Author And The Baby

Author And The Baby
Kembali Rapuh



"Aku ... aku ...." Wanita itu sudah tak bisa lagi melanjutkan ucapannya.


Setelah lama menunggu, dan tak ada kelanjutannya, polisi menghentikan pertemuan mereka. "Maaf, Pak. Waktu anda cuma 20 menit."


Melihat Kanaya yang masih saja menangis, Abigail tak tega untuk bertanya lebih lanjut dan menyerahkan sisanya pada polisi.


Abigail dan Marina kemudian kembali pulang ke apartemen. Sepanjang perjalanan hingga ke apartemen, Abigail tak banyak bicara. Netranya seperti kehilangan kontak pada dunia. Entah sedang mengembara ke mana.


Marina berusaha memakluminya karena beberapa kali pria itu salah memutar jalan dan ia berusaha memberitahunya dengan sabar. Bahkan saat naik lift, pria itu lupa menekan tombol nomor lantai. Kesadarannya seperti hilang timbul tanpa jeda saat dipermukaan ia terlihat baik-baik saja.


Abigail pun juga tak bisa membuka kunci pintu apartemennya dengan benar.


"Sini, Kak, aku bantu buka pintunya."


"Makasih."


Setelah pintu dibuka, pria itu langsung saja masuk hingga ke dalam kamar.


Marina berusaha tidak mengganggunya dan melakukan segala sesuatu sendiri. Ia mengeluarkan Farrel dari kereta bayi dan memasukkannya ke dalam boks bayi.


Lama pria itu tak kunjung keluar, padahal sejam lagi adalah jam makan siang. Akhirnya Marina memutuskan untuk memasak daging sapi lada hitam yang kemarin rencananya untuk makan malam. Melihat Farrel yang tenang main sendirian, wanita itu segera memasak.


Ia masak nasi dan juga beberapa frozen food (makanan jadi yang disimpan di lemari es). Setelah matang, ia menyajikannya di atas meja makan.


Namun kemudian ia ragu, apa ia harus mengetuk pintu atau menunggu pria itu keluar dari kamar. Di saat bersamaan, bayi Farrel menangis. Marina kemudian membuat susu botol dan menggendongnya. Bayi Farrel mengedot susunya hingga terlelap.


Setelah meletakkan bayi itu di boks bayi luar, Marina menyempatkan diri sholat Zuhur. Seusai sholat ia kembali keluar. Pria itu ternyata masih berada di dalam kamar.


Marina kemudian nekat mengetuk pintu. "Kak, sudah waktunya makan siang. Kakak gak makan?"


Hening. Namun kemudian, "eh, masuk saja."


Wanita itu membuka pintu. Ia melihat Abigail terbaring di atas tempat tidur dengan berselimut. Mata bengkak seperti habis menangis.


"Kakak sakit?" Marina menyentuh dahi pria itu. Dahinya tidak hangat.


Pria itu mencoba duduk. "Aku sedang tidak ingin apa-apa. Aku sedang ingin tiduran saja. Berguling-guling di kasur."


"Kakak, nanti sakit kalau telat makannya," bujuk Marina. Ia sudah mengira pria itu pasti tengah teringat pada istrinya.


Abigail menunduk. "Nanti saja ya?" Ia membersihkan sisa air matanya.


"Ya sudah." Akhirnya dengan berat hati, Marina keluar.


Pria itu kembali berbaring. Ia teringat pada istrinya dan merasa hancur. Masih teringat olehnya ucapan mantan sekretarisnya itu bahwa Alena tidak ingin ia mendapatkan Farrel.


Kenapa Alena begitu tega? Apa salahnya? Bukankah saat di rumah, ia selalu berusaha berada di sampingnya walaupun sulit? Apa sekarang kau bahagia, Alena, setelah semua orang menuduhku sebagai pembunuhmu? Apa kamu senang?


Air matanya kembali jatuh. Pria itu menarik selimutnya dalam-dalam dan ia nyaman tenggelam dalam selimut tebalnya itu yang hangat seperti pelukan.


Kembali terdengar ketukan. Pria itu segera menghapus air matanya. Pintu terbuka tapi segera tertutup. Ia melihat sekilas sekelebat orang merangkak di lantai.


Pria itu tentu saja terkejut. Dua buah tangan naik ke tepi tempat tidur beserta sebuah kepala.


Marina tersenyum menatapnya dengan memakai tutup kepala bertelinga yang merupakan selimut bedong Farrel. "Aku adalah kelinci abu-abu bernama Nina. Aku baru saja mencuri paprika kuning dan merah yang aku potong-potong di dapur menjadi kecil-kecil. Daging juga sudah kucuri dari lemari es. Keduanya sudah kumasak. Apa kau mau mencobanya?" katanya dengan gaya anak-anak dan memiringkan kepala.


