah ranjang menjadi masalah besar. Lagipula, wanita itu mengomunikasikan semua yang dirasakan sehingga pria itu mengerti letak salahnya dan langsung memperbaiki. Ternyata komunikasi adalah masalah yang terpenting dalam pernikahan.
Namun pagi ini, wanita itu terlihat lain. Ia berbisik-bisik dengan Isy dan segera terhenti ketika Abigail datang. Tentu saja, pria itu jadi curiga.
__________________________________________