Author And The Baby

Author And The Baby
Kedai Es Krim



"Dia seperti adik bagiku."


Abigail mengerut dahi. "Sudah berapa lama kamu kenal dia?"


"Mmh, sejak tinggal di apartemen sekitar 6 bulan."


"Dan dia tidak pernah mengatakan sesuatu?"


Kening wanita itu berkerut. "Maksudnya?"


"Menyatakan suka, begitu?"


"Anka? Mmh ...." Marina coba mengingat-ngingat. "Dia pernah mengatakan aku manis dan lalu memberiku coklat. Lucu 'kan?" ucapnya sambil tersenyum. Kembali ia fokus mencuci.


Abigail merengut. Bisa-bisanya anak kecil itu membuat Marina senang .... Ia terdiam sejenak. Aku juga bisa. Namun untuk beberapa lama ia tidak bisa menemukan satu hal pun yang bisa menyenangkan hati seorang wanita. Aduh, Abigail. Masa kalah sama anak kecil sih?


"Marina." Pria itu muncul dengan sebuah ide.


"Iya." Wanita itu mengeringkan tangannya dengan lap kering.


Abigail tiba-tiba memegangi kedua lengan atas wanita itu. "Bagaimana kalau kita makan es krim di luar?"


"Apa?" Ditanya mendadak begitu, Marina tak tahu harus menjawab apa. "Eh, tapi kita 'kan baru saja makan. Lagipula ini sudah malam dan itu juga melanggar diet yang sudah kamu ajarkan."


"Tidak apa-apa, ini es krim Itali yang hanya berbahan dasar buah kok! Tidak akan bikin gemuk."


Marina tergoda hingga ragu.


"Mau 'kan?" Abigail bisa memastikan.


"Kita ke mal?"


"Tidak, kita pergi ke kedai es krim. Dia khusus menjual es krim ini."


"Wah, ada ya? Aku ingin lihat. Pasti koleksi es krimnya banyak!" Wanita itu benar-benar takjub dan tergoda.


"Ok, kita pergi sekarang."


"Eh ...."


Belum sempat berpikir, pria itu sudah bertindak untuk Marina. Abigail meraih tangan wanita itu dan juga membawa Farrel dengan kereta bayinya.


Ini sempat membingungkan Marina tapi wanita itu akhirnya pasrah saja dan menikmati. Untungnya bayi itu sudah tidur dengan nyenyak sehingga tidak mungkin mengganggu mereka.


Mobil sampai 20 menit kemudian di depan sebuah toko es krim. Toko itu lumayan ramai di malam hari tapi mereka masih kebagian tempat duduk.


Abigail memesan Es krim dengan ukuran sedikit besar agar bisa makan berdua, dihiasi toping selai stroberi dan remahan biskuit coklat.


Ketika mereka mulai makan, Abigail makan hanya beberapa sendok saja sedang setelahnya ia pamit karena ada yang ketinggalan.


"Ketinggalan?" Wanita itu menaikkan alisnya. "Apa?"


"Sebentar saja. Tidak apa-apa aku tinggal sendiri 'kan?"


"Mmh?" Mata wanita itu membulat sempurna. Ia tidak tahu bagaimana mengomentarinya. "Ya, sudah. Jangan lama-lama."


"Ok." Pria itu pun pergi keluar toko.


Sejam berlalu tanpa kabar berita. Marina bingung harus bagaimana. Ia sudah memperlambat makannya agar bisa makan es krim itu berdua pria itu tapi nyatanya pria itu tak kunjung datang. Untung saja Farrel tidur dengan tenang di kereta bayinya.


Namun demikian, pelanggan toko itu perlahan mulai pulang sedang ia masih berada di sana bersama Farrel.


Wanita itu gelisah. Es krim sudah habis olehnya sendirian tapi Abigail tak tampak batang hidungnya. Haruskah ia menelepon? Ini sudah hampir 2 jam tidak kembali. Apakah terjadi sesuatu pada pria itu di jalan? Membayangkan itu, Marina panik. Segera ia menelepon pria itu.


Namun ... tidak diangkat. Dia 'kan tadi bilang hanya sebentar, tapi ini sudah mau 2 jam. Aku harus bagaimana? Marina mencoba menelepon lagi tapi tak ada jawaban. Mau tak mau ia terpaksa menunggu dan berharap tidak ada kejadian buruk yang menimpa Abigail hingga ....


"Maaf, Mbak. Tokonya sudah mau tutup." Begitulah seorang pelayan toko itu memberi tahu.


