
"Aku cuma tebak aja. Lagi ingin makan itu?"
Abigail tersenyum kecil. "Nanti aku beli saja yang sudah jadi."
"Yakin ngak mau aku masakin?" goda Marina. "Aku bisa lho, masaknya."
"Mmh?" Pria itu tertunduk, lalu kemudian melirik wanita itu. "Aku takut merepotkanmu." Akhirnya pengakuan itu keluar juga dari mulut pria itu.
"Bisa kok Kak, buat makan malam besok. Nanti aku masak deh, buat Kakak."
"Bener nih, gak apa-apa?" Abigail memastikan sekali lagi.
"Iya, Kak." Marina tersenyum lebar. "Bumbunya belum ada 'kan, jadi sekalian saja beli." Ia pun kemudian mulai memilih bahan dan bumbu.
Abigail sibuk dengan kereta bayi dan Marina dengan keranjang belanja.
Kenapa dia tiba-tiba ingin Sapi Lada Hitam ya? Mirip sama permintaan suami tokoh utama yang ada di novelku. Dia di cerita minta Sapi Lada Hitam juga pada istrinya. Aneh ya, kok bisa sama?
Sesampainya di apartemen, Marina menyusun belanjaan pada rak di dapur dan lemari es, sedang Abigail sibuk bercanda dengan Farrel. "Eh, jangan masukkan tangan ke mulut ya, Sayang. Kotor."
Namun setiap kali dihalau, tangan bayi itu kembali ingin masuk ke dalam mulut.
"Ini anak Papa susah dibilang ya?"
"Berikan saja mainan gigitnya, Kak," saran Marina dari dapur.
"Oiya." Abigail meletakkan Farrel di dalam kereta bayi dan kemudian mencari mainannya pada rak di bawah kereta. "Ah, ini dia. Farrel ...." Ia berjongkok di depan kereta bayi dan memberikan mainan itu pada tangan bayi itu.
"Sudah dibersihkan dengan tisu basah belum, Kak?"
"Oiya." Abigail kembali mengambil mainan itu dan membersihkan dengan tisu basah yang didapat dari dalam tas ransel milik Marina. Barulah setelah itu ia memberikannya kembali pada Farrel.
Pria itu menggaruk-garuk kepalanya. Dibanding dirinya, Marina lebih mengerti kebersihan untuk bayi dan ia senang mengetahuinya.
Marina kembali dengan susu botol.
"'Kan Farrel belum minta?" tanya pria itu.
"Dikasih saja, karena sebentar lagi, jam tidurnya. Lagipula jaraknya juga cukup jauh dari jam terakhir dia menyusu. Pasti mau."
Benar saja. Setelah digendong Marina dan diberi susu botol, Farrel menurut saja dengan mengedot susu botolnya.
"Sekarang, Kakak bisa istirahat."
"Oiya, terima kasih ya? Sudah mau masak juga untukku." Abigail mengusap belakang kepalanya dengan malu-malu.
"Ah, tidak apa-apa, Kak."
-----------+++-----------
Tengah malam Abigail terbangun. Dengan mata yang masih menyipit ia menengok jam wekernya. Oh, sudah jam segini. Pria itu segera memeriksa HP-nya. Oh, sudah ada update novel terbarunya. Ia segera duduk, mengucek-ngucek mata lalu membuka aplikasi. Dengan serius ia membaca sambungan ceritanya.
------------+++------------
Abigail membuka pintu kamarnya, bersamaan dengan Marina yang membuka pintu kamarnya juga.
"Oh, kakak baru bangun juga?" Marina yang menggendong Farrel, menatap wajah pria itu."Kok ada lingkaran hitam di bawah matanya Kak, susah tidur ya, semalam?"
"Kamu juga," tunjuk Abigail pada wajah Marina.
"Kan ngurus bayi, Kak. Sekalian nulis," katanya tersenyum lebar. "Kakak masih memikirkan, almarhumah ya, Kak?"
Seketika, Abigail ingat Alena. Kamu yang mengingatkanku padanya. Pria itu berdehem untuk menghindari. "Aku ingin buat air panas. AC di kamarku sedikit dingin." Ia melangkah mendahului.
Karena Abigail ke dapur, Marina meletakkan Farrel di boks bayi luar. Bayi itu kini tak selalu menangis saat bangun hingga kadang wanita itu tak tahu kapan bayi itu telah bangun, seperti pagi itu, saat sebelum sholat Subuh, ternyata bayi Farrel telah bangun.
