Author And The Baby

Author And The Baby
Kabur



Abigail menatap kursi meja di depannya. Sudah beberapa hari ini wanita itu tak lagi datang ke kafe itu dan mereka telah lama tak jumpa. Sungguh, kerinduan ini kian memuncak sebab sehari saja tak berjumpa membuat ia gelisah.


Dulu tak bertemu dengannya ia gelisah karena dunianya sedang pecah dan Marina tanpa sengaja menyatukannya dalam kelucuan yang tak disengaja. Kini, saat ia masih tak bertemu, ia gelisah karena ternyata temu itu telah menjadi candu.


Kerinduan telah membuatnya menjadi butuh, seperti kopi yang diminum setiap hari, saat tak ada ia lemah, karena kehilangan semangat dan juga hadirnya.


Beberapa kali setiap melewati unit apartemen wanita itu, Abigail ingin mampir, tapi ia tak punya keberanian dan juga alasan. Itulah kenapa setiap melewati apartemen itu ia hanya bisa menelan kecewa.


Ia berharap saat ia lewat, wanita itu sedang keluar seperti beberapa hari yang lalu, tapi itu tidak pernah terjadi lagi hingga ia mencoba mencari alasan untuk bisa menemui wanita itu, tetapi tetap saja ia terlalu bodoh untuk itu, hingga pada akhirnya ia hanya bisa pasrah. Ia bukan pria yang dengan mudah menemukan alasan yang bisa dibuat-buat.


------------+++-----------


"Ikut ya?" tanya Anka pada Marina.


"Mmh ...." Marina mengerucutkan mulutnya.


"Ayolah Kak, ikut aja. Temani aku. Masa, aku gak punya teman bicara?"


"'Kan, kamu pergi sama keluargamu, gak mungkin sendirian 'kan, Anka? Aku rumit. Harus bawa Farhan dan segala keperluannya."


"Justru itu Kak, 'kan ada Kak Sila dan Bang Surya yang bisa bantu Kakak."


"'Kan mereka ada anak-anak, Dodo dan Abel. Mana bisa aku minta tolong mereka."


Anka tertawa. "Ya Kak, maksudnya bisa gantian gendong Farhan. Dodo dan Abel 'kan udah besar, sudah gak perlu digendong lagi, kecuali kalau lagi sakit. Baru manja deh, mereka."


Marina tersenyum.


"Sudah ikut aja ya? Apa Kakak gak bosen tiap hari di kamar? Kali aja dapat inspirasi untuk novel kakak saat jalan-jalan ke puncak."


Akhirnya Marina mengiyakan. Keduanya menyelesaikan sarapan dan kemudian wanita itu bersiap-siap.


Marina hanya punya tas punggung yang juga praktis untuk membawa sendiri barang-barang milik Farhan, sehingga ia sebenarnya bisa membawa sendiri tas itu sambil menggendong Farhan tanpa bantuan orang lain.


Saat ia sampai di apartemen Sila, mereka masih mengurus si kecil hingga Marina harus menunggu.


"Sama aku aja deh. Yuk, turun." Anka mengajak Marina keluar. Mereka kemudian menunggu di lobi di lantai bawah.


Lima menit berlalu. "Aku mau ke toilet sebentar ya, Kak." Pemuda itu kemudian pergi ke toilet yang letaknya tak jauh dari sana.


"Iya." Marina memandang ke arah dinding depan gedung apartemen itu yang terbuat dari kaca. Pagi itu, ia memperhatikan beberapa orang yang keluar masuk gedung lewat pintu kaca. Kebanyakan dari mereka pergi untuk berangkat ke kantor.


Beberapa mobil datang untuk menjemput penumpang tapi yang berikutnya ia terkejut ketika tanpa sengaja ia melihat sebuah mobil mewah berhenti di depan pintu. Rasanya ia kenal mobil dan pemiliknya dan ketika penumpangnya keluar, barulah Marina ingat mobil milik siapa itu.


Tua bangka itu ... Bagaimana ia tahu aku di sini? Marina berdiri dari duduknya, padahal pria itu masuk lewat pintu depan. Ia panik harus bagaimana hingga ia mencoba membalikkan tubuhnya.


Ya Allah, mudah-mudahan ia tak melihatku ya Allah ... Marina mendekap Farhan yang masih tertidur dipelukan. Ya Allah, lindungi aku.


Untuk beberapa saat ia tak berani bergerak, tapi kemudian ia coba menoleh. Tidak ada siapa-siapa di situ, sepi. Karena masih takut, wanita itu bergegas ke arah pintu dan pergi keluar hingga ke jalan raya.