"Oh, sudah, Mbak."


"Oh, begitu. Maaf ya?" Marina terpaksa mendorong kereta bayi itu keluar toko. Di luar, udara dinginnya malam menyebabkan ia bersandar pada dinding toko bersama Farrel. Untung saja, Marina menyimpan selimut bayi di bawah, sehingga Marina bisa menyelimuti bayi itu agar tak kedinginan.


Abigail ... kamu di mana? Kenapa lama sekali kamu datang? Marina begitu khawatir sesuatu terjadi pada pria itu hingga akhirnya mobil pria itu datang ke parkiran ketika pegawai toko itu mulai pulang satu persatu.


Marina merengut kesal.


Abigail turun dengan sesuatu yang disembunyikannya di belakang punggung. Ia menghampiri wanita itu. "Maaf ya, tadi jalanan macet parah."


Marina masih merengut, dan hampir menangis karena sempat membayangkan terjadi sesuatu pada pria itu. "Kenapa kamu lama sekali? Aku pikir ...." Air matanya terlanjur jatuh.


Abigail kaget melihat air mata wanita itu. Ia mendekat dan memeluknya. "Maaf, maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu menangis. Hanya saja, mencari benda ini susah sekali sehingga aku sampai lupa kamu sudah kemalaman di sini."


Wanita itu menghapus jejak air matanya di pipi. "Kamu cari apa sih, hingga harus mencari sampai malam-malam begini? Apa tidak bisa besok, mmh?" Wajahnya masih masam.


"Karena aku ingin memberikannya padamu sekarang." Pria itu memperlihatkan seikat bunga bunga mawar yang jumlahnya lumayan banyak dan menyodorkannya pada Marina.


Wanita itu terkejut. "Eh? Ini ...." Ia menatap pria dihadapannya.


Pria itu hanya tersenyum.


"Maksudmu?"


"Eh, apa ya? Aku tidak bisa merangkai kata-kata indah tapi aku hanya ingin bilang kalau aku ... menyukaimu."


Marina menatap langsung kedua manik mata coklat milik pria bule itu. Sedikit kebingungan tapi berada dalam telaga ketulusan. Bule itu sedikit tersipu telah berterus terang tentang hatinya pada Marina dan itu membuat wanita itu terharu sekaligus berbunga dengan indahnya.


"Kamu ... suka padaku?" Marina menatap bunga dihadapan yang hampir mekar dengan kelopaknya yang indah. Bunga mawar merah. Ia meraih bunga itu dalam genggaman.


"Kau juga menyukaiku 'kan?"


Marina malu mengatakannya tapi Abigail bisa tahu dari rona merah di pipi wanita itu. Ia mencium bunga pemberian pria itu dengan senyum bahagia tanpa sanggup menatap pria itu.


"Iya."


Akhirnya kalimat itu keluar dari mulut wanita itu. Betapa bahagianya Abigail saat itu karena mereka satu hati dalam memegang rasa dan ia berharap cinta mereka bisa berakhir manis.


Terdengar suara Farrel menangis membuat keduanya sadar sudah berada di luar terlalu lama.


"Ayo cepat kita pulang, sebentar lagi Farrel akan minta susu lagi untuk tidur." Marina mengingatkan.


"Oh, iya, iya, iya." Abigail panik.


Marina menggendong Farrel dan meletakkan bunga itu di dalam kereta bayi sedang Abigail memasukkan kereta bayi ke dalam bagasi mobil. Setelah keduanya masuk, mobil pun meluncur pulang.


----------+++-----------


Marina terpaksa meletakkan bunga itu pada wadah panci, karena Abigail tidak punya vas bunga untuk meletakkan bunga-bunga mawar sebanyak itu. Bahkan tidak punya vas bunga sama sekali di apartemennya. "Maaf, Kak, bunganya aku taruh di sini saja, karena gak ada wadah lain yang bisa menampung semua bunganya," ucap Marina malu-malu pada pria itu.


"Eh, tidak apa-apa." Pria itu menggaruk-garuk kepalanya. Padahal ia tahu ia tak punya vas bunga sebesar itu, tapi kenapa ia nekat membeli bunga sebanyak itu?


"Malam, Kak," ucap wanita itu dengan sopan.


"Malam."


Dan Marina masuk ke dalam kamarnya.


___________________________________________


Masih semangat baca 'kan, reader? Jangan lupa memberi semangat author juga dengan vote, like, komen atau hadiah. Ini visual Marina yang mendapat surprise bunga dari Abigail. Salam, ingflora 💋