Author And The Baby

Author And The Baby
Masih Setia



Terdengar ketukan di pintu. "Mmh? Apa Papamu ketinggalan sesuatu?" bisik wanita itu pada bayi Farrel. Ia melangkah ke pintu sambil menggendong bayi itu. "Anka?" Ia terkejut melihat siapa yang datang.


"Eh, boleh aku main ke sini, gak?"


"Oh, iya. Masuk aja, Ka." Marina melebarkan pintu.


Anka masuk dan melihat ruangan yang ditata modern dengan mebel mewah di dalamnya, walaupun hanya sebuah kursi. Semuanya terlihat mahal. Pria itu, apa orang kaya? Pemuda itu menelan ludah dengan amat sulit. Padahal penampilan pria itu sederhana.


"Kok bengong, Ka? Ayo, duduk." Marina mempersilahkan pemuda itu untuk duduk.


Anka pun duduk di kursi ruang tamu. Di tilik dari ruang itu, isi ruangan terlampau mewah untuk apartemen sekecil itu walaupun pria itu tidak menyewa apartemen yang kecil. Ia menyewa apartemen yang sama seperti punya kakaknya yang berisi 3 kamar.


"Anka mau minum apa? Dingin? Jus jeruk ya?" Marina meletakkan bayi Farrel di boks bayi di luar dan pergi ke dapur. Tak lama, wanita itu kembali dengan membawa segelas jus jeruk dingin.


Anka sedang memperhatikan bayi dalam boks bayi. "Namanya Farrel ya?"


"Iya. Pantas aja, waktu diberi nama Farhan dia senang. Rupanya mirip dengan namanya."


"Mmh." Pemuda itu menoleh pada Marina. "Sekarang enak ya, ada boks bayi. Jadi mau Farrel guling ke mana-mana juga gak takut jatuh."


"Mmh, aneh juga sih. Kalau lihat umurnya 'kan dia belum bisa berguling ya, tapi Farrel bisa. Mungkin karena badannya kuat ya?"


"Bagaimana Kakak tau, belum waktunya dia bisa berguling?" Anka mendatangi meja dan duduk di kursi berhadapan dengan Marina.


"Oh, di internet 'kan ada, tinggal cari."


"Gitu ya? Aku gak tau, Kak."


Mereka terdiam sejenak sambil memandangi Farrel yang berada di dalam boks.


"Eh, aku kok sepi ya? Gak ada Kakak di apartemen sebelah." Anka mencurahkan isi hati.


"Kamu gak main sama teman kampusmu? Apa kamu gak bosen main sama Kakak?"


"Enggaklah, Kak. Mana bisa aku bosan." Anka menatap wanita itu. "Kakak teman yang bisa aku datangi setiap saat, sedang yang lain jauh-jauh tempat tinggalnya."


"Punya pacar dong, Ka. Jadi ada yang diperjuangkan," ujar Marina dengan senyum tertahan.


Anka masih menatap Marina, dalam. "Inginnya begitu, tapi bagaimana caranya? Aku sudah bilang padanya tapi kayaknya dia belum mengerti juga maksudnya."


"Ya berarti harus terus terang. Mungkin dia tipe gadis yang tidak bisa membaca sinyal."


"Begitu ya, Kak?"


"Iya."


Anka masih menatap Marina dalam diam.


"Kenapa?" tanya wanita itu dengan senyum manisnya.


"Aku ...."


Terdengar bunyi bel. Marina bergegas ke arah pintu. "Ah, loundry ya? Sebentar."


"Ah, ini loundry-an Pak Abigail, Bu." Pria di depan Marina memberikan sebuah bungkusan plastik besar.


"Oh ya, berapa semuanya?"


Pria itu memberikan kertas bon.


"Ok, sebentar ya?" Wanita itu mendatangi 2 kamar dan mengambil 2 buah tas kain yang kemudian diserahkan pada pria itu beserta uang pembayaran loundry yang sudah jadi. Pria itu kemudian pergi.


"Jadi Kakak gak nyuci baju lagi ya?" Anka yang tahu kebiasaan Marina yang mencuci di kamar mandi, berkomentar.


"Iya," jawab wanita itu dengan wajah sumringah.


"Orangnya baik ya, Kak?"


"Siapa? Kak Abigail? Oh iya."


"Abigail namanya?"


"Iya, Papanya Farrel."


"Iya, kasihan."


Anka menatap Marina. "Kamu sama Kak Abigail ...."


"Teman, 'kan? Tapi sekarang jadi bosku."


"Oh ...." Setelah hati-hati bertanya, Anka mulai tersenyum. Ia merasa punya kesempatan. "Aku boleh sering main-main ke sini, 'kan?"


"Oh, ya gak papa. Main aja."


Berarti hati Kak Marina, belum milik siapa-siapa ya? Asyik .... Anka tersenyum lebar.


