
Dan benar saja. Udara di luar sangat cerah dan tidak begitu panas. Dengan bermodal peta komplek perumahan dari kantor pemasaran, mereka menjelajah komplek itu dengan berjalan kaki sambil mendorong kereta bayi. Farrel terlihat antusias karena banyak yang bisa ia lihat di jalan.
Sesekali mereka bertemu orang-orang di jalan yang penasaran dengan bayi Farrel hingga mengintip ke dalam kereta bayi. Farrel yang bertemu dengan banyak orang dan melihat pemandangan, sesekali mengoceh karena senang. Abigail tersenyum melihat tingkah bayi itu tapi saat melirik Marina, ia mengkhawatirkannya.
Wanita itu, ia tak tahu apa yang dicemaskannya. Apakah karena posisi dirinya yang duda hingga sulit untuk masuk ke dalam keluarga Marina?
"Kak itu kolam renang sama Gym-nya, kak." Marina menunjuk sebuah gedung pusat kebugaran.
"Yuk, kita masuk. Aku ingin lihat fasilitasnya di dalam."
Mereka kemudian masuk. Tempat Gym itu ternyata luas dan karena 2 tingkat, lantai bawah untuk latihan Gym sedang lantai atas untuk kelas aerobik dan zumba.
Kolam renang ada di sisi yang satunya. Terbuka, lengkap dengan tempat mandi dan loker. Adalagi, kantin kecil untuk mereka yang habis berolahraga yang menjual menu makanan sehat di sampingnya.
Abigail singgah di kantin dan melihat menu yang ada.
"Kakak mau makan lagi?" tanya Marina heran.
"Tidak, kita pesan jus saja. Kau tidak mau?"
Akhirnya keduanya memesan jus.
"Tumben, kamu tidak pesan makanan?" Pria itu menatap Marina.
"Mmh? Mencoba menahan diri." Wanita itu merapikan pakaiannya. Berat badannya sepertinya mulai turun, terlihat dari baju lamanya yang bisa ia pergunakan kembali.
"Sudah agak kurusan sekarang ya?"
"Alhamdulillah. Mungkin karena kena flu kemarin itu."
"Tapi makanmu banyak setelah itu." Abigail tertawa.
"Atau mungkin karena dua hari begadang ini, aku jadi agak kurus, sebab aku makan buah ganti ngemil tiap malam."
"Mungkin juga. Apa kamu ada novel baru?"
"Ada. Itu sebabnya aku begadang karena buat novel baru, banyak yang harus dikerjakan. Buat cover dan blur(cerita singkat isi novel) sendiri. Eh, tapi ... kok Kakak tau novelku sudah tamat?"
Abigail panik. "Eh, eh, bukan. Bukankah kamu pernah bilang, novelmu mau tamat? Aku hanya menebak saja sih. Em." Pria itu mengusap rambut belakangnya.
"Iya, tapi sekarang aku mau ikut lomba. Hadiahnya lumayan buat nambah-nambah tabungan."
"Oya? Bagus itu. Mudah-mudahan saja kamu lolos."
"Amin."
Hah, untunglah dia tak curiga. Pria itu merasa lega.
Seorang pelayan membawakan 2 gelas jus dibawa dengan sebuah baki. Ia meletakkannya di atas meja.
Farrel mulai mengoceh lagi, setelah ia bosan menggigit-gigit mainannya. Abigail kembali tersenyum melihat buah hatinya mulai belajar bicara.
Mereka duduk-duduk di sana sampai minumannya habis, lalu kembali berjalan mencari taman yang berada di dalam komplek tersebut.
------------+++------------
Abigail memeriksa handphone. Ia akhirnya menemukan novel terbaru Marina. Ah, ini dia. Mmh, sepertinya sudah diikutkan lomba. Ok, aku baca saja.
Belum selesai ia membaca, terdengar suara bayi menangis dari interkom di kamarnya. Ia ragu, apa ia harus mengejarnya atau membiarkan sampai Marina mengambilnya. Namun ternyata, ditunggu sekian lama tak ada yang mengambilnya, hingga pria itu turun dari ranjang dan mendatangi kamar Farrel.
Benar saja, tidak ada yang mengambil Farrel. Lalu, Marina ke mana? Abigail membuka pagar tempat tidur Farrel dan menggendong bayi itu.
Marina ke mana ya? Apa interkom di kamarnya tak berfungsi? Pria itu keluar dan mendatangi kamar Marina. Ia mengetuk-ngetuk pintu kamar itu tapi tak ada jawaban. Apa Marina sedang keluar?