Dengan tangan gemetar, ia kebingungan mencari tempat sembunyi di luar sana karena semuanya gedung. Gedung perkantoran. Ke mana ia bisa sembunyi?


Gedung pertama yang ditemuinya segera dimasukinya.


Ia melewati pos jaga, dan masuk lewat pintu depan. Ada lobi tempat ia akhirnya bisa duduk dan beristirahat.


Bagaimana tua bangka itu tahu aku tinggal di sana? Pikiran ini benar-benar membuatnya kalut. Mau tidak mau ia harus pulang, padahal apartemen itu menurutnya sudah merupakan tempat paling aman untuknya karena ia tidak harus pergi ke mana-mana lagi, tapi sebenarnya bagaimana tua bangka itu bisa mendapatkan alamatnya? Apa Alan yang memberi tahu tempat tinggalnya?


Alan ... ah, kenapa kamu jahat sama Kakak? Marina menggigit-gigit kukunya. Ah, bagaimana ini?


"Eh ...." Marina bingung harus menjawab apa sedang pikirannya tengah kacau hingga tak tahu harus berkata apa. "Aku cuma numpang istirahat sebentar, boleh ya Mbak?"ucapnya apa adanya.


Melihat Marina yang sedang menggendong bayi, resepsionis itu malah curiga. Jangan-jangan Marina adalah salah satu komplotan yang sedang berusaha mencuri bayi. "Eh, Mbak lapor dulu ke pos satpam di luar ya?" Resepsionis itu menarik lengan wanita itu ke arah pintu depan.


"Eh, tapi cuma sebentar aja kok Mbak, gak lama," pinta Marina pada wanita itu.


"Eh, tidak bisa, Mbak. Orang yang tidak berkepentingan dilarang masuk. Kalau ada masalah apa, kami bisa dipersalahkan."


Marina berpikir cepat. "Eh, kalau begitu. Aku ingin ke toilet sebentar. Boleh 'kan? Eh toiletnya di mana ya?"


Akhirnya resepsionis itu melepas Marina dengan ragu. Ia menunjuk pintu toilet yang letaknya di sebelah lift.


"Oh, terima kasih." Marina lega melihat toilet di samping lift. Ia memikirkan kabur ke atas lewat lift entah ke mana. Bergegas ia ke sana. Aduh ... lift. Buka dong ... buka dong. Marina berharap dalam hati.


Tepat saat ia sudah sampai di depan pintu toilet, pintu lift terbuka. Dengan serta merta wanita itu masuk ke dalam lift, tanpa melihat ada orang lain yang sedang mencoba keluar hingga tubuh mereka bertabrakan. "Aduh."


"Eh, maaf."


Resepsionis itu mengejarnya. "Hei!"


Marina buru-buru melihat bayi yang digendongnya karena takut terbangun. Ternyata bayi itu hanya sedikit terusik karena hanya tersenggol di samping. "Oh, alhamdulillah." Ia memeluknya.


Namun resepsionis itu telah meraih tangan wanita itu dari samping.


"Marina?"


"Eh?" Wanita itu mengangkat wajahnya. "Kakak?"


"Oh, Bapak mengenalnya?" tanya resepsionis itu terkejut.


"Oh, iya. Tentu saja."


Resepsionis itu berubah takut dan melepas Marina sambil memberi hormat berkali-kali. "Oh, maaf, Pak. Maaf. Saya tidak tahu."


"Oh, tidak apa-apa."


"Eh, permisi, Pak." Resepsionis itu kemudian, kembali ke tempatnya dengan wajah menyesal.


Pria itu kemudian menoleh ke arah wanita di sampingnya. "Marina, ada apa sampai kau kemari?"


Wanita itu menatap pria di depannya dengan detak jantung terparah saat itu. Entah karena ia sedang berusaha kabur atau karena bertemu pria itu. "Kak Abigail, boleh aku numpang sebentar di tempat ini?"


"Mmh?"


Tiba-tiba terdengar dering telepon yang membuat wanita itu hampir terlonjak saking terkejutnya. Ia memejamkan mata. Itu dering teleponku kenapa aku jadi panik mendengar bunyi HP-ku sendiri?


Abigail bisa melihat wanita itu seperti tengah ketakutan akan sesuatu.


"Halo." Marina mengangkat teleponnya. "... eh ... sepertinya aku tak bisa ikut ... Iya. Maaf ya?" Ia menutup telepon lalu menoleh pada pria di hadapannya. "Aku ...."


"Ya sudah, kita naik saja ke atas." Abigail yang cepat tanggap membawa Marina masuk ke dalam lift.


____________________________________________


Bagaimana dengan novel teman author yang satu ini?