"Kenapa, Ka?" Marina melihat senyum lebar Anka.


"Oh, gak papa, Kak."


----------+++----------


Setelah Anka pulang Marina kembali ke kamar. Farrel yang telah tertidur setelah minum susu botol, ia letakkan di boks bayi kamarnya.


Marina kembali menekuni laptop, melihat novelnya kembali. Semalam ia mendapat seorang pembaca baru yang menggemari novelnya. Bahkan memberikan hadiah yang berasal dari iklan dan bunga. Juga vote. Hati wanita itu berbunga-bunga, apa lagi pembaca itu selalu memberikan like di setiap bab dan memberi komentar yang menyenangkan.


Lucu juga ini pembaca. Dia mulai baca tadi malam terlihat dari kapan dia memberi like. Sepertinya ia tidak tidur tadi malam hanya demi membaca novelku, hanya menjelang pagi saja ia berhenti.


Oh, apa dia sedang tidak bisa tidur ya, tapi dia baik sekali memberikanku banyak hadiah. Katanya novelku bagus, tapi dia belum selesai membaca semua bab terlihat dari like-nya yang belum selesai. Mmh, namanya juga lucu, 'Mentari dibalik awan'. Marina senyum-senyum sendiri melihat datanya.


----------+++----------


Wanita itu mengetuk dan membuka pintu. Ia terkejut melihat pria itu meletakkan kepalanya miring di atas meja kerja. Cepat-cepat ia menutup pintu dan menghampiri. "Pak ... Pak ...."


Pria Indo itu membuka matanya pelan. "Mmh, oh!" Ia menegakkan kepala seketika. Abigail mengerjap-ngerjapkan mata seraya membersihkan air liur yang keluar sedikit dari mulutnya.


Sekretarisnya menahan senyum. "Jadi meeting-nya, Pak? 'Kan sudah diundur jadi jam 10."


"Jadi. Beri aku waktu 5 menit untuk bersiap-siap."


"Baik, Pak. Kami tunggu Bapak di ruang meeting."


"Ya, aku akan ke sana."


Wanita itu kemudian pergi keluar dan menutup pintu. Abigail menguap dengan meregangkan tangannya.


-----------+++----------


Marina memperkenalkan lagu anak-anak berbahasa Inggris dari televisi pada Farrel. Sambil bernyanyi ia juga mencoba menghapal lirik lagunya. Farrel yang baru pertama kali mendengar lagu itu melihat wajah Marina dengan seksama. "Baby shark, du du du du du. Baby shark. Baby shark, du du ...."


Setelah menonton televisi, Marina mematikan siaran dan membawa bayi Farrel ke kamar. "Duh, Tante mau nulis, tapi kamu malah bangun. Bagaimana kalau kamu dengar lagu Nina Bobo aja dari Tante, tapi janji tidur ya?"


Bayi itu mengoceh tak jelas. Marina duduk di tepi tempat tidur dan mulai menyenandungkan lagu Nina Bobo dengan lembut. Ia menepuk-nepuk kaki Farrel dalam gendongan.


Ternyata Farrel terlena. Sebentar kemudian bayi itu tertidur. Marina meletakkan bayi itu di dalam boks bayi dan memandanginya dari tempat tidur, tapi tanpa sengaja ia juga tertidur. Ia tertidur hingga Abigail pulang.


Kenapa lampu belum dihidupkan ya? Pria itu kemudian menghidupkan ruang apartemennya. Kok sepi? Pada ke mana Farrel dan Marina?


Ia mendekati kamar Marina. Dengan nekat ia membuka pintu dengan amat pelan. Ternyata keduanya tidur di sana. Farrel di dalam boks bayi dan Marina di atas tempat tidurnya. Ia menebak Marina ketiduran karena tidur masih mengenakan jilbab instannya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.


Dengan amat pelan, ia kembali menutup pintu. Ia mengetuk-ngetuk pintu setelahnya.


Tak lama. "Oh, sebentar."


Abigail menahan tawa. Pintu dibuka. Pria itu pura-pura bersikap biasa saja, padahal ia ingin tertawa. "Oh, kamu ada. Aku pikir kamu keluar."


"Oh, aku ketiduran, Kak. Maaf tidak dengar Kakak datang," ujar wanita itu jujur.


"Mmh ... mau tidur lagi?"


"Ah, tidak! Aku mau nulis kok, tadi. Padahal sudah bikin Farrel tidur tapi kenapa aku juga ikut tidur tadi? Duhh ...." Wanita itu menghentakkan kakinya karena kesal.


Abigail terpaksa tertawa lepas melihat mimik lucu bibir Marina yang menggulung saat merengut. "Maaf, maaf, maaf. Habis kamu lucu saat marah. Ya sudah ... Sebentar lagi Magrib. Bangunkan saja Farrel. Biar kita gantian jaga, setelah itu siap-siap buat makan malam di luar."