"Ada, aku sudah melakukannya." Wanita itu menggerak-gerakkan kepalanya membuat kepalanya terlihat lucu dengan telinga binatang itu. "Mau makan tidak, Om rubah."


"Om rubah? Kau menyebutku, Om rubah?" Pria itu tersenyum lebar. "Oh, iya. Om rubah gemes mau makan kelinci yang satu ini." Ia mencubit pipi wanita itu karena sudah tak tahan dengan wajahnya yang lucu.


"Aduuh, sakit!" Marina sedikit berteriak. Ia bahkan menepuk tangan nakal pria itu yang telah dengan tega mencubit pipinya hingga memerah.


Abigail tergelak. "Salah sendiri kenapa jadi kelinci yang pipinya tembam bersaing sama Farrel." Kembali pria itu tergelak.


"Ayo, makan Kak. Ah!" rajuk Marina yang masih duduk di lantai, meraih lengan pria itu.


Abigail menatap Marina dan kembali menggodanya. Ia menekan kedua pipi Marina dengan satu tangan. "Aduh, kelinci ini, lucu sekali. Ingin rasanya aku menggigit bibirnya."


Namun saat itu juga keduanya terkejut. Abigail panik dan segera melepaskan tangannya dari wajah wanita itu, sedang pipi Marina memerah mendengar kalimat itu dengan wajah kebingungan. Segera wanita itu membalikkan tubuhnya karena malu.


Abigail pun jadi salah tingkah. Ia segera duduk di atas tempat tidur. "A-aku akan sholat Zuhur dulu."


"Aku juga mau lihat Farrel. Sepertinya dia menangis." Wanita itu berbohong agar bisa cepat keluar dari kamar pria itu.


Segera setelah Marina menutup pintu, Abigail tak tahan untuk tidak tersenyum. Ia tak menyangka Marina menghiburnya dengan cara seperti itu.


------------+++----------


Suasana di meja makan jadi terasa kaku. Marina malu-malu melihat Abigail sedang pria itu masih terlihat salah tingkah akibat terpeleset lidah, bicara sembarangan. Namun suasana yang tak kunjung cair membuat Abigail terpaksa mengklarifikasinya. "Em, aku tadi bicara asal jadi jangan dimasukkan ke dalam hati ya?"


"Oh, iya. Tentu saja." Aduh, Marina, kenapa kamu bingung sih? Pria itu sangat tidak mungkin untukmu. Itu sangat tidak mungkin. Hah ... tapi ia sudah membuat debar di dada.


Abigail melirik Marina. Bagusnya bagaimana ya? Dia benar-benar menggemaskan. Dari bersedih, dengan sekali jentikkan, ia membalik semuanya menjadi kegembiraan. Benar-benar luar biasa, dia sebuah keajaiban. Aku menyukainya. Sangat-sangat menyukainya. Makin hari rasa ini tak bisa kupendam sendiri lagi.


Ingin rasanya cepat-cepat pulang hanya karena ingin mengobrol dengannya, memandang wajahnya dan melihat ia mengasuh Farrel. Ia sangat menyayangi Farrel seperti aku yang juga mulai menyayanginya tapi ... bagaimana memulainya karena aku belum pernah melakukannya pada seorang wanita. Abigail mengerucutkan mulutnya.


Dulu saat aku dikenalkan dengan Alena, aku hanya bisa mengobrol dan kami sudah dijodohkan sehingga kami tinggal menunggu waktunya menikah saja.


Kini dengan Marina, aku harus mulai dari mana? Sungguh, aku tak tahu harus mulai dari mana. Apa aku cari tahu dulu apa dia juga menyukaiku? Atau melakukan pendekatan? Ah, ini benar-benar lebih susah dari mengurus bisnis, sepertinya! Abigail menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Kenapa, Kak?" Marina melihat pria itu terlihat bingung.


"Oh, tidak apa-apa."


"Ayo, makan lagi, Kak." Marina menyodorkan sapi lada hitam buatannya.


"Oh, iya ini enak sekali." Abigail menyendokkan ke piringnya, tapi setelah menyuap, ia melirik wanita itu lagi. "Eh, bagaimana kalau kita jalan-jalan di taman kota."


"Mmh? Taman kota? Udara sedikit panas."


"Tapi setelah jam satu siang, pasti tidak terlalu panas dan juga banyak pohon rindang. Aku ingin jalan-jalan di sana sekaligus berolahraga. Kamu bukannya ingin kurus?"


Marina tersenyum lebar.


___________________________________________


Halo reader, masih semangat membaca novel ini 'kan? Jangan lupa kasih semangat author dengan memberi like, vote, komen atau hadiah. Ini visual Abigail yang gemas dengan tingkah Marina yang sedang menghiburnya. "Apa yang harus kulakukan dengan kelinci manis ini, yang membuatku sayang setengah mati?" Salam, ingflora💋