"Marina?" Pria itu menemukan wanita itu duduk di dekat sebuah meja kecil dan sedang makan sesuatu. "Kamu lapar?" Ia menghampiri wanita itu. Ternyata Marina sedang makan mi kuah.
"Enggak sih, Kak. Cuma butuh moodbooster (penyemangat) biar semangat nulis. Aku bikin mi kuah pedas agar mata terbuka lebar, dan semangat nulis."
Pria itu tersenyum menahan tawa tapi kemudian ia beralih pada Farrel yang mulai kembali menangis. "Eh, Marina, Farrel ...."
"Iya, Kak." Dengan sigap wanita itu berdiri lalu mendatangi air mineral galon dan mengambil air itu untuk dimasak dikompor. Ia kemudian mencari botol susu Farrel.
"Iya, Sayang, sebentar ya? Sebentar, Sayang. Sabar ya?" sahut Abigail pada putranya. Dilihatnya wajah bayi itu sudah memerah dan basah dengan air mata. Ia mengusap sisa air mata di pipi bayi itu, pelan.
"Ini, Kak!" Marina menyodorkan botol susu Farrel dan pria itu segera memasukkan dot botol itu ke mulut bayi Farrel.
Tangis bayi itu langsung berhenti. Bayi itu mengedot dari botol itu dengan kuat. Sebentar kemudian, bayi itu terlihat riang sambil memegang botol susunya sendiri.
Marina masih berdiri saat pria itu menoleh. "Mau kugendong, Kak. Farrelnya?"
"Oh, tidak usah. Kamu lanjut saja makannya."
"Maaf, Kak."
"Tidak apa-apa."
Marina kembali duduk dan melanjutkan makannya, hanya pria itu beserta bayinya memperhatikan Marina yang makan dengan lahapnya, padahal kuahnya terlihat merah. Wanita itu tertegun ketika menyadari ia tengah diperhatikan 2 orang ini. "Eh ... mau?" Ia menawarkan.
"Eh, tidak. Hanya saja, kuahnya terlihat merah. Apa kamu tidak kepedesan?"
"Tidak. Seger malah."
Abigail melihat bibir wanita itu yang kian bertambah merah dan tebal. Sangat menggiurkan. Tidak mungkin tidak kepedasan tapi juga sangat menarik hingga pria itu tanpa disadari, membuka mulutnya menatap bibir merah itu. "Oh."
"Kakak mau?"
"Mau ... eh, bukan!" Pria itu segera menutup mulutnya serta mengusap mulut itu dengan spontan.
Marina sedikit heran dengan tingkah aneh pria itu. "Eh? Kakak mau? Nanti aku buatkan."
"Eh, tidak, tidak, tidak. A-aku kembali ke atas saja. Menunggui Farrel tidur kembali." Pria itu segera beranjak berdiri dan melangkah ke anak tangga.
Wanita itu masih keheranan melihat tingkah pria itu.
Di kamar Farrel, Abigail berulang kali mengusap wajahnya kasar. Aduh, Marina. Berapa lama lagi aku harus menunggumu, ini? Jangan sampai aku khilaf, karena makin hari kamu makin menggoda. Ia menghela napas pelan.
-----------+++-----------
Pagi itu, Abigail tengah berbicara dengan 2 orang pembantu baru yang dipesan ibunya. Tiba-tiba Marina menerima telepon dan terlihat begitu akrab dengan orang di telepon itu. Tak lama ia menutup telepon dan bergegas ke arah pintu depan. Ia membukanya. Terlihat seorang pemuda masuk ke dalam rumah.
Ya, siapa lagi kalau bukan Anka. Pemuda itu membawakan sebuah bungkusan yang diberikan pada Marina.
Abigail terkejut. Pemuda itu menganggukkan kepala pada pria itu saat melihatnya. Marina bahkan membawanya ke dapur sambil mendorong kereta bayi itu serta.
Pria itu penasaran hingga tak fokus bicara dengan pembantu barunya. "Eh, sebentar ya?" Ia meninggalkan kedua pembantu itu dan mendatangi dapur.
___________________________________________
Halo reader. Masih semangat baca kan? Kasih semangat author ya dengan like, vote, komen atau hadiah. Ini visual Abigail dan Marina yang duduk di kantin menunggu jus. "Bujukin dong reader, biar dia bilang 'iya'." Salam, ingflora💋
Intip novel keren ini yuk!