Ia sibuk main sendiri, berguling di dalam boks bayinya. Untung saja bayi Farrel telah tidur di boks bayi sehingga Marina tidak was-was bayi itu terjatuh saat main sendiri.
Wanita itu menata roti dan selai di meja.
"Marina, kamu mau teh?"
"Boleh juga."
"Pakai gula, krimer?"
"Satu sendok semua."
Abigail membawakan cangkir Marina dan cangkirnya ke atas meja makan.
"Iya, gak apa-apa."
"Maaf, Kak. Merepotkan." Ia menganggukkan kepala.
"Tidak apa-apa. Kamu saja mau masak buat aku, sekedar teh, tidak ada apa-apanya."
"Kakak, bisa aja."
"Iya, bener kok. Aku hanya bisa membuatkan teh untukmu."
"Ah, Kakak, suka begitu." Wanita itu tersipu-sipu. "Padahal hanya itu yang aku bisa, Kak. Tidak lebih," ucapnya merendah.
"Berarti kita memang tidak bisa apa-apa ya?" Pria itu tersenyum pada Marina. "Untung saja bisa saling melengkapi."
"Melengkapi?"
"Eh, oh, itu ...." Kini Abigail panik, kenapa ia mengatakan hal seperti itu karena kalimat itu sangat ambigu, tergantung orang yang mendengarnya. "Eh, karena ... aku butuh babysitter dan kau butuh eh ... bersama Farrel, eh, ...." Aku bicara apa sih?
Marina tertawa. "Apa sih, Kak? Kakak ada-ada saja. Mau roti panggang, Kak?"
"Boleh juga." Abigail menghela napas pelan. Fiuh, untung dia tak begitu memperhatikan.
--------------+++-----------
Anka mengintip dari pintu, tapi kali ini ia tak bisa tenang mengintip. Keponakannya, Dodo dan Abel mendekat.
"Om lihat apa?" tanya Dodo.
Abel lebih ingin tahu, dengan ikut sama-sama mengintip.
"Eh, apa sih?" Anka terkejut karena Abel sudah di sampingnya mengintip hingga ia terpaksa menutup pintu.
"Apa Om?" Abel ikut bertanya.
"Tidak ada apa-apa." Anka menempelkan punggungnya ke pintu.
"Lalu, kenapa ngintip?" tanya gadis kecil yang baru berusia 8 tahun.
"Iya," jawab adiknya ikut-ikutan.
"Eh ... cuma intip tukang air galon. Iya, tukang air galon," ucap pemuda itu asal.
"Masa tiap hari. 'Kan kemaren udah diisi?" cecar Abel.
"Iya, udah diisi," beo Dodo.
Surya yang sedang mengintip kedua anaknya bertanya pada Anka, hanya tersenyum. Ia membalik tubuhnya menghadap Sila. "Rasain, diinterogasi ponakan sendiri." Pria itu terkekeh.
"Kok, jahat sih," Namun tak ayal, Sila ikut tersenyum.
Anka terpaksa kembali ke kamar agar tak ditanyai terus menerus oleh keponakannya. Setelah dirasa aman, setengah jam kemudian ia keluar.
"Anka, mau ke mana?" tanya Sila yang sedang merapikan meja makan.
"Mau ke tempat Marina, Kak, main. Assalamu'alaikum." Pemuda itu keluar dari apartemen sambil menutup pintu.
"Waalaikumsalam." Sila menatap pintu seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
-----------+++-----------
Marina mengangkat HP-nya. "Halo, Kak?"
"Kita diminta datang lagi ke kantor polisi Marina, untuk bertemu dengan orang yang memberimu Farrel, jadi sebentar lagi aku akan menjemputmu."
"Oh, gitu. Ok. Mungkin setengah jam lagi ya, Kak. Aku harus ganti baju dan juga Farrel. Bajunya basah kena ilernya."
Abigail fokus menangkap suara seorang pria yang terdengar sedang bercanda dengan Farrel dari handphone-nya. "Marina. Itu suara siapa? Apa kamu punya tamu?"
"Oh, itu Anka. Dia sedang main ke sini."
"Oh, gitu. Setengah jam lagi ya?"
"Iya, Kak. Maaf."
"Iya, gak papa."
Abigail menutup teleponnya. Ia sering melihat Anka mendatangi Marina. Apa Anka menyukai Marina? Namun kemudian ia menghalau perasaan itu karena dirasa terlalu berlebihan.