Author And The Baby

Author And The Baby
Peduli



Wanita itu menatap Abigail dengan sungguh-sungguh tapi kemudian tiba-tiba tertawa. "Untuk apa sih, Kak? Kakak bercanda ya?" Ia kembali tertawa.


"Ini aku sungguh-sungguh, Marina. Aku care(peduli) sama kamu."


Dibilang begitu, tawa wanita itu terhenti. Tenggorokan rasa tercekat. Dia care? Eh, apa tak salah pendengaranku? Mulutnya menganga.


"Marina, aku peduli padamu, pada kesehatanmu. Sekarang saja kamu pusing cari baju, berikutnya apa? Susah bergerak, kaki sakit, badan pegal-pegal, tidak percaya diri ...."


"Kok tau?"


"Nah, itu ... kamu mau teruskan? Kamu tidak ingin setidaknya punya tubuh yang ideal, sehat dan mudah bergerak?"


"Mau sih."


"Lalu apa masalahnya? Kan tinggal bilang 'iya'?"


"Tapi 'kan Kakak kerja? Mana sempat mengurus yang begituan?"


"Makanya, nanti dikasih tahu caranya terus tinggal meneruskan."


"Oh."


"Jangan 'oh'. 'Iya' gak?"


"Kenapa Kakak jadi mikir sampai sejauh ini sih?"


Abigail menarik lengan Marina yang berada di atas meja dan menggenggamnya.


Wanita itu sedikit risih.


"Marina, aku peduli padamu, aku ingin kau juga peduli pada dirimu sendiri juga."


"I-iya." Wanita itu perlahan menarik tangannya tapi Abigail menahannya.


"Iya apa dulu nih?"


"Iya ... aku ikut program dietmu." Kembali Marina berusaha menarik tangannya dan pria itu melepaskan. Ia takut khilaf karena ia lihat Abigail sedikit berbeda hari ini. Tadi saja sudah mencium keningnya, dan sekarang mengenggam tangannya ditambah kata-kata peduli dan meminta ia untuk berdiet. Ada apa dengan pria ini?


"Ya sudah aku akan tranfer sekarang, berapa nomor rekeningnya." Abigail mengambil ponselnya di kamar dan kembali.


Begitu juga Marina.


Abigail mengetik nomor yang diberikan wanita itu tapi kemudian ia berpikir sebentar. "Mmh, kamu gak pernah libur ya? Jadi hitung saja sebulan tidak libur jadi 8 hari gaji dobel. Mmh, segini ya?" Pria itu memperlihatkan sejumlah angka pada Marina di ponselnya.


"Oh, makasih, Kak." Marina mengganggukkan kepala dengan senyum lebar.


Pria itu kemudian mentransfernya. "Done(selesai) ya?"


Marina memeriksa di ponselnya. "Makasih," ucapnya sekali lagi.


"Sama-sama." Abigail melepaskan ponselnya di atas meja dan mulai mengambil roti yang masih terbungkus plastik. "Nanti kita akan belanja makanan sehat ya? Sekarang kita berenang dulu sehabis sarapan."


Marina masih menatap Abigail. "Eh, boleh tau, Kakak belajar diet ini dari mana? Biasanya cowok 'kan gak peduli diet."


"Dari almarhum istriku, Alena."


Marina terkejut. "Eh? Masa sih? Kan dia sudah kurus dan cantik."


"Setelah melahirkan, badannya besar. Ia makan apa saja ketika hamil Farrel dan langsung diet sesudah melahirkan." Mengingat itu, matanya kembali berkaca-kaca.


Marina buru-buru bicara. "Eh, maaf, Kak. Aku tak bermaksud ...."


Abigail mengangkat jemarinya untuk menyudahi. "Iya, gak apa-apa, tapi sekarang aku bersyukur bisa mengenang hal-hal yang baik saja tentangnya."


Marina mulai berpikir ulang tentang perubahan sikap pria itu padanya. Marina, kamu jangan berpikir berlebihan. Pria itu masih berduka mengingat almarhum istrinya dan akan selamanya begitu. Ia hanya menganggapmu sebagai teman. Memikirkan kemungkinan lain hanya akan membuat dirimu kecewa. Ia mulai melanjutkan sarapannya.


Hahh!" Marina memunculkan kepalanya di atas air. Rasanya segar, apalagi di udara pagi secerah ini. Sungguh menenangkan.


"Bagaimana? Sudah mulai bisa berenang?" Kali ini pria itu hanya melihat saja Marina berenang tanpa perlu ditarik dan perkembangannya sejauh ini lumayan. Sudah 2 meter wanita itu berenang. Itu saja sudah prestasi dan wanita itu terus mencoba untuk bisa bergerak di dalam air.


