Author And The Baby

Author And The Baby
Babysitter Cantik



Mereka makan siang bersama.


"Mmh ... siapa itu, Anka ya? Dia sering ke sini?" tanya Abigail penasaran.


"O iya, karena pagi, dia gak kuliah. Jadi main ke sini," terang Marina yang menyuap nasinya.


"Setiap hari?" selidik pria itu.


"Mmh, saat aku ada di rumah aja. Kenapa Kak?"


"Mmh, tidak." Sebelum Abigail menyuap, ia berhenti sebentar. "Mmh, habis makan aku ingin membawa Farrel ke kuburan istriku."


"Oh, iya, Kak."


Seusai makan siang, mereka menyambangi pekuburan di mana Alena dikuburkan. Sebuah Nisan granit baru berwarna abu-abu telah dipasang dengan ukiran nama dengan tanggal lahir dan tanggal meninggalnya.


Tetap haru, seolah kejadian itu baru terjadi kemarin, Abigail menitikkan air mata. Ia berjongkok bersama Marina yang sedang menggendong Farrel sambil mendoakan. Pria itu menyentuh tanah pekuburan itu seraya menyentuh Farrel. "Farrel, ini kuburan ibumu. Ibu yang menyayangimu. Maafkan dia karena pergi lebih dulu. Tetaplah tumbuh jadi anak yang baik walaupun ibu tak ada di sampingmu ya?" Abigail menatap bayi kecil itu.


Bayi itu seolah mengerti dengan mengoceh tak jelas dan menatap Abigail. Marina terharu melihatnya.


Pria itu kini beralih pada kuburan Alena. Ia memandangi gundukan tanah di depannya. "Alena, maafkan aku. Sampai akhir, kita tak pernah menyelesaikan masalah kesalahpahaman ini dan itu benar-benar menyiksaku, tapi aku tahu tidak ada dari kita yang bersalah. Namun keputusanmu mengakhiri hidup itu kusesali, walaupun tetap sebagian itu adalah salahku.


Aku sudah tak ingin menyiksa diri dengan masa lalu. Juga denganmu. Aku anggap yang terdahulu adalah takdir yang paling sulit yang kita pernah lewati. Sekarang aku berharap diriku bisa damai setiap mengingatmu begitu juga pengharapanku tentangmu. Semoga dirimu bisa beristirahat dengan tenang di sana dan semoga berada di tempat yang terbaik di sisiNya.


Serahkan masa depan Farrel padaku. Aku akan membesarkannya dengan baik agar kau tak khawatir akan jadi apa ia kelak. Aku akan sekuat tenaga menjaga dan mengurusnya karena ia adalah kado terindah yang kau persembahkan untukku."


Abigail yang wajahnya telah basah dengan air mata menoleh ke arah Marina. "Oya, ini babysitter Farrel yang cantik. Dia adalah temanku yang tanpa sengaja diserahi Farrel oleh Kanaya. Dia akan mengurus Farrel untukmu."


Marina tersenyum. Sempat pipinya memerah saat Abigail memperkenalkan dirinya sebagai 'babysitter cantik'. Apa pria itu sadar dengan kata-katanya?


Setelah selesai, mereka pun beranjak ke mobil. Di dalam mobil, Abigail membersihkan sisa air mata dengan tisu yang berada di dasbor.


Marina melirik Abigail. Tadi dia bilang aku cantik? Aku babysitter cantik? Benarkah aku cantik? Cantik di matanya? Pikiran itu terus berputar-putar di kepalanya. Tapi dia bilang begitu, bukan berarti dia naksir aku 'kan? Bukan, pasti! Ia mengerucutkan mulutnya di depan cermin kecil di atasnya. Itu cuma kata-kata sopan saja, Marina. Supaya terdengar menyenangkan. Bukan benar-benar memujimu. Bedakan itu!


Abigail melihat tingkah Marina yang mengerucutkan mulutnya di depan cermin kecil di atas dan melihatnya dengan aneh. "Kamu kenapa Marina?"


Marina terkejut, pria itu memperhatikan tingkahnya. "E eh, ngak apa-apa."


"Maaf ya, aku masih gampang menangis kalau ingat istriku."


"Eh, tidak apa-apa." Wanita itu masih melirik Abigail yang telah selesai membersihkan sisa air matanya dan memasukkan tisu bekas itu dalam tempat sampah kecil yang ia ambil dari belakang kursinya. Seandainya saja kata-katanya tadi sungguhan. Ya Allah, aku ingin sekali, tapi masa dia bilang begitu dengan tidak sadar? Ya ampun, aku bisa tidak tidur ini nanti malam memikirkan ini. Ini sungguhan gak sih, bilangnya? Aku jadi penasaran.


"Oya, Marina. Kau punya baju pesta?"