"Lumayan, Kak."


"Kalau kau bisa berenang, nanti aku kasih hadiah Jalan-jalan ke Bali. Kita snorkeling(berenang ke dalam laut) di sana."


"Iya, Kak? Wah, aku mauuu!" teriak Marina mendekat hingga menyentuh dada pria itu, tapi kemudian ia malu ketika menyadarinya. "Eh, maaf, Kak." Ia bergerak mundur.


"Oh, tidak apa-apa." Abigail bukan tidak menyadarinya hingga ia juga merasa canggung. "Kamu lelah 'kan? Tolong jaga Farrel. Aku mau berenang." Ia menyerahkan bayi itu pada Marina.


"Iya, Kak." Wanita itu mengambil Farrel dan menggendongnya. Bayi itu sangat suka berada di air. Ia menggerak-gerakkan tangan dan kakinya saat menyentuh air. Wanita itu coba melepas Farrel seperti Abigail waktu itu dan kembali bayi itu berenang berputar-putar. Tak lama, Marina mengangkat lagi bayi itu dari air.


Abigail pergi menjauh. Ia coba menyeberangi kolam renang dengan berenang dari sisi ke sisi. Saat berenang ia berfikir. Ah, tinggal dengan Marina kini membuatku mulai tak waras. Aku ingin mendekatinya, menyentuhnya dan ingin-ingin yang lainnya. Benar, tinggal berdua untuk lawan jenis itu tak mungkin. Walau dijaga tapi setiap saat aku bisa khilaf. Setan ada di mana-mana bahkan di tempat yang tidak ada siapa-siapanya sekali pun!


"Huah." Pria itu mengangkat kepalanya saat menyentuh dinding di depannya. Aku harus melakukan sesuatu. Kami tidak bisa begini terus.


Ia membalikkan tubuhnya dan melihat Marina bercanda dengan bayi Farrel. Bayi itu tertawa karena beberapa kali wanita itu meletakkan tubuh Farrel ke permukaan air kolam tapi kemudian diangkat kembali. Bayi itu terkekeh karenanya. Marina, apa kau milik orang lain? Aku bingung bagaimana meresponmu tapi ....


Abigail kembali masuk ke dalam air. Ia berenang mendatangi babysitter itu dan ... ia mengangkat wajahnya saat sampai sambil berpegangan dengan lengan wanita itu.


"Astaga, Kak. Aku pikir siapa, sampai kaget aku, Kak." Marina yang tak melihat kedatangan pria itu tentu saja terkejut ketika seseorang menyentuh lengannya. Ia mengurut dada.


"Oh, maaf. Aku tidak bermaksud mengagetkanmu." Abigail tertawa. "Apa kamu sudah selesai? Kita kembali saja ke apartemen, bagaimana?"


"Iya, Kak. Ayo!"


Keduanya naik ke atas kolam renang dan menaiki lift.


"Habis ini kita langsung ke supermarket."


"Eh, mmh."


Abigail mengintip Farrel yang berbalut handuk di kereta bayinya. Bayi itu terlihat segar. "Biar aku yang mandikan dia kali ini. Aku ingin mencobanya."


"Oh, iya, Kak. Nanti aku ambilkan tempat mandi dan sabunnya."


Pintu lift terbuka. Marina mendorong kereta bayi itu keluar dibantu Abigail. Mereka melangkah di koridor dan bertemu dengan Anka yang baru akan masuk ke dalam apartemennya.


"Anka, kamu dari mana?" sapa Marina.


Anka sebenarnya sudah melihat mereka berdua saat pintu lift terbuka, tapi ia terlihat sedikit sungkan menyapa karena ada Abigail. "Oh, dari bawah. Bawain belanjaannya Kak Sila."


"Kak Sila ada di bawah ya? Kok aku gak lihat?"


"Di tempat parkir, Kak," terang Anka.


"Oh, gitu? Ya, udah aku balik ya?"


Marina dan Abigail melewati apartemen Sila menuju apartemen Abigail. Anka memperhatikannya dari belakang.


Sepertinya Kak Marina senang tinggal dengan pria itu soalnya pipinya makin tembam, batin Anka.


Marina menyiapkan tempat mandi bayi, sabun dan samponya di kamar mandi Abigail. Ia juga menyiapkan baju bayi dan perlengkapannya di atas tempat tidur pria itu.


Abigail memandikan bayi itu.


"Kakak bisa?" Marina masih khawatir.


"Eh, bisa. Soalnya Farrel sudah bisa mengangkat kepalanya sendiri. Ini lebih mudah."