"Pesta?" Ini maksudnya ....


"Iya, aku ada undangan pesta pernikahan temanku nanti malam dan aku mau bawa Farrel."


"Oh ...." Astaga, Marina. Apa yang kamu pikirkan? "Aku punya tapi takutnya eh ...."


"Kenapa?"


"Gak muat."


Abigail langsung tertawa. "Marina ...."


Pria itu berusaha menyelesaikan tawanya. "Ok, ok, aku mengerti. Kalau begitu, kita beli saja pakaian pestanya ya?" Ia menyalakan mesin mobil. "Sama beli cemilan!" Pria itu mencubit pipi wanita itu dengan lembut, saking gemasnya.


Marina terkejut. Walau berusaha memberi senyuman, tapi ia tak mengerti arti cubitan gemas pria itu. Marina, jangan salah sangka lagi! Ya Allah ....


Sesampainya di Mall entah kenapa, Farrel tertidur sehingga mereka dengan leluasa melihat pakaian. Abigail menunggui Farrel di samping kereta bayinya sedang Marina mencari pakaian untuk pesta.


Marina memperlihatkan pakaian berwarna pink dengan motif bunga-bunga di bawahnya. "Yang ini, Kak?"


"Mmh ... usahakan jangan terlalu banyak motif, jadi terlihat kurus. Warnanya sedikit gelap."


"Jadi yang mana?" Marina menyerah.


"Lho, perempuan biasanya senang mencari baju?" Abigail terheran-heran.


"Kalau kurus, Kak. Kalau gemuk kayak aku gimana? Pilihannya gak banyak."


"Nah, kamu tahu itu. Tinggal pilih yang ukuranmu saja, dan lihat yang mana yang bagus. Kalau tidak ada, kita bisa cari di tempat lain." Abigail melipat tangannya di dada.


"Mmh, iya." Mulutnya mengerucut sambil menunduk.


"Kamu kenapa, kayaknya tidak senang mencari baju?" Abigail mulai memperhatikan Marina yang mulai malas mencari.


"Malas, Kak. Aku lagi pusing memikirkan ending (penyelesaian) novelku bagaimana. Aku juga gak begitu suka kalau cari baju saat gemuk. Mau bagaimanapun pasti terlihat jelek," jawab Marina jujur.


Pria itu menghela napas. Ia sempat melihat di rak gantung di atas di salah satu dinding, ada terusan berwarna hijau tua berbahan satin dengan potongan sederhana. "Eh, Marina. Coba di rak itu, aku lihat ada baju gamis berwarna hijau. Kelihatannya cocok untuk di pakai ke pesta. Coba kau lihat dulu."


Marina mengarahkan pandangan mengikuti arah telunjuk pria itu. Baju hijau yang disebut pria itu memang terlihat berbeda. Walaupun gelap tapi terlihat teduh. Seorang pramuniaga membantu mengambil dan mencarikan ukurannya. Setelah itu wanita itu mencobanya.


Abigail sampai menyambangi ke tempat Marina berganti pakaian. "Gimana Marina?" ucapnya dari depan pintu. Marina keluar dan melihat pria itu tengah menggendong Farrel yang baru bangun.


"Begini?" tanya wanita itu pada Abigail. Wanita itu terlihat anggun dengan gamis hijau itu.


"Nah, begitu. Cantik kok. Tinggal kamu cari jilbabnya saja. Pakai yang warna hitam mungkin lebih manis." Setelah berucap begitu, pria itu meninggalkannya dan sibuk dengan Farrel.


Apa? Beneran gak sih dia ngomongnya? Ih, kenapa pergi, aku 'kan jadi penasaran. Marina menghentakkan kakinya. Pria itu bukan saja menyebutnya cantik, tapi juga manis. Marina makin tak tenang dibuatnya.


Dalam perjalanan pulang, Marina sekali-sekali melirik pria itu. Apa dia sungguh-sungguh dengan ucapannya, atau agar aku cepat belanja pakaian tadi?


Abigail menyadari Marina memperhatikannya. "Ada apa?" katanya sambil menyetir.


"Oh, tidak. Mmh. Terima kasih sudah membelikan aku baju pesta," jawab Marina malu-malu.


"Oh, tidak apa-apa. Itu 'kan keperluanku."


"Padahal bajunya terlalu bagus untuk seorang babysitter," ucap wanita itu merendah.


Abigail membulatkan matanya melirik wanita itu. "Marina, aku bisa marah ini, mendengarnya. Kamu itu temanku, bukan pembantu!"


___________________________________________


Masih terus mengikuti novel ini 'kan reader? Jangan lupa pemberi semangat author, like, vote, komen atau hadiah. Ini visual Abigail dan Marina yang semakin kompak mengurus Farrel. Salam, ingflora 💋